Cathy bersama kedua sahabatnya lambat lagi masuk ke kelas berikutnya. Mereka belum terlambat tapi sudah tidak ada bangku kosong yang berjejer tiga. Ketiganya harus mencari tempat duduk terpisah. Cathy segera mencari tempat di dekat jendela-berharap salah satu tas yang ditinggalkan di dekat sana adalah milik Daniel, lelaki yang sangat dikaguminya sejak pertama kali tersenyum pada Cathy. Namun, sayangnya, Cathy juga tidak tahu yang mana tas milik Daniel. Dengan pasrah, ia mengambil posisi di dekat aisle agar ia bisa dengan mudah keluar jika bosan, tidak perlu permisi pada orang yang duduk di sebelahnya. (Ruang kelas berbentuk tribun)
Lima menit lagi kelas dimulai, satu per satu pemilik tas datang dan memenuhi setiap bangku. Dan betapa terkejutnya Cathy saat kembali dari toilet melihat seseorang yang duduk di bangku sebelahnya. Tepat sekali, itu adalah Daniel. Cathy tidak ingin terlihat tersipu-sipu. Ia harus meredam rasa senangnya yang meledak-ledak. Ia pun berjalan menuju bangku Feline di belakangnya.
"Tolong buat aku kembali sadar!"
Feline yang bingung kemudian menyisir pandangannya ke segala sudut dan langsung memahami maksud Cathy.
"Ingat bahwa kamu belum menyelesaikan proposal jika kamu ingin lulus cepat"
"Bagus. Thanks!"
Wajah Cathy sudah tidak memerah lagi karena tersadar akan proposal tugas akhirnya. Feline terkikik dan menyuruh Cathy kembali ke bangkunya karena dosen sudah tampak melewati pintu.
Cathy melangkah biasa dan berusaha membuat dirinya tetap tersadar. Ia tidak menyangka bahwa ia akan duduk di samping Daniel. Awalnya, ia hanya ingin melihat Daniel dari dekat, tapi jika terlalu dekat Cathy tidak akan punya kesempatan untuk curi-curi pandang tanpa ketahuan.
Cathy langsung duduk dan berusaha menyapa Daniel.
"Oiii"
Daniel menyapa terlebih dulu.
"Yo. Ssup!?" (Ada apa?), balas Cathy.
"Ga ada. Bawa buku apa aja?"
"Ga bawa buku. Cuma laptop buat browsing"
"Bagus-bagus! Aku numpang sama dirimu aja ya."
"Ah, ok"
Kelas pun dimulai dan berjalan biasa-biasa saja bagi Cathy. Untungnya, Daniel bukan lelaki yang akan membuatnya tidak nyaman. Mereka berbincang ringan di sela-sela pelajaran seperti teman biasa, karena Cathy tidak pernah menunjukkan tanda-tanda ia tertarik pada Daniel saat berada di depannya.
Kelas berakhir. Daniel mengeluarkan sebuah buku kupon makan sebuah cafe.
"Hey, pilih salah satu. Cari yang sekaligus dapat minumannya!"
"Baik amat!?"
"Ucapan terimakasih karena boleh numpang browsing"
"Biasa aja kali"
"Tetep aja biar aku ga merasa berhutang"
"Ok kasih aku rekomendasi"
"Pasta + blue coke?"
"Itu signature?"
"Bukan."
"..."
"Itu yang paling enak menurutku"
"Ok itu aja"
"Eazyyy"
Daniel pun merobek salah satu kupon dan memberikannya pada Cathy. Dan saat itulah mereka berpisah.
Feline dan Tim melihat dari dekat pintu dan tertawa keras setelah melihat Daniel pergi menjauh.
"Siapa yang pdkt, Cath?"
"Ga ada satu pun"
"Terus itu dapat nomor hp atau alamat?"
"Kupon makan di Cafe Pasifik"
"Kalian mau ngedate?"
"Engga... Dan ngasih ini karena aku kasih pinjem laptop"
"Nice move! Terus kuponnya buat berapa orang? 1? 2? 3?"
"Entah"
"Ga ada niat buat ajak kita makan juga pake kupon?"
"Aku mau traktir kalian di comic cafe aja. Mau nerusin Fullmetal Alchemist"
"Ok!"
Feline dan Tim bahagia melihat temannya yang sedang berbunga-bunga sekaligus karena akan mentraktir mereka.
Sesampainya di comic cafe, trio itu segera memesan favorit masing-masing. Setelah itu, Cathy segera menuju ke rak komik yang diinginkannya, sementara Tim mulai membaca Haikyuu! dan Feline membuka laptop untuk browsing. Feline tidak begitu menyukai membaca komik tapi ia suka datang ke comic cafe juga karena makanan yang enak dan jaringan internet super lancar.
Ketiganya memilih tempat duduk yang luas dengan meja panjang, bukan booth yang dapat diisi satu orang saja. Mereka tidak mendambakan keheningan seperti di perpustakaan. Sesaat setelah makanan mereka tiba, seseorang masuk ke dalam cafe. Namun, trio itu tidak memperhatikan karena sedang lahap menyantap hidangan di depan mereka.
"Kok engga ke Pasifik?"
Ucap suara seorang lelaki di samping Cathy.
Cathy yang sedang melahap pastanya langsung terbatuk karena terkejut dan buru-buru minum air putih.
"Jangan buat aku mati tersedak!"
"Maaf. Penasaran aja kenapa ketemu dirimu di sini bukannya di Cafe Pasifik. Kan udah kukasih kupon."
"Aku mau baca komik juga. Jadinya kesini"
"Kalau gitu aku juga"
"Sana cari komik dulu"
"Oke"
Daniel, lelaki itu, pergi ke rak komik. Saat itulah Tim dan Feline mulai menggoda Cathy. Cathy tidak sempat tersipu karena sesungguhnya ia agak marah karena ia hampir tersedak. Daniel kembali dengan komik Samurai X lalu memesan fries dan cola kaleng. Mereka berempat melakukan aktivitas masing-masing dengan sedikit bercanda.
Makanan dan minuman telah habis dan Cathy telah selesai membaca 3 volume. Cathy mengusulkan untuk pulang namun Daniel bilang ia akan tinggal dulu untuk beberapa lama karena masih ingin membaca komik. Cathy, Tim, dan Feline pun pulang ke rumah masing-masing. Sementara, Daniel masih benar-benar meneruskan membaca komik dan berhenti setelah volume ke 15. Ia benar-benar menghabiskan seluruh sorenya di kafe itu. Daniel pun membereskan komiknya dan keluar dari kafe.
"Dan, aku menyukaimu!"
Terdengar suara perempuan yang langsung berlari setelah mengucapkannya.
"Aku juga" kata Daniel dengan lirih.
Daniel tersenyum sepanjang perjalanannya ke rumah. Si ketua geng trio itu benar-benar merasa bodoh dan masih saja bersembunyi di sebuah gang dan baru berani keluar setelah mobil Daniel tidak terdengar.
Musim ujian datang dan tidak ada lagi kelas bersama. Daniel dan Cathy hanya memiliki satu mata kuliah yang sama sehingga mereka jarang bertemu. Selama ujian pun tidak pernah bertemu hingga akhirnya libur panjang tiba. Selama liburan, Cathy jarang keluar rumah bahkan untuk bertemu dengan Tim dan Feline. Cathy begitu fokus untuk membuat tugas akhirnya agar di semester berikutnya ia bisa lulus dan tidak perlu mengambil kelas lagi.
Suatu hari, Cathy membuka dompetnya dan menemukan kupon Cafe Pasifik yang pernah diberikan Daniel. Ia hampir lupa dan tertulis bahwa kupon itu akan kadaluarsa seminggu lagi. Cathy pun memasang pengingat untuk pergi ke Cafe Pasifik minggu depan. Awalnya, Cathy ingin menyimpannya saja sebagai kenang-kenangan tapi ia pikir mungkin mencoba rekomendasi Daniel adalah hal yang bagus. Lagipula Daniel tidak akan berhutang lagi padanya.
Hari yang ditunggu tiba. Cathy membawa laptopnya dan seperangkat buku ke cafe untuk mengerjakan tugas akhirnya. Ia memilih tempat duduk sofa di bagian kanan cafe yang berdampingan dengan jendela. Cathy menuju ke counter tempat memesan dan menyerahkan kuponnya. Cathy kembali duduk dan mulai menulis. Ia sudah tiba di bagian analisis dan ini sangat menyita pikirannya. Tak lama, pasta dan blue coke datang disertai sebuah buku. Pelayan tersebut menyerahkan buku itu pada Cathy dan berpesan agar membaca bukunya saat akan meninggalkan cafe. Cathy mengira bahwa ini adalah bonus dari cafe karena telah menggunakan kupon. Tapi, apapun itu, Cathy tidak berpikir panjang dan fokus mengerjakan tugasnya sambil sesekali menyantap pastanya.
Pasta habis, blue coke juga sama. Cathy memesan lagi minuman untuk menemaninya dan terus berada di dalam cafe selama lima jam. Cathy merasa lelah dan ingin tidur. Ia pun segera membereskan barang bawaannya dan pergi pulang. Cathy tidak ingat dengan pesan pelayan itu untuk membaca buku yang diberikannya dan baru tersadar setelah ia berada di dalam mobil. Cathy sudah bergerak sejauh 1 km dari cafe dan menghentikan mobilnya di lapangan yang sepi. Ia membuka tasnya dan mengambil buku tadi. Buku itu tidak tampak istimewa dan hanya setebal novel anak-anak. Di sampulnya tertulis sesuatu yang samar-samar terlihat: Catherine, ditulis dengan pensil.
Cathy agak bingung, tapi ia tetap membuka bungkus plastik dari buku itu. Di dalamnya berisi tulisan tangan. Ada yang berbentuk puisi, prosa, cerpen, sketsa, dan macam-macam. Cathy mulai tersenyum ketika membaca tulisan itu. Isinya lucu dan menyentuh. Ia tidak benar-benar tahu itu dari siapa namun ia berharap dan menduga itu dari Daniel. Cathy membacanya sampai habis di dalam mobilnya sampai ia menjumpai halaman terakhir dan menemukan sebuah surat.
"Dear Cathy, aku selalu tahu kamu menyukaiku dan aku senang karena itu. Tapi, aku mau kamu tidak memikirkanku terlalu lama karena aku tidak akan lagi tinggal di dekatmu. Aku akan pergi jauh dan tidak akan kembali dalam waktu dekat. Mungkin tidak akan kembali. Semoga kamu sempat membaca surat ini karena itu artinya kamu tidak hanya menyimpan kupon yang kuberikan padamu. Take care, Cathy!"
Cathy sedikit sedih dan sedikit lega. Tidak tahu apakah ia harus menangis bahagia karena Daniel juga mengungkapkan perasaannya atau harus terluka karena ia tak akan pernah bertemu Daniel lagi. Daniel juga tidak meninggalkan kontak apapun bahkan sosial media ia tidak ada.
***
Dua tahun berlalu, Cathy sudah berkencan dengan seorang laki-laki di tempat kerjanya di luar kota dan tidak pernah mendapat kabar dari Daniel. Jauh di hatinya, ia masih memikirkan Daniel. Daniel juga selalu datang di mimpi Cathy sekadar untuk memberinya kupon lalu pergi.
Cathy sadar mungkin Daniel bukan untuknya dan ia harus mencoba mencintai lelaki yang saat ini sedang bersamanga. Di tengah lamunannya, Tim menelfon.
"Cathy, bisakah kau pulang minggu depan?"
"Ada apa?"
"Daniel"
"Daniel pulang?"
"Ya.. dan dia akan menikah"
"Oh... dengan siapa?"
"Datang aja lah"
"Ok. Thanks, Tim, tapi aku rasa aku tidak bisa pulang. Masih ada kerjaan"
"Ok.. hope you're doing fine, Cathy! I care about you."
Tanpa sadar, Cathy menangis tanpa bersuara. Mungkin memang Daniel bukan untuknya dan seharusnya Daniel tidak pernah mengatakan ia juga menyukai Cathy. Apakah Cathy mampu bertemu dengan Daniel ketika ia sudah berkeluarga?
Cathy benar-benar tidak pulang untuk menghadiri pernikahan Daniel. Kenangannya yang sedikit tentang Daniel pun lama-lama habis. Ia tidak mau mengingat apapun agar tidak lagi menyukai orang yang sudah menikah.
***
Beberapa tahun berlalu lagi. Cathy sudah berpindah kota lagi dan tidak berkontak dengan teman-teman lamanya. Sedangkan, Daniel kini aktif di sosial media dan mengikuti akun Cathy. Cathy terkejut, namun ia tidak ingin mencampuradukkan perasaannya. Ia mengikuti balik akun Daniel dan melihat foto-foto yang diunggah.
Semua foto dan video yang diunggah Daniel berisi tentang keluarga kecilnya: lagu yang khusus diciptakan untuk Feline, foto bayinya dengan Feline, dan Feline.
Feline?