Malam itu Roni, Andy, Rahmat, dan Amat terpaksa harus pergi ke sebuah kampung, yang terletak di daerah perbukitan untuk mengambil sebuah handphone yang tertinggal. Kampung itu bernama kampung Apit, dan bukit tersebut sekarang bernama Bukit Nescafe.
Handphone yang ternyata tertinggal itu bukan milik salah satu dari keempat lelaki itu, melainkan milik seorang guru di sekolah mereka. Awalnya, seorang guru di sekolah mereka meminta bantuan untuk membawakan handphone tersebut ke tukang service. Namun setelah jadi, ternyata tukang service tersebut sedang tutup.
Keempat lelaki itu memang sangat dekat dengan tukang service handphone itu, karena itulah mereka tahu harus mencarinya ke mana jika counternya sedang tutup. Rajib nama tukang service itu. Sebenarnya rumah Rajib ada di kota Mataram, namun kempung Apit adalah rumah istri Rajib. Dan setiap hari minggu Rajib pasti meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumah mertuanya, kemudian menginap untuk satu malam. Walaupun terkesan horor, namun keempat lelaki itu tetap bersikeras untuk pergi.
Menurut cerita warga sekitar, bukit tersebut terkenal sangat angker dan dihidupi oleh berbagai macam makhluk halus. Warga-warga sekitar desa pun tidak menyarankan siapa pun untuk berkunjung pada malam hari, karena banyak orang yang sudah melakukannya, kemudian tidak pernah kembali.
“Wih! Gelap banget, Coy,” gerutu Roni sambil terus melajukan sepeda motornya.
“Udah! Jalan aja terus!” sambut Andy sewot, yang pada saat itu dibonceng oleh Andy.
Sementara itu, 2 lainnya berada di belakang membuntuti Andy. Seperti apa yang telah diisukan bahwa jalanan di sekitar Bukit Nescafe tidak begitu mulus. Bisa dibilang sangat hancur. Bahkan, listrik-listrik dan lampu belum masuk ke Bukit Nescafe. Oleh karena itu, keempat lelaki itu harus terpaksa mengandalkan lampu pada sepeda motor mereka.
“Masih jauh nggak, sih, jalannya?!” tanya Rahmat sedikit kesal karena melalui jalan yang rusak.
“Masih jauh, Bro,” jawab Amat yang pada saat itu dibonceng oleh Rahmat.
Karena melewati jalanan berkrikil dan terdapat jurang di samping kiri dan kanan mereka, kedua lelaki yang sedang mengendarai itu harus ekstra hati-hati agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, tiba-tiba saja sepda motor yang sedang dikendarai oleh Rahmat mati seketika.
“Loh, kok mati?!” pekik Rahmat terpancing panik. Kemudian, dengan segera ia mengerem dan berhenti sejenak. Rahmat dan Amat tampak begitu kebingungan. Mereka berdua berusaha menghidupkan kembali sepeda motor tersebut.
—
“Stop, Ron!” perintah Andy tiba-tiba pada Roni.
“Kenapa, Ndy?” tanya Roni bingung, namun terus melajukan sepeda motornya.
“Aku bilang stop!”
“Ada apa, sih?!” tanya Roni kesal sambil menghentikan kendaraannya.
“Rahmat nggak ada di belakang, Ron. Liat, tuh! Sepi,” ujar Andy tampak ketakutan sambil mengawasi jalanan di belakangnya.
“Loh, iya! Ke mana mereka?” Roni pun akhirnya tersadar bahwa Rahmat dan Amat memang tidak ada di belakang.
“Coba telpon, Ron!”
“Coba kamu aja. Aku nggak ada pulsa, nih.” Akhirnya, Andy terpaksa mengeluarkan handphone miliknya dari saku celana. Namun setelah ternyata menekan salah satu tombol, “Aduh! Nggak ada sinyal, Ron!”
“Masa’, sih?” Roni tampak tak percaya. “Coba sini lihat!” lanjutnya seraya mengambil handphone milik Andy.
“Waduh! Benar juga. Gimana, dong?”
Kedua lelaki itu pun mulai panik dan takut. Bagaimana tidak takut? Di tempat itu, tak ada satu pun orang yang bisa dimintai bantuan. Sudah gelap, sepi lagi. Pasti banyak hantunya, nih. Pikir Roni sedikit gemetar.
Namun setelah beberapa saat kedua lelaki itu terdiam, suara sebuah sepeda motor terdengar semakin mendekat ke arah mereka.
“Ron! Dengar, nggak?” tanya Andy sambil terus fokus mendengar suara tersebut.
“Apaan?” tanya Roni bingung.
“Ada suara motor. Itu pasti Rahmat sama si Amat,” tebaknya.
“Iya juga. Mudahan benar,” kata Roni penuh harap.
Dan ternyata benar, bahwa suara mesin sepeda motor yang tadi didengar oleh Roni dan Andy adalah milik Rahmat. Rahmat yang tengah melihat si Andy dan Roni, lantas berhenti dan menghampiri keduanya.
“Kenapa berhenti?” tanya Rahmat tanpa mematikan mesin sepeda motornya.
“Lama banget kalian. Kalian habis ngapain, sih?” tanya Roni sewot.
“Sory sory. Tadi motor ane mati, Bro,” ucap Rahmat sambil cengar-cengir.
“Ya sudah. Yuk, jalan!” ajak Roni.
Keempat lelaki itu pun melanjutkan perjalanan mereka menuju kampung Apit yang masih 4 kilometer jauhnya. Jarak, gelap, dan jalanan berkrikil itu tidak membuat keempat lelaki itu menyerah. Demi sebuah handphone, mereka rela melawan rasa takut. Itu karena mereka memang harus bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.
Setelah akhirnya mengendarai entah berapa lama, dan melewati jalanan berkrikil, keempat lelaki itu sampai di sebuah perkampungan. Di sana memang tidak terdapat banyak rumah, karena berada di daerah pedalaman. Desa tersebut sangat sepi dan menyeramkan. Bahkan, rumah-rumah di sana tidak memiliki lampu satu pun. Karena melihat jalan buntu, akhirnya keempat lelaki itu berhenti sejenak di bawah sebuah pohon besar. Dan, kebetulan juga ada sebuah rumah sederhana di sana.
“Wah! Kok, sepi,” kata Andy sambil pandangannya mengitari seluruh desa.
“Gini aja. Salah satu tunggu di sini buat jaga motor. Andy, Rahmat sama saya, pergi ke rumah itu minjam senter. Gimana?” usul Amat tampak serius.
“Wah, jangan, dong. Berarti aku sendirian di sini? Nggak berani aku, Mat,” protes Roni dengan wajah takutnya.
“Penakut banget, sih! Rumahnya ada di situ. Cuma beberapa meter dari sini. Sudah, tunggu saja!” paksa Amat pada si Roni.
Karena tidak bisa menolak, akhirnya Roni terpaksa harus berjaga seorang diri di bawah pohon besar yang tampak mengerikan itu. Ya, Allah. Selametin hamba. Jangan sampe ada yang aneh-aneh menghampiri. Batin Roni dalam hati, namun mulutnya komat-kamit sambil melafalkan doa-doa.
Tamat
Maaf ya jika cover tidak sesuai dengan cerita
karena aku cari gak ada may diedit juga gak bisa