Tentang hidup yang semua orang bicarakan. Begitu juga aku, yang belum tahu banyak tentang kehidupan dan belum mengerti arti hidup.
Orang bilang dalam hidup ada jalan yang berliku, aku juga merasakannya. Saat cacian makian, dan hinaan datang pada kehidupanku, aku hanya bisa berkata sabar pada diriku sendiri tanpa tahu apa arti kata sabar itu.
Sesuatu yang berhubungan dengan hidup pasti berdampingan dengan cinta. Semua yang bernyawa pasti merasakan cinta, bisa jadi yang tak bernyawa pun merasakan cinta.
Seperti sungai, dia mencintai air yang mengalir di atasnya.
Cinta yang aku rasa begitu sangat indah dan terkadang menjadi sesuatu yang sangat buruk. Terlalu naif rasanya jika aku menyerah mengahadapi persoalan yang terjadi dalam kehidupanku.
Ketika mimpi hadir untuk menemani orang tidur. Aku justru mengharapkan mimpi itu datang ketika aku terbangun, karena hanya dengan bermimpi aku dapat merasakan kebahagiaan dalam hidup.
Dia yang selalu membuatku merasa hidup, dia yang selalu membuatku berpikir tentang kehidupan, dia yang selalu ada untuk menemani ku dalam hidup. Walau terkadang dia ingin menjauh dari hidupku dan ingin mencari makna kehidupan tanpa hadirku dalam hidupnya.
Hari ini hujan deras disertai angin yang kencang. Aku berharap hujan akan reda ketika aku sampai di kota, saat aku turun dari bus ini. Berkali-kali aku lihat ponselku walau tak ada satu pun pesan. Mungkin memang keberadaanku sudah tidak ada yang mempedulikan lagi.
"Ting... "
Suara ponselku yang akhirnya berbunyi. Itu adalah pesan dari Drake, pacarku. Ya, mungkin hanya dia yang selalu pedulikan keadaanku.
"Sayang, kamu sudah sampai ?" isi pesan darinya.
Entah kenapa, aku sama sekali tidak mau membalas pesan darinya. Padahal biasanya aku selalu ingin cepat-cepat membalas pesannya walaupun isinya terkadang tidak terlalu penting.
Tapi kali ini, aku membalas karena aku tidak mau kehilangan perhatiannya yang selalu dia berikan padaku.
"Belum sayang, tapi sebentar lagi aku sampai"
Mungkin memang hanya dia yang aku punya semenjak kepergian ayah dan ibuku akibat kecelakaan tiga tahun lalu. Pernah aku berpikir, kenapa harus mereka yang lebih dulu pergi dari dunia ini ?. Kenapa bukan aku saja ?. Bahkan kalau aku tidak pergi pun, tidak ada yang membutuhkanku.
Haah, dunia ini harus aku taklukan. Seperti kata ayahku dulu sebelum dia pergi.
"Gina, kamu itu anak ayah paling hebat. Kamu harus bisa bertarung mengalahkan dunia yang terkadang kejam bagimu"
Iya mungkin kata-kata dari ayah itulah yang selalu menjadi penyemangat hidupku. Ayah, Ibu, andai kalian masih bersamaku mungkin aku tidak akan menjadi selemah ini.
Aku adalah anak semata wayang. Kakek dan nenek ku pun sudah lama meninggal disusul oleh kedua orang tuaku yang meninggalkanku, aku menjadi hidup sebatang kara.
Sekarang aku masih kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Oldtown.
Beruntunglah aku karena aku mendapat beasiswa untuk belajar disana. Selain kuliah, aku bekerja sambilan di restoran untuk membiayai hidupku selama aku kuliah di sana.
"Ckittt.... "
Suara itu membuyarkan lamunanku, tanpa kusadari ternyata bus sudah sampai di tujuan. Tapi hujan deras itu masih belum reda.
Aku turun dari bus sambil berlari mencari tempat untuk berteduh.
Tanpa kusadari saat aku berlari untuk menyebrangi jalan, aku terpeleset. Dari arah barat terlihat mobil yang sedang melaju kencang. Saat aku terjatuh, mobil itu menabrak sedikit kaki kananku. Tapi untunglah si pengendara mobil mau bertanggung jawab walau itu bukan sepenuhnya kesalahan dia.
Aku tiba di Rumah Sakit. Lelah, sedih, sakit, bingung dan perasaan tak menentu saat aku tiba disana. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, tapi tiba-tiba dokter berkata kepadaku.
"Saudara Gina, luka yang dialami kaki anda sangat parah. Jika dibiarkan begitu saja, tidak akan ada harapan untuk sembuh. Kami harus mengambil tindakan untuk segera mengamputasi kaki anda"
Mendengar perkataan Dokter seperti itu aku merasa dunia ku mulai hancur. Tapi, tidak ada yang bisa ku lakukan. Aku tidak kau merasakan sakit yang berkepanjangan dan akhirnya aku mengiyakan saja kata dokter. Hari itu pula dokter beserta timnya segera memotong kaki kananku sampai ke bagian lutut.
Drake, andai dia tahu keadaanku sekarang. Mungkin dia sudah tidak mau menerimaku lagi. Kuliahku, pekerjaanku dan bagaimana aku bisa membiayai hidupku hari ini, besok, lusa dan selamanya sampai aku meninggal nanti.
Dengan hati yang pasrah, akhirnya aku menelpon Drake.
"Tuut... Tuutt... "
"Iya sayang ?"
Terdengar suara Drake dari sana yang masih belum tahu keadaanku sekarang.
Aku hanya diam, bibirku tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
"Sayang ?" lanjutnya karena aku diam.
"Sayang. Kalau kamu masih tidak mau berbicara, nanti aku tutup telponnya lho"
Akhirnya dengan suara yang berat aku mampu berbicara.
"Aku tunggu kamu di rumahku, sekarang"
Aku langsung menutup telepon, aku mempersiapkan diri untuk berbicara. Setengah jam kemudian dia datang.
Melihat keadaanku dia terlihat terkejut, dan mungkin dia berusaha menutupi rasa kecewanya terhadapku.
"Maafkan aku, aku tidak memberitahumu tentang ini"
Dia hanya diam dan tak bersuara.
"Aku tahu kamu malu, tapi kalau kamu tidak mau mempunyai pacar cacat sepertiku. Lebih baik kamu pergi saja, tinggalkan aku sekarang. Karena aku tidak mau kamu mencintaiku karena keterpaksaan dan karena rasa kasihan" Kataku sambil tak kuasa menahan air mata.
Dia menghapus air mataku.
"Sayang, aku tidak akan malu mempunyai pacar sepertimu. Aku mencintaimu bukan karena fisikmu"
"Bohong, itu bohong. Tidak ada yang mau menerima pacarnya dengan kondisi seperti ini" Kataku tidak percaya.
"Percayalah sayang. Aku akan…"
"Lebih baik kamu tinggalkan aku, karena aku tahu betul bagaimana orang tuamu. Jangankan dengan keadaan yang seperti sekarang ini, tidak seperti ini pun orang tuamu tidak menerima ku" Aku memotong pembicaraannya.
"Kamu harus pergi sekarang Drake"
Tanpa banyak kata, Drake pergi meninggalkanku. Sebelum pergi, dia mengucapkan sesuatu.
"Aku akan selalu ada untukmu"
Kata itu adalah kata terakhir yang keluar dari mulutnya.
Sesuatu yang kusebut cinta ini menjadikan aku seperti manusia paling bodoh, karena betapa bodohnya diriku yang menyuruh pacarku pergi yang jelas-jelas dia benar-benar mencintaiku.
.
=========================
.
Satu bulan telah berlalu, tanpa ada kabar darinya. Aku tidak tahu dia ada dimana, aku juga tidak tahu dia masih ingat diriku atau tidak. Yang jelas, cintaku padanya masih sama seperti dulu.
"Ting... " Ponselku berbunyi.
Itu adalah pesan dari Drake. Aku membuka pesan itu dan membacanya.
"Sayang, kalau boleh aku akan ke rumahmu sekarang"
"Ya, aku tunggu" Balasku.
Tak lama kemudian Drake datang ke rumahku dan masuk. Aku menangis, menyesal karena waktu itu aku sempat menyuruhnya pergi.
"Aku menyesal waktu itu aku nyuruhmu pergi. Tapi aku belum yakin kamu bisa menerimaku dalam keadaan yang seperti ini"
"Aku menerimanya sayang. Bagaimanapun keadaanmu, aku akan selalu menyayangimu, dan akan selalu mencintaimu" Jawabnya.
Aku menangis mendengar jawabnya. Dia memeluk erat tubuhku. Kehangatannya, kelembutannya, masih sama seperti dulu.
Drake, kini aku mengerti. Ternyata memang hanya kamu yang selalu ada untukku, hanya kamu yang mampu memahamiku, dan hanya kamu yang mengerti keadaanku.
Itulah hidup yang semua orang bicarakan. Hidup akan terasa indah saat ada seseorang yang mampu mengerti. Sangat indah ketika air mata yang menjadi simbol dari luka berubah menjadi senyum tanda bahagia.
Seperti yang orang-orang katakan, sesuatu akan terasa indah pada waktunya.