Langit jingga mulai berpadu dengan gelapnya malam. Ku lihat jam tanganku menunjukan pukul 17:35. Ku rasakan titik-titik air mulai berjatuhan dari langit. Aku berjalan pelan, merasa bersalah dengan semuanya.
Cinta, perasaan, harapan. Dua wanita, yang satu menjalin hubungan tapi tidak ada cinta di dalamnya, wanita yang lain baru hinggap di kehidupanku tapi telah ku ukir namanya dalam hatiku. Cinta, dilema, ingin ku bakar semuanya dengan api yang ada padaku.
Aku adalah Banaspati, Hantu yang berkeliaran di sore hari dan haus akan darah manusia. Aku bisa berubah menjadi manusia seperti sekarang karena Banaspati adalah salah satu Hantu yang kuat.
Api adalah kekuatanku dan air menjadi sumber kelemahanku. Tetapi, aku lebih baik tenggelam dalam air yang memadamkan ku daripada jatuh ke dalam jurang penderitaan cinta manusia.
Entah apa yang ku pikirkan saat bertemu dengan Mira. Dia mengutarakan perasaannya padaku, dan parasnya yang cantik menawan tak mungkin membuatku untuk menolaknya.
Hingga waktu terus berjalan dan mengungkapkan rahasia di balik sosok Mira. Ia sama dengan ku seorang hantu. Tapi ia berasal dari keturunan Kuntilanak yang dikenal dengan mahluk munafik. Kuntilanak selalu mempunyai maksud di balik sikap dan parasnya yang cantik.
Saat aku tahu dia seorang Kuntilanak, saat itu juga kami tidak komunikasi. Hubungan kami retak, dan kami pun tidak lagi bertemu di danau saat bulan purnama seperti sebelumnya. Juga tidak lagi mencari mangsa bersama.
Aku tak tahu apa dia menyimpan dendam padaku, apakah ia akan balas dendam atau tidak. Yang jelas, aku jauh darinya sekarang. Bahkan aku merasa lebih baik ketika jauh darinya, karena aku memang tidak pernah menyimpan rasa untuknya.
Aku berdiri di trotoar, memandangi langit yang beberapa menit kedepan akan berubah menjadi gelap sepenuhnya. Hingga di seberang jalan sana, seorang gadis mengusik ku. Ia menatapku dan aku tahu tatapan itu adalah tatapan kesedihan.
Matanya sayu dan sesekali ia menghela nafas. Wajahnya tampak cantik dengan pancaran sinar senja. Ia melontarkan senyumnya padaku dan semakin cantik wajahnya ketika tersenyum. Aku berjalan melewati zebra cross ketika lampu lalu lintas menyala merah dan aku hampiri nya.
"Ha-hai.." sapaku agak canggung.
"Hai juga" ia menyapa balik dengan hangat, sambil tersenyum meskipun aku tahu kalau dia tengah dilanda kesedihan.
Kami berjalan pelan berdua, tidak ada yang bicara baik dia ataupun aku. Kami hanya menatap jalan di depan sekali-kali mencuri pandang satu sama lain. Tiba-tiba wajahku agak memerah, detak jantungku berdegup kencang. Ku pikir aku akan mati jika terus diam seperti ini.
"Mmm.. Aku belum pernah melihatmu sebelumnya" ujarku membuka obrolan.
"ya.. aku baru pindah kemarin. Aku ditugaskan oleh Dokter di Puskesmas" jawabnya.
"Kamu seorang Dokter ?"
"Bukan, aku hanya perawat magang"
"Ohh, Begitu"
Percakapan kami berhenti sampai di situ. Kami larut dalam diam lagi, hanya saling menatap menebar senyum. Wajah merona karena malu, gugup, dan canggung melanda kami. Hingga akhirnya kami berpisah di jalan.
"Oh.. Aku sudah sampai di Apartemen-ku, sampai jumpa lagi"
Gadis itu berjalan menaiki tangga seraya tersenyum dan melambaikan tangan padaku. Aku membalas lambaiannya juga senyumnya. 10 menit terasa sangat cepat berlalu, tapi ialah momen paling indah selama aku hidup ribuan tahun membaur dengan manusia.
Aku pergi dari tempat itu dan mencari mangsa untuk ku minum darahnya. Ketika sudah jam 3, aku menghilang dan kembali ke alamku. Aku akan muncul kembali ketika sore hari lagi.
.
===============================
.
Sore berikutnya kami bertemu lagi, di depan restoran yang menyediakan meja untuk sekedar duduk santai sambil meminum kopi. Di meja no. 13 kami duduk berhadapan.
Suasana saat ini tidak seperti tempo hari. Canggung dan perasaan malu mulai hilang dan kami terasa akrab seperti sudah saling kenal sejak lama. Kami pun sudah mengetahui nama masing-masing. Yang tidak berubah adalah pandangannya, ia terus menampakkan mata kesedihan. Hal itu cukup menggangguku.
"Sarah, ku lihat pandanganmu selalu terlihat sedih. Apa ada masalah ?" tanyaku penasaran.
"Ah, tidak…" Jelas sekali ia menyembunyikan sesuatu.
"Ayolah, aku tahu kau menyembunyikannya. Katakan saja, aku akan mendengarkan" ujarku.
"Akhir-akhir ini, aku mulai percaya dengan mahluk mitos. Mungkin ini terdengar gila, tapi aku selalu memimpikan hal aneh" percakapan kami mulai serius, apalagi Sarah mengusik tentang Hantu.
"Aku melihat darah, air mata. Juga gadis yang mengenakan gaun hitam dengan tawanya yang memekakkan. Gadis itu berparas cantik, matanya berwarna perak bagaikan rembulan tapi seakan dialah sumber kejahatan dalam mimpi itu" Sambungnya.
"Mira.." gumamku saat mendengar keterangan Sarah tentang wanita bergaun hitam di mimpinya itu.
"Apa ?" Sarah mendengarku bergumam.
"Ah, tidak. Jadi, apa yang sekarang kau percaya makhluk mitos ?"
"Apa kau pernah mendengar legenda Hantu ? Itulah yang aku percayai sekarang. Aku tahu ini gila tapi.."
"Tidak" aku memotong.
"Kau memang benar, mereka hidup berbaur bersama kita.." ujarku.
"Bagaimana kamu tahu ?" Ia bertanya, tapi saat itu aku harus pergi. Matahari hampir tenggelam dan wujud asliku akan muncul.
"Aku hanya menebak saja karena terkadang terjadi hal-hal aneh. Oh iya, ngomong-ngomong terima kasih. Maaf aku harus pergi karena teringat ada urusan"
"Ya, tidak apa-apa. Aku juga berterima kasih kau sudah mau mendengarkan cerita ku"
Aku membayar apa yang kami makan dan minum di kafe. Setelah itu, aku pergi meninggalkan tempat itu ke tempat sunyi dan mulai berburu manusia.
Tengah malam, saat bulan tepat berada di tengah langit. Dupa yang dari tadi telah mengirim asap berterbangan ke udara. Aku sendiri dalam wujud Banaspati tengah duduk di tengah-tengah rumput gajah dan wadah-wadah berisi organ-organ manusia hasil perburuanku tadi.
"Apa kamu membawanya ?" tanya Dukun itu yang juga seorang Hantu. Ia adalah Leak dengan kemampuan tinggi.
"Iya, ini Puang.." aku memberikan barang yang dimintanya.
Leak ini pun memulai aksinya, ia terlihat seperti orang kesurupan setelah menaburkan sesuatu ke dalam dupa yang menambah tebalnya asap. Jari-jarinya bermain diatas dupa. Ia nampak lebih seperti orang kejang dari pada seseorang yang membaca jampi.
"Kuntilanak…. Kuntilanak.." Leak ini bergumam sembari menatap bulan. Tangannya terus gemetar hingga ia menatapku dengan mata merahnya seraya berkata
"Kuntilanak. Hantu yang menganggu gadis itu adalah Kuntilanak"
Sudah ku duga bahwa Miralah yang berada di mimpi Sarah.
"Terima kasih Puang. Aku juga bawakan hadiah untukmu"
Tentu saja aksi Leak tadi harus dibayar, dan organ-organ tubuh manusia adalah kesukaan para Leak. Hati, empedu, ginjal, otak. Malam ini Dukun Leak itu ini berpesta pora.
.
===============================
.
Sore demi sore berlalu, keanehan demi keanehan pun terjadi dalam kehidupan Sarah. Ia bercerita padaku, bahwa sesosok gadis bergaun hitam itu, atau lebih tepatnya Mira. Tidak hanya muncul dalam mimpi saja tapi juga mulai mengganggu keseharian Sarah.
Hubunganku dengan sarah pun berlanjut semakin serius. Kami saling menyerahkan perasaan satu sama lain, cinta. Tapi aku masih merasa takut, khawatir perasaan Sarah yang akan hancur saat tahu siapa aku sebenarnya.
Aku mengumpulkan kekuatan untuk berjalan-jalan bersama Sarah siang hari.
Kami tengah berjalan berdua di tepi danau yang indah, suara cicitan burung dan angin yang berhembus lembut membuat suasana semakin romantis. Di danau ini kami berjanji untuk saling mencintai, selalu ada satu sama lain hingga maut memisahkan. Namun, tiba-tiba datanglah orang lain.
"Ryan… Sarah.. Ah, manis sekali."
Seseorang muncul tiba-tiba menganggu percakapan kami, aku tidak merasa asing dengan suaranya tapi harus ku pastikan lagi.
"Ah… Ryan ?!. Dialah gadis bergaun hitam yang menggangguku" Ujar Sarah sembari berlari ke arahku, dan memelukku.
Mira menampakkan dirinya dari balik pepohonan yang mulai bergoyang. Dia duduk di atas pohon sambil berbicara kepada kami.
"Apa kau mengingatku Ryan, wanita malang yang kau tinggalkan di antara penderitaan dan penyesalan ?" ucap Mira penuh amarah.
Suara alam semakin berisik. Kabut tebal menghalangi sinar matahari. Aku tidak pernah menduga kalau kekuatannya sekuat ini. Hingga mampu mengubah siang menjadi malam.
"Apa yang kau lakukan di sini Mira ?" tanyaku sembari memeluk Sarah.
"Kau mengenalnya ?" tanya Sarah di waktu tak tepat.
"Tentu saja Sarah, dia adalah pacarku.." Sahut Mira membuat Sarah melepaskan pelukanku.
Mira kemudian turun dan mendekat ke telinga Sarah dan berbisik.
"Dan dia adalah Hantu, hantu Banaspati" Lalu tersenyum sinis.
"Apa !?" Sarah terlihat sangat syok, dan mulai mengeluarkan air mata.
Aku berusaha mengenggam tangannya tapi ia menolak. Ia terus menepis tangan ku dan mundur sedikit demi sedikit.
"Sarah, aku.. Aku ingin memberitahumu sejak awal tapi… ta–"
"Ryaan ?!!"
Mira menusukkan pisau yang diam-diam ia bawa di belakangku.
Jantungku terasa sakit, sebilah pisau menusuk tepat jantungku. Sakit sekali, aku merasa lemas. Aku mendengar Mira mengatakan sesuatu di belakangku sambil terus mendorong lebih dalam pisau yang dihunuskannya ke dalam tubuhku.
"Aku masih mencintaimu, Ryan. Diam-diam aku terus mengawasimu dalam keseharian mu. Sampai Sarah, manusia yang merebut cintaku datang. Kau tahu betapa sakitnya hati yang kau tinggalkan ini. Sekarang semuanya sirna, hanya dendam dan amarah yang sekarang menyatu bersama pisau dan jantungmu"
Pandanganku mulai buram. Tubuhku terjatuh ke dalam danau. Basah dan aku mendengar suara Mira tertawa dan berkata lagi.
"Darah Manusia, mungkin darah Banaspati lebih baik. Ahahaha ?!!"
Aku tidak melihat Sarah lagi, aku hanya melihat tubuhku bersimbah darah larut dalam air. Larut dalam kematian akibat cinta dan dendam. Apiku mulai padam karena tenggelam dalam air.
"Seharusnya, aku tidak pernah mengenal Cinta"