"Setidaknya Tuhan telah memberikan yang terbaik untukmu, Sakura" Rei hanya bisa tertunduk diam sembari tersenyum masam.
❤️🥀❤️🥀
Namaku Sakura, seorang murid SMA kelas 3. Aku bukanlah seorang artis, kembang sekolah, ataupun murid yang pintar. Aku mempunyai laki-laki yang kusukai, namanya Rei. Rei Octavianus. Dia adalah murid baru, meski baru tahun lalu ia bersekolah disekolah LoveLand Academy. Meski baru satu tahun ia bersekolah, hari pertama kedatangannya saja sudah membuat seisi sekolah heboh.
Bisa di bilang, ia adalah laki-laki idaman semua orang. Tubuh yang tinggi, mahir dalam segala bidang pelajaran, kapten tim basket, model, berasal dari keluarga terpandang, dan juga roti sobeknya hehe. Sering kali aku bermimpi bagaimana rasanya aku menjadi pacarnya.
Jangan cuma mimpi, buktikan! Kejar dia! Yah... Bagaimana lagi, aku yang cuma gadis biasa, jelek, tak akan pantas berada di sampingnya. Toh... Menghalu menjadi pacarnya saja sudah cukup.
"Kamu ini, cuma bisa ngehalu jadi pacarnya. Sana kejar" Ujar Rie, dia adalah sahabatku. Huhu, dia sih gampang mengatakannya. Wajah, otak, dan duitnya mengalir deras.
"Jaman sekarang teknologi berkembang. Oplas kek, atau perawatan wajah. Latihan apa kek, misalnya ngedance. Yang penting, jangan males!" Timpal Yuki, salah seorang sahabatku yang lain.
"Diet jangan lupa. Kalau makan terus kapan langsingnya?!" Tambah lagi Aiko,sahabatku yang imut bermulut pedas.
Rasanya aku dikerumuni oleh tiga iblis cantik. Tidak bisakah mereka mengkritikku lebih baik sedikit? Otakku rasanya ingin meledak, uuhhh.
"Bisa gak sih ngomongin yang baik tentang aku? Kenapa kalian selalu ngomongin aibku, hah?" Bentakku sembari memukul meja. Aww... Teryata sakit juga. Huhu... Tanganku bisa merah ini.
"Ehh, tanganmu itu tak sakit kah habis memukul meja?" Coba tebak, Seorang anak laki-laki tiba-tiba memegang tangan kananku yang sakit ini dan meniupnya. Oh... Jika ini mimpi tolong jangan bangunkan aku.
"Eng-enggak. Aku gak apa-apa" Jawabku sembari menarik tanganku dengan cangguh. Ohh... tolong pergilah, aku tak kuat melihat karismamu.
"Yakin?"
"Iya, hehe"
"Okelah" Rei pun pergi kembali kebangkunya.
"Sstt... Dia megang tanganmu, ada kesempatan" Bisik Yuki.
"Iya tuh, besok kita cari trik menyatakan cinta" tambah Aiko.
Kringggg!!! Jam masuk kelas pun berbunyi, dan pelajaran pun di mulai. Oh ya, disekolah ku ada satu sistem yang mengharuskan kita berusaha dengan otak sendiri. Jika kamu mau berada dalam kelas A maka kamu harus mendapat nilai rata-rata 90. Nilaiku sih awalnya cuma 80an, tapi gara gara ingin sekelas dengannya, aku belajar giat. Itu termasuk usaha bukan?
Sepulang sekolah...
Aku pulang bersama ketiga sahabat karibku. Kamu melakukan aktivitas keseharian seperti biasanya. Tak ada yang berubah, dan aku belum berani menyatakan perasaanku. Sungguh ironisnya diriku ini. Tak ada yang menarik dari diriku. Karena kisahku belum di mulai. Dan kisahku akan dimulai 3 bulan kedepan.
.
.
.
.
.
3 bulan selanjutnya, Oktober...
Dan hari minggu adalah hari kebanggaanku. Biasanya aku akan menggelar sebuah kasur diatas balkon, dan aku akan membaca komik. Tapi, cuaca kali ini tak seperti biasanya. Panas matahari terasa lebih terik, bisa bisa kulitku menjadi hitam. Ya... Memang sudah hitam sih.
BRAKK!!!
Padahal aku sudah berpesan kepada keluargaku untuk jangan menggangguku di hari minggu. Ini pasti mereka, tiga gadis iblis.
"SAKURA! KAMU MENEMUKAN SOLUSI AKAN KETERBATASANMU" Rasanya besok aku akan menjadi tuli. Apakah mereka sadar, suara mereka dapat merusak dunia, hah?
"Apa keterbatasanku? Enak saja kalau ngomong kalian!"
"Hohoho, apa lagi selain muka jelekmu" Ujar Rie sembari menaikkan kacamatanya.
"Hei, aku sadar bahwa mukaku ini jelek. Tapi kalau ngomong yang baik dikit lah!". Aku sadar bahwa wajahku ini jelek Terkadang aku berpikir bahwa aku bukan anak ibuku, ibuku memunggutku dari tong sampah. Tapi setidaknya kasihanilah hati kecilku ini.
"Makanya kamu akan mengubah wajahmu 180° berubah" Ujar Yuki.
"Hehe," Mereka lalu membuka buku yang mereka bawa. Ku tebak itu adalah buku tentang perawatan kecantikan. Dan mereka sedang menatapku seakan akan mereka akan memakanku. "Mari kita mulai"
Beberapa saat kemudian...
"Good bye Beasty and welcome beauty" Tak kusangka, wajah jelekku berubah menjadi cantik. Teryat ibuku tak salah melahirkanku. Wajahmu ini teryata memang sungguh sangat cantik. Mungkin aku jelek karena aku tak pernah merawatnya. Hoho, aku cantik. Aku tertawa sembari tersenyum-senyum.
"Rasanya otak anak ini sedikit konselet" Sindir Yuki.
"Kalau tau tadi kita biarkan dia menjadi jelek saja" Tambah Aiko, tidak bisakah ia mengasihani hati kecilku ini. Perkataannya sungguh melukai ginjalku, ehh hatiku.
"Jahat kalian ini. Kayak gak ikhlas aja" Kataku sembari memanyunkan bibirku.
"Hahaha"
***
Keesokan harinya...
Aku berangkat ke sekolah seprti ini biasanya bersama mereka. Tapp... Tapp... Tapp... Suara sepatuku bergema diujung lorong. Tak kusangka, ketika aku menaiki lantai 2 semua orang memandangku tanpa berkedip sedikit pun.
Bangganya diriku ini. Pasti mereka mengira ku sebagai murid baru. Kubuka pintu kelas, Srettt! Aku berhenti sekejap memandang seisi kelas. Rasanya sedikit nervous, dan grogi. Bagaimana jika aku justru dibully? Dan Rei malah makin menjauhi diriku? Aahh! Sudahlah lupakan.
Ku letakkan tasku di kursiku, dan duduk. "Sstt... Ada murid baru ya?" bisik salah satu seorang siswi kelasku.
"Tapi dia duduk ditempatnya Sakura"
"Masa sih dia sakura?"
"Dia oplas kah? Cantik banget sih"
"Ehemm... Kenalin, aku Sakura yang baru. Ya.. maksudku dengan penampilan yang baru. Btw, aku gak oplas, aku ini cantiknya bawaan lahir, cuma dulu item aja, males ngurusin diri" bantah diriku dengan bangga.
"Wahh... Kok bisa? Gimana perawatannya? Bayar berapa? Dimana? Kasih tau dong" Seketika seluruh siswi mengerumuni diriku.
"E-eehh... Aku cuma perawatan kulit biasa kok dirumah, asal rajin aja sih." jawabku sambil tersenyum cangguh.
"Elehh, omongmu gede. Padahal kalo bukan kita yang nyuruh juga gak bakal kayak gitu" timpal Aiko sembari melipat kedua tangannya.
"Hehe,"
"Hai Sakura, cantiknya" sapa Rei padaku.
BOOM!!! Rasanya aku ingin meledakkan diri. Tunggu ini bukan mimpi kan? Ku tampar pipiku sendiri. Di-dia bilang aku cantik? Oh Tuhan, rasanya aku ingin menangis.
"Ehh, Sakura kamu gak apa apa? Pipiku gak sakit?" tanyanya sembari mengelus-elus pipiku.
Oh Tuhan, ja-jangan kamu Elis pipiku. Aku bisa mati mimisan karena ini. Tolonggg!!!. Aku berteriak didalam hatiku. Pipiku seperti merona.
"Ehemm... Tolong hargailah kami para jomblo" sindir Rie sembari menyingkirkan tangan Rei dan pipiku. Cihh, iri ya bilang kali. Aku kan pengen dielus sama Rei.
"O-oh iya, maaf maaf" kata Rei sembari mengacak-ngacak rambutnya.
KRINGG!! Bel masuk kelas berbunyi. Dan guru pun masuk untuk memulai pelajarannya. Untungnya sekarang mata pelajaran bahasa Indonesia, jadi aku hanya perlu mendengarkan ceramah Pak Subroto. Hehehe.
Sepulang sekolah...
"Cepetan, kasih kuenya kek Rei. Keburu pulang ntar" paksa Aiko sembari mendorong tubuhku. Aku memang membuat kue coklat dan berencana untuk memberikannya padanya.
"Iya iya" A-apa yang barusan kukatakan. Iya? Tidak! Itu artinya aku akan memberikan kue coklat ini kepadanya. Oh dunia serasa berputar tujuh keliling.
Aku pun berjalan ke arahnya. Ia sedang menunggu mobil untuk menjemputnya. Kuharap mobilnya datang sebelum aku memberikan coklat ini.
"A-anu.. Rei" Ku tarik bajunya sembari memanggil namanya. Dilain sisi ketiga teman iblisku sedang mengintip sembari mengeluarkan ponsel mereka. Ku tebak mereka sedang merekamnya.
"Iya?"
"A-anu... Aku, ingin... ini!" aku sungguh gugup. Jadi aku langsung sodorkan saja kue coklat yang kubuat kepadanya.
"Ehh?"
Kok eh? apa jangan jangan dia gak suka? Huaa. "Ke-kenapa? Gak suka ya?" tanyaku dengan nada pelan.
"Eng-enggak kok, suka. Makasih iya" tanpa basa basi, iya langsung menerima hadiah yang kuberikan. Apa artinya aku sudah melakukan langkah petama? Yes!
"sama sama" jawabku sambil tersipu malu. Tubuhku serasa panas, ini bukan demam kan.
Tiba tiba seorang perempuan datang dan memanggilnya dengan sebutan akrab. "Rerei, ayo pulang" panggil gadis itu sembari melambaikan tangannya kearah Rei. Dia adalah Violita, anak terpintar yang berada di peringkat ke-2 setelah Rei. "Iya" balasnya.
Tinn Tinn!! Tak lama, mobil yang menjemputnya pun tiba. Ia masuk ke mobil itu. Dan, ia membuka kaca jendela sembari melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan kepadaku. Aku pun membalasnya, aku melambaikan tangan kepadanya.
BOOM! Dag Dig duh hatiku. Uhh, sungguh enak rasanya menjadi cantik. Aku pun mendatangi ketiga temanku yang bersembunyi dibalik semak semak.
"Hei!"
"Cieee, firts steps done. Ayoo kita lanjut sampai ke last steps" teriak mereka sembari tersenyum senyum aneh kepadaku.
Aku sungguh beruntung memiliki teman seperti mereka. Meski kelakuan mereka seperti tiga iblis yang menyiksa diriku.
❤️🥀❤️🥀
Aku pun menjalankan rutinitasku seperti biasanya. Dan aku pun semakin berani untuk mengambil langkah selanjutnya. Segala cara kulakukan untuk mendekatinya.
Mulai belajar giat agar mampu bersanding dengannya. Mengikuti ekstrakurikuler, yang selama ini tak pernah ku ikuti. Bahkan aku sendiri sampai terpilih menjadi ketua club Seni Lukis. Pastinya ini semua karena ketiga sahabatku yang selalu mendampingiku. Semakin lama, hubunganku dengannya semakin akrab. Bahkan kami sering belajar bersama di perpus.
Oh iya, setelah aku merubah penampilanku, beberapa anak laki-laki juga mendirikan sebuah club pengemar diriku, hahaha. Mereka menyebut dirinya sebagai "The Sakura's". Aku senang akan diriku yang sekarang ini. Aku tak mau kehilangan semua ini. Bahkan jika ini adalah mimpi sesaat, tolong jangan bangunkan aku.
Setiap harinya aku pasti akan mendapatkan sebuah surat penyataan cinta. Namun, Rei tak kunjung memberikan surat itu. Hingga suatu saat ia mengajakku ke balkon sekolah.
"Sakura, nanti sepulang sekolah maukah kamu ikut denganku keatas balkon?" tanya Rei kepadaku.
"Oke" aku pun menjawabnya tanpa basa-basi. Apa dia akan menembak diriku?
Sepulang sekolah...
Aku pun pergi keatas balkon sekolah. Ku buka pintu dengan pelan pelan.
Clekkk...
"Rei?" ku panggil namanya. Tiba-tiba seseorang menutup mataku dari luar. Aromanya, tekstur telapak tangannya, aku kenal. Dia ini Rei. Hatiku semakin berdetak kencang. "Ini, ambil bunganya" Ia memberikan diriku setangkai mawar merah.
"Re-rei?"
"Ssst"
"DOORR!!" tiba-tiba Rei membuka mataku dan didepanku terlihat tiga orang laki-laki sembari mengejutkan diriku.
"Sakura, aku suka sama kamu. Kamu... apakah mau menjadi pacarku?"
DEGG!!!
Dunia serasa berhenti berputar. Aku terkejut, entah harus jawab aku diriku ini. Tak mungkin jika aku menolaknya dengan mentah-mentah. Karena ada 3 orang yang menjadi saksiku. Tapi, aku tak mungkin menerimanya, aku tak suka dengannya. Dia bukan Rei. Bukan orang yang kusuka. Melainkan teman Rei, Kevin.
"A-ku..." entah harus aku jawab bagaimana.
"Sakura?"
Tanpa mengambil coklat yang ia kasih, aku pun kabur sembari menjatuhkan bunga mawar merah itu. Mawar itu pasti bukan dari Rei, itu dari Kevin. Memang aku sadar, orang sepertiku selamanya tak akan mendapatkan jodoh yang tampan seperti Rei.
Aku hanya bisa menahan air mata sembari berlarian sampai pulang kerumah. Aku bahkan tak memberitahu kejadian itu kepada sahabatku. Tapi tetap saja, aku akan memberitahu mereka hari esok.
Aku larut dalam kesedihan. Teryata ekspetasiku berbeda dari realita. Apa dia hanya menganggapku sebagai seorang teman?
Keesokan harinya...
Aku pun memberitahu temanku akan kejadian kemarin. Mereka memelukku, sambil berkata "Cupp... Cupp... Cupp... Putri kita tak boleh menangis"
Tiba-tiba Rei datang sembari menyapa diriku, "Selamat pagi Sakura. Apa kabar?" tanya memandang dirinya, aku pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tak ku jawab sapaannya itu.
Aku terus dan terus menghindari Rei, aku tak pernah berbicara lagi dengannya. Dan aku tak pernah belajar bersama dengannya sampai dihari kelulusan.
.
.
.
.
.
Di hari kelulusan...
Pastinya aku tak bisa menghindari darinya dihari kelulusan. Apalagi setelah hasil kerja kerasku aku menggantikan kedudukan Violita di peringkat kedua. Dan dia masih mempertahankan peringkatnya, di peringkat ke-1.
Setelah itu, kami keluar pergi ke halaman sekolah. Dan seperti pada umumnya, kami menyemprotkan beberapa semprotan Pilok ke arah baju kami. Rasanya aku sungguh melupakan semua tentang Rei.
***
Sesudah acara selesai. Beberapa siswa siswi pulang, ada yang pergi bermain. Sekolah pun mulai terlihat sepi. Namun, aku malah masih berada di sekolah bersama teman temanku. Ya... Walau aku tak mengharapkan jawaban 'iya' darinya. Setidaknya aku tak ingin menyesal, kali ini aku akan mengungkapkan isi hatiku.
Ku cari diseisi sekolah. Aku menemukan Rei yang sedang berada di belakang sekolah. Ku intip dirinya dari sebalik tembok di belakangnya.
"Cepetan sana, keburu dia pergi" bisik Rie sembari mendorong-dorong tubuhku untuk maju kedepannya.
"O-oke" aku pun berjalan mendekati dirinya.
"Re-rei" ku panggil namanya dengan pelan.
"Iya?" Ia langsung menenggok kebelakang, kearahku. "Kenapa?"
"A-anu... Aku..." aku takut untuk mengatakannya. Tapi ku berharap dia menyukaiku. Kita kan sudah sering belajar bersama, masa dia tak ada sedikit pun rasa suka kepadaku.
"Aku..."
"Ya?"
"Aku suka kamu!" Ku katakan Dengan cepat sembari menyodorkan sebuket bunga mawar merah putih kepadanya. Jika biasanya laki-laki yang menembak, kali ini biarkan aku yang mengatakannya.
"Maaf, aku sudah punya pacar"
"Pa-pacar?" dunia serasa hancur. Kenyataan ini... aku tau kok.
"Iya, dia Violita" jawabannya.
"O-oh. Aku udah tau kok. Lagipula buat kamu sih ini wajar, habisnya walau udah punya pacar juga masih banyak anak cewek yang menyatakan perasaannya. A-ku cuma pengen nyampain ini aja kayak anak anak lainnya. Makasih" ku berusaha untuk menahan air mata. Dan tetap tersenyum. Rasanya air ini sudah membendung di mataku.
"Maaf ya, Sakura" katanya dengan nada pelan.
Kami saling menundukkan kepala. Dan tak berbicara sepatah kata pun. "A-ku... aku harap kamu terima mawarnya. Habis aneh kalau mawarnya aku bawa pulang. " Aku memberikan sebuket mawar itu kepada. Untung dia langsung menerimanya. Dengan ini, aku pun langsung pergi.
"Gimana? Berhasil?" tanya Aiko, pupil matanya membesar, berharap aku akan memberikan jawabannya yang bagus.
"Gak. Dia usah punya pacar. Huaaa" hanya dengan merekalah aku dapat menangis sepuasnya mungkin. Ku keluarkan semua isi hatiku. Untung, posisiku saat ini sudah jauh dari Rei. Sehingga ia tak mendengarkannya.
"Setidaknya, kamu telah melakukan yang terbaik. Lagipula masih banyak laki-laki diluar sana. Gak cuma Rei doang" ujar Yuki sembari menenangkan diriku.
"Ya... Kamu benar. Mungkin dia datang hanya untuk menjadi penyemangatku. Seenggaknya karena ada dia, aku jadi rajin belajar" kataku sembari mengusap air mata yang membasahi pipiku ini.
"Nah gitu dong"
"Dahlah, Yukk aku traktir es kepal" ujarku, ku ajak mereka pergi bersamaku. Lagipula aku tak dapat bertemu dengannya lagi.
❤️🥀❤️🥀
Keesokan paginya, aku membuka pintu rumahnya, dan melihat sebuah surat yang diperuntukkan untuk diriku tanpa nama pemberi. Entah mengapa surat ini memberikan perasaan tak asing untukku. Aku pun memutuskan untuk mengambilnya, tak lupa terdapat sebuah kotak di sampinh surat itu.
***
Dear Sakura,
Maafin aku karena tadi aku menolakmu. Aku lakuin ini karna gak mau membuat kamu berharap lebih. Aku bakal pindah di Amerika, dan tinggal menetap di sana dengan orang tuaku. Aku gak akan balik ke Indonesia lagi.
Sebenarnya aku juga suka sama kamu. Mawar yang digunakan Kevin itu sebenarnya adalah mawar yang ku tanam untukmu. Dan semua yang Kevin katakan itu adalah isi hatiku. Maaf telah membuatmu salah paham.
Aku menyukaimu sejak pertama kali aku pindah kesekolah LL Academy. Aku suka sejak pertama kali aku berkenalan denganku, saat itu kamu duduk didepanku. Dan saat itu aku banyak merepotkanmu.
Aku benar benar ingin membalas semua perasaanmu. Tapi aku tak bisa. Soal pacaran dengan Violita, dia sebenarnya adalah sepupu jauhku. Aku hanya memintanya untuk berpura-pura menjadi pacarku. Sehingga dengan begitu kamu menjauh dan membenci diriku.
Mungkin ketika kamu membaca surat ini aku telah pergi ke Amerika. Aku berangkat ke Amerika malam ini. Maaf selama ini aku selalu menyakitimu, membuatku kecewa, dan memberikan harapan lebih.
Semoga suatu saat nanti, kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik daripada diriku.
Salam, Higurashi Rei.
***
Seketika, bulir bulir air mata jatuh membasahi surat yang Rei berikan padaku. Jadi... Selama ini Rei menyukaiku? Betapa bodohnya diriku selalu berprasangka buruk terhadapnya. HUAAAAA!!!
Mengapa takdir seakan akan mempermainkan kita berdua. Apakah kita hanyalah dua orang yang saling mengisi dikala hati masih kosong dan pergi dikala hati kita telah terisi.
Rei, sampai kapanpun kamu akan selalu membekas dihatiku. Rei, si cinta pertamaku.
❤️🥀❤️🥀
5 tahun kemudian...
Rei menyalakan TVnya dan menekan tombol dengan sembarang. Tanpa sengaja, ia melihat channel TV yang disiarkan dari Indonesia.
[Salam para sobat Cinta. Kali ini, kami memberikan sebuah episode spesial. Jika pada biasanya kami mengundang orang orang yang menjomblo, patah hati, jatuh cinta. Kali ini kami mengundang seseorang yang telah menikah, bahkan telah mempunyai anak. Mungkin ia dapat memberikan pesan untuk sobat Cinta]
Tiba tiba seseorang muncul dari belakang panggung. [Mari kita sambut Akibane Sakura]
"Sakura?"
[Sebelum saya berterimakasih telah mengundang saya menjadi tamu, saya sungguh terhormat]
[Nah bisalah anda menceritakan kisah cinta pertama anda?]
[Tentu saja]
Aku pun mulai mengenang saat saat aku bersama Rei. Tak mungkin ku lupakannya. Ku coba ingat, dan kuceritakan semua ini, berharap ia menontonnya. Namun tak mungkin rasanya.
[Baik, sungguh kisah cinta yang ironis sekali. Mungkin setelah mendengar kisah ini sobat cinta malah jadi termotivasi]
[Apakah anda ada kata kata untuk Rei jika semisalnya ia sedang menonton acara ini]
Rasa terimakasih yang ku pendam selama ini, akhirnya bisa kusampaikan.
[Teruntuk Rei. Terimakasih karena telah mengisi hatiku di kala sepi. Karna dirimu, aku mendapat motivasi untuk terus belajar dan berkembang. Selama ini, aku tak pernah merasakan cinta kasih seorang ayah, seorang pria. Aku selalu hidup dalam lingkungan para wanita. Aku tak pernah mengenal sedikit pun tentang pria, di pikiranku pria adalah orang orang menyebalkan.]
[Hingga aku bertemu denganmu. Aku mungkin hanya bisa mengatakan terimakasih. Namun dirimu akan selalu ku ingat, akan selalu membekas dihatiku. Kini aku telah menikah, semoga kamu mendapatkan jodoh yang baik juga]
***
"Sakura, selama ini akulah yang penakut. Aku takut kehilanganmu. Dan teryata benar, aku terlalu lambat, dan akhirnya aku kehilangan dirimu seutuhnya. Aku menyesal. Andai waktu dapat di ulang kembali, aku akan membalas semuanya. Mesti begitu,"
Setidaknya Tuhan telah memberikan yang terbaik untukmu, Sakura" Rei hanya bisa tertunduk diam sembari tersenyum masam.
[END]