Nandra Yuda, pria sembilan belas tahun yang selalu menderita dibully oleh teman-temannya di kampus Nusa Bangsa. Nandra sebenarnya adalah mahasiswa pintar dan dikagumi, tetapi karena dia berurusan dengan iblis pembeli jiwa, dia dikucilkan.
Kata mereka kepada Nandra,"cih, kamu itu ternyata adalah mahasiswa penipu, orang yang selama ini kami anggap cerdas, ternyata seorang okultis sesat yang menggunakan segala cara demi prestasi! Pergilah ke neraka!"
Lagi kata mahasiswa lainnya,"bodoh! Buat apa orang tuamu kaya!? Ternyata adalah anak penipu. Demi nilai kamu sangat rela menjadi budak iblis!"
Dan semakin dia membenci mereka mengatakan ini, "dasar pendosa berat! Orang tua kamu sama dengan seekor hewan juga! Kalian keluarga sampah masyarakat! Mati saja kalian!"
Nandra semakin ingin membalas dendam kepada anak-anak pintar di kelasnya juga. Kelas Akuntansi. Dia merencanakan hal jahat yang diam-diam. Nandra pergi ke sebuah pulau dan menyendiri di pulau itu. Seluruh keluarganya bingung dan melaporkan ke polisi bahwa Nandra diculik. Namun, ayahnya tidak berusaha mencarinya padahal dia sudah tahu Nandra ke pulau kosong itu.
"Jangan pernah mencari anak setan itu. Gara-gara dia, reputasi keluarga hancur!"
Semua orang telah melupakan Nandra. Termasuk orang-orang yang membulllynya di kampus.
Setelah satu tahun kemudian...
"Nandra, lihat ini sebuah kelapa muda yang segar. Minumlah," ujar seekor kera merah yang memiliki jambul di kepalanya dan bisa berbicara seperti manusia. Nandra saat ini sudah berumur 20 tahun, menoleh ke atas. Dia tersenyum senang.
"Ambilkan beberapa saja, Kawan."
"Hei, kau harus membuat api dan membakar ikan-ikanmu itu Nandra. Aku akan membantumu." Kera itu turun dari pohon kelapa, lalu ikut membuat api bersama pria ganteng ini.
Mereka adalah teman sejati. Seia, sekata, dan selalu bersama sampai mati. Nandra bertemu dengan kera merah itu saat ia terkapar di laut dalam keadaan pingsan. Kapal yang ditumpangi Nandra telah hancur dan tenggelam. Awak satu-satunya yang selamat hanya dia sendiri. Kera itu merawat luka-luka Nandra sampai sembuh. Nandra menjadi temannya. Awalnya Nandra sangat takut sekali karena ia merasa hewan itu ajaib. Adakah hewan yang bisa berbicara bahasa manusia? Hanya Jasson saja, kera merah berjambul. Satu-satunya penghuni di pulau kosong ialah Jasson. Mereka semakin akrab dan tidak terpisahkan. Nandra belajar menggantung di pohon seperti tarzan, memakan makanan hutan, membuat rumah pondok dan membakar ikan atau daging buruan, berburu di hutan, semua itu diajarkan oleh kawannya.
Pulau kosong itu memiliki banyak keanehan pada malam hari. Suara-suara erangan dari dalam tanah, burung hantu, kelinci bermata merah, ular kobra besar, padahal saat Nandra sampai di pulau itu, hewan yang hidup di sana hanya Jasson.
(Nandra yang menamai kera merah itu)
"Jasson, kenapa pulau ini hanya kamu sendiri yang tinggal?"
"Ada makhluk lain juga kok. Malam mereka baru kelihatan," sahut Jasson dengan mata merahnya. Nandra tidak takut dengan Jasson karena dia pernah berhubungan dengan iblis, berteman dengan iblis. Jadi dia sudah biasa.
"Kau tidak rindu keluargamu di kota?"
Jasson menanyakan hal ini lagi ketika mereka sedang makan.
"ikannya lezat sekali. Jasson makanlah yang banyak!"
"Aku tidak suka makan ikan bakar, lagian aku ini seekor kera. Makananku adalah buah-buahan, Nandra. Kau saja makan itu.* Jasson menolak lalu memberikan ikan bakar lezat itu kepada sahabatnya. Saat mereka sedang lahap makan, tiba-tiba saja dari dalam tanah keluar sepasang tangan! Tangan berlumpur dan bau bangkai itu menggapai-gapai ke arah Nandra.
"Tolong aku ... toloong," lirihnya.
Jasson dan Nandra tidak terkejut, karena itu bukanlah yang pertama mereka melihatnya. Banyak hantu di pulau itu. Orang-orang yang tenggelam di dalam tanah. Arwahnya masih penasaran. Jasson menarik tangan itu.
Crash!
Tangan itu pun putus. Jasson melempar tangan itu.
"Hei kau hantu! Jangan ganggu kami, ya. Gara-gara kau, temanku ini tidak lagi berselera!" Jasson menghardik hantu itu.
Anehnya hantu itu menjadi takut dan lari dari situ. Nandra terkekeh melihatnya.
Kemudian beberapa jam kemudian, saat Nandra akan membereskan peralatan makan mereka yang sederhana, yaitu tempurung kelapa dan sumpit tua. Nandra dikagetkan oleh banyak tangan. Berpasang-pasangan tangan-itu menariknya.
"Jasson, tolong aku!" Nandra berteriak marah karena tangan-tangan hantu itu ingin menenggelamkan dia.
"Tolong kami!"
"Selamatkan kami!"
Mereka berteriak-teriak. Nandra menjadi takut karena tangan-tangan itu tiba-tiba berdarah dan mengerikan. Dagingnya jatuh ke tanah, bergerak-gerak. Nandra melotot sepotong daging yang bau melompat ke matanya, meleleh dan membuatnya berdarah.
"Aah, Jasoooon!"
Kera merah mendengar suara seruan kawannya. Dari pondok akar yang dibuat Nandra, dia segera melesat dengan cepat, bergantung di tali-tali pohon.
"Nandraaa!" Kaget Jasson melihat Nandra sudah masuk ke dalam tanah, setengah pinggang. Jasson menariknya dengan keras.
"Bertahanlah!" Jasson sekuat tenaga menariknya dan berhasil. Keduanya terlempar menabrak pohon.
Pantai yang penuh dengan pohon liar dan tanaman bakau itu menusuk mata Nandra hingga berdarah.
"AKH! sial!"
Nandra kesakitan setengah mati. Dia berteriak dan lari menabrak apa saja di depannya.
"Hoi goblok! Jangan lari begitu!" Jasson menolongnya, tangan Jasson mendadak memanjang dan menarik Nandra.
"Sini aku obati!"
Kekuatan kera merah itu sungguh luar biasa. Ia hanya meniup lembut kedua mata Nandra, darah segar berhenti dan lukanya tiba-tiba menutup sendiri. Siapa sebenarnya kera itu? Dia sangat sakti. Tentu saja dia bukan Sun go kong, sang dewa kera legendaris. Jasson adalah iblis kera merah. Nandra beruntung bertemu dengan iblis itu. Jauh sebelumnya, Nandra hanya mengenal sedikit tentang iblis. Dari beberapa buku kuno yang menceritakan keberadaan iblis di pulau kosong itu. Nandra akhirnya menjadi akrab dengan iblis.
"Don't Go, stay with me!"
Nandra memohon kepada iblis agar dia tidak ditinggalkan. Semua keluarganya meninggalkan dia dan melupakannya, kecuali iblis. Dia memberikan satu teman hewan ajaib untuk selalu bersama Nandra. Sebelum ke pulau kosong, Nandra tidak tahu iblis bermata merah dan berwajah rupawan itu ternyata adalah Jasson. Ia menyamar dan berpura-pura menjadi iblis baru ditemui di pulau itu.
Jasson merahasiakannya pada Nandra. Selama ini dialah yang selalu menolong Nandra di kampus. Dari nilai anjlok, dia membuat Nandra pintar, menjauhkan dia dari kebodohan. Dari dibully, dia menghajar semua orang yang memperlakukan Nandra dengan buruk. Tanpa Nandra tahu, dia ditugaskan untuk melindungi pemuda itu.
"Kau tidak apa-apa?"
"Ya, aku baik-baik saja, tapi mataku, Jasson! Mataku sakit dan masih berdarah." Nandra merintih kesakitan. Matanya semakin merah.
"Tak apa. Kau tidak lama lagi akan menjadi sama sepertiku. Setelah ini, masih ada lagi iblis yang akan mengganggumu. Bersiaplah menghadapi ujian kedua!"
Hah? Nandra melongo.
Jadi, dia akan menjadi iblis juga?? Nandra tertawa.
"Hahahahaha! Akhirnya aku menjadi iblis!"
Nandra mempelajari semua ilmu sesat iblis dan kembali ke kotanya.
***
"Kak, Sena semalam Nia bermimpi. Kakak Nandra kembali dan membalas perbuatan kita!"
"Diam! Apa yang kau bicarakan, Nandra sudah lama mati!"
Adik bungsu Nandra, namanya Ariel. Dia satu-satunya gadis kecil yang sayang kepada Nandra. Ayah mereka melarang Ariel dan Sena berhubungan baik dengan Nandra. Ariel pernah tidak diberi makan satu minggu karena Nandra. Dia kedapatan bercengkrama dengan kakaknya. Ariel dihukum ayah mereka.
"Jangan bilang mimpi itu pada ayah kalau kau mau selamat!" bisik Sena.
"Kak, kenapa ayah dan ibu membenci kak Nandra?"
"Sebab dia anak adopsi! Dia bukan bagian dari kita," sahut Sena dengan mata tajam. Ia menatap erat Ariel. Anak adopsi? Bukankah kakak Nandra adalah anak pungut? Ariel geleng-geleng kepala, ia masih kasihan kepada Nandra.
"Tapi kak Nandra sudah jadi saudara kita. Jangan kak Sena begitu, Ariel nggak mau kak Sena juga membenci kakak Nandra."
"DIAM! Kalau kau tidak menutup mulutmu, aku akan menghukummu!" Sena mencubit bibir Ariel sampai terkelupas.
"Auuh! Huweeee!" Ariel pun menjerit menangis. Ibu mereka yang sedang memasak datang dan memarahi Sena.
"Sena, apa yang kau lakukan pada Ariel? hah?"
"Ibuuu, kak Sena mencubit bibirku sampai berdarah!" lapor Ariel sambil memeluk ibunya. Sena menjauh.
"Sena, sini kamu!"
Sena tidak peduli. Ia masuk ke kamar dan menguncinya.
"Sena buka pintunya! Keluar kamu!" Ibu menggedor pintu dengan keras.
"Sena, kalau kau terus mengganggu adikmu, jangan berani makan!"
Sena tersenyum masam. Dia tahu akhirnya ibu akan menghukum dirinya.
"Ibu memperlakukan aku sama seperti Nandra!"
Sena membanting semua barang di kamar hingga bunyi gaduh. Ia sangat marah dan semakin membenci Nandra.
"Kurang ajar kau Nandra. Sejak kau masuk di rumah ini kasih sayang dan kehangatan keluargaku sudah tidak ada lagi!"
Nandra dituduh anak pembawa sial. Anak penghisap keberuntungan. Anak yang selalu menitipkan malapetaka bagi keluarga Sena. Saat kakinya melangkah masuk ke halaman rumah. Awan hitam di atas langit bergulung-gulung, seolah ikut masuk ke rumah itu. Dan semuanya berubah.
"Ayah di PHK!" Ayah mereka terduduk lemas dan ibu mulai menangis. Terdengar dering telepon di ruang tamu. Tak lama, petugas dari mall datang memberitahukan sesuatu.
"Ibu, butik Anda hari ini harus ditutup karena tidak ada izin!" Dia petugas datang dan menyita semuanya. Mereka hampir bangkrut. Sena yang melihat itu mengepalkan tinju. Semua ini gara-gara Nandra!
"Nandra! Kau harus tanggung jawab!"
Sena membuat perhitungan dengan Nandra. Ia pergi ke kampus dan mempengaruhi semua teman kelas Nandra.
"Kalian tahu, dia hanya anak pungut keluargaku. Dia mencuri soal ujian demi mendapatkan nilai tertinggi. Dia juga selalu membuat kasus saat di SMA. Aku tahu perbuatannya. Dia anak yang buruk. Kalau kalian bergaul dengannya jangan menyesal kalau terjadi hal buruk pada diri kalian!"
Semua teman Nandra dipengaruhi jelek oleh Sena karena cemburu. Ayah dan ibunya selalu perhatian dan kasih kepada Nandra.
"Nandra makan yang banyak, ya. Jangan malu-malu anggap aku ibumu." Begitu kata ibu Sena saat mereka di meja makan. Sena membanting sendoknya dan tidak mau makan lagi.
"Nandra, ayah beli pesawat remote control untuk kamu. Selamat ya, Nak. Ayah bangga padamu, kau juara satu umum!" Ayah Sena membeli mainan mahal untuk Nandra. Itu membuat Sena makin panas hati.
"Nandra, tunggu saja kamu!"
...
Suatu hari, Sena mengajak Nandra main di gudang. Sebuah gubuk tua di tengah hutan. Entah apa yang akan dilakukan Sena. Dia mengikat tubuh Nandra dan menutup mata anak itu dengan kain hitam. Mulutnya dibalut dengan selotip.
"Nandra, hari ini kau kuserahkan kepada iblis! Semoga sang iblis akan menerima dirimu!"
Sena mulai upacara gelap. Membakar dupa dan memanggil iblis. Dia juga mengambil darah hewan, dua ekor merpati, dan beberapa hal yang berhubungan dengan pemanggilan iblis.
Langit menjadi gelap dan petir menyambar mengerikan. Darah Nandra diambil Sena lalu diteteskan ke sebuah wadah.
"ini adalah ikatan darah dengan iblis! Kau akan menjadi budak iblis selamanya!"
"Hahahahahah!" Sena menjadi puas. Nandra pingsan dan dibiarkan Sena di gubuk itu sampai pagi.
"Manusia malang." Seekor kera merah mengintip Nandra yang sedang terikat di gubuk. Dia menghembuskan sedikit tali di perut Nandra, kain dan selotip pengerat mulutnya juga dilepaskannya. Nandra bebas.
"Kau kenapa diikat sih?"
Nandra sadar sedikit mengintip dengan mata menyipit sampai terbelalak ketakutan. Seekor kera merah sedang duduk di atas perutnya. Menatap dia dengan tatapan merah membara.
"Aaaah setaaan!"
Nandra lari tapi tidak bisa keluar dari pintu gudang itu karena digembok dari luar.
"Bukaaaa! Tolong selamatkan akuu!" Nandra menggedor pintu gudang dengan keras. Namun, percuma saja. Ia tidak dapat keluar dari sana.
"Hei, hei, anak muda! Segitu takutnya kau kepadaku?"
Kera merah itu mendekati Nandra dan mengendusnya.
"Harum darahmu membuat aku lapar dan ingin memakanmu!"
Nandra ketakutan sekali. Dia beringsut dan menutupi dirinya dengan gabah.
"Bodoh! Kau ini manusia terbodoh yang pernah kutemui!" Kera itu tertawa lalu mendekat.
"Jangan! Jangan makan aku, dagingku tidak enak!" Nandra semakin takut ketika kera itu menangkap kedua lengannya.
"Buka matamu! Pandanglah aku, lihat apa aku ini sangat menakutkan?"
Kera itu menarik muka Nandra.
"Matamu... merah bagai darah dan kau bisa bicara. semua yang melihatmu pasti ketakutan!"seru Nandra masih menutupi kedua matanya dengan tangan.
"Huahahha dasar aneh!" Kera itu terkekeh-kekeh.
"Namamu Nandra Yuda. Anak kelahiran emas lahir tanggal satu Januari 2003, benar bukan?"
"Kamu anak yatim piatu. Diangkat oleh keluarga Sena? Memiliki ibu dan ayah angkat, dua saudara angkat Sena dan Ariel?"
Nandra melongo kaget. Kenapa kera itu bisa tahu semuanya dan semua yang dia bilang adalah benar. Data dirinya begitu lengkap. Siapa kera ini, gumam Nandra bertanya di dalam hati. Ia masih takjub.
"Kau hobi makan apel dan nasi lemak. Ayam goreng, membenci daging merah. Phobia darah dan ruang sempit. Apakah aku salah?"
Kera itu naik di atas, merangkak di dinding. Berjalan terbalik di langit-langit gudang lalu kembali ke Nandra, ia mengangkat tubuhnya dengan satu jari.
Nandra terheran-heran dengan penglihatannya.
"Siapa kau ini?" tanya Nandra mundur dengan gelisah.
"Aku hewan super. Tangan kanan raja iblis. Aku tanpa nama," jawab kera itu bingung, ia tidak memiliki nama. Kera itu menggaruk-garuk kepalanya.
Nandra memandangi sejenak, dia tidak begitu menakutkan malah kelihatan lucu, batin Nandra.
"Kera merah iblis." Nandra bergumam. Ia merasa kagum. Jadi, apa yang Sena lakukan padanya adalah sebuah keberuntungan. Dia dapat bertemu dengan kera merah secara langsung.
"Berterima kasihlah kepada Sena! Dia yang bisa membuat kamu bisa melihat aku. Bukan cuma aku, mereka semua juga!"
"Aaah!"
Nandra kaget sekali. Di dalam gudang bukan hanya kera merah dan dirinya saja. Beberapa hantu gentayangan, melayang mendekati Nandra. Mereka kaget, Nandra bisa melihat.
"kau bisa melihat kami?" Salah satu setan mendekat.
"Aaaah!" Nandra lari menjauh. Dia tidak tahan melihat hantu kepala buntung yang sedang memegang kepalanya.
"Kamu kenapa bisa melihat kami?" hardik seorang nenek pincang dengan perutnya yang berlubang. Mukanya penuh benjolan tumor.
"Hiii, jangan mendekat!" Nandra menutup mukanya, ia sekarang menjadi sangat takut. Kenapa dia bisa melihat arwah?
Sejak saat itu. Banyak perubahan di dalam dirinya. Kampus menjadi makin membencinya karena Nandra digosipkan memakai kekuatan iblis.
"Selamat, Nandra kau mendapat nilai A+ lagi!" Seorang dosen menepuk pundaknya. Nandra tersenyum tipis. Ia tidak bangga karena semua itu adalah bantuan dari alam ghaib.
Setelah presentasi makin melambung dia agak angkuh, berjalan dengan dagu terangkat serta meremehkan para senior di kampusnya. Beberapa senior membencinya. Mereka membuat kesepakatan untuk membunuh Nandra. Namun, perbuatan mereka diketahui kera merah. Kera itu membunuh mereka. Nandra lagi yang dituduhkan atas pembunuhan itu.
"Nandra, maaf ayah tidak bisa bantu!" Para polisi datang dan menangkap Nandra. Dia kaget dan berteriak, "Bukan aku yang membunuh mereka, ayah percayalah padaku!"
"Aku tidak membunuh siapapun!"
...
Kini, dia kembali lagi ke kota dan keluarganya dengan menuntut balas.
"Kalian semua harus mati!"
Sena yang berusia dua tahun lebih muda darinya sedang duduk di belakang taman sekolah dan mencetik pemantiknya. Dia merokok...
"Sena!" Suara seseorang tanpa terlihat memanggilnya. Sena terkejut dia tolah-toleh, tetapi tidak ada seorangpun di situ. Suara itu memanggilnya berkali-kali.
"Sena... Sena...!"
Akhirnya Sena menjadi tahu itu adalah Nandra.
"Aku sudah membuangmu ke pulau kosong itu, tapi beraninya kau datang lagi!"
"Nandra, tunjukkan dirimu! Jangan jadi pengecut!" teriak Sena.
Beberapa guru dan murid di situ datang dan melihat Sena berbicara sendiri, berteriak-teriak kesetanan. Salah seorang guru menegur Sena.
"Hei, Sena. Kau sudah gila kenapa berisik di situ?"
Sena tidak peduli. Ria terus berteriak.
"Nandra keluar kau!"
Sesuatu seperti asap abu-abu kelam membentuk tubuh dan semua organnya. Tangan dan kakinya seorang laki-laki gagah. Dia mengenakan baju serba hitam dengan hodie tertutup wajahnya.
"Cih, kau Nandra!" Sena mengepalkan kedua tangannya, lalu merapal mantra sihir.
Nandra memegang kepalanya, dia merasa kesakitan luar biasa. Nandra membanting dirinya di tanah. Semua yang melihat itu lari ketakutan.
"Hahahaha kau kira bisa membunuhku? Aku, Sena tidak akan membiarkan kau datang kembali. Sekarang matilah!" Sena mengeluarkan pisau lalu berlari dan menusuk dada Nandra.
CRASHH!
Darah kental mulai merembes di baju Nandra. pemuda itu terkekeh saja melihat darah yang mengalir di bajunya.
"Kau menyerahkan aku kepada iblis, dan sekarang kau mau melenyapkan aku?"
Nandra menahan pisau itu lalu menariknya keluar. Pisau itu berbalik menancap ke perut Sena.
CRAAK!
"Sena, aku adalah orang asing yang merenggut kebahagiaanmu, bukan. Bunuh saja aku...!"
"Hyaaaarrrgh! MAMPUS KAU!"
Sena memburu lalu menendang dada Nandra. Menonjok mukanya berkali-kali. Sena tidak membiarkan kesempatan bagi laki-laki itu.
"Tapi aku tetap sayang padamu..."
Sebelum Sena berhasil menancapkan kembali ke jantung Nandra. Laki-laki itu memeluk adiknya.
"Kau adikku. Adikku!" Kemudian Nandra memejamkan matanya. Ia mati. Dendamnya tidak dapat dia balaskan karena ia teringat Ariel dan Sena.
Sena mengalami luka parah di perut dan jantungnya. Hari itu, Sena dilarikan ke rumah sakit. Dokter mengadakan operasi dadakan dan tak berapa lama Sena selamat.
"Kau berengsek. Bocah busuk! Kenapa kau mendonorkan jantungnya buat si Keparat itu?" Jasson marah dan memukul kepalanya. Nandra tertawa-tawa. Kemudian ia berhenti sejenak.
Nandra menatap pantai di pulau kosong. Ya, ia sudah kembali ke sana. Arwahnya kembali ke pulau itu...
"Aku menyukai semua yang ada pada keluarganya. Kebahagiaan sesaat ini telah kubalas kepada Sena. Aku harap dia bahagia tanpa aku."
Kera merah itu garuk kepala. Ia merangkul pundak Nandra.
"Yahhh. Jadi, kamu selamanya akan tinggal di pulau ini sampai reinkarnasi, hm?"
Nandra membalas rangkulan itu seraya menggangguk.
"Jika reinkarnasi kembali. Aku mau jadi kera saja!"
"Apaa!?"
end
Please like dan berikan masukan cerpen saya. thanks.