Pranggg! (Suara gelas pecah)
"Udah aku bilang! Kenapa kamu terus berhubungan dengan laki-laki itu?!" kata papaku yang saat ini sedang bertengkar dengan mama.
"Memangnya kenapa, Pa? Semua ini papa yang salah, papa gak pernah lagi perhatian sama mama. Papa selalu aja sibuk kerja. Yang mama butuhin tuh bukan cuma uang, tapi juga kasih sayang, Pa!" balas mamaku.
Ya, seperti biasa, kedua orang tuaku kembali bertengkar. Aku hanya berdiam diri di kamar sambil melihat keluar jendela. Oh, ya, namaku Ariel. Aku adalah anak tunggal di keluarga ini. Pertengkaran antara mama dan papa sudah biasa kudengar.
•••
Setelah selesai mandi dan memakai seragam putih abu-abu, aku turun ke lantai satu untuk menunju ke meja makan. Kulihat, sudah ada bi Asti yang telah menyiapkan sarapan. Aku duduk sendiri di meja makan yang besar itu. Mama dan papa sudah pergi lebih dulu dan melaksanakan urusannya masing-masing.
Setiap hari, mereka memang jarang sekali pulang. Dan sekalinya berada di rumah, mereka pasti selalu bertengkar. Hal itu sudah aku rasakan ketika usiaku menginjak 10 tahun.
"Untuk apa meja makan besar ini kalau hanya ada diriku sendiri yang duduk di sini," ucapku dalam hati.
Selesai sarapan, aku mulai berangkat ke sekolah menaiki motor matic milikku. Tak sengaja di jalan aku melihat sekumpulan pemulung sedang duduk di pinggir jalan sembari sarapan dengan bahagianya. Keluarga itu kelihatan lengkap, ada suami, istri, dan kedua anak mereka. Walaupun makanan yang mereka makan terlihat tak seberapa, tapi mereka kelihatan sangat menikmatinya.
"Andai ...." Aku langsung menepis pikiran yang hanya akan membuat diriku sedih nantinya. Tapi, apakah aku salah? Aku hanya ingin mendapatkan sedikit perhatian dari kedua orang tuaku, walaupun mereka hanya sekadar menyapa dan sarapan bersamaku.
Kini, aku sudah sampai di sekolahku. Sekolah yang elit dan mewah. Tapi, walaupun sekolah ini mewah dan dihuni oleh anak-anak orang kaya, aku hanya punya satu sahabat. Namanya nanas, eh, maksudnya Dimas. Ya, sahabatku itu adalah laki-laki. Dimas itu orangnya sederhana walaupun dia kaya, humoris, dan baik tentunya. Sejak aku masuk ke SMA ini, Dimas lah orang pertama yang menyapaku. Inilah aku, aku memiliki sifat yang cuek, jaim, dan dingin.
Aku berjalan ke kelasku, kelas 11 IPA. Aku duduk di kursiku, yaitu kursi paling belakang. Entahlah, menurutku kursi paling belakang itu adalah kursi yang paling nyaman karena bebas dari kebisinga.
"Pagi, Putri duyung," sapa Dimas, sambil menggeserkan kursinya agar dekat denganku. Dimas memang selalu memanggilku Putri duyung, karena namaku mirip dengan karakter Disney.
"Pagi juga, Nanas," jawabku singkat dan masih fokus pada buku di tanganku.
"Lo udah sarapan, Real?" katanya dengan masih menatapku.
"Udah." Dimas memang sudah biasa dengan sikap cuek yang aku miliki, jadi dia tidak akan sakit hati kalau jawabanku singkat, hehe.
"Real, kemarin gue ngeliat bokap lo. Dia lagi jalan sama cewek. Lo tau gak siapa ceweknya?" ujar Dimas.
Aku yang sedang membaca buku langsung mengalihkan pandanganku ke Dimas. "Gak tau, emangnya siapa?" tanyaku.
"Tapi janji, lo jangan marah atau nge-grebek tuh cewek, ya?"
Karena sudah sangat penasaran, aku langsung mengiyakan saja.
"Dia ... Irene," ujar Dimas.
"Apa?!! Irene? Si cewe j*lang itu?!" Kataku sedikit berteriak, dan langsung berdiri.
Semua orang di kelas, seketika mengarahkan perhatiannya pada kami.
"Shuutt! Kecilin dikit suara lo, Real. Sini, duduk dulu. Lo tenang, oke?" ucap Dimas, sambil menarik tanganku agar kembali duduk.
"Gimana gue bisa tenang, Nas. Lo tau, 'kan? Si Irene itu cewek gak bener, gimana nanti kalo bokap gue suka, terus dia nikahin cewek j*lang itu. Gue tau banget bokap gue, dia itu orangnya setia, cuma agak cuek aja. Dan, akhir-akhir ini gue sering denger orang tua gue berantem gara-gara nyokap gue selingkuh. Gue takut, Nas, gue takut kalo bokap gue udah nyerah sama mama dan mereka pisah, terus papa nikahin cewek itu," curhatku.
Aku menutup wajahku dengan telapak tangan. Aku tak tahu kenapa hidupku bisa sehancur ini. Sampai sekarang, aku tak pernah merasakan suatu kebahagiaan.
"Riel, gue tau. Tapi lo jangan bertindak gegabah. Lo harus waspada dengan setiap langkah lo, karena itu akan menentukan semuanya. Dan, untuk masalah kedekatan Irene dan bokap lo, nanti gue akan awasin mereka. Jadi, lo tenang aja, ya," nasihat Dimas kepadaku.
Inilah yang membuatku betah bersahabat dengan Dimas, dia selalu bisa membuatku mengurangi beban yang menimpa hidupku.
"Makasih, ya, Nas. Lo itu emang sahabat terbaik gue. Maaf kalo gue suka ngerepotin lo," tuturku.
"Yaelah, lo kayak sama siapa aja, Riel. Lagian kita udah lama sahabatan, gak perlu ucapan terimakasih atau minta maaf," ucap Dimas.
"Eh, btw, rambut lo kuncir napa, Riel. Kayak kunti tau, gak, lo," ejek Dimas.
Aku terkekeh pelan sambil memukul lengannya dengan buku. "Kunti-kunti gini, gue cantik, tau."
"Ck! Najis, lo," ejeknya lagi, dan kali ini dia menyentil keningku hingga memerah.
"Kurang asem, lo, Nas. Jidat gue sakit, woi," omelku.
Kami tertawa bersama karena kekonyolan yang kami lakukan.
•••
Aku memarkirkan motorku di halaman rumah yang luas itu. Dengan menjinjing tas yang aku pakai, aku melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah. Saat aku berada di depan pintu, aku mendengar suara yang sudah biasa aku dengarkan.
"Hufftt, ma, pa, Ariel capek ngeliat kalian yang selalu berantem," ucapku dalam hati.
Aku masuk ke dalam dengan santai, dan berusaha terlihat biasa agar mereka tak tahu kalau aku mendengar pertengkaran mereka. Terlihatlah mama dan papa yang sedang membentak satu sama lain.
"Ma, pa, Ariel pulang," sapaku sambil mencium tangan mereka bergantian.
Karena melihatku, mama dan papa langsung berhenti bertengkar. Langsung pergi ke kamar dan membanting pintu.
"Sayang, kamu belum makan siang, 'kan? Abis ganti baju, langsung makan, ya," ucap papaku.
"Mama sama papa udah makan, belum? Kita makan sama-sama, ya?" ucapku.
"Udah, kamu makan sendiri, ya." Setelah mengatakan itu, papa langsung mengeluarkan kunci mobil, dan berjalan keluar pintu.
"Kenapa, sih? Ariel cuma pengen ngabisin waktu sama kalian aja, kenapa kalian gak perduli sama Ariel? Apa salah Ariel, ma, pa?" Aku memejamkan mataku. Perlahan, bulir bening mulai mengalir di pipiku.
Aku mengusap kasar air mata itu. Lalu naik ke lantai dua dimana kamarku berada.
Brakk!
Aku membanting pintu, lalu menghempaskan diriku ke ranjang.
"Hikss, Ariel benci kalian!" teriakku.
Aku mengambil silet dari laci meja belajarku, lalu menggoreskan silet itu pada pergelangan tanganku. Memang tak dalam, tapi itu cukup untuk membagi rasa sakit yang aku rasakan. Aku memejamkan mataku, menikmati rasa sakit dari setiap mengalirnya tetesan-tetsan darah dari pergelangan tanganku.
Karena merasa lelah, tanpa kusadari aku terlelap di alam mimpi.
Tringgg!
Nada dering ponsel membuat tidurku terusik. Aku memaksa mataku untuk terbuka, lalu meraih ponsel yang ada di nakas.
"Halo, napa, sih, Nas. Lo ganggu gue tidur aja. Hoaaammm," omelku pada Dimas.
"Ya maaf, ini penting, Riel. Bokap lo ada di rumah gue sekarang. Dan, gue denger dia mau minta tolong sama kakak gue untuk urus surat perceraian." Penuturan Dimas seketika membuat mataku langsung terbuka dan tak lagi mengantuk.
"Lo jangan bercanda, deh, Nas," ucapku berusaha tak percaya.
"Gue serius, Riel."
Mendengar hal itu aku langsung diam seribu bahasa. Dadaku seketika sangat sesak. Dan, air mata yang seharusnya tak menetes, mulai kembali membasahi pipiku.
"Riel, halo, lo gak papa, 'kan? Riel?"
"Halo, Riel."
Bisa kudengar suara panik dari Dimas. Dimas memang tahu sifatku yang suka menyakiti diri sendiri, mungkin dia takut aku melakukan itu.
"Gue gak papa, Nas." Setelah mengucapkan itu, aku memutuskan sambungan teleponnya.
Aku turun ke lantai bawah, dan menuju kamar orang tuaku. Saat aku hendak mengetuk pintu, tiba-tiba aku mendengar suara mama seperti sedang menelepon seseorang.
"Pokoknya kamu harus urus semuanya. Dan, ya, kita harus dapetin hak asuh Ariel."
"...."
"Baik, akan saya tunggu kabar dari kamu."
Kurang lebih itu yang aku dengar. Ternyata benar, orang tuaku akan berpisah.
"Gak, gak, gak, ini gak boleh terjadi. Ma, pa, Ariel gak mau kalian pisah! Ariel akan korbanin nyawa Ariel, asalkan kalian gak boleh pisah!" gumamku dengan sangat ketakutan.
Aku duduk di kursi meja belajarku, lalu menulis sepucuk surat untuk kedua orang tuaku. Yang berisi,
"Ma, pa. Makasih buat semuanya. Makasih buat papa yang udah nafkahin Ariel, dan buat mama yang udah ngelahirin Ariel ke dunia Ariel yang sangat sepi dan sunyi. Ariel ingin kalian tetap bersatu, jangan pernah pisah, ya. Ini adalah permintaan Ariel yang terakhir, setelah itu, Ariel gak akan minta apapun lagi, Ma, Pa.
I love you.
Putri kalian
Ariel."
Setelahnya, aku mengambil handphone milikku, dan mengirim pesan pada Dimas. Tak butuh waktu lama, Dimas langsung membaca pesanku.
Riel
"Haii, Nanas. Kamu sahabat terbaik dalam hidupku. Makasih karena selama ini kamu selalu bisa membuat aku bahagia dan membagi bebanku. Terimakasih untuk segalanya. Aku minta maaf kalau aku sering membuatmu marah atau apapun itu. Kamu tahu? Di dunia ini, cuma kamu satu-satunya orang yang mengerti aku. Aku sayang kamu, eittsss, sebagai sahabat, ya, hehe. Jangan ge'er. Dan, ya, mungkin setelah ini kita gak akan ketemu lagi, jadi, tolong lupain aku, ya. I love you my bestfriend."
Nanas
"Riel, ini maksudnya apa? Lo kenapa? Jangan bilang kalo, lo ...."
Riel
"Selamat tinggal, Nas. Aku sayang kamu."
Pesan terakhirku untuknya. Setelah itu, aku mengambil pisau buah, lalu menggoreskannya dalam di pergelangan tanganku. Aku mengambil sedikit darah yang bercucuran dari pergelangan tanganku, dan mengoleskannya pada surat yang kutulis untuk orang tuaku dengan membentuk gambar hati.
"Ma, pa, Ariel sayang kalian. Tapi, Ariel gak kuat, lagi. Maafin Ariel, ma, pa."
Saat aku hendak menusuk pisau itu pada perutku, tiba-tiba ada yg mendobrak pintu kamar yang telah aku kunci. Kulihat, ada mama, papa, dan Dimas yang berada di ambang pintu.
"Ariel!" teriak mama saat melihat darah segar mengalir dari pergelangan tanganku.
Aku tersenyum pada mereka. "Ma, pa, makasih buat semuanya. Dan, lo nanas, thank, ya karena udah jadi orang yang paling ngertiin gue."
Setelah mengucapkan itu, aku langsung menusukkan pisau buah itu pada perutku.
"Ariel," teriak mereka bersama.
Aku terjatuh di lantai. Mereka semua langsung menghampirku.
"Ariel, kenapa kamu melakukan ini, Nak. Hikss." Samar-samar, kulihat mama terisak sambil mengelus kepalaku.
"Om, ayo kita bawa Ariel ke rumah sakit," ucap Dimas panik.
"Gak usah," ucapku lirih.
"Ma, pa, Ariel mohon, papa sama mama jangan cerai, ya. Ariel mohon, ini permintaan terakhir Ariel. Ariel tau kalian masih saling mencintai. Tolong kabulin permintaan Ariel, setelah itu, Ariel gak akan ganggu kalian ataupun ngerepotin kalian lagi," tuturku dengan nafas terengah-engah.
"Riel, maafin papa. Papa belum bisa bahagiain kamu. Kita kerumah sakit sekarang, ya? Kamu harus sembuh." Papa mulai menggendongku, tapi aku menekankan tubuhku dengan sisa tenaga yang aku miliki.
"Ariel gak mau sembuh, Pa. Ariel mau kalian jangan cerai."
"Iya, Nak. Kami janji gak akan cerai. Kita ke rumah sakit, ya." Mama berusaha membujukku.
Tiba-tiba, aku merasa dadaku sangat sesak. Sulit sekali rasanya untuk bernapas. Pandanganku pun semakin tak jelas.
"Ingat pesan Ariel, Ma, Pa."
Setelahnya, mataku mulai tertutup secara perlahan dan nafasku terhenti. Disaat-saat terakhir, bisa kudengar ketiga orang itu meneriaki namaku dengan histeris.
•••
Hal yang paling aku inginkan di dunia ini adalah kebersamaan. Jujur, aku kangen di gendong sama papa dan di suapin sama mama. Ingin rasanya aku memutar semua kenangan itu. Tapi entahlah, aku dan kedua orang tuaku sudah berada di dunia yang berbeda. Aku harap, dengan kukorbankan nyawaku, itu bisa kembali
menyatukan mereka.
Ingatlah ini. Sayangilah dan beri perhatian pada orang yang penting bagi hidupmu. Karena, jika orang itu sudah tidak ada, dan dirimu masih belum membahagiakannya, maka itu akan menjadi penyesalan terbesar di hidupnya yang takkan pernah hilang.
-TAMAT-