Hari masih sangat pagi, bahkan matahari belum sempurna menampakkan wujudnya. Beberapa orang mungkin masih bersembunyi dibawah selimut. Namun tidak dengan ketiga anak ini, Shandi, Derry, dan Mika. Mereka terlihat sibuk mengecek ulang barang bawaan yang sebenarnya sudah tertata rapi di dalam tas. Namun ketiganya sengaja mengeluarkan barang-barang itu lagi karna tidak ingin rencana apik yg sudah tersusun rapi, akan kacau hanya karna lupa membawa satu barang penting. Bahkan Derry dan Mika menginap di rumah Shandi untuk memudahkan mereka membuat rencana.
"Derry, Mika, gimana? Barang-barang udah lengkap semua?" tanya Shandi.
"Sip, Shan, tenang aja. Semuanya udah beres," timpal Derry.
"Iya, Shan. Tadi udah kita cek ulang semua barang bawaan yang kita catet. Semuanyanya udah lengkap kok," tambah Mika.
Mereka bertiga pun berpamitan pada mama Shandi dan pergi meninggalkan rumah.
"Oh iya ada yang ketinggalan. Kompas." Shandi membuka pintu pagar dan segera berlari menuju kedalam rumahnya.
Mika dan Derry menunggu Shandi tepat didepan rumahnya dibawah pohon Jambu.
"Aaahhh ...." Mika seketika berteriak sembari mengibas-ngibaskan tangannya.
"Kenapa sih mik?" tanya Derry.
"Tau nih, aku kejatuhan cicak. Derry, kalau kata orang tua jaman dulu ini pertanda buruk. Pertanda akan sial. Aku jadi ragu mau ikut kalian," ucap Mika dengan wajah mengkerut.
"Yah, apaaan sih Mik, parnoan lu. Gak asik banget sih. Lagian kan cuma jalan-jalan doang. Foto-foto gitu. Kan lumayan nambah koleksi di Instagram," sarkas Derry.
Mika tetap merengek dan menjadi semakin tidak ingin pergi. Perasaannya benar-benar menjadi tidak nyaman.
"Yuk jalan." Ucap Shandy sambil menutup kembali pintu pagar rumahnya.
Mereka bertiga berjalan hingga jalan raya kota yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Shandy. Di perjalanan Mika semakin gelisah. Hatinya sungguh tidak tenang.
"Shandi, kita kan cuma mau nyari spot foto aja. Ngapain sampai bawa kompas sih?" tanya Mika.
"Ya, buat jaga-jaga lah Mik. Kan spot foto yg mau kita kunjugi ada di hutan. Walaupun jalurnya udah ada tapi lebih baik kita antisipasi juga biar gak tersesat." Shandi menjelaskan pada Mika.
Mereka bertiga duduk di sebuah kursi besi tua di pinggir jalan dekat pasar, tempat dimana para supir bus mini biasa berhenti menunggu penumpang. Setelah kurang lebih 10 menit, mereka mendapatkan tumpangan bis mini yang searah dengan tujuan mereka. Derry dan Shandi asik bercengkrama. Sementara itu Mika terlihat semakin gelisah dan tidak tenang.
30 menit kemudian mereka turun di sebuah jalan raya. Di kanan kiri jalan tersebut terdapat perkampungan yang tidak terlalu banyak jumlah penduduknya. Mungkin tidak lebih dari 20 rumah saja. Dan dibelakang perkampungan itu terdapat hutan yg tidak terlalu rimbun.
Disana mereka bertiga menghampiri seorang perempuan paruh baya yg sedang menyapu halaman rumahnya.
"Buk, kami ingin bertanya, benar disini ada Air Terjun Putri?" Tanya Shandi pada wanita itu.
"Iya benar. Adik-adik ini mau kesana?" jawab wanita itu dan diakhiri dengan pertanyaan kembali.
"Iya, Bu. Kami ingin tahu lewat mana ya?" Shandi kembali bertanya.
"Adik terus saja jalan lurus. Dibelakang perkampungan ini ada jalan setapak, kalian ikuti saja jalan itu, itu jalur menuju Air Terjun Putri. Kalian jangan sampai berjalan tidak mengikuti jalur. Dan sebelum memasuki area hutan, jangan lupa berdoa. Bagaimanapun berdoa itu penting." Jelas Ibu itu panjang lebar. "Dan juga kalian harus ingat jangan sekalipun berbicara sembarangan, kotor, kasar, atau sengaja memetik tanaman atau bahkan mematahkan ranting pohon." sambung perempuan paruh baya itu.
"Kenapa, Bu?" Mika bertanya penuh rasa penasaran.
"Pokoknya ikuti saja saran Ibu. Supaya tidak terjadi apa-apa pada kalian." Perempuan itu lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Guys, balik aja yuk. Kok jadi serem gini sih," ucap Mika merasa was-was.
"Tanggung lah mik, kita udah jauh jauh masak balik. Lagian masih jam setengah 7 pagi," timpal Shandi.
"Huu, Mika, penakut banget. Lagian kalau emang bahaya, pasti tuh ibu-ibu akan ngelarang kita buat kesana. Tapi kan tadi kita gak dilarang, bahkan kita dikasih tau pantangannya aja," seloroh Derry.
"Ya sudah, sebelum kita menelusuri hutan kita baca doa bareng-bareng supaya kita selamat." Shandi mulai memimpin doa.
Mereka bertiga pun mulai menelusuri hutan. Derry memimpin di depan, Mika berjalan dibelakang Derry, sementata Shandi dibelakang menjaga mereka berdua.
Mereka telah berjalan kurang lebih 10 menit. Semakin lama semakin jauh dan hutan ini terasa semakin rimbun dan dingin. Mereka tetap berjalan teratur pada jalan setapak. Hingga pada akhirnya muncul seorang kakek tua yg jatuh tergelincir saat membawa tumpukan kayu bakar di atas kepalanya. Ketiga anak itu terkejut dan segera menghampiri si kakek untuk menolong.
"Kek, hati-hati, Kek." Ucap Mika sembari memungut kayu bakar yg berserakan di tanah.
"Iya, Cu, makasih ya. Jalannya licin. Kakek juga sudah gak kuat, capek. Rumah kakek masih jauh juga," ujar si kakek sembari menyeka keringatnya dengan lengan baju lusuh yg dia kenakan.
Melihat itu, mereka bertiga merasa iba terhadap si
Kakek. Mereka lalu memutuskan untuk menolong si Kakek membawakan tumpukan kayu bakar dan mengantarnya pulang kerumah.
Akhirnya mereka sampai pada sebuah desa di tengah hutan. Banyak penduduk yg berlalu lalang. Tapi semuanya tak terlihat saling menyapa atau bahkan saling bertukar tatap. Mereka hanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Kek, ternyata ada desa juga ya di tengah hutan?" tanya Derry kebingungan.
"Iya, Cu. Ini tempat tinggal kakek. Mari mampir sebentar."
"Makasih, Kek. Tapi kita lagi buru-buru," ucap Shandi sembari membersihkan lengan bajunya dari sisa lumpur pada kayu.
"Memangnya kalian mau kemana?" tanya si Kakek.
"Kami mau ke Air Terjun Putri, Kek," sahut Derry.
"Kalian yakin?" kata Kakek sambil mengernyitkan dahinya.
"Iya kek kenapa?" Mika menyambung.
"Ada pantangan saat menuju Air Terjun Putri. Kalian tidak boleh datang dengan jumlah orang ganjil atau mereka akan menemani kalian dan menyesatkan kalian. Bahkan mereka tidak akan segan mengambil salah satu dari kalian untuk menjadi temannya," ungkap si kakek, membuat suasana semakin tegang.
"Ah, Kakek, yang benar saja. Lalu kami harus bagaimana?" tanya Shandi.
Kakek itu masuk kedalam gubuknya dan menyuruh mereka bertiga menunggu. Mika mulai ketakutan dan seketika rasa gelisahnya semakin menjadi-jadi.
Sementara itu, Derry yang memang tak percaya dengan mistis, seperti enggan untuk mendengarkan nasihat dari kakek .
Si Kakek kembali dengan membawa boneka kayu seukuran manusia dewasa. "Cu, kamu harus membawa boneka ini sebagai ganti orang keempat, supaya jumlah kalian menjadi genap." Si kakek menyerahkan boneka itu pada Shandi.
Mika tidak berani menatap boneka tersebut. Dari dulu Mika memang tidak suka benda mati yang bernama Boneka.
"Ingat, kalian harus membawanya sampai kalian pulang keluar hutan. Tinggalkan boneka ini dipinggir jalan raya saat kalian pertama kali menginjakkan kaki di wilayah ini," jelas si kakek.
"Ingat, Cu, ini tempat asing bagi kalian. Bahaya apapun bisa saja mengintai. Kakek berpesan, kalian jangan sampai lupa berdoa. Jangan sedikitpun berbicara kasar, kotor, atau berbicara sembarangan. Dan juga jangan merusak tanaman disini ya, Cu. Jika ada daun yang menghalangi, lewati saja. Tidak perlu motongnya atau mematahkannya."
"Baik kek, Kami akan ikuti pesan kakek," kata Shandi.
"Cu, satu lagi, ikuti jalan setapak ini dan kalian akan sampai pada Air Terjun Putri nanti. Yang terpenting jangan sampai kalian meninggalkan boneka kayu itu sebelum pergi meninggalkan hutan. Ketika kalian sudah berbalik meninggalkan Air Terjun Putri, jangan sekalipun berpikir untuk berbalik lagi. Jangan membalikkan badan Lagi!" ucap kakek itu penuh peringatan. Nada yang penuh penekanan memberi arti bahwa yang dikatakannya memang harus mereka lakukan.
"Kek, banyak banget sih pesannya, kita gak mau macem-macem kok." Sahut Derry menolak.
"Derry, kamu kebiasaan deh, jangan sok tau, ini bukan lingkungan kita." sahut Mika membentak Derry "Maafin temen saya ya, Kek. Kita bakalan inget pesan kakek kok," sambung Mika.
"Kalau bgitu kami pamit ya Kek," ujar Shandi lalu memberi salam.
Mereka bertiga berpamitan pada si Kakek dan melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Putri. Lokasinya cukup jauh jika ditempuh berjalan kaki. Mika melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 8 pagi. Tak terasa mereka sudah berjalan satu setengah jam lamanya. Ketiganya tetap mengikuti arah jalur setapak, sembari menyusuri desa di tengah hutan ini.
Tak lama kemudian, dengan jarak yg lumayan jauh dari desa si Kakek, akhirnya mereka sampai di Air Terjun Putri. Mereka dibuat takjub dengan keindahan air terjun tersebut. Tebingnya tak terlalu tinggi namun air yang mengalir cukup deras dan sangat jernih.
Air yang jatuh dari tebing langsung mengalir membentuk sebuah sungai kecil yang tingginya hanya se mata kaki, dan terdapat banyak ikan-ikan kecil disana.
Tempai disekitar Air Terjun Putri ini sangat bersih dan terawat. Terlebih lagi cahaya matahari disekitar Air Terjun Ini lebih terasa dan suasana menjadi lebih terang, karena tidak terlalu banyak pohon. Sehingga pemandangan disini jauh lebih tenang dibanding suasana perjalanan yg redup dan sunyi.
Mika membasuh wajahnya dengan aliran air yang turun langsung dari tebing. Seketika dirinya merasa lebih segar dan kembali bersemangat.
Sementara itu, Derry memanfaatkan aliran air di sungai kecil ini untuk merendam kakinya. Shandi pun menghampiri Derry, melepaskan sepatunya dan ikut merendam kaki disana.
Mereka puas karena akhirnya berhasil tiba di Air Terjun Putri. Tempat indah yang lokasinya masih belum banyak diketahui orang luar.
Ketiganya duduk di atas batu besar, lalu beristirahat sejenak untuk menambah tenaga. Mereka mengeluarkan persediaan makanan dan minuman yang mereka siapkan dari rumah. Bekas bungkus makanan mereka simpan kembali kedalam tas masing-masing. Setelah selesai, ketiganya melakukan selfie ria sebagai kenang-kenangan dan bukti bahwa mereka pernah sampai di Air Terjun Putri.
Tak terasa sudah 2 jam mereka bersantai dan berfoto ria. Kini ketiganya merasa lelah dan ingin segera pulang.
"Shan, tolong fotoin dulu dong, aku sendirian pake latar air terjun itu ya. Mau aku posting di sosmed." Derry memberikan ponselnya pada Shandi. Shandi kemudian mengambil beberapa foto Derry berlatar air terjun dengan angle berbeda.
"Wih, bagus nih. Yaps, udah aku posting." ujar Derry "Eh, sinyal disini jelek banget."
Berhubung Shandi memang berprofesi sebagai fotografer, tak heran jika hasil jepretannya terlihat bagus dengan sudut yang tepat dan berbeda. Sehingga Mika juga tertarik ingin agar Shandi mengambil beberapa foto untuknya, dengan latar yang sama seperti Derry. Tapi Mika meminta Shandi memotretnya menggunakan kamera yg laki-laki itu kalungkan di lehernya. Ia segera mengabulkan permintaan Mika.
Shandi pun tak ingin kehilangan momen, ia juga meminta Derry memotretnya dengan latar air terjun itu. Shandi Memberikan kamera di lehernya pada Derry. Derry mulai mengambil beberapa foto Shandi. Ia baru menyadari Shandi masih memegang boneka kayu yg tingginya hampir sama dengan mereka.
"Shan, mau sampek kapan sih pegang boneka itu, udah taruh aja dulu!" titah Derry.
"Kakek itu bilang kita g boleh ninggalin boneka ini sebelum kita pergi dari sini," pungkas Shandi.
"Yaudah, Mik, pegang dulu gih bonekanya bentar," titah Derry lagi.
"Ih, ngak ah. Kan kalian tau aku dari dulu gak suka sama boneka." Mika menolak dengan tegas.
"Ya udah Der, pegangin aja bentar." Shandi memberikan boneka itu pada Derry.
Derry memang bukan orang yg percaya dengan mistis dan sangat menolak hal-hal yang berhubungan dengan itu.
"Alah, cuma boneka beginian. Buang aja kali udah gak guna." Derry melempar boneka kayu itu ke atas tebing air terjun.
"Derry, kamu sadar gak apa yang kamu lakuin barusan!" Shandi terkejut karna Derry sama sekali tak menghiraukan pesan kakek tua itu.
Tiba-Tiba langit menjadi mendung dan angin mulai bertiup kencang.
"Guys ...." Mika mulai ketakutan
"Mika, Derry, cepat kita pergi dari sini!" teriak Shandi.
Mereka bertiga berlari sekuat tenaga. Shandi di depan disusul Mika dan Derry di belakang. Mereka berlari menyusuri rimbunnya hutan. Ditambah dengan suasana mendung seakan waktu sudah beranjak malam, padahal ini masih tengah hari.
Mereka berlari tetap mengikuti jalan setapak dan akhirnya sampai kembali di desa si kakek. Namun aneh, suasana disini sangat sepi dan sunyi. seperti tak pernah ada kehidupan sama sekali. Padahal sewaktu mereka datang, ada banyak orang berlalu lalang di desa ini. Dan tiba-tiba ...
"Guys ... Tas gue! Tas gue ketinggalan di air terjun!" Derry berkata sambil terus berlari.
"Derry udah, gak usah mikirin tasmu yang sudah ketinggalan. Ingat pesen kakek itu jangan menoleh kebelakang." Mika mengingatkan Derry dengan suara terengah-engah, karena mereka masih terus berlari.
"Sorry guys, gue tetep mau ambil tas itu. Karena itu ada barang beharga gur!" Derry mulai menghentikan langkahnya.
Mika dan Shandi juga menghentikan langkahnya tapi mereka tetap tak menoleh kebelakang sedikitpun, bahkan untuk melirik saja mereka tak berani.
"Der, ini tentang nyawa kita. Jangan peduliin tas itu lagi," ucap mika memohon pada Derry. Namun ia tetap tak berani menoleh ke belakang.
"Apa sih isi tas lo hah, barang berharga apa gue ganti rugi nanti!" Shandi terpancing emosi, tapi ia tetap ingat bahwa dirinya tak boleh berbalik.
"Loe gak tau kan barang berharga gue! Gue selalu bawa foto ibu gue di dalem tas kemanapun gue pergi. Ibu gue udah gak ada, Sob, udah meninggal. Cuma itu satu satunya peninggalan ibu gue. Lu mau ganti pake apa hah, bisa lu ganti?" ucap Derry dengan suara lantangnya. Ia terbakar emosi karena perkataan Shandi.
Shandi terdiam. Mika pun mulai menangis, ia bingung antara nyawanya atau perasaan sahabatnya. Suasana menjadi semakin keos saat itu.
Ditambah lagi langit semakin gelap, angin berhembus semakin kencang sehingga suara daun terdengat seperti teriakan yg bersahutan.
"Sorry Guys, gue harus tetep ambil tas gue." Derrry membalikkan badannya dan seketika berlari kencang.
"DERRYYYY ...!" Mika berteriak kencang memanggil Derry namun tetap tak memalingkan wajahnya.
"Mika ayo, lari Mika." Shandi berteriak
"Enggak! Derry gimana, Shan?" Mika terus menangis tak tahan memikirkan nasib sahabatnya.
Sementara itu Derry terus berlari kencang. Tiba-tiba dia melihat dari kejauhan, ada segerombolan makhluk didepan sana yang terus berjalan mendekat ke arahnya.
"Derry ... Derry ...."
Derry mendengar gerombolan makhluk itu memanggil namanya dengan suara lirih dan dalam.
Seketika dalam pandangan Derry, desa itu berubah menjadi tempat menakutkan. Bukan hanya terlihat seperti desa mati, tapi seketika berubah menjadi desa yang kotor dengan gubuk-gubuk reot.
Pepohonan menjadi aneh dan banyak akar gantung dimana-mana. Semua penghuni gubuk itu keluar, mereka terlihat seperti mayat hidup yang tak utuh. Kulitnya hitam legam dengan mata melotot memandangi Derry.
Seketika Derry berbalik haluan. Namun Terlambat. Dirinya sudah terkepung mahkluk-makhluk menyeramkan itu.
"SHANDI, MIKA, LARI ...!" Derry berteriak dari kejauhan.
Mendengar teriakan Derry, Shandi menarik tangan Mika. "Ayo, lari Mika. Jangan sekali-Kali menoleh kebelakang !!" Shandi berteriak panik.
Mereka terus berlari menyusuri desa. Shandi menggenggam erat tangan Mika agar tak terpisah darinya. Sementara Mika sudah merasa kakinya akan putus jika terus berlari.
Sampai pada rumah si Kakek, Shandi memanggil-manggil Kakek tersebut berniat meminta bantuan. Tapi tak ada jawaban. Meskipun Shandi dan Mika tak melihat adanya perubahan pada desa tersebut seperti yang dialami Derry, namun mereka mulai merasakan keanehan di sekitar. Seperti ada banyak pasang mata yang terus mengawasi mereka dan siap menerkam dari belakang.
Shandi kembali menarik tangan Mika. Mereka terus berlari kencang. Namun Mika sudah tak tahan lagi, akhirnya dia jatuh dan tak sadarkan diri.
Shandi mulai panik dan kebingungan. Suasana menjadi sangat mencekam. Dia mengambil ponselnya. Namun sial, dirinya gagal menghubungi orang orang karena tak ada sinyal.
Shandi berusaha membangunkan Mika namun gadis itu tetap tak sadarkan diri. Diambilnya botol air minum dan mencoba membuat Mika menelan air dengan harapan supaya mika bisa sadar. Namun usahanya tetap sia-sia.
Shandi menangis dan mulai menggoncang-goncangkan tubuh Mika. Namun hasilnya tetap nihil.
Shandi meninggalkan tasnya, begitupun dengan tas milik Mika. Ia hanya mengambil ponselnya dan ponsel gadis itu. Dengan susah payah, Shandi mulai bendiri dan menggendong tubuh mika di bahunya.
Langit gelap desertai gemuruh angir yang semakin kencang. Gerimis mulai turun, kilatan petir menyambar diiringi suara guntur yang menggelegar.
Shandi sangat putus asa. Dia berkali-kali terjatuh, namun tetap bangkit lagi membawa satu-satunya sabahat yang tersisa. Dia ingat ketika Derry sangat bersemangat pagi tadi. Namun sekarang sudah tak ada lagi rancauannya yang berisik. Shandi merasa bersalah.
"AAARRGHHH! " Shandi berteriak ditengah hujan, melepaskan amarah dan penatnya.
Sementara itu Mika yang digendong olehnya tetap tak kunjung sadarkan diri. Ia pun terus berjalan mengikuti jalan setapak. Akhirnya Shandi melihat pemukiman desa dipinggir jalan raya, dimana tempat awal mereka sampai. Shandi pun berlari sembari mengendong tubuh Mika dan berteriak meminta tolong.
"Tolong ... tolong!" Shandi berteriak sambil berlari. "Tolong ... siapapun tolong aku ...!" Shandi terus berteriak meminta tolong, berharap ada warga yang mendengar teriakannya.
Kemudian terlihat seorang bapak-bapak sedang menatap ke arah mereka berdua. Dia turut memanggil warga yang lain untuk menolong Shandi.
Shandi dan Mika akhirnya ditolong oleh warga desa tempat mereka pertama kali sampai, dan dibawa kerumah salah satu warga.
Mika mengalami demam dan tubuhnya sangat pucat. Sementara Shandi masih tak percaya akan apa yang dialaminya tadi.
"Silahkan diminum teh nya, dik, mumpung masih hangat," ucap Bu Ningsih, seorang wanita 40 tahunan sembari meletakkan teh di hadapan Shandi.
"Terimakasih, Bu," balas Shandi sopan. Kemudiam dia meminum teh hangat tersebut.
"Kalau boleh bapak tau, apa yang terjadi? Kenapa kalian datang dari dalam hutan?" tanya Pak Barjo, suami Bu Ningsih.
"Kami habis dari Air Terjun Putri Pak," jawab Shandi.
"Kenapa kalian kesana, itu daerah terlarang?" kata Pak Barjo menunjukkan ekspresi kagetnya.
"Tapi kami pagi tadi bertemu seorang ibu-ibu warga sini, usianya sekitar 60 tahunan, tubuhnya kurus, keriput, rambutnya putih dan panjang. Beliau tidak mengatakan bahwa itu daerah terlarang. Bahkan beliau menyuruh kami mengikuti jalan setapak untuk sampai ke sana," ucap Shandi mencoba menjelaskan.
"Dik, di sini tidak ada wanita tua dengan ciri-ciri seperti itu. Dan semua warga sini juga tau kalau itu daerah terlarang, bahkah warga kami juga sudah berkali-kali menghentikan para pengunjung yg nekat memasuki hutan seperti kalian," jelas Pak Barjo.
Shandi terdiam, dan seketika menjadi lemas.
Mereka berdua akhirnya diantar pulang oleh pak Barjo dan beberapa warga desa.
Ibu Shandi menangis melihat keadaan putranya yang seperti orang linglung. Wanita itu juga sangat terkejut melihat Mika yang tak sadarkan diri. Namun seketika, ia teringat bahwa ada yang kurang dari formasi mereka berdua. Ya, Derry!
Shandi dan mika dibawa kerumah sakit. Shandi mengalmi shok berat. Ibu Mika yang mendapat kabar langsung pergi menyusul ke rumah sakit. Mika mengalami demam tinggi dan dehidrasi sehingga menyebabkan tubuhnya menjadi lemas.
Sementara itu keluarga Derry diberi kabar tentang hilangnya Derry. Mereka menyusul Shandi kerumah sakit dan meminta bantuan Shandi untuk menceritakan kronologi kejadian sebelum Derry terpisah dari mereka.
~~
Tiga hari setelah kejadian, Polisi dan Tim Sar menemukan jasad Derry ditengah hutan dengan kondisi tubuh yang menghitam.
Sementara itu para penyelamat juga mengonfirmasi kepada Shandi dan yang lainnya, bahwa mereka tidak menemukan adanya desa ditengah hutan, seperti yg diceritakan Shandy tentang lokasi hilangnya Derry. Mereka hanya mengatakan bahwa pihaknya bekerja sama dengan warga desa dipinggir jalan yang ada disekitar lokasi kejadian.
Shandi merasa sangat bingung. Ia benar-benar pernah melihat desa itu. Lalu bagaimana bisa desa itu menghilang sekarang?
Di depan makam Derry, Mika tak henti-hentinya menangisi kepergian sahabatnya itu.
Sementara itu keluarga Derry merasa sangat terpukul. Walau pada awalnya sempat menyalahkan Shandi, tapi mereka telah mengiklaskan putra kesayangannya, dan menjadikan kecerobohan putranya sebagai pelajaran untuk mereka semua.
........ TAMAT........