Tidak ada yang tidak mungkin, semua misteri pasti akan terpecahkan —Detektif Miku
💮💮💮
Aku sedang menemani kakakku untuk berbelanja baju di mall. Meski sebenarnya aku tidak mau, tapi ya mau bagaimana lagi.
“Oi Miku. Kamu gak beli baju?" tanya Itsuki, kakakku.
“Ah enggak usah kak. Aku beli buku misteri aja ya," ucapku.
“Haissh... Ya udah. Nanti kalau udah beli, balik lagi kesini ya," ujar kakakku.
[14.00 WIB]
Aku menganggukkan kepala, mengiyakan permintaan Itsuki. Aku berjalan menuju toko buku yang berada di lantai atas. Namun, ternyata tangga untuk menuju lantai atas sedang direnovasi.
Aku berjalan mencari tangga yang lain. Setelah cukup lama mencari, akhirnya aku menemukan tangga yang tidak direnovasi. Aku rasa, hanya tangga ini yang bisa digunakan saat ini.
Saat sedang menaiki tangga, tiba-tiba aku mendengar suara teriakan. Aku bergegas berlari ke atas. Aku terkejut, saat melihat seorang jasad sedang tergeletak bersimbah darah.
Aku menghampiri jasad itu. Aku mengecek luka yang ada di tubuhnya. Beberapa luka lebam dan luka tusuk terlihat menghiasi tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, inspektur Futaroo datang bersama detektif Reito.
“Miku, serahkan kasus ini kepadaku," ucap Reito.
“Baiklah," ucapku.
Detektif Reito mulai mengidentifikasi jenazah dan menanyai para saksi.
“Baiklah, korban bernama Tuan Sakuta Suzuki. Pria muda berumur 28 tahun. Seorang presdir perusahaan NC Group. Tolong beri tahu kami, apa yang kalian tahu mengenai kejadian pembunuhan beliau barusan," ucap Reito.
“Saya adalah Ichika, pemilik lapak kosmetik yang ada di sana. Namun, saat kejadian berlangsung, saya sedang membeli makanan di lantai bawah. Saat saya kembali ke atas, saya menemukan beliau sudah tidak bernyawa," ujar Ichika.
“Oh, jadi kau yang pertama menemukan jasad korban?" tanya Reito.
Ichika menganggukkan kepala, menjawab pertanyaan Reito.
“Hilih, kenapa gak beli makanan di tempatku aja? Kenapa harus ke bawah?" tanya seorang laki-laki muda.
“Ih ogah. Aku gak mau makan makanan buatan kamu!" tolak Ichika.
“Eh kamu kalo punya dendam bilang!" ketus laki-laki itu.
“Emang," jawab Ichika singkat.
Laki-laki itu mengepalkan tangannya. Tampaknya dia kesal dengan Ichika.
“Sudah sudah. Kenapa kalian malah bertengkar? Oh iya, Anda siapa?" tanya Reito.
“Saya adalah Ryuji, pemilik kedai makanan yang ada di bawah," ujar Ryuji.
“Oh baiklah. Tapi, kenapa kalian berdua bertengkar?" tanya Reito.
“Ryuji adalah mantan pacar saya. Dia ketahuan selingkuh bersama perempuan lain," ucap Ichika.
“Hei aku sudah bilang kalau dia hanyalah temanku!" bantah Ryuji.
Perdebatan tak penting Ryuji dan Ichika masih terus berlangsung. Reito berusaha untuk melerai mereka berdua. Sementara itu, aku tengah melamun dan menganalisis lebih dalam mengenai kasus ini.
“Heh nona, kamu ngambil lipstik lagi ya?!" tanya Ichika kepada seorang gadis dengan nada membentak.
Hal itu membuat lamunanku menjadi buyar.
“Enggak. Siapa juga yang mau nyuri lipstik!" Gadis itu membantah tuduhan Ichika.
Tunggu dulu, itu dia. Aku menemukan titik terang dari kasus ini. Aku bergegas mengecek lapak kosmetik tersebut. Aku menemukan sebuah cermin yang berukuran sedang, menghadap ke arah pembunuhan.
Setelah mengecek, aku menghampiri Ichika yang tengah berdebat dengan gadis itu.
“Maaf menyela, aku mau berbicara denganmu," ucapku seraya menarik tangan gadis mungil itu.
Aku membawanya ke tempat yang cukup sepi agar tidak ketahuan oleh siapapun.
“Aku minta maaf. Aku berjanji akan mengembalikan lipstiknya. Tolong jangan tangkap aku hiks," ucap gadis itu seraya menangis karena takut.
“Hei, aku bukan ingin menangkapmu. Aku hanya ingin bertanya sesuatu kepadamu," ujarku.
“Ta-tanya apa?" tanya gadis itu.
“Setelah aku cek. Lapak kosmetik tadi memiliki sebuah cermin berukuran sedang yang langsung mengarah ke tempat kejadian. Jika memang kau mengambil lipstik, maka kau melihat kejadian ini 'kan? Apa kau melihat pelakunya?" tanyaku.
Mendadak, tubuh gadis itu terdiam.
“A-aku memang melihatnya sedikit. Saat aku mengambil lipstik, aku tak sengaja melihat cermin yang memantulkan kejadian itu," jawab gadis itu.
“Apa kau masih ingat ciri-ciri pelaku?" tanyaku lagi.
“Aku masih ingat dengan sangat jelas. Seorang laki-laki berbaju putih tengah menusuk perut korban. Badannya lumayan besar, tingginya sekitar 185 cm," jelas gadis itu.
“Ah jadi begitu ya. Baiklah, terima kasih ya."
Sementara itu, Detektif Reito sedang memberi instruksi kepada semua orang untuk turun dan menjauhi TKP. Namun, aku menghalanginya.
“Detektif, jangan biarkan orang-orang untuk turun. Tangga penghubung antara lantai bawah dan lantai atas hanya ini. Karena tangga lain masih direnovasi. Jadi, pembunuhnya masih tertahan di atas sana!" teriakku.
“Hmm benar juga. Baiklah kalau begitu. Semua orang, naik lagi!" perintah Detektif Reito.
Semua orang kembali naik ke atas. Sementara itu, aku menyuruh Detektif Reito untuk menyelidiki semua orang yang berbaju putih.
Detektif Reito menuruti permintaanku, meski sebenarnya dia masih bingung. Pihak kepolisian mengecek satu per satu orang berbaju putih.
Setelah dicek, polisi tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Aku mengernyitkan dahi. Ah aku baru sadar, mana mungkin pembunuh akan betah memakai baju putih. Karena, sudah pasti bercak darah akan terlihat dengan sangat jelas.
Aku dan polisi masih bingung dengan kasus ini. Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya berlari sambil membawa sesuatu.
“Aku menemukannya!" teriak wanita paruh baya itu sambil menunjukkan baju putih berlumuran darah.
“Mereka bilang bahwa polisi sedang mencari baju putih. Mungkin, ini yang kalian cari," ujar wanita itu seraya memberikan baju itu kepadaku.
“Dimana ibu menemukannya? " tanyaku.
“Di kafe sana, ayo aku tunjukkan jalannya!" ajak wanita itu.
Aku, Detektif Reito, dan Inspektur Futaroo berjalan mengikuti wanita itu. Sesampainya di sana, kami melihat tiga orang yang tengah duduk di kursi sambil menikmati hidangannya.
“Kalian bertiga, mohon kesini sebentar!" pinta Inspektur Futaroo.
Mereka bertiga menuruti permintaan Inspektur Futaroo.
“Sebutkan nama yang kalian lakukan pada pukul 14.00 WIB?" tanya Inspektur Futaroo.
“Saya adalah Fuga Kahara. Saya sudah berada di sini sejak tadi pagi. Karena, aku ingin melupakan istriku, yang telah meninggal akibat kecelakaan tadi pagi hiks," ujar Fuga seraya mengusap matanya.
“Apa?! Istrimu kecelakaan?!" Inspektur Futaroo terkejut.
Fuga menganggukkan kepalanya dua kali, mengiyakan pertanyaan Inspektur Futaroo dan masih mengusap air matanya.
“Hmm baiklah. Lanjut, kamu!" perintah Inspektur Futaroo sambil menunjuk seorang pria berbaju hitam.
“Saya adalah Saichiro Nagasaki. Pada saat itu, saya tengah menonton pertandingan sepak bola di sini. Lihat, mataku memerah karena terlalu lama menyaksikan pertandingan ini," ujar Saichiro.
“Eh benar, matamu merah. Hm baiklah lanjut!" perintah Inspektur Futaroo.
“Saya adalah Yujin Teshigawara. Pada saat itu, saya sedang minum jus sambil membaca koran," ujar Yujin.
“Hm baiklah kalau begitu. Kalian semua mempunyai alibi masing-masing. Detektif Reito, periksa mereka bertiga!" perintah Inspektur Futaroo.
“Baik Inspektur."
Detektif Reito memeriksa mereka bertiga. Namun, hasilnya nihil, Detektif Reito tidak dapat menemukan senjata tajam yang mencurigakan pada mereka. Ya, tentu saja sang pembunuh telah membuangnya.
“Lalu, bagaimana kita bisa menyimpulkan pelakunya. Jika tidak ada barang bukti?" gumamku bingung.
“Eh tunggu dulu... Itu dia!" Aku telah mengetahui pembunuhnya.
“Inspektur... Detektif... Aku telah menemukan pelakunya," ujarku puas.
“Benarkah?!" Tanya mereka kaget.
“Iya. Jadi begini....
Eitsss nanti Miku akan menjawabnya. Jawaban akan diumumkan 2 hari setelah ini ya. Ikuti petunjuknya dan pecahkan misterinya!