Wushhh.
Seorang gadis remaja menerbangkan pesawat terbang kertasnya diatas genting setelah tadi menulis harapannya, ini sudah kebiasaan baginya.
Dulu saat dia masih duduk dibangku kelas satu, hari itu tepat ulang tahunnya namun tak ada yang spesial dari hari itu.
Entah mengapa ulang tahunnya terasa hambar mengingat kebutuhan ekonomi dikeluarganya kurang ditambah lagi kedua orang tuanya yang sering kali bertengkar membuat gadis itu dengan nekat duduk diatas genteng menikmati semilar angin.
Entah ide dari mana gadis itu mulai menuliskan harapannya yaitu boneka taddy bear yang besarnya mengalahkan tinggi orang, gadis itu tertawa kala permohonanya ia terbangkan begitu saja.
Tak peduli jika nantinya dibaca seorang yang ia inginkan hanyalah perasaan lega namun keesokkan harinya permohonan itu terkabul! tepat pada saat dirinya bangun tidur, boneka itu berada disamping jendelanya!
Memang mengejutkan namun ia senang sekali, dan sejak saat itu lah ia selalu meminta permohonan yang nantinya ia buat pesawa lalu ia terbangkan setinggi-tingginya. Gadis itu lakukan setiap kali dia berulang tahun.
Permohonannya kali ini sangat sederhana yaitu bunga mawar saja, memang dia selalu memohon yang sederhana misalkan tas, boneka, kue ulang tahun, buku dan lain-lain.
Gadis itu tak pernah meminta emas, berlian, handphone, laptop atau benda-benda mewah lainnya. Karena gadis itu cukup tau diri.
"Retta! ternyata benar disini! nih ada kiriman tadi! oh ya btw happy birthday Aretta Aliviya! nih gue bawak kue mangkok buruan tiup lilinnya panas nih!"
Retta tersenyum kala sahabat cowoknya itu mulai mengoceh, sangat sederhana tapi dia suka.
"Wishnya dulu dong!" Retta menutup matanya lalu kemudian meniup lilin diatas kue kecil itu.
"Sorry ya gue cuman bawak itu doang, habis Mami marah-marah muluk kalau gue ngambil duid diatm tanpa persetujuannya"
"Gak papa kok ini aja udah seneng gue nya, oh ya ini gue makan ya?" laki-laki itu mengangguk.
"Nih bunga lo, gue tadi abis dikasih kurir anjay! berasa dia nembak gue masa?"celoteh Dimas salah satu sahabat masa kecil Retta yang mampu membuat suasana menjadi riang.
Retta tertawa lalu mengambil mawar dari genggaman tangan Dimas lantas menghirup aroma segar dari mawar tersebut "kali ini datang lebih cepat ya?" Retta menatap kearah langit yang sebentar lagi akan malam.
"Lo dapet kayak gitu an dari mana sih?" bingung Dimas yang hanya dibalas angkatan bahu Retta,pertanda gadis itu tak tau.
"Ret gue mau ngomong sama lo" Dimas menatap Retta serius membuat Retta ikutan serius.
"Gue tau ini mendadak tapi dari pada gue gak kasih tau lo, kelak lo jaga diri ya? paman sama bibi kalau lagi marah jangan malah dideketin jauhin aja, dikelas juga kalau misalnya lo gak ada temen lo ke perpus aja ya? bisa nggak?"
"Lo ngomong apa sih Dim? gue lagi ulang tahun loh! gak baik jadiin suasana jadi tegang"
"Gue serius Ret, gu gu gue mau ke Newyork besok... Sebenernya kabar ini udah minggu lalu tapi gue gak sanggup buat liat lo sedih nantinya"
"Sampai kapan? lo gak lagi bercanda kan?"
"Kali ini gue serius Ret, gue ke Newyork sampai gue selesai kuliah" Retta yang mendengar itu lantas membulatkan matanya,yang benar saja! dia saja sekarang masih kelas 2 sma!
Sedetik kemudian Retta tak lagi menatap Dimas "bisa tolong lo tinggalin gue?"
"Ret gue-"
"Pliss Dim"
"Oke" jawab Dimas pada akhirnya,laki-laki itu tersenyum sebentar lalu meloncat kebawah menuju rumahnya berada untuk persiapan.
Dengan sigap Retta menyobek bukunya ditemani tetesan air mata yang perlahan-lahan deras, tangan gemetar Retta menulis sesuatu dikertas itu.
Gue mohon untuk kali ini saja!tolong banget! tolong kabulin permintaan kedua gue batin Retta menerbangkan pesawat itu.
"Gue gak tau ini bakalan berhasil atau tidak? selama ini permohonan itu hanya dapat terkabul satu kali saja! dan gue malah menyia-nyiakan kesempatan itu hiks" Retta membenamkan kepalanya diatas lututnya lalu terisak disana.
Sementara sosok yang tak jauh dari sana menatap sedih Retta lantas memunggut pesawat terbang kertas itu.
"Mari kita lihat apa yang lo tulis sebelum gue pergi" sosok itu mulai membaca kertas tersebut dengan mata berkaca-kaca, tinggal satu kedipan mata saja air mata sosok itu akan jatuh.
"Buat siapa pun lo yang setiap kali mengabulkan permintaan gue! gue ucapin makasih yang sebesar-besarnya tapi gue mohon kali ini saja, besok-besok gue janji gak bakalan minta lagi sama lo! tolong banget lo tunda kepergian sahabat gue Dimas! dia sahabat satu-satunya yang gue miliki
Dia itu mood banget bagi gue,ya walaupun terlihat konyol tapi itu caranya yang dia berikan secara khusus ke gue buat ngehibur gue. Gue gak punya apapun disini selain dia! dia penyemangat gue! dia segalanya bagi gue! gue gak mau kehilangan dia! untuk itu tolong banget....."
Tes tes tes.
Hancur sudah pertahan sosok itu agar tidak menangis.
"Di dimas? ja jadi lo..."
"Pelukkan terakhir?" Dimas tanpa rasa bersalah sedikit pun merentangkan tangannya dengan air mata yang terus saja mengalir, sementara Retta yang melihat itu lantas memeluk Dimas. Menumpahkan semua kesedihanya.
"Gue hiks gue seneng lo yang liat semua permohonan gue tapi gue juga hiks gak enak sama lo"
"Maaf gue gak bisa kabulin permintaan lo yang terakhir" Retta mengeratkan pelukannya dan menambah volume isakan tangisnya.
"Retta gue gak suka liat lo nangis! gue makin gak tega ninggalin lo"gumam laki-laki itu yang mampu membuat Retta melepaskan pelukkannya secara paksa.
"Nggak! lo gak boleh! hiks lo dulu pernah janji kan? bakalan nikahin gue saat lo sukses nantinya?ingat? hiks jadi... jadilah Dimas yang sukses nantinya agar semua yang pernah nindas gue bakalan cengo hiks"
"Cengo hiks ngelihat suami gue hiks sukses dari pada yang lain hiks" Dimas tersenyum mendengar itu lalu menghapus air mata Retta yang sedari tadi meluncur.
"Gue bakalan sibuk nantinya, gue gak tau bakalan inget sama lo atau nggak..." Retta tersenyum pahit mendengarnya lalu mengeluarkan gelang dari sakunya dan memasangkannya ditangan Dimas.
"Pakek ini! jangan lo buang!" Dimas lagi-lagi tesenyum kala melihat gelang dengan bandul RD, entah dari mana gadis itu dapat yang ia tau pasti gadis itu merajutnya sendiri.
"Gue janji gak bakalan menikah sebelum gue liat calon suami lo!" teriak Dimas dengan lantangnya lalu pergi dari sana saat mobil taksi mengklaksoni mereka berdua.
"Gue bakalan rindu lo laki-laki misterius yang selama ini gue sangka peri ajaib" tangisan itu kembali keluar, mungkin hari-harinya akan menjadi buruk.
8 tahun kemudian....
"Retta!tinggal pelanggang itu doang setelah ini cafe akan tutup okey? sekarang kamu antar"
"Oke Bel!" Retta mengambil ahli nampan berisikan jus mangga dari tangan Bella-teman kerjanya.
"Selamat menikmati minuman kami Tuan" ucap ramah Retta menaruh perlahan gelas itu didepan laki-laki yang kini tengah memainkan handphone, Retta berjalan hendak pergi namun pergelangan tangannya dicekal seseorang dan membuatnya terjatuh dipangkuan seseorang.
Retta terpekik kaget saat laki-laki itu malah memeluknya.
"Miss me?"
Suara itu....