Fahri berlari menyusuri lorong rumah sakit. Dia mengerahkan semua tenaganya dalam pelarian itu. Namun sepertinya para rentenir yang mengejarnya tidak mau putus asa.
Lelaki yang sudah berumur 27 tahun tersebut memiliki hutang hingga ratusan juta rupiah. Dia melakukannya demi membayar biaya pengobatan ibunya, yang sudah terbaring di rumah sakit selama beberapa bulan belakangan.
Fahri dan segerombolan pria itu berhasil menimbulkan keributan di rumah sakit. Keringat mengucur deras di pelipisnya. Dia beberapakali tidak sengaja menabrak orang-orang yang ada di depannya.
Fahri rela melakukan apapun untuk menghindari para rentenir. Sebab jika dia tertangkap, maka nyawa bisa menjadi taruhannya.
Setelah begitu lama berlari. Tiba-tiba saja perhatian Fahri tertuju pada sebuah ruangan yang tampak begitu sepi dan terisolir. Tanpa pikir panjang dia pun berlari dengan tergesak-gesak memasuki ruangan tersebut.
Fahri masuk ke ruangan dengan nafas yang tersengal-sengal. Dia langsung terduduk di lantai.
Perlahan terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Mendengar hal itu, Fahri pun segera mencari tempat persembunyian. Matanya langsung tertuju pada benda yang tampak seperti loker berjejer di hadapannya.
Fahri yakin tubuhnya akan muat masuk ke dalam salah satu loker tersebut. Dia pun membuka loker itu, dan langsung di buat kaget, karena ada mayat manusia di sana.
Suara langkah kaki terdengar begitu dekat. Fahri, mencoba membuka loker yang lain. Tetapi dia tidak menemukan loker yang kosong. Gagang pintu mulai bergerak, akhirnya Fahri terpaksa masuk ke dalam loker yang berisi mayat.
'Terserahlah! rentenir itu lebih berbahaya di bandingkan mayat ini!" gumam Fahri dalam hati. Perlahan dia langsung menutup loker, dan mengurung dirinya bersama mayat.
Brakk!
Pintu ruangan terbuka, sepertinya para rentenir sudah masuk. "Kemana lelaki itu?!!" ucap salah satu lelaki dengan suara garangnya.
"Mungkinkah dia sembunyi di loker itu?" sahut temannya.
"Mungkin saja, coba kalian periksa!"
Para rentenir mencoba membuka loker yang ada di ruangan. Namun mereka langsung di buat kaget ketika salah satu dari mereka berteriak ketakutan.
"Mayatnya bergerak!!!"
"Dasar penakut!!!" suara lelaki yang terdengar seperti ketua dari rombongan tersebut geram. Sepertinya dia terpaksa turun tangan untuk membuka loker mayatnya.
"Sialan!!! cepat kita pergi dari sini!!!" lelaki itu terdengar begitu kaget dan ketakutan. Para rentenir pun langsung berlari kocar-kacir keluar dari ruangan.
Fahri yang masih berada di dalam loker, merasa begitu lega. Dia bahkan sempat mentertawakan para rentenir yang ternyata ketakutan ketika melihat mayat.
"Dasar! badan doang yang gede!" ejek Fahri sambil cekikikan. Perlahan dia pun segera membuka pintu loker yang tepat berada di atas kepalanya. Namun jantung Fahri serasa di sambar petir, ketika lokernya sama sekali tidak bisa di buka.
"Sial! sial! sial!!" ujar Fahri sembari menggedor-gedor pintu lokernya. Nafasnya mulai naik turun.
Fahri mencoba melirik mayat yang ada di sebelahnya. Mayat itu adalah seorang wanita. Kulitnya dingin dan berwarna pucat pasi. Bau formalin begitu menusuk indera penciuman Fahri. Dia berusaha sebisa mungkin menjauh dari mayat. Nihil, loker tersebut sangatlah sempit untuk memuat dua orang manusia.
Keringat mulai mengalir deras di tubuhnya. Fahri berteriak sebisa mungkin agar mendapatkan pertolongan. Tetapi tidak ada seorang pun yang mendatanginya.
Sudah puluhan kali juga Fahri menggedor-gedor pintu lokernya. Namun usahanya tidak membuahkan hasil. Karena kelelahan, Fahri pun terdiam sejenak.
Dug! Dug!
Tiba-tiba saja ada seseorang yang menggedor lokernya dari atas. Hal itu tentu saja membuat Fahri bingung, karena dia tahu betul loker yang dia masuki berada di tengah. Fahri juga sangat ingat, kalau loker yang ada di atasnya berisi mayat seorang lelaki.
"Siapa itu?!!" pekik Fahri mencoba memberanikan diri.
Dug! Dug! Dug!
Sekarang suara menggedor terdengar di sekeliling lokernya. Membuat Fahri semakin ketakutan. Sekarang tubuhnya mulai gemetaran. Keringat berhasil membasahi seluruh pakaiannya. Perlahan air mata menetes di pipinya.
"JANGAN GANGGU! JANGAN GANGGU AKU!!!" pekik Fahri sembari memejamkan matanya. Kakinya tidak sengaja mendorong mayat di sebelahnya. Sedangkan sebelah tangannya, bersandar ke dinding dekat mayat tersebut.
Di tengah riuhnya suara gedoran itu, tiba-tiba saja Fahri bisa merasakan tangan yang melingkar di lengannya. Tangannya begitu dingin, sedingin tubuh mayat di sampingnya.
Fahri pun membuka matanya secara perlahan Dia langsung di buat kaget, ketika melihat mayat di sebelahnya menatap dan tersenyum kepadanya.
"Aaarkh! aaaarkhh!!!" Fahri berteriak histeris. Dia kembali memejamkan matanya. Karena tidak ingin melihat wajah mengerikan mayat tersebut. Tubuhnya mematung, dia tidak tahu harus berbuat apa.
Fahri semakin ketakutan ketika dia merasakan sentuhan lendir di pipinya. Tangan dingin itu sekarang mencengkeram bahunya, seakan mencoba memeluk Fahri.
"Haaaaa. . ." mayat tersebut mengeluarkan suara ke telinga Fahri. Bau formalin semakin menusuk hidung lelaki itu. Karena begitu ketakutan Fahri pun menggelepar dan berusaha melepaskan pelukan sang makhluk bertubuh dingin.
"Hihihihahaha" namun mayat yang bisa hidup tersebut malah cekikikan. Suaranya menggema, dan memekakkan telinga.
Dug! Dug! Dug!
"Hahahaha!" suara-suara gedoran dan cekikan menyatu jadi satu di pendengaran Fahri.
"HENTIKAN! HENTIKAN! KUMOHON!!!" AAARKKKH!!!" Fahri memekik keras sambil menutup kedua telinga dan memejamkan matanya.
Ceklek!
Tak tak tak!
Suara orang masuk langsung membuat Fahri lega, dia pun segera berteriak minta tolong.
Cieeet....
Perlahan loker Fahri terbuka, dia langsung bernafas lega. Namun dia juga di buat bingung, ketika mayat wanita sampingnya sudah tidak ada. Tetapi dirinya sama sekali tidak mau peduli, dia hanya ingin cepat-cepat keluar dari loker mayat.
Fahri menengadah ke atas untuk melihat orang yang sudah menolongnya. Matanya langsung membola, karena bukan manusia yang dia lihat, melainkan mayat wanita yang tadinya ada di sampingnya. Dan dia tidak sendirian, ada beberapa mayat lain yang berdiri berjejer di sampingnya. Menatap Fahri sambil memiringkan kepala mereka.
"Hihihi!" mayat-mayat itu cekikikan seraya mencoba menarik Fahri keluar dari loker. Sedangkan Fahri terus berusaha mengerahkan semua tenaganya, untuk melepaskan cengkeraman mayat-mayat yang menariknya dengan tangan dingin mereka.
Cieeett...
"Pak! Pak! tenang Pak!" suara lelaki paruh baya berhasil membuat Fahri langsung tenang. Dia kembali mencoba melihat orang yang ada di depan pintu lokernya.
Saat melihat lelaki paruh baya yang tampak seperti manusia. Fahri pun bergegas keluar dari loker dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Ada apa Pak? Kenapa Bapak masuk ke sana?" tanya lelaki paruh baya itu. Namun Fahri hanya terdiam, dia tidak bisa berkata-kata karena masih merasa sangat ketakutan.
"Bapak seharusnya tidak masuk ke ruangan ini, karena ini kamar mayat pak! . . . dan mayat yang ada di sini, adalah mayat yang meninggal dengan cara yang tidak wajar!" ujar lelaki paruh baya itu dengan merendahkan suaranya.
~TAMAT~