Pernikahan adalah salah satu ibadah terpanjang selama hidup. Namun, apakah cukup dua orang yang saling mencintai dan mengikat janji suci bertahan di terpa badai rumah tangga yang mungkin saja datang?
Ini tentang kapal pernikahan yang baru saja berlayar. Di dalamnya ada satu keluarga. Jika nanti, kapal menemui ombak, akankah mereka tetap saling berpegangan erat menghadapi badai bersama atau malah menyelamatkan diri masing-masing?
***
“Sudah pulang, Mas?” Asih menoleh ke arah pintu dimana sang suami masuk dengan wajah yang lelah.
“Hm.”
Reza menyandarkan tubuhnya di sofa. Raut wajahnya terlihat kuyu, tak bersemangat. Asih beranjak dari tempatnya menjahit dan duduk di sebelah suaminya.
“Capek ya? Mau mandi pakai air hangat?”
“Nggak usah. Vino mana?”
“Dia di kamar. Main HP.”
“Terus Bapak sama Ibu kemana?”
“Mereka lagi ke rumah Budhe Ina.”
Reza mengangguk.
“Mas, kamu punya hutang ke rentenir ya?”
Reza menoleh. “Mereka ke sini? Tanggal berapa ini?” Wajah Reza mendadak panik. Ia merogoh ponselnya di saku dan mengecek kalender. “Ya Tuhan. Aku lupa. Dia nagih ke sini?” tanya Reza menatap Asih.
Asih mengangguk pelan. “Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu pinjam uang ke sana? Terus uangnya buat apa?”
Reza mendengus. “Kalau aku bilang, apa kamu ngijinin? Enggak ‘kan? Terus kamu tanya uangnya buat apa?”
Reza tersenyum sinis. “Kamu pikir biaya renovasi rumah ini dapat dari mana? Kamu pikir dengan gaji buruhku ini, kita bisa pisah rumah sama orang tua kamu? Dan siapa yang memaksaku untuk pinjam ke sana? Ibumu, Asih. Ibumu.”
Asih terdiam.
“Ibumu selalu menuntutku. Sudah menikah, harus punya rumah sendiri lah, perabotan yang bagus lah, dan sebagainya. Ada anak tetangga yang bangun rumah bagus, dia pingin, terus nyuruh aku kerja lebih keras lagi supaya aku bisa buatin kamu rumah. Ibumu nggak mau kalah saing sama para tetangga. Dan yang dirugikan siapa? Aku, Asih. Aku.”
Asih masih mendengarkan. Aku tahu itu, Mas.
Reza berdiri, mengamati sekelilingnya. “Tanpa di suruh Ibumu juga, kalau aku punya uang, aku pasti akan bangun rumah untuk kita, Sih. Aku perlu waktu. Aku bukan seorang pegawai yang punya gaji tetap dan tunjangan lain-lain. Aku cuma buruh serabutan. Tapi tuntutan Ibumu sangat besar sampai membuatku pusing sendiri.”
Asih ikut berdiri, mengelus lengan suaminya. “Ya udah. Kalau mereka datang lagi, aku yang akan membayarnya. Jahitanku hampir rampung dan aku akan dapat bayarannya. Sekarang, kamu mandi dulu ya dan istirahat.”
Reza menghela napas lalu merangkul istrinya. Memeluknya sayang. “Aku mencintaimu, Asih. Maaf, kalau aku belum bisa membahagiakanmu. Tapi aku akan mengusahakannya, Sih. Kamu tempatku pulang setelah seharian bekerja. Kamu dan Vino adalah penyemangatku.”
Asih balas memeluk suaminya erat dan mengangguk. “Aku juga mencintaimu, Mas.”
Reza melepas pelukan dan masuk ke dalam. Asih menatap punggung suaminya. Ia tahu suaminya telah berusaha, tapi itu saja tak cukup di mata orang tuanya.
Asih tahu persis bagaimana sifat orang tuanya, namun ia tak menyangka bahwa Reza tertekan selama tinggal di sini.
Pukul tujuh malam, Asih, Reza, dan Vino sudah berada di meja makan. Mereka menikmati masakan Asih sambil sesekali mengobrol.
“Yah, Rabu depan ada acara pentas seni di sekolah. Ayah sama Bunda bisa datang?” tanya Vino menoleh pada Ayah dan Bundanya.
“Bisa. Nanti Ayah coba ngomong ke Bos Ayah buat ambil cuti di hari itu,” jawab Reza tersenyum.
“Yeay!” Vino bersorak senang. Ia lalu menatap Bundanya.
“Bunda juga ikut datang ‘kan?”
Asih mengangguk. “Tentu saja.”
Vino mengangguk dan tersenyum lebar. Asih menatap putra dan suaminya bergantian. Hatinya menghangat melihat interaksi mereka. Inilah keluarga kecil yang ia impikan, sebelum suasana itu berubah karena …
“Vino! Vin!”
Suara nyaring terdengar dari luar. Asih dan Reza saling pandang. Tak lama kemudian, seorang perempuan paruh baya datang dengan senyum lebarnya, melangkah masuk ke ruang makan.
“Nenek!” seru Vino riang begitu melihat Neneknya.
Sri—Ibunya Asih tersenyum dan mendekati cucunya.
“Udah selesai makannya, cucu Nenek?” Matanya melirik piring sang cucu yang sudah kosong.
Vino mengangguk. “Udah.”
“Ya udah, yuk ikut Nenek. Nenek bawain martabak telur spesial buat kamu. Yuk ke rumah Nenek,” ajak Sri langsung menggandeng Vino.
Sebelum beranjak, Vino menoleh pada Bunda dan Ayahnya. Meminta ijin. Setelah Asih mengangguk, Vino langsung mengikuti Neneknya.
Sri bahkan tak menoleh sedikitpun pada Reza. Ia hanya melihat Asih dan berkata,” Nanti nyusul ke rumah sebelah ya.”
Setelah Sri dan Vino tak terlihat, Reza menyandarkan tubuhnya di kursi. Helaan napasnya terdengar kesal.
“Begitu Ibu kamu itu. Masuk rumah tanpa permisi. Teriak-teriak dan membawa anak kita gitu aja. Nggak sopan banget.”
Ucapan Reza membuat Asih terdiam sesaat.
“Aku tahu ini rumah beliau. Tapi kan beliau udah ngasih rumah ini buat kita. Harusnya tetap ada batasan. Jangan keluar masuk seenaknya aja sekalipun ini rumah anaknya,” lanjut Reza.
“Beliau cuma kangen sama cucunya, Mas. Perasaan dari dulu Ibu selalu gitu. Kenapa kamu sekarang mempermasalahkannya?” Asih bertanya pelan.
Reza mendengus sebal. Ia beranjak berdiri. “Bela terus Ibumu itu. Emang suamimu ini nggak ada harga dirinya sama sekali di rumah ini.”
Reza melangkah keluar dari ruang makan. Asih menghela napas. ‘Sabar, Sih. Sabar.’
Asih lantas membereskan meja makan sebelum menyusul anaknya ke rumah sebelah—rumah orang tuanya. Setelah selesai, Asih ke kamar untuk berpamitan pada suaminya. Walau hanya ke rumah sebelah, tapi Asih tetap harus memberi tahu suaminya kemanapun ia pergi dan meminta ijinnya.
“Loh? Kamu mau ke mana, Mas?“ tanya Asih melihat suaminya yang sudah memakai kaos hitam berlogo gambar perguruan silatnya.
“Mau ke base camp,” jawab Reza tanpa menoleh.
“Tapi ini ‘kan masih sore.” Asih heran karena biasanya Reza pergi ke tempat itu sekitar jam sembilan malam. Tapi ini masih jam tujuh.
Reza menoleh. “Kamu juga mau ke sebelah ‘kan? Dan aku lagi males ngobrol sama orang tuamu. Mood ku lagi nggak baik. Jadi, aku ke base camp aja.”
Asih terdiam. Hingga Reza keluar dari rumah pun, Asih masih berdiri di ambang pintu. Ada perasaan yang sulit ia jelaskan. Rasanya semua telah berubah. Telah berbeda.
Tak ingin memikirkan hal yang tidak-tidak, Asih pun keluar. Menutup pintu dan masuk ke dalam rumah orang tuanya. Berkumpul, bercengkrama dengan anak dan orang tuanya.
***
“Kamu atau Reza yang bayar itu?”
Suara Sri membuat Asih menoleh ke belakang. “Ibu?”
“Itu orang yang kemarin nagih hutang ke sini ‘kan? Kamu bayar pakai uang Reza atau uang hasil jahitanmu?” tanya Sri lagi.
Asih masuk ke dalam dan duduk di sofa. “Sama aja, Bu. Mau pakai uangku atau uang Mas Reza, yang penting hutangnya dibayar. Toh Mas Reza hutang juga buat biaya hidup kami.”
Sri menghela napas pendek dan ikut duduk di sebelah Asih. “Apa dia nggak se-berguna itu sampai buat biaya hidup aja pinjam ke rentenir? Kamu tahu ‘kan, bunganya sangat tinggi. Bisa-bisanya suamimu pinjam ke sana.”
“Bu, tolong jangan salahin Mas Reza. Dia juga kerja. Cuma ya memang hasilnya nggak seberapa. Makanya aku bantu dia kerja dengan jahit pakaian. Kalau dia nggak ada uang, aku masih ada. Yang penting kami nggak kekurangan.”
“Kapan dia ada uang? Perasaan apa-apa pakai uangmu terus. Lama-lama dia jadi malas kerja karena kamu bisa biayain hidupnya.” Sri lantas berdiri dan masuk ke dalam.
Asih menatap punggung Ibunya. Menyandarkan tubuhnya di sofa, ia menatap langit-langit ruangan.
‘Semakin ke sini, kenapa ujian rumah tangga kami semakin berat saja, Tuhan?’
Asih masih tetap bersabar dan terus mengalah saat suami dan kedua orang tuanya terutama Ibunya selalu berbeda pendapat.
Setiap malam pula, Reza selalu pergi ke base camp perguruan silatnya dan pulang dini hari. Padahal sebelumnya, Reza hanya pergi seminggu paling banyak tiga kali ke sana.
Setiap malam, tak pernah ada lagi pelukan hangat pengantar tidur yang biasa Reza berikan pada Asih. Asih sudah terlalu sering tidur berdua bersama sang putra.
Pernikahannya terasa hambar. Kosong. Kemana cinta mereka yang dulu membara, yang dulu menjadi landasan pernikahan mereka?
Mengapa rasanya cinta itu perlahan pudar seiring berjalannya waktu?
“Bun, Ayah kemana sih? Kok sekarang jarang makan bareng kita lagi?” Vino bertanya saat mereka hendak makan malam.
Asih tersenyum lirih. “Ayah masih kerja, Nak.”
“Ayah lembur terus. Pulang-pulang, mandi, terus pergi lagi. Aku bangun pagi, Ayah juga udah berangkat kerja. Terus kapan aku bisa main sama Ayah lagi, Bun?”
Pertanyaan Vino menghentak batin Asih. Putra semata wayangnya ini baru berusia empat tahun. Belum mengerti masalah orang dewasa.
“Nanti Bunda bilang ke Ayah ya kalau Vino kangen pingin main bareng. Sekarang, kamu makan dulu ya.” Asih meletakkan lauk kesukaan Vino.
Vino mengangguk, mengambil sendok, dan menyuap makanannya. Asih menoleh ke arah kursi yang biasa di tempati suaminya. Setelah itu, ia beralih menatap sang putra yang fokus dengan makanannya. Helaan napasnya terdengar lirih. Ada rasa sakit di dalam sana. Sakit karena ia terpaksa membohongi putranya.
Makan malam itu hening. Hanya ada suara denting sendok beradu dengan piring. Tak ada senda gurau yang acap kali menemani makan mereka.
Selesai makan, Vino beranjak ke kamar. Ia main ponsel seperti biasa. Terpaksa Asih mengijinkan Vino bermain ponsel di usia dini karena dengan begitu, ia bisa bekerja—menjahit pakaian langganannya.
Asih membereskan meja makan lalu bersiap untuk kembali menjahit. Ada beberapa pakaian yang belum rampung dan ia ingin menyelesaikannya dengan cepat agar segera dapat uang.
Ponselnya di sebelah mesin jahit berdenting. Asih meliriknya sekilas. Begitu nama suami tertera di layar, Asih menghentikan kegiatannya. Mengambil ponsel dan membuka pesan dari suaminya.
Asih terdiam sesaat sebelum memberi balasan. ‘Baiklah. Mungkin dia sedang sangat lelah.’
Asih terus berpikir baik tentang suaminya. Barusan, Reza mengirimkan pesan bahwa dia tak pulang. Setelah pulang bekerja, ia pulang ke rumah orang tuanya, lalu pergi ke base camp perguruan silatnya lalu kembali pulang ke rumah orang tuanya.
Reza hanya memberi tahu. Tidak meminta ijin. Pria itu seolah lupa bahwa istri dan anaknya selalu menunggu kepulangannya. Ia bersikap layaknya seorang pria lajang.
Semakin hari, Reza semakin menjauh saja. Dia pulang sesuka hati lalu kembali pergi. Tak jarang, ia tak pulang ke rumah mereka, tapi pulang ke rumah orang tuanya.
Pagi itu, setelah Asih mengantarkan putranya sekolah, Sri memanggilnya. Sri mengajak Asih masuk ke dalam rumahnya.
“Asih, sebenarnya Reza itu kemana? Ibu nggak pernah lihat dia beberapa hari ini.” Sri langsung bertanya setelah Asih duduk di sofa.
“Kerja, Bu,” jawab Asih.
“Kerja apa dia? Dari pagi sampai malam, bahkan nggak pulang. Tapi uangnya mana? Ada nggak dia ngasih kamu?”
Asih menatap Ibunya. “Ada kok.”
“Oh ya?” Sri mengangkat alisnya. Ragu dengan jawaban Asih.
“Bu, aku mohon sama Ibu, jangan bahas ini itu sama Reza. Dia sudah bekerja keras buat nafkahin kami, Bu. Tolong ijinkan kami mengurus rumah tangga kami sendiri.” Asih menatap Ibunya dengan tatapan memohon.
Sri terkekeh,” Suami itu harus bertanggung jawab atas istri dan anaknya. Apa yang Ibu lakukan, semuanya untuk kamu, Sih. Ibu ikut campur karena suami kamu itu bertingkah seenaknya sendiri. Jangan pikir Ibu nggak tahu, kalau beberapa bulan ini, biaya hidup kalian itu dari uang menjahitmu. Vino juga cerita kalau dia nggak pernah dapat uang jajan dari Ayahnya.”
“Asih, Ibu dan Ayah menikahkanmu agar kamu bahagia. Reza pilihan hidupmu. Kami tak pernah memaksamu untuk segera menikah, tapi kamu..” Sri menghela napas sejenak,” Begitu lulus sekolah, kamu ingin segera menikah dengan Reza dengan alasan saling mencintai.”
“Apa ini yang kamu bilang cinta? Selalu mengalah dan menutup mata atas sikap suami kamu yang seenaknya?”
“Reza nggak KDRT, Bu. Dia cinta sama aku. Kalau masalah ekonomi, setiap rumah tangga pasti ada aja ujiannya. Dan ujian kami saat ini memang masalah ekonomi. Tapi selama Mas Reza berusaha, aku akan selalu mendukungnya. Ibu jangan membandingkan pernikahanku dengan pernikahan orang lain. Aku tahu Ibu nggak menyukai Mas Reza, tapi dia suamiku, Bu. Dia ayahnya Vino, cucu Ibu. Jadi tolonglah, Bu. Kali ini saja, Ibu nggak usah minta apa-apa sama dia. Jangan buat dia nggak nyaman di rumahnya sendiri, Bu. Kalau Ibu terus seperti ini, nggak cuma Reza yang tertekan, tapi aku juga.”
Asih berdiri. “Maaf, kalau aku nggak nurut apa kata Ibu. Tapi Reza adalah suamiku. Dan sebagaimana seorang istri, aku akan lebih menuruti apa kata suamiku.”
Asih lantas melangkah keluar dari rumah Ibunya. Sri menghela napas panjang. Bukan. Bukan ini yang Ibu maksud, Asih.
Malam harinya, Asih duduk di teras rumah. Sudah pukul sembilan malam. Vino sudah tidur, dan mungkin kedua orang tuanya juga. Asih duduk di sana, menunggu kedatangan Reza.
Suara motor terdengar mendekat. Sunyinya malam, membuat suara itu terdengar jelas. Asih berdiri dengan senyuman lebarnya saat melihat siapa yang datang.
“Nungguin?” tanya Reza melangkah mendekat.
Asih mencium punggung tangan suaminya dan mengangguk. Keduanya lantas masuk ke dalam rumah.
“Asih, aku mau ngomong sama kamu. Penting,” ucap Reza.
Asih menoleh.
“Ada apa, Mas? Semuanya baik-baik aja?” Asih bertanya dengan nada khawatir.
Reza menggeleng pelan. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa. Helaan napas lelah terdengar. Matanya menatap langit-langit ruangan.
“Aku mau merantau aja, Sih.”
Asih mematung. Merantau?
“Maaf, aku nggak bilang sama kamu kalau aku sedang dililit hutang, Sih. Yang kemarin kamu bayar, itu hanya salah satunya. Masih ada hutang lainnya lagi.”
“Buat apa Mas?” Asih bertanya pelan. Napasnya tercekat. Mulai berpikir berapa sebenarnya hutang Reza?
“Buat acara perguruan silat. Aku butuh pegangan uang. Setiap acara yang diselenggarakan, semua anggota diwajibkan iuran. Terus buat beli seragamnya, dan lain-lain. Aku juga mau modifikasi motor.”
Asih melihat raut wajah Reza. Kepalanya menggeleng pelan, tak percaya dengan penuturan Reza. Hanya karena hobby, ia sampai berhutang sana-sini? Sedangkan untuk biaya hidup, Asih menggunakan uang hasil menjahitnya sendiri.
Reza menegakkan tubuhnya dan melihat Asih.
“Aku ke Jakarta ya? Aku mau ikut tetanggaku jualan bakso di sana. Besok pagi aku berangkat. Kamu bisa ‘kan bilang sama Vino? Aku harus berangkat pagi-pagi. Sekarang, aku ke sini cuma mau ambil baju-bajuku lalu pulang ke rumah orang tuaku.”
Asih menggeleng berkali-kali. “Kamu bahkan nggak nanya dulu apa pendapatku tentang niatmu ke Jakarta itu, Mas? Kamu memutuskannya sendiri?”
“Aku seorang kepala keluarga. Aku berhak memutuskan apapun. Kamu tenang saja, Sih. Aku nggak akan lari dari tanggung jawab kok. Aku akan kirimkan uang nanti setiap gajian. Untuk sementara ini, kamu bisa ‘kan bayarin hutangku dulu?”
Dengan tak tahu malu, Reza meminta Asih untuk melunasi hutang yang bahkan Asih sendiri tak tahu kemana larinya uang hasil hutangnya itu.
Napas Asih tercekat. Dia menatap Reza.
“Kamu bilang nggak akan lari dari tanggung jawab? Terus ini apa? Kamu mau pergi ke Jakarta, ninggalin aku dan Vino, dan juga meninggalkan hutang padaku. Apa ini bukan termasuk lari dari tanggung jawab?”
Reza mengusap wajahnya. “Kamu ini ngerti nggak sih kalau aku terus disini, hidup kita akan begini-begini aja. Emang kamu mau hidup kayak gini terus sama aku? Nggak kan?”
“Uang memang penting tapi kehadiranmu di sisi kami itu juga penting, Mas. Aku ingin kita terus bersama seperti impian kita sebelum menikah dulu. Kalaupun memang kamu ingin pergi, harusnya kamu tanya pendapatku dulu. Nggak tiba-tiba besok berangkat. Bagaimana caraku menjelaskan pada Vino dan semua orang?”
Reza menghela jengah. Ia melangkah menuju kamar tanpa menanggapi ucapan Asih. Asih terduduk di sofa. Matanya memerah. Batinnya terkoyak. Rasa tidak dihargai oleh suaminya sendiri nyata adanya. Ia duduk terdiam. Terlalu terkejut dengan apa yang terjadi. Reza pulang hanya untuk pergi lagi meninggalkannya dan juga putra mereka.
Tak lama kemudian, Reza keluar kamar dengan membawa tas ransel. Asih menoleh.
“Aku pergi, Sih. Salam sama Vino ya.”
Satu kalimat dari Reza membuat Asih hanya bisa diam, menatap kepergian Reza. Tak ada kata maaf. Tak ada pelukan. Reza pergi tanpa peduli bagaimana perasaan Asih.
Hingga motor Reza menjauh pun, Asih masih tetap diam, duduk di tempatnya. Tubuhnya bergetar. Dadanya sesak. Ia terisak dalam diam. Dalam sunyinya malam yang menyadarkannya bahwa besok, Reza tak lagi berada di sini. Di sisinya.
***
“Sekarang apa lagi, Asih? Suami macam apa dia? Pergi tanpa berpamitan dan meninggalkan hutang padamu! Apa itu watak asli orang yang kamu cintai itu?”
Suara Sri cukup menggelegar di rumah Asih. Beruntunglah Vino sudah berangkat sekolah dan para tetangga sudah berangkat ke sawah sehingga Sri tak perlu takut omongannya terdengar kemana-mana.
“Mau sampai kapan kamu terus mengalah, Asih? Mau sampai kapan kamu nggak dihargai seperti ini?”
Sri berjalan mondar-mandir di hadapan Asih yang diam menunduk setelah menceritakan kepergian Reza tadi malam.
“Ibu dan Bapak nggak menikahkanmu untuk membuatmu menderita, Asih. Kamu sendiri yang memilihnya menjadi suami. Kamu bahkan tak mau mendengar Ibu dan Bapak yang keberatan kamu menikah muda dengannya. Kamu tetap pada keputusanmu menikah dengannya. Dan sekarang lihatlah. Kamu ditinggalkan begitu saja. Alasan saja bilang mau kerja di Jakarta. Padahal dia pingin bebas. Dia mau lari dari tanggung jawabnya sebagai suami. Apa kamu nggak bisa buka mata akan hal itu, Sih?”
Asih menunduk semakin dalam. Area sekitar matanya bahkan membengkak karena tangisan semalam dan ditambah pagi ini. Sri duduk di sebelah Asih. Menggenggam tangan, menahan suara yang bergetar.
“Jika perasaanmu sakit, percayalah, perasaan Ibu dan Bapak lebih sakit darimu, Asih. Ibu dan Bapak nggak bisa melihatmu seperti ini. Kami menikahkanmu dengan harapan kamu bahagia dengan pilihan hatimu. Bukan malah melihatmu menderita seperti ini, Asih.”
Suara Sri melembut. Ada getar di sana menandakan betapa Sri menahan diri untuk tak terlihat lemah di hadapan sang putri yang tengah terluka.
“Maaf, kalau Ibu dan Bapak sering ikut campur dalam hubungan kalian. Tapi itu bukan alasan dia bisa bertindak semena-mena seperti ini, Asih.”
Sri menghela napas pelan dan berat. “Ibu rasa semua ini sudah cukup, Sih. Sudah cukup kamu bertahan, menerima semua perlakuannya, dan selalu mengalah demi egonya.”
Asih mengangkat wajah, menatap sang Ibu dan menggeleng perlahan. Ia tahu. Ia tahu apa maksud ucapan Ibunya.
“Mas Reza nggak KDRT kok, Bu. Dia juga nggak selingkuh. Dia cuma merantau untuk memperbaiki keadaan ekonomi kita. Ibu jangan berpikir macam-macam ya. Aku masih kuat kok. Bukannya setiap pernikahan itu ada saja ujiannya? Dan saat ini, kami lagi di uji. Kami yakin kami bisa melewati badai ini kok.”
Sri menatap datar. “Yang diuji itu siapa? Kalian atau cuma kamu aja? Ibu yakin dia pergi karena ingin lepas dari tanggung jawabnya.”
“Maaf, Bu. Tapi aku nggak mau memberikan keluarga yang hancur pada anakku. Selama aku masih kuat, aku akan bertahan.”
Sri menghela napas panjang. Baiklah.
“Ya sudah. Terserah kamu. Tapi, kalau suatu saat nanti, kamu nggak kuat lagi, datanglah pada Ibu dan Bapak. Kami akan tetap jadi orang tuamu. Pulanglah. Karena kamu selamanya tetap menjadi anak kami dan Vino adalah cucu kami.”
Asih mengangguk. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Lega, karena sang Ibu tak lagi memaksa.
***
“Asih! Sih!”
Asih yang sedang menjahit menoleh.
“Asih! Kamu lihat ini. Ini Reza kan?” Rina—tetangga Asih datang dengan napas terengah menunjukkan isi ponselnya.
Asih mengernyit. Mengambil ponsel dan memperhatikan layar. Tubuhnya seketika membatu. Iris matanya goyah menatap layar ponsel Rina.
Di sana, ada sebuah akun dengan foto seorang pria dan wanita tengah tersenyum menatap kamera. Senyuman keduanya tampak sumringah.
“Iya bukan, Sih? Tapi … Akunnya Reza bukan itu.” Rina bertanya dengan raut wajah bingung sambil melihat Asih.
Asih terdiam. Ia mengembalikan lagi ponsel itu pada pemiliknya dan kembali menjahit.
“Asih? Kok diam sih? Itu beneran Reza atau orang lain?”
“Bukan.” Singkat saja jawaban Asih tanpa menoleh.
Rina melihat lagi layar ponselnya. “Aku juga ragu sih. Di sini keterangannya di Jakarta. Sementara Reza ‘kan kerja di sini. Paling cuma mirip. Maaf ya, aku tadi panik aja ngiranya itu Reza.”
Asih mengangguk pelan. Setelah itu Rina pamit pulang. Barulah Asih mengangkat wajah. Dia berdiri, melangkah ke arah pintu, dan menutupnya.
Tangannya bergerak cepat menyambar ponsel, menekan nomor Reza. Terdengar nada sambung. Satu kali. Dua kali. Tak diangkat. Asih terus mencobanya.
“Halo. Ada apa, Sih? Ganggu aja.” Suara Reza terdengar kesal.
“Siapa wanita itu, Mas?” Asih langsung bertanya.
“Wanita? Maksudmu siapa? Aku sibuk ya, Sih. Aku kerja ikut orang dan nggak punya waktu buat telponan.”
“Jangan pura-pura nggak tahu, Mas. Kamu bikin akun media sosial baru dan mengunggah fotomu sama wanita itu. Siapa dia, Mas?”
“Akun apaan sih? Nggak jelas. Udah ya aku sibuk.”
“Tapi—“
Tut!
Belum lengkap kalimat Asih, Reza sudah mematikan panggilan. Asih menatap layar ponselnya. Dadanya bergemuruh. Dia yang paling tahu bahwa pria yang ada di foto itu adalah benar Reza, suaminya. Dia terpaksa berbohong pada Rina karena tak ingin tetangganya itu tahu apa yang terjadi dalam rumah tangganya. Toh hingga saat ini, tak ada satupun yang tahu bahwa Reza ada di Jakarta kecuali kedua orang tuanya.
Asih menyentuh dadanya yang berdenyut perih. Bayangan perpisahan itu berada di depan matanya. Jika benar Reza bermain gila dengan wanita lain, maka bisa dipastikan dia tak akan sanggup bertahan.
Apapun ujian dalam pernikahannya, ia bisa menghadapinya walau sendirian. Tapi tidak dengan pengkhianatan. Perselingkuhan. Kepalanya menggeleng pelan.
‘Nggak. Semua ini pasti nggak benar. Aku harus mendengar penjelasan Mas Reza dulu. Ya. Nggak mungkin dia selingkuh.’
Asih berusaha untuk tetap berpikir positif. Dia akan menunggu nanti malam. Menunggu penjelasan Reza.
Akan tetapi, hingga tengah malam ia menunggu, Reza tak kunjung bisa ia hubungi. Entah kesibukan seperti apa yang sedang dilakukan Reza?
Hal itu terus berlalu hingga berhari-hari. Reza semakin sulit dihubungi. Bahkan semua akun media sosial Reza, Asih kirimi pesan, tapi tak kunjung dibalas.
Hingga di suatu saat, Reza yang lebih dulu menghubungi.
“Sibuk apa sampai kamu melupakan istri dan anakmu, Mas?” Asih langsung bertanya—tanpa basa-basi saat sambungan telepon itu terhubung.
“Ya namanya kerja ikut orang. Kadang kan disuruh ini itu setiap waktu,” jawab Reza santai, tanpa rasa bersalah.
Asih menarik napas pelan. Matanya menatap langit dari jendela rumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Vino sudah tertidur di kamarnya setelah bertanya ‘kapan Ayah pulang, Bun?’ atau ‘coba telepon Ayah, Bun. Aku kangen.’—yang hanya bisa dijawab Asih dengan kalimat ‘nanti yah. Kalau Ayah nggak sibuk, kita teleponan.’
Alasan. Tapi hanya itu yang bisa Asih jawab pada sang putra.
“Asih? Kenapa diam? Kemarin-kemarin kamu nelpon, akunya yang sibuk. Sekarang, aku yang nelpon, kamu diam aja.” Suara Reza membuyarkan lamunan Asih.
“Siapa wanita itu, Mas? Wanita yang kamu posting di akun media sosialmu yang baru.”
“Media sosial yang mana? Aku cuma punya satu akun. Itu pun aku jarang buka.”
Asih mendecih dalam hati. “Siapa yang mau kamu bohongi?” Jeda sesaat. “Aku?”
“Aku nelpon kamu bukan untuk kita bertengkar kayak gini ya. Aku mau nanyain kabar kamu sama Vino. Dan perlu kamu tahu. Aku di sini itu kerja. Jangan mikir yang enggak-enggak.”
“Kerja apa? Terus mana hasil kerjamu? Kamu kirim nggak ke aku? Ingat ya, Mas. Aku masih bayarin utang-utang kamu ke mereka.” Nada suara Asih mulai meninggi seiring gejolak rasa kecewa dan marah muncul ke permukaan.
“Kamu kenapa, Asih? Kenapa kamu membentakku? Masalah uang, sekarang aku lagi kumpulkan. Nanti kalau aku pulang, aku akan kasih ke kamu semuanya.”
“Terus selama itu, bagaimana dengan utang-utangmu dan biaya hidup kami?!”
“Kamu kan ada penghasilan dari menjahitmu itu. Pakai itu dulu.”
Asih menyeringai sinis. “Kalau semua biaya hidup, kamu bebankan ke aku sendiri, terus gunanya kamu apa?”
“ASIH! Jaga bicaramu pada suamimu!” Reza membentak.
Asih terdiam. Tubuhnya kaku. Matanya menatap nanar langit gelap. Rasa perih menjalar di dalam dadanya. Sakit. Nyeri.
“Sudahlah! Percuma ngomong sama kamu yang nggak ngertiin aku! Aku tutup dulu.” Reza langsung mematikan panggilan. Bahkan ia tak perlu repot-repot menunggu jawaban Asih.
Asih menatap layar ponselnya sebentar dan menurunkannya. Ia berjalan menjauhi jendela dan masuk ke dalam kamar putranya. Di sana, Vino tengah terlelap dalam selimut hangat. Tidurnya tenang. Dia hanyalah seorang anak kecil yang tak tahu permasalahan orang tuanya. Anak kecil yang menjadi buah cintanya dan Reza.
Lama Asih memandangi wajah damai sang anak. Mengelus pelan rambut tipisnya dan mencium keningnya. Lama.
Jika ia menyerah, bagaimana dengan Vino?
Pikiran itu semakin menguat. Perpisahan.
Ya. Perpisahan.
Untuk apa terus bertahan jika di sini, ia berjuang sendirian?
Ibarat kapal, ia adalah nahkoda utama. Jika kapalnya bocor, apa dia akan tenggelam membawa putranya ikut serta?
Tidak.
Dia tak boleh tenggelam. Putranya juga tak boleh ikut tenggelam.
Ia harus berjuang membawa kapal itu sampai dermaga walau sulit. Walau air terus memasuki kapal.
Ia akan berjuang demi sang putra walau sendirian. Mengambil napas panjang nan berat, Asih keluar kamar.
***
“Bun, Nenek kasih uang jajan. Nih.” Vino berkata ketika dia hendak berangkat sekolah. Menunjukkan selembar uang merah pada Bundanya.
“Banyak banget, Vin.”
“Ini Bunda aja yang pegang. Takutnya hilang. Tapi, aku boleh minta beliin jam tangan, Bun?”
Asih tersenyum, mengelus kepala Vino, dan mengangguk.
“Nanti pulang sekolah, kita langsung beli ya, Bun.”
“Oke.”
Asih lantas mengantarkan Vino ke sekolah. Setelah itu, Asih kembali pulang. Ia melihat Ibunya yang berjalan menuju rumah membawa plastik belanjaan.
“Bu.” Asih memanggil.
“Iya.”
“Ada yang mau aku bicarain sama Ibu dan Bapak.”
Sri menatap Asih. “Apa?”
“Eum… Bapak mana, Bu?”
“Bapak ke sawah. Seperti biasa. Ada apa?” Sri mendekat. Memperhatikan wajah Asih yang terlihat ragu.
“Nanti sore aja, Bu.”
Sri mengangguk. Seolah tahu apa yang akan dibicarakan sang putri, Sri berkata,” Kami akan mendengarkannya.”
Asih mengangguk dan membuka pintu rumahnya sendiri. Ia langsung menuju meja jahitnya dan memulai pekerjaannya. Hatinya tak tenang. Setelah malam itu, Reza tak menghubunginya lagi. Asih bahkan terus bertanya lewat pesan singkat, tapi tak pernah dijawab suaminya.
Malam tiba. Asih duduk berdampingan dengan Ibu dan Bapak duduk di seberangnya. Vino berada di depan televisi sambil memegang ponselnya.
“Bu, Pak, kalau misalnya aku ingin pisah dari Mas Reza, Bapak dan Ibu marah nggak?” Asih berkata pelan. Takut terdengar oleh putranya sendiri.
Sri dan Tio—Bapak Asih, saling pandang. Mereka belum menjawab. Tapi mereka mendengarkan.
Asih menundukkan kepalanya. “Semakin kesini, rasanya semakin berat untukku. Aku mencintainya tapi dia nggak mencintaiku. Bukankah saat ada masalah, harusnya dua orang yang menyelesaikannya dan berusaha mempertahankan pernikahan?”
Asih menghela napas pelan. “Tapi di sini hanya aku yang berusaha. Hanya aku yang mempertahankannya.” Asih meremat jemarinya sendiri. “Apa salah kalau aku mulai merasa lelah? Apa salah kalau aku meminta sedikit waktunya? Apa salah kalau aku terus menghubunginya berharap hubungan kami kembali membaik?”
Asih kian menunduk dalam. “Dia menganggapku pengganggu. Dia nggak membutuhkanku lagi. Dia … Dia sudah tak peduli denganku dan Vino. Kami sendirian, Pak, Bu. Aku nggak kuat lagi. Rasanya sakit.”
Isakan lirih terdengar dari bibir Asih. Sri menarik napas. Pelan tapi juga berat. Ia merangkul Asih. Memeluk bahu ringkih yang sudah bertahan semampunya dalam mempertahankan pernikahan yang baru seumur jagung itu.
Tangan Sri mengelus punggung Asih. Hati Ibu mana yang kuat melihat rumah tangga putrinya yang sudah berada di ambang jurang perceraian.
Asih memang belum mengatakan itu. Tapi dari cara Asih berbicara, menyuarakan suara hatinya, ia sudah tahu kemana arah pembicaraan penting ini.
“Kapan Reza pulang, Sih?” Tio berbicara setelah hening sesaat.
Asih menggeleng. “Nggak tahu, Pak.”
“Kalau begitu, katakan padanya. Suruh dia pulang. Bapak ingin bicara berdua dengannya. Kalau dia nggak mau, maka Bapak sendiri yang akan mengambil kembali tanggung jawabmu dari dia.”
Asih mendongak. Menatap Tio dengan mata berkaca-kaca.
“Sudah cukup, Nak. Kali ini biarkan Bapak yang menyelesaikan semuanya,” ucap Sri pelan.
Asih menoleh, menggeleng, semakin terisak. Sri terdiam. Matanya menatap Tio. Tio diam. Tak lama kemudian, ia bangkit berdiri dan masuk ke dalam.
Sri terus mengelus punggung Asih. “Bilang aja begitu sama Reza. Katakan Bapak mau bicara. Kalau dia nggak mau, berarti dia benar-benar tak peduli denganmu, Sih.”
Asih tak menjawab. Ia hanya terus terisak, memeluk Ibunya erat.
***
“Ceraikan dia, Asih. Segera urus semua. Mengenai biaya, biar Bapak yang urus.”
Tio berkata setelah Asih mengatakan bahwa Reza tak ingin pulang walau sudah diancam akan diceraikan Asih. Reza bahkan tak peduli sama sekali dengan perasaan istrinya.
Asih menunduk. Tangannya terkepal erat di pangkuan. Inikah akhir dari pernikahanku?
“Dia tidak memberikanmu nafkah berbulan-bulan. Itu sudah cukup untuk menjadi alasan perceraian kalian. Jangan menggenggam luka terlalu lama, Asih. Bapak nggak bisa. Bapak yang menjabat tangannya saat menyerahkanmu untuk hidup bersamanya. Bapak relakan kamu menjadi tanggung jawabnya. Tapi bukan untuk disakiti seperti ini, Asih. Bapak melakukannya bukan untuk membuatmu menderita seumur hidup bersamanya. Bapak membenci perceraian. Tapi Bapak juga nggak bisa membiarkanmu terus tersiksa seperti ini di depan mata Bapak.”
Tio menarik napas. Dadanya terasa sesak saat mengatakan kalimat per kalimat yang sungguh tak ia sangka akan keluar dari mulutnya sendiri. Menyuruh putrinya sendiri bercerai.
“Bapak dan Ibu masih bisa membiayai hidupmu dan Vino. Kami masih bisa merawat kalian. Menjaga kalian. Pria itu … Pria itu sudah tak layak lagi menjadi suamimu dan ayah dari Vino. Kamu nggak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Segeralah urus semua surat-suratnya.”
Tio mengambil napas dalam. Batinnya jauh lebih sakit harus melakukan ini ketimbang Asih. Dialah yang menyerahkan Asih pada pria yang Asih cintai. Dialah yang merelakan Asih memilih pilihan hidupnya sendiri. Dan kini, dialah yang menyuruh putrinya bercerai. Mengakhiri hubungan pernikahan yang jelas sudah tak bisa dipertahankan lagi karena Asih sudah menderita selama ini.
“Ba-ba-bagaimana … kata orang jika aku jadi janda di usiaku sekarang, Pak?” Asih bertanya lirih. Tak ada air mata yang keluar saat Bapaknya sendiri meminta ia bercerai. Asih sudah terlalu lelah. Ia sudah muak menangis terus menerus, sementara Reza … Mungkin, pria itu saat ini tengah bersenang-senang tanpa memikirkan perasaannya sama sekali.
“Bagaimanapun juga, kamu adalah putri kami. Anak kandung kami. Kami akan selalu berada di depan, membelamu jika ada yang menghina statusmu. Kami nggak akan tinggal diam. Lagipula untuk apa kamu pedulikan omongan orang kalau kamu sendiri nggak bahagia?”
“Yang terpenting itu adalah kamu, Asih. Kebahagiaanmu adalah prioritas Bapak dan Ibu. Untuk Vino, kita akan jelaskan pelan-pelan. Toh sudah biasa bukan? Reza nggak pernah ada untuk Vino. Bapak yakin Vino sudah terbiasa tanpa kehadiran Ayahnya itu. Bahkan saat dia berjanji akan datang ke acara sekolahnya Vino dan dia nggak hadir, Vino cuma diam walau Bapak lihat dia kecewa.”
Asih menatap Bapak dengan mata berkaca-kaca. Walau berat. Walau ia tak siap, tapi melihat mata Bapaknya yang tegas namun ada sorot kekecewaan di sana, Asih akhirnya mengangguk lemah.
Jika ia ingin membahagiakan putranya, maka ia harus bisa membahagiakan dirinya sendiri dulu. Maka, dengan keyakinan teguh, ia akan memutuskan semuanya. Memutuskan segala belenggu rantai luka yang melilit entah sejak kapan
Perpisahan memang menyakitkan. Tapi lebih menyakitkan lagi jika tetap bertahan menggenggam luka. Perlahan, biar waktu yang menyembuhkan. Biar waktu yang menghapus segala luka. Mungkin butuh waktu yang tak sebentar. Tapi, Asih yakin, kebahagiaan itu pasti menanti setelah perpisahan ini.
***
Kapal itu. Kapal yang berisikan kami bertiga—Reza, Asih, dan Vino, kini harus berlayar ke arah yang berbeda. Tak lagi memiliki tujuan yang sama. Menurut Reza, kapal itu terlalu banyak penumpang yang ingin menjadi nahkoda, sehingga akhirnya Reza memutuskan mengambil kapal itu sendiri dan menurunkan Asih serta Vino ke kapal yang lebih kecil.
Kini, Asih harus berjuang di kapal kecil itu. Berlayar bersama sang putra. Ia lelah mengayuh. Tak hanya lelah fisik, tapi juga batin. Hanya saja, tak mungkin ia menyerah dengan jatuh ke laut, meninggalkan Vino di atas kapal, ataupun mengajak Vino tenggelam bersamanya.
Apapun yang terjadi, Asih akan berusaha sekuat tenaga mengayuh kapal kecil itu di laut lepas yang dingin dan tenang. Ia tahu, dermaga indah di ujung laut sana pasti menanti mereka. Entah kapan mereka sampai, tapi ia yakin akan ada seseorang yang menanti mereka. Menerima mereka dengan ketulusan tanpa melihat masa lalunya. Semoga saja.
Selesai.