Begitu banyak debu dibuku yang tanpa sengaja aku dapatkan disalah satu rak buku perpustakaan sekolah, sebuah buku kuno yang tidak memiliki judul dan sampulnya yang sama sekali tidak menarik.
Namun, entah kenapa aku menjadi ingin membaca dan mengetahui isinya. Lembar demi lembar kubuka, semakin banyak lembar buku yang kubuka, semakin jelek pula ekspresiku.
Buku ini kosong, tidak ada isinya. Tapi, tiba-tiba aku merasakan kesadaranku yang ditarik hingga jatuh tidak sadarkan diri.
Lama aku merasakan kekosongan jiwaku, seakan tersedot dalam pusaran waktu keabadian yang sepi. Apakah seperti ini rasanya hidup abadi? hidup sendiri dalam kesepian tanpa ada teman bercerita.
Hidup sendiri menyaksikan dunia yang semakin menua, sendiri dalam kehampadaan ruang dan waktu yang mencekik leher. Mengingatkan jika hidup abadi bukanlah pilihan yang baik.
Setelah sekian lama, aku mulai merasakan bising suara disekitarku. Perlahan kubuka mataku, mengedip beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya mataku dengan cahaya didalam ruangan.
Kini aku mendapatkan sepenuhnya nyawaku, aku berada didalam sebuah ruangan yang kuyakini adalah sebuah kamar tidur dengan perabotan kuno tapi elegan dan terkesan antik.
Aku tidak pernah berpikir akan berada didalam ruangan aneh seperti ini, mataku membola ketika melihat gaun tidur yang kugunakan sangat mirip seperti gaun bangsawan abat pertengahan.
Kepalaku berdenyut dengan putaran ingatan asing menyerbu masuk dalam tempo waktu yang cepat, ini sangat sakit, lebih sakit dari rasa disuntik imunisasi saat aku bayi.
Apakah aku sedang bermimpi? aku seperti masuk kembali kemasa lalu dan bertempat ditubuh gadis manis bernama Alexa Cleire.
Dari arah pintu aku mendengar suara langkah banyak orang yang sepertinya ingin masuk kedalam ruangan kamar tempatku berada.
Benar saja, sekitar sepuluh orang masuk kedalam kamarku membawa aneka ragam perhiasan dan juga pakaian pernikahan yang indah.
"Siapa kalian?" tanyaku karna aku memang tidak mengenal mereka semua.
"Salam nona, kami adalah penata rias dan busana yang disewa oleh duke Cleire!" jawab salah satu dari kesepuluh orang tersebut.
"Kalian akan merias siapa?"
"Anda!" jawab mereka serantak.
Kepalaku terasa berdenyut kembali dengan serbuan ingatan satu hari sebelum hari ini terjadi, aku merasakan amarah didalam hatiku tapi aku tidak bisa melakukan apapun. Menurut ingatanku, aku harus menikah dengan pangeran buruk rupa bernama Antonio.
Awalnya dekrit pernikahan jatuh untuk adikku tapi ayahku memohon agar aku saya yang dinikahkan dengan dalil usia adikku belum cukup untuk mulai menikah dan berkeluarga.
Sejak kecil ayah sangat tidak menyukaiku karna aku adalah alasan ibu meninggal, saat itu aku meminta ibu untuk menemaniku kepasar, tapi naas kami dihadang perampok. Kejadiaan itu membuat ibu kehilangan nyawanya.
Dengan wajah datar aku menerima kehadiran sepuluh orang yang akan menghiasi diriku untuk acara pernikahan, pernikahanku dengan pangeran buruk rupa yang belum pernah aku temui.
Kabar buruknya, aku tidak akan berpangkat sebagai istri sah tetapi sebagai seorang selir!
Setelah cukup lama dihias aku akhirnya tiba didepan altar pernikahanku, calon suaminya berada disana. Anehnya, calon suamiku menggunakan tudung yang menutupi wajah jeleknya.
Menurut salah satu penata riasku tadi, pangeran Antonio sangat membenci perempuan termasuk ibunya tanpa alasan yang jelas, pernikahan kami terjadi karna paksaan raja karna hanya pangeran Antonio yang belum menikah.
Ucapara pernikahan dimulai, aku melihat senyum bahagia dari wajah ayahku karna dia berpikir aku tidak akan lagi tinggal bersamanya, mungkin dia sudah muak melihat wajah cantikku.
Jantungku berdekat kencang, banyak rakyat yang menyaksikan pernikahan kami dengan berbagai ekspresi. Ada yang bahagia, ada yang menatapku kasihan dan iba, ada juga yang bermuka dua.
Setelah pernikahan selesai aku menunggu pangeran didalam kamar dengan perasaan campur aduk, aku belum siap untuk melaksanakan kewajibanku sebagai seorang istri!
Kudengar langkah kaki mendekat kearahku yang duduk diatas ranjang dengan debaran jantung yang seakan ingin pecah, kunaikan pandangan mataku melihat siapa yang datang.
Ternyata dia adalah pangeran Antonio, maksudku itu adalah suamiku.
"Aku tidak akan memaksamu untuk memberikan apa yang seharusnya jadi milikku, aku juga akan tidur dikamar lain jika kau tidak siap."
Ucapan dingin nan menusuk itu seakan memanah jantungku dengan panah yang tajam, aku menatap wajahnya rumit sebelum memutuskan sesuatu yang entah nanti akan kusesali atau menjadi awal mula untuk hidup bahagiaku.
"Aku bersedia, kamu adalah suamiku, aku milikmu sekarang, kamu juga milikku sekarang!" jawabku tegas dengan mata yang memancarkan keyakinan.
Helaan nafas kudengar, tangan pangeran seakan hendak melepas tudung yang selalu dia pakai untuk menutupi wajahnya yang menurut rumor begitu jelek dan menjijikan.
Kuperhatikan tindakannya dengan tatapan serius, aku ingin melihat wajah suamiku yang katanya tidak diketahui oleh siapapun, aku jadi bingung sendiri. Jika tidak ada orang yang pernah melihat wajah pangeran, maka dari mana rumor berasal?
Bahkan raja tidak pernah mengetahui rupa pangeran Antonio, pangeran bersembunyi terlalu dalam dan aku berharap akan menjadi orang pertama dan satu-satunya yang pernah melihat wajahnya.
Tudung kepala pangeran perlahan terbuka, mataku sangat fokus menatapnya. Hingga akhirnya tudung tersebut terlepas dari wajahnya, mataku terbelalak dan rahangku terjatuh. Pangeran hanya menatap dingin karna reaksiku memang agak berlebihan.
Dia sungguh sangat tampan! seperti aktor Lee Min Ho yang sering aku lihat dari beberapa drama Korea yang selalu membuatku menjerit heboh akan tingkat keromantisannya yang tinggi.
Tapi, aku seperti mengenal wajah ini, wajah seorang pria yang pernah aku acuhkan keberadaannya hingga akhirnya aku tidak tahu dimana dia berada dimana.
Dia mirip dengan pria dikehidupan pertamaku! dia mirip Erick, pria yang pernah mengejar cintaku tapi aku acuhkan karna sebuha kesalah pahaman.
Mataku berbinar hingga tanpa sadar aku menangis haru membuat pangeran bingung, sorot matanya seolah bertanya akan apa yang terjadi padaku.
"Kau kenapa?"
"Aku merindukanmu."