Ini merupakan malam yang sangat mengerikan bagi Mickey dan yang lain. Mereka terpaksa terkurung di rumah dengan Yohan, psikopat yang sedang mengincar nyawa mereka.
Suara langkah kaki terdengar. Jack membungkam mulut Lucy agar diam. Mickey dan Leon bersembunyi di ruangan yang berbeda.
Yohan memainkan pisaunya, dan mulutnya mulai menyanyikan sebuah lagu.
Just wait~
You can’t hide from me~
I’m coming~
Sesaat dia terdiam. Berdiri di depan pintu yang di dalamnya terdapat Jack dan Lucy.
Knock knock~
I’m at you’re door now~
I’m coming~
No need for me to ask permission~
Langkahnya semakin mendekat ke pintu. Tangan Yohan terulur ke arah pintu lemari dan hendak membuka nya.
"Dan aku menemukanmu !"
"BRAKKK !!"
Yohan membuka pintu, pintu terbuka dan Jack langsung menendangnya dengan keras sehingga Yohan tersungkur. Mereka keluar dan mengunci pintu yang terdapat Yohan di dalamnya.
"Leon !. Mickey !. Kalian di mana ?! Cepatlah keluar ?!"
Jack berteriak mencari mereka. Ruangan demi ruangan dia masuki. Namun, dia tidak menemukan Leon dan Mickey di manapun.
"Hahaha !!. Berusaha mengunciku ?!. Dasar sampah ?! Kemarilah kau, bajinga* kecil ?!!"
Yohan mengejar Jack dan Lucy dengan membawa sebuah pisau yang dari awal di bawanya. Pintu keluar berada di ujung ruangan itu.
"Cepat, Lucy !. Kita akan keluar, adikku !.
Jack menggendongnya. Dia mendobrak pintu yang menghalangi jalannya dan segera lari ke luar.
Keadaan menjadi semakin buruk, banyak potongan badan, darah berceceran, dan bau anyir dari hasil pekerjaan Yohan menyeruak dan menguasai hidung Rinto.
"Kakak, aku takut" Lucy menangis dalam gendongan Jack.
"Tenanglah, Akan kubawa kamu ke tempat yang aman"
Jack terus berlari sambil menggendong adiknya. Sesekali ia menoleh ke belakang, dan dia tidak melihat Yohan mengejarnya.
"Akhh.. gkhh... Ekhh"
Entah dari mana datangnya, namun sebuah pisau sudah menancap di leher belakang Lucy.
"Lu-lucy;!"
Yohan tertawa dengan keras, dia menyeringai ke arah Jack.
"Hmph. Dia sudah mati, bodoh. Sekarang, tinggal Leon dan Mickey. Setelah itu, aku akan membunuh mu. Ahahaha ?!!"
Yohan tidak langsung membunuh Jack, dia ingin Jack melihat dirinya menyiksa dan membunuh teman-temannya. Meski begitu, pada akhirnya dia akan tetap membunuh semua orang di rumah itu.
Jack benar benar terpaku di tempatnya. Melihat Lucy yang sudah tewas, dan darah yang bercucuran mengenangi kakinya.
"Sedihnya nanti, sekarang aku harus menolong mereka. Jika tidak, mereka akan mengalami hal yang serupa dengan Lucy"
Jack menarik pisau yang menancap di leher Lucy. Menjilat darah pada pisau itu, seketika itu juga. Dia berubah, menjadi haus akan balas dendam.
"Akan kubalaskan dendammu padanya, adikku Lucy"
Yohan memasuki kamar mandi, namun tidak ada siapapun di sana. Ia mulai bernyanyi lagi, kakinya melangkah keluar dan memasuki ruang sebelah.
Knock knock~
I’m inside your room now~
Where is it you’ve hide?~
Out game of Hide And Seek’s about to end!~
"Jangan bersuara, Leon"
Keduanya saling membungkam mulut. Berusaha agar tidak menciptakan suara yang akan mengundang kedatangan Yohan. Keduanya bersembunyi di lemari pakaian. Badan mereka pendek, lumayan tertutupi dengan baju baju yang ada di dalamnya.
I’m coming closer~
Looking undermeath your bed, but~
You’re bot here, I wonder~
Could you be inside the closet?~
Tatapan Yohan terarah ke lemari pakaian yang ada di pojok ruangan yang di dalamnya terdapat Leon dan Mickey. Dia berjalan mendekat ke sana.
"Kumohon jangan dibuka.." hati kecil Leon terus berdoa. Memohon kepada Tuhan agar menolongnya.
"Diam di sini, Leon. Akan kuselesaikan semuanya" Entah apa yang dipikirkan Mickey.
"Mau ke mana kau ?. Jangan meninggalkanku sendiri di sini" Mickey tak menjawab rengekan kecil Leon.
Dia keluar dari lemari dan tiba-tiba, terdengar suara keras.
"BRAKKK !!?... BRUKKHH !!"
"Akhh..." Teriakan itu seolah tertelan begitu saja. Leon tidak tau siapa yang mati, tubuhnya gemetar ketakutan.
"Leon ?"
Tangisnya mulai pecah, ternyata itu adalah Mickey. Bajunya penuh dengan darah.
"Apa yang kau lakukan ?"
"Sudah, diamlah. Dia sudah mati, aku membunuhnya"
Leom buru buru melepaskan pegangannya dari Mickey dan berjalan mundur menjauhi nya.
"Jangan.. pergilah !!. Jangan mendekatiku !!. Aku tak mau mati !!"
"Tenanglah, Leon. Aku tidak akan membunuhmu. Aku akan membawamu pulang ke kota dan kau akan kembali bertemu kedua orangtuamu. Kemarilah"
Leon menggeleng keras, dia masih sedikit takut dengan Mickey.
"Haah, baiklah. Tapi jangan jauh dariku ok ? Aku akan melindungimu, aku janji" Leon mulai berani mendekatinya.
Mickey berjalan ke luar lebih dulu, disusul dengan Leon, mereka berpapasan dengan Jack.
"Dimana psikopat itu ?" Tanyanya.
"Dia sudah mati, Jack. Aku membunuhnya, lalu mana Lucy ?"
"Bajinga* itu membunuhnya !!. Aku kehilangan adikku !" Rinto terduduk.
Dia menangis dan sangat sedih. Jack merasa benar benar kehilangan Lucy, adik satu-satunya yang ia miliki.
"Aku turut berduka Jack, tapi kita harus segera keluar dari kota ini" Mickey membantunya berdiri.
Kota ini benar benar sepi. Apakah mungkin, Yohan yang menghabisi penduduk kota di sini ?.
Mereka keluar dari rumah, dan mencari kendaraan.
Mickey melihat mobil terparkir di sana dengan pemiliknya mati terlindas mobilnya sendiri. Tentu saja, Yohan pelakunya. Orang itu benar benar sudah gila.
"Percepat langkahmu, Jack. Kuharap, bensin mobil itu masih ada"
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil. Mickey yang duduk di kursi pengemudi. Dia menyalakan mesin mobil.
"Cklekk... Cklek... Brnghnmm.. brnghnmm"
Syukurlah, mobil masih memiliki cukup banyak bensin. Tanpa aba-aba, Mickey langsung menancap gas.
"Hei, apa kau membawa pistol dari polisi mati tadi ?" Tanya Mickey.
"Ini, aku membawa semua yang perlu dibawa" jawab Rinto.
Ketiganya membisu, dan hanya melihat ke depan.
Tiba-tiba, ledakan besar terjadi. Kobaran api melahap mobil yang mereka naiki. Ketiganya terluka parah dan hanya Mickey yang masih sadar dalam insiden ini.
Samar samar, Mickey melihat bayangan seseorang. Dia tertawa dengan begitu puasnya.
"Yohan ?!!... Bukannya dia sudah mati ?!" Batin Mickey.
Padahal, sudah sangat jelas Mickey menusuk jantung Yohan bertubi tubi.
Yohan mendekat, sambil membawa linggis yang dia seret.
"J-jangan... Bunuh aku..."
"Hah, apa ?. Ahahaha, terima saja nasibmu. Sampai jumpa"
"BUAKHH.... BUAKHH... KRAKK"
Yohan memukul kepala Mickey dengan linggis sampai kepalanya hancur. Setelah itu, dia membawa Leon dan Jack pergi dari kota. Dia membawanya ke tempat lain, untuk di makan.
Malam itu, seluruh kota yang di kunjungi Yohan menjadi kota kosong. Tidak ada yang hidup di kota itu, semua nya mati.