Namaku Nana, aku hidup dalam keluarga yang kaya raya. Aku bahagia menjalani kehidupan ku saat ini.Ditambah lagi keluargaku sangat memperhatikanku. Tetapi semua berubah semenjak kehadirannya. Ya...kehadiran iblis yang sok manis itu.
Semua berawal dari bangkrut nya perusahaan teman ayahku yang bernama Om Hendra. Dia memiliki anak gadis yang masih berusia 5 tahun. Namanya adalah Rina. Om Hendra menitipkan Rina pada ayahku selama ia pergi ke Jepang untuk mengembalikan kondisi perekonomiannya.
Ayahku setuju dan dia mengangkat Rina menjadi bagian dari keluarga kami. Ayah dan Mama sangat menyayangi nya terutama aku. Aku terlahir sebagai anak tunggal dalam keluarga ini, jadi wajar aku sangat bahagia memiliki adik. Jujur saja dia anak yang sangat manis dan menggemaskan sekali.
Tetapi secara perlahan kebahagiaanku direnggut olehnya. Mamaku lebih memperhatikannya daripada aku. Ayah sering membelikan barang kesukaannya. Aku masih berusaha untuk sabar dan kuat untuk menerima ini semua.
"Ma..hari ini ulang tahun Nana" ucapku pada Mama yang sedang menyisir rambut Rina.
"Ih kamu ini manja banget sih..Mama lagi sibuk tau gak?Ini uang buat kamu belanja sepuasnya. Sudah sana pergi jangan ganggu Mama lagi"
Ucapan Mama membuat hati ku tersayat pedih kala itu. "Ma...Mama marah sama Nana? Nana minta maaf Ma..." rengek ku pada Mama.
"Ih...kamu ini ya...sudah lah jangan buat Mama semakin kesal padamu..!"
"Ma?"
"Sudah pergi sana bukannya sudah Mama beri uang yang banyak? Masih kurang kah?"
"Ma...bukan uang yang Nana inginkan tapi kasih sayang Mama yang selama ini menghilang" ucapku sembari menangis.
"Ah kamu ini sudahlah cari kesenangan mu sendiri"
Setelah Mama berkata seperti itu aku diusir dari kamar Rina. Sangat menyedihkan bukan? Dan ya..kali ini dia memberikan senyuman smirk nya padaku. Seakan akan dia telah berhasil memenangkan sebuah perlombaan.
Ku coba untuk menguatkan diri dan penghapus air mataku. Kini aku berdiri di depan kamar Nenek. Perlahan ku ketuk pintu cokelat itu.
Tok...tok...tok...
Berulang ulang kali aku mengetuk nya, tetapi tetap tak ada respon dari dalam. Seakan akan kamar ini tak ada penghuni nya. Padahal Nenek tak pernah keluar kamar karna dia lumpuh.
Karna merasa kesal akhirnya ku tendang pintu itu dan alhasil apa yang aku lihat membuatku terkejut dan menangis histeris. Aku berteriak sekencang kencang nya dan aku terduduk lemas dibawah lemari, teriakanku itu membuat seisi rumah mulai mendatangiku.
"Nana...kenapa kamu berteriak? Dan apa yang....Aaa....!!!!! Papa...cepat kesini..!!!" Kata Mama dengan histeris.
"Iya sayang...ada apa berteri....ASTAGA...!!! IBU....!!!"
Semua terkejut melihat pemandangan didalam kamar itu. Aku yang mulai diintrogasi oleh Mama dan Papa hanya bisa terdiam seribu bahasa. Tak tau apa yang harus ku katakan pada mereka.
"Nana...!!! jelaskan apa yang kamu lakukan pada Nenekmu??" teriak Papa padaku.
"Ayah...aku tidak tau...aku hanya ingin menemui Nenek disini tetapi setelah ku ketuk pintu nya beberapa kali tak ada respon dari dalam jadi ku tendang saja pintu ini, dan apa yang Papa lihat itu lah yang aku lihat Pa..." ucapku pada Papa disertai tangisan
"Jangan bohong kamu...!! Cepat katakan pada Papa apa yang kamu lakukan...??" desak Papa padaku.
"Memang itu yang aku lihat Pa...aku tidak melakukan apa apa dan aku tidak tau apa yang terjadi pada Nenek"
Ya...apa yang aku katakan itulah kebenarannya. Tetapi semua seakan tak percaya. Nenek ku yang lumpuh tewas bersimbah darah di bagian perut nya. Tangannya di mutilasi dan yang lebih mengejutkan lagi ada ukiran di wajah Nenek.
Aku tak tahu siapa pelakunya tapi ini sangat kejam. Dan semua keluarga menyalahkan ku dalam peristiwa ini.
"Nana...yang kau lakukan itu sangatlah buruk. Kau membunuh Nenekmu sendiri? Ah Nana...aku tak pernah mengajarimu seperti itu" kata Mama.
"Iya Nana...kau sangat kejam pada keluarga ini" tambah Papa.
"Mama...Rina takut..." kata Rina dengan memeluk Mama sembari menutup mata. Ah adegan yang sangat bagus bukan?
"AARRGGHH...Kenapa??Kenapa semua menyalahkan ku?? Apa salah ku??" teriak ku pada mereka dengan menjambak rambut ku sendiri.
"Pa...Mama takut..."
"Sudah...jangan panik..!! cepat telpon rumah sakit jiwa dan lindungi Rina" perintah Papa dan Mama mulai mematuhinya.
"Nana..maafkan Papa jika Papa harus bersikap kasar padamu tetapi ini demi kebaikanmu"
"Pa..?Apa maksud Pa..."
Belum selesai aku berbicara aku sudah ditembak oleh Papa. Dan peluru yang ditembakkan mengenai lengan kiri ku, itu hanya peluru bius saja dan tidak menyebabkan luka parah. Tetapi rasa sakit yang menjalar diseluruh tubuh membuatku tak sadar kan diri.
****
Perlahan kubuka mata ini dan alhasil aku melihat sebuah ruangan yang semuanya berwarna putih. Tangan dan kaki ku tidak bisa digerakkan. Mereka mengikatku dengan rantai, sungguh perilaku mereka tak bermanusiawi.
Sakit akibat peluru masih terasa di lenganku dan sayup sayup ku dengar suara dari luar ruangan ini.
"Hey...bagaimana kondisi pasien diruangan ini? Kudengar dia seorang gadis yang tega membunuh dan memutilasi nenek nya sendiri..."
"Iya...dan dia tega mengukir wajah neneknya itu"
"Kulihat wajah nya tadi sangatlah cantik dan manis tapi sayang, apa yang dilakukannya itu sangat mengerikan"
"Kau benar...memang dia gadis yang cantik tapi dia adalah psikopat"
"Kenapa dia tidak dibunuh saja? Aku khawatir dia akan kabur dari sini dan mulai meneror kota ini"
"Kata ketua kita harus merawat nya dulu setelah itu kita bawa dia ke penjara. Tenang saja keamanan disini terjamin, banyak polisi berkeliaran disekitar sini"
"Ah kau betul juga. Baiklah mari kita ke kantin aku sudah lapar sejak tadi"
"Ok.."
Hati kecilku mulai menangis mendengar percakapan mereka tadi. Tega sekali kedua orang tuaku membawa ku kesini. Dan mereka mengira akulah pelakunya. Kenapa harus aku?? Apa salahku??Aku ingin sekali menjerit tapi apa daya semua pasti akan sia sia. Mereka akan semakin ketakutan dan mengira aku psikopat sungguhan.
Suasana disini sangatlah sunyi dan perlahan aku mendengar suara langkah kaki menuju kesini. Dan dugaan ku benar yang datang adalah kedua orang tuaku dan Rina.
"Nana.." panggil Papa tetapi dengan wajah yang masam.
"Papa...lepaskan aku...bukan aku pelaku nya...aku bukan psikopat..!!!" ucapku pada Papa.
"Maaf...kau bukan lagi anak kami" ucap Mama yang menggendong Rina.
Deg...Serasa tumpukan gunung menjatuhiku. Apa yang ku dengar saat ini? Apakah ini sebuah candaan?
"Hai kak Nana...kau bukan lagi kakakku. Kau bukan lagi bagian dari keluarga ini. Psikopat tidak diterima dalam keluarga ini" ucap Rina yang semakin menusuk hatiku.
"Maaf Nana...mungkin lusa kau harus menjalani hukuman penggal karna kau membunuh ibuku" ucap Papa.
"Itu memang layak dia terima. Dan aku menyesal kenapa aku harus melahirkan nya" ucap Mama.
Ucapan mereka semakin membuatku depresi. Dan aku hanya bisa meneteskan air mata tak tahu apa yang harus aku lakukan.
Perlahan mereka mulai keluar meninggalkan aku sendiri di ruangan ini. Perlahan semua kebahagiaanku pun ikut pergi bersama mereka berganti dengan kehancuran. Tetapi tak lama kemudian Rina kembali seorang diri menghampiri ku. Aku tak tahu apa yang akan dilakukannya.
"Hey..kak Nana bagaimana kabarmu sekarang?" ucapnya dengan senyum kemenangan.
"Apa urusannya dengan mu?" jawabku ketus.
"Aku ingin berbicara suatu hal padamu sebelum kau meninggalkan dunia ini"
"Bicarakan saja setidaknya kau akan lebih puas melihatku sengsara"
"Hahaha...ya..memang aku puas tapi ini belum sempurna. Korban yang kubunuh belumlah membuat rasa puas ku sempurna"
"Korban?? Apa maksudmu??"
"Ya...jujur saja yang membunuh Nenekmu adalah aku" ucapnya dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Apa?? Ti...tidak mungkin...!!"
"Kenapa?? Kau tidak percaya?? Tubuhku memang kecil dan menggemaskan tetapi sebenarnya...akulah yang membuat dirimu menderita" ucap nya dengan penuh kebanggaan.
"Kau..!!"
"Tenanglah...nanti juga kau akan tenang di alam sana bersama dengan Nenekmu....Hahaha...Ups...Hey Nana..seperti nya rantai itu membuatmu tersiksa...lebih baik jika dibuka bukan?Sini ku buka kan..."
"Tidak...aku lebih suka seperti ini. Cepat tinggalkan aku atau kau.."
"Atau apa? kau akan membunuhku??Hahaha...gadis polos seperti mu tidak lah menakutkan bagiku mari kita buktikan kecerdasanmu"
Perlahan dia mulai mendekati dan membuka rantai yang menjerat kaki dan tanganku. Aku bebas bergerak dan aku tak akan menyia nyia kan kesempatan ini.
"Sudah bebas...sekarang kau juga bebas untukku bunuh GADIS PSIKOPAT"
"Tidak semudah itu" ucapku dengan senyuman smirk.
Aku mengambil sebilah pisau yang berada diatas meja untuk memotong buah. Dan aku mulai mendekat ke arahnya.
"Ha...jangan macam macam kau ya...kau itu pecundang kau tidak bisa melakukan apa apa"
"Oh ya...mari kita buktikan kemampuan GADIS PSIKOPAT ini.."
"Kau...jangan mendekat atau.."
"Apa?"
"Akan kuhantam kau dengan infus ini"
"Lakukan sebisamu bocah..."
Dia mulai berlari mendekati pintu, dan aku mengejarnya. Haha...nasib baik menimpaku pintu ruangan ini dia kunci untuk membunuhku dari awal. Dan setelah dia terdesak berusaha membuka pintu, pisau yang ku genggam kutancapkan pada bahunya, kemudian perut nya dan terus mengulanginya.
Ah..sangat menyenangkan sekali membuatnya seperti ini. Aku tak tahu energi apa yang berada dalam diriku tapi aku suka. Perlahan ku ukir wajahnya disitu kutulis nama ku. Dan wow...sangat indah sekali karyaku ini.
Setelah itu terdengar langkah kaki dengan cepat mengarah ke ruangan ini. Dengan sigap aku meloncat keluar dari jendela. Dan ya...pastinya saat ini aku menjadi buronan.
Aku puas dengan apa yang aku lakukan. Setidaknya aku membalas dendam akan kematian Nenekku dan atas kehancuran hidupku.
Kini aku berdiri di sudut kota memandangi indah nya malam ini. Dan menyamar menjadi bayang di kegelapan malam. Bukankah ini yang mereka mau? Menjadikanku sebagai Psikopat. Dan semenjak kejadian itu aku tak pernah lagi terlihat di siang hari dan disetiap malam pasti akan ada teror yang menimpa.
Saat itulah aku disebut sebagai...
SI CANTIK PSIKOPAT