Berhati-hatilah dengan iblis.
Terkadang dia tidak hanya berusaha menjerumuskanmu.
Tetapi ingatlah! dia juga berusaha membawamu ke neraka.
🔥👤🔥
Kala itu langit tampak gelap seperti biasa. Tertutupi oleh polusi yang mengepul di seluruh kota. Tampak seorang wanita sedang berdiri mematung, menunggu lampu hijau menyala. Dia mengernyitkan dahinya, seakan sedang berpikir keras.
Terlintas dalam benaknya, tentang pasiennya yang begitu misterius. Pasien itu memiliki kasus yang benar-benar telah menggemparkan seluruh negeri.
Wanita yang berkarir sebagai dokter psikolog ternama itu, harus menangani seorang psikopat gila. Lelaki itu bernama Samuel, dia adalah seorang psikopat yang tergila-gila dengan dunia neraka.
Psikopat itu menamakan dirinya 'Man from hell'. Bahkan dia mencap tulisan itu dengan besi panas di kulit semua korbannya. Yang menandakan bahwa korban itu pasti di bunuh olehnya.
Samuel menyiksa korban yang dia anggap berdosa dengan begitu sadis. Ada yang di potong lidahnya, di potong jarinya, bahkan hingga mencungkil mata sang korban.
"Dokter Whidie!!!" panggilan lelaki itu membuat sang dokter psikolog memalingkan wajah ke sumber suara.
"Detektif Bastian? ada apa lagi?" tanya Whidie sembari berjalan menghampiri lelaki itu.
"Ikut aku!" Bastian menarik lengan Whidie dengan tergesak- gesak.
Setelah berada di tempat yang jauh dari kerumunan. Detektif berkumis tipis itu pun langsung bersuara.
"Whidie, ada korban baru lagi dengan cap Man from hell di kulitnya!" ucapnya dengar raut wajah gelisah.
"Apa? bukankah Samuel masih di kurung?"
"Iya, tapi ada dua korban baru lagi yang di temukan. Mayatnya masih baru, kemungkinan di bunuh beberapa jam yang lalu!" jelas Bastian. Yang tentu saja membuat Whidie begitu kaget. Wanita cantik itu menghela nafas panjang.
"Kami dari kepolisian sangat membutuhkan bantuanmu. Sebab orang gila itu hanya mau bicara padamu! Bicaralah lagi padanya!" desak Bastian.
"Berarti selama ini Samuel tidak sendirian dalam melakukan aksinya?" tebak Whidie, menatap tajam Bastian.
"Tepat sekali! kami belum bisa memastikan siapa orang di balik Man from hell!"
"Baiklah! aku akan ke kantormu besok!" ujar Whidie yakin.
"Terima kasih Whidie, kami sangat menghargai kerja samamu!" Bastian merekahkan bibirnya membentuk senyuman. Dia begitu mengagumi wanita yang sedang berdiri di depannya itu. Namun Whidie hanya membalasnya dengan senyuman canggung, dan langsung beranjak pergi meninggalkan Bastian.
🔥👤🔥
Di sebuah ruangan yang hanya bersinarkan lampu pijar. Samuel duduk terdiam sembari menatap kosong cermin yang berada tepat di hadapannya.
Pintu perlahan terbuka, Whidie melangkahkan kakinya masuk. Kemudian langsung duduk di hadapan Samuel. Lelaki itu menyeringai dengan memperlihatkan sedikit giginya.
"Samuel apa kabar?" tanya Whidie santai. Namun lelaki itu hanya terdiam dan melotot ke arah wanita itu.
"Apa dia sudah beraksi?" ucap Samuel masih dengan pelototannya. Membuat Whidie langsung menatap tajam kepada lelaki itu. Dia tidak menyangka Samuel berbicara langsung ke intinya.
"Siapa yang kau-maksud?" Whidie mengernyitkan dahinya. Wanita itu tidak ingin berbasa-basi.
"Saudaraku . . . hihi!" sahut Samuel dengan tawa kecilnya.
"Kau-punya saudara?"
"Tentu, tapi aku tidak mau memberitahumu sebanyak itu. . ."
Whidie hanya terdiam. Wanita itu memperhatikan gerak-gerik Samuel. Lelaki itu berani menatapnya terus menerus. Yang artinya Samuel sedang berbicara jujur.
"Kau-tahu kan aku tidak berbohong Dok. . ." ujar Samuel, sekarang dia menampakkan senyum bangga.
BRAKK!!!
Pintu tiba-tiba terbuka, Bastian langsung berlari menghampiri Samuel. Dia melayangkan pukulan dan cacian pada lelaki itu. Dan tentu saja dengan tujuan agar Samuel mau berbicara lebih banyak.
Bukannya meminta ampun. Samuel malah tertawa geli dengan darah dan memar di tubuhnya.
"Hentikan Bastian! ini tidak akan membuatnya bicara! mungkin dia malah mengharap pukulan darimu!" tegur Whidie mencengkeram lengan Bastian dengan erat.
"Benar apa yang di katakan Dokter Whidie, tuan Bastian. . . Hahaha!" tawa geli Samuel semakin terdengar menjengkelkan. Membuat Bastian semakin geram.
Buk buk!
Lagi-lagi Bastian tidak bisa menahan amarahnya dan kembali memukuli Samuel hingga babak belur. Perlahan badan Samuel melemah. Saking sakitnya, air liur mengalir dari mulutnya.
"BUNUH SAJA AKU!!! TAPI PENYIKSAAN DAN PEMBUNUHAN TIDAK AKAN BERHENTI DI KOTA INI!!! HAHA!" pekik Samuel kembali dengan tawanya.
"Dasar sialan!!!!" Bastian kembali melayangkan tendangannya ke badan Samuel.
Karena sudah keterlaluan, rekan-rekan Bastian langsung menghentikan aksi yang dilakukan detektif berkumis tipis itu. Dan segera membawa Samuel kembali ke sel-nya.
Whidie saat itu segera melangkahkan kakinya untuk pergi ke toilet. Namun dia langsung di buat kaget ketika Samuel tiba-tiba datang dan mencengkeram kedua bahunya. Mata Whidie membola, tetapi Samuel perlahan mendekatkan mulutnya ke telinga Whidie.
"Sandi namanya, dia adalah saudara kembarku. Dialah yang selama ini melakukan pembunuhan bukan aku.." bisik Samuel pelan. Whidie hanya terdiam karena merasa sangat terkejut.
Para polisi pun berdatangan dan langsung kembali menangkap Samuel. Lelaki itu terlihat tidak berusaha melakukan pelarian sedikit pun. Seakan dia pasrah menerima hukumannya.
'Apa maksud Samuel? apakah selama ini dia di ancam untuk menjadi kambing hitam?. Raut wajah dan gerak-geriknya sama sekali tidak menunjukkan kebohongan!' ucap benak Whidie.
Setelah mengetahui info dari Samuel. Whidie pun memberitahukan semuanya kepada Bastian. Agar kasus pembunuhan berantai itu segera cepat di selesaikan.
🔥👤🔥
Setelah 24 jam, polisi akhirnya bisa menemukan data tentang saudara kembar Samuel. Lelaki yang bernama Sandi itu tinggal di sebuah usaha peternakan besar dan bekerja di sana.
Kepolisian langsung membawanya untuk segera di interogasi. Namun Sandi sama sekali tidak mau mengakui kesalahannya. Dia malah berkata bahwa Samuel-lah yang bersalah. Bahkan dia juga bilang sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu dengan saudara kembarnya itu. Dengan alasan bahwa Samuel memiliki kelainan jiwa.
Kasus itu semakin rumit. Membuat Whidie harus kembali ikut turun tangan untuk mengetahui gerak-gerik yang di tunjukkan Sandi. Dan lagi-lagi Whidie tidak melihat kebohongan dari tingkah Sandi. Jadi siapa yang berbohong?. Meskipun sebagai seorang psikolog, sekarang dia merasakan kebingungan yang belum pernah dia rasakan sepanjang karirnya.
🔥👤🔥
Bastian dan Whidie kala itu minum kopi bersama. Mereka saling berbagi informasi yang sudah mereka dapat. Kertas-kertas berhamburan di meja mereka. Termasuk berkas baru yang di berikan oleh Sandi. Kemudian ada satu lembar kertas yang menarik perhatian mereka.
Di kertas itu tertulis tentang riwayat hidup Samuel. Ternyata dia pernah menjadi salah satu mahasiswa di jurusan Psikologi.
Sekarang Whidie menyadari, bahwa Samuel-lah yang selama ini berbohong. Sebab dia menguasai ilmu Psikologi. Lelaki itu tahu gerak-gerik dan raut wajah orang berbohong.
"Baiklah Whidie, aku akan urus semuanya! kau-lebih baik istirahat dan pulang dulu sekarang!" ujar Bastian sembari merapikan berkas-berkasnya. Whidie pun meresponnya dengan satu anggukan.
3 hari berlalu, Samuel masih berada di dalam sel-nya. Sedangkan Sandi di biarkan bebas karena tidak terbukti terlibat melakukan pembunuhan.
Namun, kabar mengejutkan kembali datang. Polisi kembali menemukan tiga mayat baru sekaligus. Dengan cara pembunuhan khas neraka. Dan tentu saja ada cap tulisan 'Man from hell' di kulit mereka.
Whidie yang mendengar kabar itu begitu shock. Wanita itu pun segera mengambil tas dan segera beranjak pergi dari kliniknya.
Seperti biasa, Whidie selalu bepergian dengan angkutan umum. Saat itu dia sedang berdiri di halte untuk menunggu busnya.
"Hei!" tiba-tiba seorang lelaki asing menepuk bahunya. Perlahan lelaki itu berbisik ke telinga Widhie.
"Ikut aku..." ucapnya. Tatapan dan pikiran Whidie yang saat itu kosong langsung mengangguk begitu saja.
🔥👤🔥
"Hei!" suara itu langsung menyadarkan Whidie. Matanya langsung membelalak ketika melihat tangan dan kakinya di ikat dengan rantai besi.
Pendengaran Whidie langsung di sambut dengan suara teriakan yang bersahut-sahutan. Suara-suara teriakan itu sangat melengking dan terdengar seperti orang mengerang kesakitan.
Ruangan tempat Whidie berada juga tampak begitu mengerikan. Baik lantai dan dinding berlumuran darah beku. Bau di ruangan itu pun begitu amis dan busuk. Whidie harus membiarkan cairan keluar dari mulutnya beberapakali.
Selain itu, terlihat beberapa benda tajam yang menumpuk di sana. Seperti pisau dapur, gergaji mesin, gergaji kayu, cambuk rantai dan lain-lain. Barang-barang itu semakin tampak mengerikan dengan lumuran darah beku di setiap sudutnya.
Di depan Whidie sudah ada seorang lelaki berpakaian serba hitam. Lelaki itu menggunakan topeng berwarna merah darah di wajah, dan hanya menutup sampai bagian hidungnya. Sehingga Whidie dapat melihat seringai lelaki itu dengan jelas.
Lelaki itu membawa sesuatu di tangannya. Karung berwarna putih yang berlumuran darah. Membuat Whidie sedikit ketakutan. Keringatnya mulai mengucur deras. Meskipun begitu dia berusaha mengendalikan ketakutannya sebisa mungkin, agar tidak terlihat oleh lelaki itu.
"Hai nona Dokter selamat datang di neraka!" ujar lelaki itu.
"Maksudmu?" sahut Whidie mengernyitkan dahinya.
"Gara-gara kelakuanmu, klub neraka ini hampir bubar! nggak usah sok berani lah! aku tahu kamu pasti sekarang sangat ketakutan kan?"
"Untuk apa aku takut, aku hanya takut pada Tuhan!" balas Whidie yakin, dia selalu percaya bahwa Tuhan selalu bisa menenangkan jiwa dan raganya.
"Ya sudah, coba kita lihat apa kamu akan ketakutan saat melihat ini!" ujar lelaki itu sambil mengeluarkan kepala utuh yang berlumuran darah dari dalam karungnya. Mata Whidie membelalak ketika melihat wajah dari kepala itu. Jelas itu wajah Sandi. Karena Samuel pasti masih berada di dalam sel-nya.
"Neraka yang kau-buat tidak bisa di bandingkan dengan neraka yang Tuhan buat. Dan aku yakin, namamu pasti sudah tercatat sebagai penghuni neraka-Nya!!!" Whidie mendengus kencang, dia mencoba mengabaikan apa yang di lihatnya.
"Cuih! terserah kau-mau bilang apa, yang jelas aku akan menghukummu!" ucap lelaki itu, sembari memilah-milih barang-barang tajam yang tersedia di ruangan itu.
"Sebelum aku melakukan penyiksaan, coba katakan padaku. Apakah kau-memiliki dosa?"
Mendengar pertanyaan itu Whidie hanya bisa terdiam. Sebab dia tahu, semua manusia tidak ada yang luput dari dosa.
"Aku tahu dosamu nona Whidie, kau-pernah membully temanmu saat sekolah kan, dan sekarang kamu sangat menyesali hal itu!"
"Bagaimana?" Whidie sangat kaget, ketika lelaki itu berkata hal yang benar tentang dirinya.
"Saat di halte apa kau-lupa? aku menghipnotismu! Haha, kau-sudah mengatakan semua dosamu kepadaku!"
Perlahan rasa ketakutan Whidie sudah mendominasi di dalam dirinya. Apalagi ketika lelaki itu mengambil cutter dan memainkan benda tajam itu.
"Dari mana aku mulai ya. Lidah?.... mata? ... atau jari-jarimu?" ujar lelaki itu dengan santainya.
Hari itu Whidie juga ikut menyumbang teriakannya di tempat mengerikan itu. Dia harus kehilangan jari kelingkingnya. Kata lelaki itu, Whidie sudah melakukan dosa ingkar janji.
🔥👤🔥
Hari kedua, lelaki itu kembali mendatangi Whidie. Dan saat itu, Whidie harus rela kehilangan jari kelingking terakhirnya.
Hari ketiga, lelaki itu kembali datang. Namun tidak seperti hari-hari sebelumnya, lelaki yang menyebut dirinya Many itu kedapatan membawa kunci di saku celananya. Whidie benar-benar merasa lega melihat keberadaan kunci itu.
"Hei Many, apa dosaku selanjutnya?" tanya Whidie berusaha tenang.
"Haha... apa ini? kau-menyerahkan dirimu sekarang?.... Hmmm.... hari ini, aku akan mencongkel matamu. Karena kamu tidak menggunakan matamu dengan baik. Kamu melihat temanmu di bully, tetapi kau-membiarkannya begitu saja!" jelas Many sembari mengambil pisau kecil dan tajam.
"Lakukanlah!" sahut Whidie.
Many pun duduk di hadapan Whidie. Tetapi wanita itu tiba-tiba saja menjedotkan kepalanya sekuat tenaga ke wajah Many. Lelaki itu pun sedikit kehilangan keseimbangan. Whidie menggunakan kesempatannya untuk mengambil kunci yang ada di saku celana Many.
Many tidak ingin mengalah dia berusaha mengarahkan pisau ke tubuh Whidie. Namun wanita itu bisa dengan cekatan mencegah serangan Many. Sekarang keduanya saling memperebutkan pisau.
Sekali lagi Whidie menjedotkan kepalanya ke wajah Many. Sekarang hidung lelaki itu tampak mengeluarkan darah. Whidie segera merebut pisau, dan melayangkannya ke perut Many.
Wanita itu pun langsung melepas rantai yang sudah 3 hari melingkar di tangan dan kakinya. Sekarang dia bisa berdiri dan segera berlari keluar dari ruangan mengerikan itu. Tetapi bukannya mendapatkan kebebasan, Whidie malah melihat sesuatu yang lebih mengerikan di tempat itu.
Saat itu dia bisa melihat banyak lelaki yang mengenakan pakaian serba hitam layaknya Many. Mereka juga melakukan penyiksaan kepada orang-orang yang sedang di rantai. Sekarang Whidie sadar, bahwa Man from hell bukan seorang pria atau dua pria. Tetapi sekumpulan psikopat gila.
Tanpa pikir panjang Whidie kembali ke dalam ruangannya untuk mengambil senjata yang lebih berguna. Wanita itu mengambil gergaji mesin. Setelah itu dia pun kembali berlari untuk mencari jalan keluar dari tempat mengerikan itu.
Satu per satu semua lelaki berpakaian serba hitam itu menyadari pelarian Whidie. Karena suara langkah kakinya yang terdengar nyaring. Mereka pun langsung berusaha menangkap wanita itu.
Bukannya takut Whidie malah bersemangat memompa gergaji mesinnya. Perlahan para psikopat itu berdatangan dari berbagai penjuru untuk menghampiri Whidie, yang sudah berdiri tepat di depan pintu keluar.
BRAKKK!!!
Pintu tiba-tiba terbuka, Bastian dan puluhan polisi lainnya langsung memasuki tempat itu. Whidie pun tersenyum.
"Aku tidak membutuhkan ini lagi," ujarnya sambil menjatuhkan gergaji mesinnya. Bastian langsung memeluk Whidie, dan memeriksa jari kelingking wanita itu.
"Tenanglah Detektif! aku bisa menyambungnya lagi!" ucap Whidie sembari memperlihatkan dua potongan jari kelingkingnya, yang ternyata dia ambil saat kembali ke dalam ruangan.
"Syukurlah!" Bastian terlihat lega.
"Kamu memang gila Whidie! Kenapa kamu baru mengaktifkan alat pelacak itu setelah 3 hari terjebak di sini?" sambung Bastian lagi dengan kernyitan dahinya.
Whidie hanya tersenyum membalas kekhawatiran Bastian. Sebenarnya jawaban dari pertanyaannya itu. Hanya bisa di mengerti seorang psikolog sepertinya.
Sekarang Whidie tidak hanya berhasil menangkap tersangka, tetapi juga mendapatkan ilmu baru. Iya! dia rela merelakan jari kelingkingnya demi mempelajari perangai dan kejiwaan seorang psikopat.
~TAMAT~
...................
●EPILOG
Saat Bastian dan Whidie minum kopi bersama. Mereka tidak hanya menemukan riwayat hidup Samuel yang mencurigakan. Tetapi juga sebuah surat yang berisi kode yang rumit. Surat itu ditemukan di bawah keset rumah Samuel.
Bastian menyerahkan surat itu kepada Whidie. Karena kode yang tertulis begitu sulit di pahami. Whidie memanfaatkan waktu istirahatnya untuk memecahkan kode itu. Hingga akhirnya dia menemukan bahwa kode itu adalah sebuah perintah.
Perintah untuk menculik seorang dokter psikolog yang tidak lain adalah Whidie sendiri. Sehingga membuat Whidie berencana untuk mengorbankan dirinya sendiri demi mengetahui orang di balik Man from hell. Bastian pun terpaksa menyetujuinya.
Whidie meminta bantuan teman dokter giginya, untuk meletakkan alat pelacak ke giginya. Wanita itu tahu betul, dia akan menghadapi psikopat gila yang sulit di kalahkan. Karena alat pelacak itulah Bastian dan rekan-rekannya bisa menemukan keberadaan Whidie dan Man from hell.
~TAMAT BENERAN~