Kepindahan Mbak Restu di depan rumah setahun yang lalu, membuatku senang. Anak-anaknya pun sering sekali mendatangi rumahku untuk membeli gorengan atau jus. Keluarga mereka sangat bahagia. Terkadang aku iri dengan kemesraan mereka.
Namun, setahun kemudian Mbak Restu seperti kehilangan dirinya. Dia terlihat kusam dan selalu muram. Sejak suaminya meninggalkannya demi wanita lain, Mbak Restu selalu menyendiri dan tak mengurusi anak-anaknya hingga mertuanya harus menjemput anak-anak itu.
Melihat Mbak Restu, aku merasa iba. Namun, tak juga bisa berbuat apa-apa. Hanya beberapa tetangga yang sering mengantar makanan untuk wanita itu.
Aku pun tak habis pikir, semula pasangan itu sangat mesra. Tak ada yang menyangka suami Mbak Restu tertarik oleh wanita lain. Suaminya bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji yang lumayan besar. Dia pun royal kepada istrinya. Dengar-dengar Mbak Restu orangnya boros tapi kurang pandai merawat diri. Suaminya terpesona oleh perawan yang usianya lebih muda jauh dari istrinya.
Kupandangi Mbak Restu dari balik jendela kamar. Terlihat jelas dari sana. Dulu aku selalu melihat Mbak Restu dan suaminya dari jendela kamar. Sekarang aku melihat hanya wanita itu sendiri duduk di depan rumah dengan pandangan kosong, menerawang jauh, entah memikirkan apa. Rumahnya tak terawat. Rumput-rumput memenuhi halaman rumah yang dulu bersih dari debu bahkan sehelai rumput sekalipun. Tanaman-tanaman yang dulu menghiasi, sekarang malah membuat rumah itu semakin mengerikan karena tumbuh menjalar tak karuan.
Paginya, dua orang yang kulihat seperti pegawai rumah sakit jiwa mendatangi rumah Mbak Restu, beberapa tetangga melaporkan pada mantan suaminya karena Mbak Restu mulai berteriak-teriak sendiri di dalam rumah. Lalu mantan suaminya menelepon pihak rumah sakit jiwa untuk menjemput wanita itu. Aku menghela napas, tapi juga merasa lega karena Mbak Restu tak lagi ada di depan rumah.
Sore itu, suara pintu yang diketuk membuatku tersentak. Aku segera menyisir rambut yang telah dihighlight salon terkenal, memoleskan bedak ke wajahku yang mulus dan lipstik ke bibirku yang ranum.
Setelah selesai, aku berlari ke arah pintu, menyambut suamiku, Mas Arya yang tampan dan memiliki banyak uang. Dulu aku hanya mengintipnya lewat jendela, sekarang dia begitu nyata di hadapanku, bisa kupeluk dan kucium. Ya, Mas Arya, mantan suami Mbak Restu.
END