Hari minggu, hari libur semua umat. Apapun profesinya, kadang hari minggu menjadi hari spesial bagi banyak orang untuk meluangkan waktu bersama keluarga atau mengajak keluarga untuk berekreasi atau sekedar berjalan-jalan di sekitar lingkungan rumah.
Tapi Rani masih sibuk dengan pekerjaan rumah yang selalu menumpuk di dapur dan di kamar mandi. Dia masih saja belum selesai dengan cucian piringnya. Dia tak bisa menyelesaikan dengan cepat karena melakukannya berbarengan dengan memasak.
Selain mondar-mandir ke warung untuk sekedar membeli bahan masakan yang kurang atau lupa karena tak membeli sabun cuci dan bumbu dapur. Meski terlihat sangat sibuk, namun Rani belum menyelesaikan satu pekerjaan pun sejak pukul 5 pagi selepas sholat subuh.
Ruang televisi dan dapur masih berantakan seperti kapal pecah. Riuh tangis anak kedua nya bernama Kayla berumur 3 tahun, yang tak melihatnya saat bangun tidur menambah suasana rumah menjadi sangat kacau.
Rani masih belum menyelesaikan menyapu lantai, tapi dia sudah harus menggendong Kayla sambil mencuci piring. Sementara anak pertamanya bernama Syifa yang berumur 8 tahun masih mengikutinya dan membujuknya untuk mengajaknya jalan-jalan ke kaki gunung, sebuah tempat rekreasi sederhana di daerah dekat rumahnya.
Tangan kecil Syifa terus menerus menarik kaus merah marun yang dipakainya. Sedang Kayla meronta ingin turun dan meminta dibuatkan susu hangat. Lalu piring yang sedang dia cuci meluncur ke bawah lantai dan pecah.
Pranggg....
"Tuh....kan, ahh....kalian ini. Mamah nya masih nyuci piring!" teriak Rani.
Sudah hampir satu jam dia menahan rasa ingin berteriak.
Lalu tiba-tiba suara seseorang memanggil kedua anak perempuan nya.
"Kayla....Syifa....sini sama nenek dulu, biarin mamahnya masak sama beres-beres dulu. Nanti baru jalan-jalan!"
Nenek mereka memanggil dari dalam kamar. Dia tak bisa berdiri atau berjalan dalam waktu yang lama jadi dia memutuskan untuk menunggu sampai Rani selesai baru dia akan keluar dengan cara merangkak dan duduk di depan tv sambil mengasuh kedua cucu nya.
Bukannya tak punya kursi roda, namun ruangan rumah yang dimiliki nya sekarang tidak cukup luas untuk menggunakan kursi roda di dalam rumah. Menjual rumah besar untuk membayar hutang lalu membangun rumah yang lebih kecil terbilang cukup berhasil di zaman sekarang. Rata-rata orang yang menjual rumah berakhir dalam keadaan mengontrak atau numpang di rumah anaknya.
Karena keadaannya yang seperti itu dia hanya bisa berteriak memanggil cucu-cucu nya dari dalam kamar.
Syifa dan Kayla pun pergi setelah mamah nya marah dan memunguti pecahan piring yang besar dan menyapu pecahan piring yang kecilnya. Akhirnya Rani selesai menyapu karena piring yang pecah. Lalu mencuci sisa piring dan peralatan masak yang masih ada di wastafel.
Rani memasak sambil sesekali mengepel agar pekerjaannya cepat selesai. Namun tetap saja semua berakhir tak bisa kurang dari pukul 8.
Syifa makin merengek-rengek karena matahari sudah terlihat sangat terang pada jam itu. Dia menyangka pasar kaget di kaki gunung segera berakhir.
"Mamah.....cepet dong, nanti pasar kaget nya udah ga ada" rengek Syifa.
Rani sudah janji dari seminggu sebelumnya akan mengajak mereka berdua ke sana. Syifa mengingat nya sangat jelas. Karena saat itu adalah saat dimana ayahnya, Randy pergi ke Jakarta untuk bekerja selama sebulan penuh. Ayahnya juga menitipkan uang lebih untuk digunakan anak-anak nya jajan di sana.
Rani yang terlalu fokus pada pekerjaan rumah selalu tak bisa meluangkan waktu untuk anak-anak nya main ke luar atau ke tempat rekreasi. Dia juga berpikir jika pergi tanpa ayahnya akan sangat merepotkan menjaga dua anak sekaligus. Terlebih lagi harus meninggalkan ibunya yang sakit dengan dua keponakannya yang ibunya tak pernah libur kerja.
"Yuk, kalian cepet ganti baju. Mamah mau mandi dulu" ucap Rani sambil melap tangannya ke bajunya yang sudah kotor.
Dia memaksakan diri untuk memenuhi permintaan mereka.
Syifa dan Kayla berlarian menuju lemari pakaian mereka yang berantakan oleh perbuatan mereka sendiri. Dengan mengacak-acak lemari mereka mencari pakaian yang akan mereka pakai.
Sementara Rani mandi dan sudah membasahi rambutnya, namun dia tak menemukan shampo yang dia tinggalkan di tempat sabun sehabis mandi kemarin. Dengan kesal dia mengikat kembali rambutnya yang terlanjur basah dan mandi tanpa keramas.
Setelah mandi, bergegas dia lari ke lantai 2 ke kamarnya menggunakan handuk merah bata yang sudah tak muat menutupi seluruh badannya karena semakin gemuk setelah melahirkan Kayla.
Kamar tidur di atas dan kamar mandi di bawah memang membuat repot kalau sewaktu-waktu mandi tak bawa baju ganti sekalian. Terlebih saat menaiki tangga, harus melewati dapur dan terlihat jelas dari ruang tamu dan ruang Tv. Rumah kecil itu belum rampung pembangunan nya karena uang hasil menjual rumah tak cukup.
Bukannya bergegas ganti baju, Rani malah membanting tubuhnya ke ranjang dan menangis kesal. Setiap hari dia yang melakukan pekerjaan rumah, mencuci piring, mencuci pakaian dan masak. Sementara kakaknya pergi pagi pulang siang dan langsung tidur siang setelah datang.
Rani kesal dengan situasi yang harus dia hadapi. Hendak marah namun dia selalu salah dalam mengungkapkan isi hatinya. Dia tipe orang yang tidak ekspresif, sulit menyatakan perasaannya. Kesal, benci, suka dan cinta selalu dia telan bulat-bulat. Hingga akhirnya yang keluar dari dirinya hanyalah tangisan dan tawa yang tak jelas.
Tangisnya dipaksa berhenti setelah dia mendengar langkah kaki kecil anak-anak nya yang menghampirinya dan malah berteriak.
"Ah....mamah ko malah tidur....!" rengek Syifa.
Adiknya, Kayla hanya diam melihat Rani yang tidur hanya dengan sehelai handuk.
"Iya...iya..ini mamah ganti baju" Rani mengalah lagi.
Dia bangkit dari tidurnya lalu handuknya jatuh, seluruh tubuhnya terlihat dan pecah tawa anak-anak nya melihat lipatan perut nya. Rani cemberut karena mereka menertawakan nya, namun sedikit terhibur dengan gelak tawa mereka yang masih polos.
Mereka mengawasi mamah nya dengan menunggu di ranjang dan lompat-lompat dengan riang. Rani sudah tak ada tenaga untuk melarang mereka, dia hanya menatap sambil bersusah payah untuk memasukan celana jeans ke paha nya yang besar.
Belum mulai untuk mengajak jalan-jalan ke gunung, Rani sudah merasakan lelah yang sangat. Hela nafasnya terdengar saat menuruni tangga dengan menggendong kedua anaknya di depan dan di belakang.
Ibunya yang sudah berada di depan tv menoleh karena langkah Rani yang terdengar terasa berat. Benar saja, ibunya langsung tertawa melihat apa yang dia lihat.
"Haha..haha...sudah cape beres-beres malah kalian tambah dengan minta gendong" ucap ibunya sambil makan masakan Rani.
Rani hanya tersenyum kecut, lalu anak-anaknya tertawa keras yang menyebabkan Rani melepas mereka sesampainya di bawah karena telinganya sakit akibat tawa keras mereka.
Rumah itu semakin riuh karena tawa mereka.
Dan, akhirnya mereka pergi menggunakan motor menuju tempat rekreasi. Kayla duduk di depan Rani dan Syifa duduk di belakang. Motor bebek itu masih nyaman dipakai meski jarang di servis. Karena Rani juga tak banyak menggunakan nya. Dia lebih sering diam di rumah.
Sepanjang jalan menuju kaki gunung, Kayla terus bernyanyi semua lagu yang dia suka. Umur tiga tahun dia sudah banyak menghafal banyak lagu, bahkan Rani merekam nya di ponsel saat Kayla menyanyikan "Lagu Untuk Mama" yang secara kebetulan dinyanyikannya saat dia bermain dengan temannya.
Syifa hanya diam memeluk erat tubuh ibunya, sesekali memejamkan matanya karena trauma yang dia dapat saat mengendarai motor bersama ayahnya. Mereka pernah nekat mudik ke Gombong Jawa Tengah saat musim lebaran. Lalu saat hendak pulang ke Bandung dan sampai di daerah Ciawi Tasikmalaya persis nya Gentong, motor mereka oleng karena menabrak pantat motor yang ada di depannya. Pantat motor itu dirancang khusus untuk membawa oleh-oleh atau entah apa namanya itu sehingga lebih panjang dari motor itu sendiri. Karena lelah dan pegal akhirnya mereka pun terjatuh tak bisa menahan beban seluruh tubuh dan anak-anak. Saat terjatuh, Rani berbaring memeluk Kayla yang sedang tidur dengan balutan jas hujan. Tiba-tiba ada mobil besar hampir menabrak kepalanya. Untung saja sang sopir membanting stir pada saat yang tepat jadi Rani masih selamat, hanya saja pinggir ban mobil menyeret Rani beberapa meter dan membuat orang-orang berteriak histeris melihatnya. Menyangka kepala Rani terlindas mobil.
Hingga sekarang kejadian itu membuat Syifa sedikit takut jika naik motor bersama mamah atau ayahnya. Dia selalu menceritakan semua hal pada neneknya, Rani pun tahu tentang trauma yang dialami Syifa dari cerita neneknya. Dia terlalu tertutup pada mamah nya, sehingga kadang menyulitkan komunikasi diantara mereka. Rani kadang bersikap terlalu keras padanya, bahkan saat dia diberitahu tentang trauma nya Rani malah menyuruhnya melupakannya dan bersikap seperti biasanya saja.
Sampai di tempat parkir, Rani berhenti dan mencari spot parkir yang kosong. Perlahan dia memarkirkan motornya lalu menurunkan kedua anaknya.
"Wah...masih banyak yang datang Fa!" ucap Rani.
Syifa diam saja tak menjawab.
Tempat itu masih ramai pengunjung, Rani menggendong Kayla lalu tangan yang lainnya memegang tangan Syifa dan mereka pun mulai menyusuri pasar.
Tempat itu masih penuh, suasana nya sudah bukan seperti tempat rekreasi lagi. Ini melebihi dari sekedar pasar. Karena jalan begitu penuh, Rani berjalan perlahan dan menempatkan Syifa di depannya. Sesekali Rani mengganti posisi gendong Kayla, karena pegal dan sesak. Syifa berjalan dengan perlahan karena takut terinjak dan terlepas dari mamahnya.
Tak satu katapun terucap, Rani makin merasa lelah dan kesal karena desakan pengunjung yang lain. Namun Rani mulai merasa kasian pada anak-anak karena sudah melewati dua kedai sosis bakar yang mereka sukai. Dengan sedikit menjinjitkan kakinya, Rani melihat-lihat berharap semoga saja ada kedai sosis bakar yang lain di depannya. Agar mereka bisa menepi dan beristirahat dulu sebelum sampai di tempat yang lebih tinggi.
Maju selangkah demi selangkah akhirnya dia bisa melihat kedai sosis bakar dan mulai berjalan bersama menepi. Syifa terlihat merasa lega, Kayla tetap memeluk mamahnya dan banyak bicara.
"Aku juga mau sosis bakar!" serunya yang masih dalam gendongan Rani.
"Iya..teteh mau?" tanya Rani pada Syifa.
"Mau!" ucap nya lembut.
Suaranya tak terlalu terdengar, namun Rani mengerti karena Syifa mengangguk sambil menggaruk hidungnya.
"Beli 2 Bu!, pake saos tomat sama mayones aja!" Rani memesan.
"Mangga Neng!" jawab Ibu pedagang nya.
Mereka menunggu, Syifa memperhatikan Ibu pedagang yang membakar sosis nya sambil mengolesi mentega dan bumbu. Kayla memeluk ibunya dan menunjuk ke atas.
"Dede mau ke sana!" ucap nya manis.
"Iya...bentar kan sosisnya belum mateng" ucap Rani sambil mengipasi lehernya.
Setelah lama menunggu, akhirnya sosisnya matang dan di bungkus. Rani menyerahkan uang dan menerima plastik berisi sosis bakar lalu melanjutkan jalannya menuju tempat yang lebih nyaman untuk makan dan duduk.
Ada sebuah tempat yang berada di atas dekat gunung. Mereka menuju ke sana dan mulai mengumpulkan semangat lagi. Meski berdesakan namun Rani terus berjalan sambil melindungi kedua anaknya.
Panas matahari mulai sangat menyorot setelah sampai dekat dengan tempat yang mereka tuju, karena pepohonan yang rindang sepanjang jalan tadi sudah mulai menghilang saat tiba di sana. Tempat itu seperti lapang rumput yang luas, di pinggirnya terdapat beberapa kedai kopi dan gorengan juga kelapa muda. Banyak orang yang duduk dan menikmati pemandangan di sana.
Tempat itu sering dipakai untuk lomba menerbangkan burung merpati dan jenis lomba lain. Sering juga jika hari biasa terlihat anak sekolah yang berada di dekat nya lari keliling lapangan untuk sekedar olahraga di luar sekolah. Namun hari minggu ini sangat penuh, karena awal bulan. Semua orang sudah menerima gaji dan memanjakan diri berjalan-jalan menyegarkan pikiran.
"Kalo begini bukannya segar pikiran, segar bau badan karena keringat mengguyur" gumam Rani.
Rani dan anak-anak nya mulai mencari tempat duduk yang pas untuk bertiga, namun tak ada. Akhirnya mereka duduk di rumput dengan alas sandal Rani. Mereka duduk menghadap pemandangan kota Bandung yang indah dengan jejeran gedung-gedung dan komplek perumahan yang tertata rapi.
Sebelumnya Rani memesan satu gelas minuman bandrek juga membeli minuman air putih untuk anaknya. Mereka mulai membuka makanannya dan mulai makan dengan sesekali melihat pengunjung lain yang pergi bersama kedua orang tuannya.
Rani menghela nafasnya saat melihat pemandangan itu, sudah lama sejak mereka pergi bersama. Selain karena memang tempat kerja Randy yang jauh di Jakarta sana membuat mereka hanya bisa bertemu selama 3 hari setiap bulannya, Rani juga sibuk pindah setelah rumah ibunya dijual dan membangun rumah di daerah yang baru. Meski tak keluar dari kota Bandung namun pindahan tetaplah pindahan jauh dekat rasa nya tetao sama, cape.
Matanya memandang pemandangan yang ada di hadapannya namun pikirannya tak di sana. Rani memikirkan perubahan sikap Randy yang berubah selama 2 tahun terakhir.
Dia masih ingat, suatu malam dia tertidur lelap sambil meninabobokan Kayla. Terlupa akan kehadiran Randy yang sejak sore menonton tv dan memainkan ponselnya terus-menerus. Rani terbangun tengah malam dan mendengar suaminya berbicara dengan seseorang di ruang tamu yang berdampingan dengan kamar ibunya. Karena pintu kamar ibunya rusak tak tertutup rapat, Rani pun secara perlahan melihat keadaan ibunya yang terlihat tidur lelap juga.
Rani tak begitu memperhatikan apa yang dibicarakan suaminya di telpon dengan seseorang, dia hanya mengetuk pintu ruang tamu dan menyuruhnya menyudahi telpon, takut mengganggu ibunya yang tidur. Randy terkejut melihat Rani namun langsung menutup telponnya dan ikut bersamanya ke kamar.
Rani kembali tidur di samping Kayla namun Randy masih sibuk mengirim pesan di ponselnya. Rani sedikit kesal karena Randy terus fokus pada ponselnya. Yang dia tahu Randy berkirim pesan dengan teman-teman SMP nya. Namun dia juga merasa bersalah karena ketiduran saat meninabobokan anak-anak mereka. Rani mulai merasa bingung, rasa rindu pada suaminya untuk bercengkerama semakin sulit diungkapkan. Rasa canggung semakin sering terjadi, bahkan untuk hanya sekedar menyatakan rasa sayangnya.
Ketidaksetujuan Rani atas pertemanan kembali Randy dengan teman SMP nya membuat hubungan mereka menjadi banyak seteru bahkan tentang hal-hal kecil. Rani merasa Randy terlalu mementingkan mereka dibandingkan keluarga kecil nya.
Lamunannya terhenti saat Syifa dan Kayla meminta untuk pulang. Tak terasa sudah pukul 11 siang, matahari semakin terasa panas. Rani berdiri dan berjalan menuju pemilik kedai lalu membayar serabi dan kelapa muda yang dipesan anaknya.
Mereka kembali berjalan namun kali ini terlihat lebih lengang. Mereka bisa santai berjalan dan melihat-lihat sekeliling. Syifa dan Kayla pun berjalan dengan leluasa, saat hari minggu seperti ini motor dan mobil dilarang lewat jalan itu agar tak menyebabkan kemacetan. Terlebih khusus untuk hari minggu sebagian besar jalan digunakan pedagang musiman untuk membuka lapaknya di sepanjang jalan. Tak heran banyak juga pengunjung di sini meski untuk sekedar melihat-lihat saja.
Belum sampai di parkiran motor, terlihat sebuah mobil kol bak yang terparkir di bahu jalan. Rani memperhatikan barang pecah belah yang dijual oleh pedagang. Rani teringat akan suaminya yang tak punya gelas khusus untuk nya minum. Dia sering mengeluh karena gelas minumnya selalu digunakan anak-anak. Dia pun menghampiri dan mulai melihat-lihat.
"Pak! Ada gelas mug besar?" tanya Rani.
Bapak itu tak menjawab hanya langsung mencari gelas yang dimaksud lalu memberikannya pada Rani. Dia memberikan gelas yang ukurannya besar lebih dari yang Rani bayangkan.
"Waahhh...ini sih kegedean Pak!" ucap Rani
"Emang Neng, ini lebih tebel. Kuat, tahan banting. Cuma ada dua, tadi udah ada yang beli. Murah lagi, cuma 15 rebu" ucap bapak pedagang meyakinkan Rani.
Rani berpikir, gelas mug itu terlalu besar. Namun dia terbayang ekspresi suaminya saat minum di gelas itu. Perasaan puas dan segar karena minum di gelas mug itu. Tak berpikir lagi, Rani membelinya bahkan dia tak menawar.
"Dibungkus dus kecil ada ga Pak? Soalnya pake motor takut pecah kalo cuma digantung aja" ucap Rani.
"Ga bakalan Neng! Ini mah tahan banting. Percaya deh!" ucap bapak pedagang itu sambil memasukkan gelas mug itu ke kantong kresek.
Syifa dan Kayla hanya melihat saja. Mereka pun berjalan kembali setelah Rani membayar. Rani memegang gelas itu seperti memegang sebuah harta yang sangat berharga. Dia bahkan rela pegal menggendong Kayla sambil berjalan juga memegang gelas itu dengan sangat hati-hati.
Sampai di tempat parkir, dia langsung membuka bagasi motor dan mengeluarkan jas hujan juga alat-alat yang disimpan di sana dan menaruh gelas itu sendiri agar tak pecah.
Seperti biasa Kayla duduk di depan dan Syifa duduk di belakang. Motor mereka pun mulai melaju dan pulang.
Sampai di rumah, Syifa dan Kayla memberikan makanan kesukaan neneknya yang mereka belikan saat perjalanan pulang. Dengan riang mereka pun menceritakan semua keadaan yang terjadi.
Rani langsung menyiapkan makan siang untuk semua orang. Para keponakan nya baru bangun dan meminta makan karena lapar. Syifa dan Kayla pun merengek minta makan.
Semua makanan di sajikan di tengah karpet lengkap dengan peralatan makan. Namun tak terpakai semua, karena anak-anak meminta untuk di suapi. Akhir nya Rani mengambil dua sendok penuh nasi dan lauk pauknya lalu mulai menyuapi mereka satu persatu.
Kayla dan Rahma keponakan nya makan sambil bermain dan berlari begitu pun Syifa dan Dirga sehingga Rani harus selalu berteriak setiap akan menyuapi mereka. Teriakan Rani terdengar seperti sangat jengkel namun semua itu sudah biasa terdengar. Sudah hampir lima tahun Rani melakukannya. Mengurus rumah, menyiapkan makanan dan menyuapi semua anaknya. Meskipun Rahma dan Dirga adalah anak dari kakak perempuan nya dia sudah sangat menganggap nya sebagai anal sendiri. Semua perlakuan sama kecuali beberapa hal yaitu uang dan waktu rekreasi.
Selesai makan siang, Rani mencuci piring lagi. Begitu seterusnya sampai semua waktunya habis dan malam pun tiba.
Rani memeriksa ponselnya yang baru sia temukan terselip di pinggiran sofa. Dia terkejut karena melihat panggilan tak terjawab dari Randy selama beberapa kali. Rani menepuk jidatnya dan menyesal karena tak memeriksa ponsel sedari tadi.
Dia juga membuka pesan singkat yang dikirim Randy yang berisikan kekesalannya terhadap Rani yang tak menjawab semua panggilannya.
"*Kalian hanya mau bicara saat ayah gajian dan waktunya mengirim uang*"
Rani menyesali kesalahannya, dia mencoba menghubungi Randy kembali namun tak dijawabnya. Beberapakali mencoba pun tak dijawabnya. Randy punya kebiasaan membalas dendam atas kesalahan yang dilakukan Rani. Dari hal besar hingga hal sepele sekalipun.
Rani mulai merasakan sesak di dadanya, matanya mulai berair dan nafasnya mulai tersengal. Malam itu hingga larut dia berusaha untuk menghubungi Randy namun tak sekalipun dijawabnya.
Rani tak bisa tidur karena gundah gulana menyerang. Dia menatap kedua anaknya yang tidur terlelap, polos meski selalu membuat kesal namun mereka terkadang menjadi obat segala penyakit nya.
Perlahan matanya mulai mengantuk dan tertidur lelap.
Keesokan harinya, Rani masih mencoba menghubungi karena pesan permohonan maaf nya tak dibalas. Sebelum beres-beres dia mencoba menghubunginya. Namun tetap saja tak ada perubahan.
Begitupun di hari berikutnya, namun semua terlupakan dengan segudang pekerjaan rumah tangga yang tak habis-habis. Rani mulai lupa dengan gusarnya. Rendy pun tak menghubungi dalam beberapa hari.
Sepekan terlewat tanpa komunikasi, Rani menganggapnya biasa. Ini yang Randy mau, setelah sebelumnya pernah Rani menelpon nya karena tak bisa dihubungi selama tiga hari berturut-turut. Lalu saat Rani memastikan dengan menghubungi temannya, Randy marah besar karena merasa malu saat Rani menanyakannya. Rani yang seharusnya marah karena Randy tak bisa dihubungi sebab dia mematikan ponselnya yang sedang berada di Puncak Bogor bersama temannya, malah dimarahi balik olehnya.
Tanpa bereaksi apapun Rani memutuskan untuk tak menghubunginya terlebih dahulu. Namun terkadang Randy menyalahkan nya karena terlalu cuek pada suaminya. Terkadang Rani bingung dengan sikapnya yang seolah ingin Rani cepat jera dan meminta cerai darinya.
Namun Rani tetap bertahan meski sering dia merasakan sesak di dadanya menahan tangis setiap malam.
Lalu saat tiba waktunya Randy untuk pulang, dia menghubungi untuk memberi tahukan bahwa dia tak bisa pulang karena bos nya yang meminta.
"Aku tak bisa pulang, bos meminta. Aku harus di sini hingga bulan depan. Pengganti ku selama libur tak datang" ucap Randy.
Rani memejamkan matanya yang menangis namun berusaha membuat suaranya tak parau.
"Ok, hati-hati kerja nya. Jangan lupa makan, kurangi merokoknya" ucap Rani sambil menahan isak tangisnya.
"Ok, dadah" Randy menutup telponnya.
Tak ada lagi basa-basi diantara mereka apalagi rayu merayu. Rani duduk memeluk bantal dengan erat, lalu berbisik.
"Aku merindukan mu, mengapa kau selalu berpikir kalau aku tak punya perasaan itu" isak tangisnya senyap karena ditutupi bantal.
Dengan sekuatnya dia berteriak, di bantal agar tak terdengar oleh siapapun. Rani menghapus air matanya dan tidur bersama anaknya.
Sedih setiap malam dia buang dalam lelap tidurnya. Paginya dia kembali memasang wajah ceria dihadapan ibunya yang selalu sakit juga di hadapan anak-anak nya yang tak mengerti apapun.
Menutup rapat semua rasa sakit dan membuat topeng senyum di wajahnya. Seolah terbiasa, hati Rani mulai dingin dan beku. Dia tak memulai pembicaraan dengan Randy sehari pun, namun Randy tak bergeming dan bersikap sama.
Hingga akhirnya Randy bisa pulang dan sampai di rumah. Randy membuka pintu perlahan agar ibunya yang tidur di lantai bawah tak terbangun. Dia berjalan perlahan ke lantai atas dan menaruh tasnya.
Rani terlihat berbaring di ranjang dengan memeluk Kayla. Randy melepas sepatu dan atribut nya sambil memperhatikan Rani dengan kesal. Rani yang sebenarnya tak tidur, diam saja menatap kosong ke arah gorden kamarnya.
Randy kembali ke lantai bawah untuk makan dan minum, tanpa membangunkan Rani. Dia beraktivitas sambil memainkan ponselnya. Senyum tersungging di bibirnya saat melihat pesan yang dia dapat. Lalu setelah selesai dia kembali ke lantai atas namun tak ke kamar. Dia menjawab telpon dari teman SMP nya dan bicara hingga larut.
Kali ini Rani dengar semua percakapan nya, semua terdengar seperti seorang remaja yang sedang mabuk kasmaran. Seorang pria yang sedang bicara dengan kekasihnya yang telah dia tinggalkan pergi jauh untuk sementara. Sama seperti pada Rani dulu saat masih pacaran. Rani memejamkan matanya, sekali lagi menahan tangisnya sambil memegang dadanya dan mengelusnya.
Perlahan dia kembali ke ranjang dan berbaring seperti posisi semula. Lama dia tunggu kehadiran suaminya dengan menahan agar air matanya tak menetes. Lalu akhirnya Randy datang menaruh ponselnya di lemari.
Randy langsung memeluk Rani dan menyetubuhi nya sebentar lalu kembali tidur dengan membelakanginya. Rani semakin merasa sesak dan ingin berteriak kencang. Namun tak ingin ibunya tahu tentang masalahnya dan sakit lagi karena mengkhawatirkan nya. Lagi lagi dia menelan bulat rasa sakit hatinya.
Keesokannya Rani bersikap seperti biasa, tersenyum melihat anaknya membangunkan ayahnya yang mereka lihat di ranjang.
"Ayah sudah datang....ayah ayo bangun kita jalan-jalan!" rengek Syifa dan Kayla.
Randy mengeluh,
"Mah..ini anak-anak nya mah suruh pergi main dulu lah ngantuk!" ucapnya sambil berbalik dari anaknya.
Rani terdiam membisu,
'dia bahkan mengabaikan anak-anaknya' ucap hati Rani.
Rani langsung memarahi kedua anaknya,
"Kalian! Keluar.....! Jangan ganggu orang tidur!" teriak Rani sambil menarik tangan kedua anaknya dan mencubitnya.
Sontak mereka berdua menangis kesakitan karena Rani mencubit dengan keras. Randy tak bergeming, dia melanjutkan tidurnya dan tak peduli dengan sikap Rani.
Syifa dan Kayla menangis sambil berlari ke kamar neneknya. Rani turun dan mulai masak dengan bercucuran air mata. Sesekali dia mengusapnya dan bekerja kembali.
Terdengar suara ibunya bicara namun dia tak mendengar dan mengabaikannya. Hatinya masih sakit dan kesal, sulit baginya untuk mereda setelah dari semalam dia menahannya.
Perlahan perasaan Rani mereda setelah mengerjakan pekerjaan rumah, memasak untuk Randy suami yang dicintainya. Dia memasakkan kepala kakap dengan bumbu khas Padang. Mencari kepala ikan kakap sebelumnya di pasar dengan uang sisa yang masih dia sisihkan untuk menyambut kedatangan suaminya. Mencari resep di internet dan membeli semua bumbunya yang harus dia olah sendiri.
Rani juga mulai ingin membuat Randy kembali menyayanginya seperti di awal pernikahan. Dia menyajikan semua dengan rapi, tak lupa gelas mug besar kebanggaan nya yang dia harap bisa membuat Randy merasa diperlakukan spesial oleh Rani.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, Randy benar-benar baru bangun dan turun untuk makan. Dia mandi dan ganti baju lalu menghampiri Rani yang sedang menyiapkan makanan.
Piring dan masakan sudah tertata rapi. Wangi kepala kakap tersebar ke seluruh rumah. Semua orang di rumah mencium dan memuji wanginya. Tapi tidak dengan Randy, dia diam saja dan tak ada satu kata terucap.
Dia menyapa ibu mertuanya lalu menggendong anaknya. Rani hanya dipandang sebelah mata. Rani menyadarinya namun dia sedang bersiap dengan pemberiannya untuk Randy. Dia sangat berharap Randy bisa merasa sangat diistimewakan oleh nya lalu hubungan mereka pun bisa kembali membaik.
Semua orang mengelilingi makanan dan bersiap untuk makan. Rani menyajikan gelas mug besar berisi teh hangat kesukaan Randy. Randy langsung merespon, ini yang di tunggu-tunggu Rani.
"Hahahahaha....kamu ngeledek saya ya! Apaan ini? Ko ngasih gelas yang segede gini, kamu pikir saya buto ijo!" suaranya lantang, tawanya terdengar kesal.
Itulah respon Randy yang sebenarnya terjadi, tak sesuai dengan harapan Rani.
Rani memejamkan matanya semakin terluka, dia membawa gelas mug besar itu ke dapur dan menggantinya tanpa bicara apapun. Tak ada yang peduli, tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam hati Rani. Seperti sebuah bom besar yang meledak, hatinya hancur. Bahkan hal kecil itu pun bukan lah sesuatu untuk suaminya.
Rani menahan rasa sakit lagi, dia terpaksa ikut riang gembira melihat anaknya bermain dengan Randy. Sekali lagi di harus mengabaikan lagi perasaannya.
Waktu 3 hari berlalu dengan cepat tanpa keromantisan seperti dulu. Dua bulan tak bertemu, Rani bukan mendapatkan cumbu rayu kerinduan dari suaminya namun hanya sikap dingin. Dia tak bisa menceritakan kekesalan ataupun kekecewaan dalam hatinya pada siapapun. Tak ada yang bisa dia jadikan sandaran lagi.
Duduk termenung di luar lantai atas, menatap langit berawan. Tatapannya kosong, dia hanya merasa sendirian sekarang.
'Gelas mug besar itu tak berguna, dia hanya tersinggung karena menerimanya. Entah bagaimana pandangan nya kepadaku saat ini, kenapa dia seolah sangat tidak menyukai ku' suara hatinya hanya bisa dia dengar sendiri.