"Tolong berikan kedua tanganmu padaku" Jawabku
Kemudian aku menggenggam kedua tangannya dan mulai meramal masa depannya.
"Kau akan berada dititik dimana karirmu akan hancur, jadi jangan terus-terusan berjudi dan bermain wanita, jika ingin karir dan nasibmu tidak mengenaskan" Jawabku kepada pelangganku.
"Hebat juga kau bisa tahu kebiasaanku, bahkan keluargaku dan istriku saja tidak tahu. Baiklah aku akan menuruti apa katamu untuk waktu ini" Jawab pelanggan itu.
"Hal ini berlaku untuk seterusnya, jika kau melakukannya lagi maka nasibmu akan tetap sama. Kembali bernasib tragis" Jawabku
"Hahaha enak sekali kau mengatur hidup orang. Lagian aku kemari karena iseng dan banyak temanku merekomendasikan dirimu, karena selalu tepat dalam meramal. Yang ku inginkan ramalan tentang angka, berapa yang akan keluar saat aku berjudi bukan nasibku" Jawab pelangganku yang mulai marah karena saranku.
"Aku bisa saja meramal hal seperti itu, tapi meramal hal seperti itu bagiku hanya membuang tenagaku saja. Aku meramal karena ingin menyelamatkan orang yang meminta bantuanku" Jawabku
"Dasar peramal tidak berguna" Pelanggan itu pergi dengan terus mengomel dan tanpa membayar sama sekali
*Aku harus berhenti meramal karena hal ini menguras energiku dan waktuku, dan setiap orang yang kutolong tidak ada yang peduli* pemikiranku dalam hati ketika sejenak beristirahat setelah meramal tadi.
Akhirnya aku berhenti meramal dan mulai menjadi pengantar pizza. Akhir-akhir ini aku selalu dihantui mimpi aneh. Aku melihat seorang wanita cantik yang diikuti oleh sesosok mahkluk yang biasa kita sebut sebagai malaikat pencabut nyawa. Aku tidak tahu apa hubungannya hal ini dengan diriku dan aku tidak mau berhubungan dengan malaikat pencabut nyawa.
Berada didekat malaikat pencabut nyawa, bagi para Cenayang adalah hal yang berbahaya, karena malaikat maut menganggap kami, para cenayang adalah pengubah jalur kematian seseorang. Hal ini membuat Malaikat maut akan memburu jiwa para Cenayang, karena bagi mereka kita itu perusak keseimbangan alam.
Aku dulu pernah sekali berurusan dengan malaikat maut dan kedua orangtuaku harus berkorban demi keselamatanku. Kedua orang tuaku adalah Cenayang yang hebat. Mereka memberiku sebuah mantra sehingga keberadaanku dianggap sebagai manusia biasa oleh malaikat maut.
Saat itu aku masih kecil dan tidak tahu apapun tentang malaikat maut. Aku melihat seorang kakek tua yang selalu diikuti oleh sesosok mahkluk yang berjubah hitam yang tak memiliki wujud dibalik jubahnya. Aku menghampiri kakek itu dan mengatakan bahwa ada yang mengikutinya, seketika aku mendapatkan kekuatan untuk mengetahui akhir hidup seseorang. Lantas aku berkata pada kakek agar besok jangan mandi dan menyuruhnya untuk berbaring saja di kasur.
Beberapa hari setelahnya kakek itu tidak diikuti oleh sosok malaikat maut namun, sosok itu beralih mengikutiku. Sontak aku berlari karena aku melihat diriku mati saat itu juga. Aku menghindari kemungkinan-kemungkinan yang bisa membunuhku, dan bergegas pulang. Ayah dan ibuku yang saat itu dirumah langsung merasakan suhu diruangan tiba-tiba berubah dingin.
"Ayah, ibu.... tolong aku.... ada monster yang mengikutiku" Jawabku
"Sayang anak kita diikuti oleh malaikat maut" Ibuku menatap wajah ayahku dengan wajah pasrah
"Tetap tenang istriku...., nak pakai jimat ini dan bersembunyilah dibawah altar keluarga kita. Nenek dan Kakek akan melindungimu dari dunia lain" Jawab ayahku.
*Aku lantas segera berlari kelantai 2 dan bersembunyi sesuai perintah ayah*
"Istriku maaf aku, kalung pelindung hanya ada 1, dan selama berpuluh-puluh tahun kau bersembunyi didalam untuk menghindari dari malaikat maut, rumah sia-sia saja" Ayah berkata sambil tertunduk lemas
"Kau telah menyelamatkanku dari kematian waktu itu, harusnya aku sudah meninggal 15 tahun yang lalu. Aku sudah bisa merasakan kebahagiaan denganmu itu sudah cukup" Ibuku mendatangi ayahku dan memeluknya.
*Mereka berdua saling berpelukan ketika malaikat maut mulai menarik jiwa mereka berdua keluar dari tubuhnya*
"Nyawa kalian aku cabut paksa karena kalian berdua telah melanggar aturan langit" suara mengerikan dari mahkluk itu menggema keseluruh ruangan.
*Aku bersembunyi hingga esok paginya karena ketakutan, aku tidak merasakan hawa dingin keberadaan malaikat maut dan memutuskan untuk keluar dari altar dan berniat melihat keadaan orang tuaku*
"Ayah, ibu...... kenapa kalian bisa seperti ini" Aku menangis melihat keadaan kedua orang tuaku meninggal dengan keadaan berpelukan dengan luka bakar parah disekujur tubuh mereka.
Polisi menetapkan kasus kematian kedua orang tuaku mati karena bunuh diri. Tidak ada orang yang mau mengadopsi aku karena takut aku akan membawa sial. Akhirnya aku tumbuh besar dengan caraku sendiri. Aku berani meramal nasib seseorang karena ingin membalas kematian orang tuaku dengan merusak tatanan aturan alam. Meski malaikat maut berada dekat denganku, selama aku mengenakan jimat ini aku akan selamat.
Aku tidak pernah menemukan cara membunuh mereka. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tetap mengacaukan aturan langit saja sebagai upaya balas dendamku. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk berhenti, karena setiap meramal aku akan selalu kehabisa tenaga dan akan tidur seharian. Hal ini jelas membuatku hidup dibawah garis kemiskinan, untuk itu aku sudah lelah dan memutuskan untuk melanjutkan hidup.
Aku mengantarkan pizza setiap harinya seperti biasa, tetapi setelah 2 bulan berlalu semenjak mimpi aneh tentang wanita cantik misterius, aku mulai bermimpi lagi tentangnya. Mimpi itu bahkan berulang selama seminggu dan setiap mimpi berbeda-beda cara kematian wanita itu.
Kematian yang pertama, wanita itu akan mati terbunuh oleh pacarnya sendiri. Yang kedua wanita itu akan mati terjatuh dari tangga apartemennya, yang ketiga dia akan mati tertabrak, yang keempat dia akan mati keracunan, yang kelima dia akan mati gantung diri, yang keenam dia akan mati menyayat tangannya sendiri, dan yang terakhir akan mati ditanganku sendiri.
Karena hal ini aku harus meminum obat tidur agar bisa tidur dengan nyenyak. Hari berikutnya tidak ada yang aneh hingga suatu ketika saat aku mengantar pizza tiba-tiba ada sepasang kekasih yang menabrakku ketika aku mengantarkan pizza, yang membuat pizzaku berhamburan dijalan dan ditubuh kedua pasangan itu.
"Dasar Bodoh kalian berdua, jalan hati-hati" Aku memarahi mereka berdua
"Dasar kau ini" Pacar wanita itu lantas bangun dan ingin memukulku
* Karena aku hidup dijalanan, aku menghajar balik pria itu dengan mudah*
"Wah kau hebat juga ya..., terimakasih sudah menghajarnya. Dia memang laki-laki brengsek. Ini uang ganti ruginya. Hmmm pizza diseberang jalan ya..., aku akan sering mampir ketempatmu untuk makan siang" Wanita itu tersenyum dan melanjutkan berjalan sambil membersihkan tubuhnya.
Aku memutuskan meninggalkan laki-laki itu dan kembali ketempat kerja dan melaporkan segala hal yang terjadi kepada bossku.
Hari-hari pun berganti wanita itu menepati janjinya dan sering mengajakku makan siang, meski aku selalu menolaknya, dia wanita yang pantang menyerah.
Saat aku pulang kerja wanita itu menghampiriku dan mengajakku berbicara.
" Kau cukup tampan dan kuat sebagai pengantar pizza, maukah kau menjadi pengawalku karena aku ini seorang diva sehingga banyak orang aneh yang selalu menggangguku" Jawabnya sambil memegang pundakku.
"Tidak" Aku lanjut pergi meninggalkannya.
Beberapa hari aku tidak melihat wanita itu lagi dan aku merasa lega karena dia tidak menggangguku lagi, tapi hal yang lebih mengerikan terjadi. Aku banyak melihat malaikat maut berada dikotaku. Hal ini semacam pertanda akan adanya bencana alam yang akan melanda kota. Malaikat maut akan mulai berjalan mendekati masing-masing korbannya 24 jam sebelum kematian, termasuk diriku mulai dibuntuti oleh malaikat maut.
Aku segera berlari menuju radio kota dan mengatakan pada operator radio bahwa akan terjadi bencana di kota ini. Aku memintanya agar memberikan informasi ini kepada warga sehingga banyak nyawa yang terselamatkan. Tapi operator radio itu menganggapku remeh dan aku merebut siarannya saat sedang menyala. Aku mengatakan kepada semua orang bahwa akan terjadi bencana dan menyuruh mereka untuk segera pergi.
Aku lantas segera pergi dari kota dan secepat mungkin menghindar dari malaikat mautku. Sebelum pergi keluar kota aku kembali pulang untuk mengemasi barang-barang berhargaku. Entah kenapa saat aku melewati kamar 304, malaikat maut tertarik dengan seseorang didalam kamar tersebut. Aku tidak peduli dan mengemasi barang-barangku kedalam ransel.
Saat aku sudah selesai mengemasi barang, aku merasa menyesal karena telah membawa malaikat maut kepada pemilik kamar 304. Akhirnya aku memutuskan untuk memasuki kamar 304 dan memperingatinya.
Aku kaget melihat pemilik kamar 304 adalah wanita yang menjadi DIVA yang setiap siang selalu mengajakku mengobrol selama beberapa minggu ini. Seketika mimpi-mimpi yang kudapatkan malam itu mulai mengisi otakku.
Aku melihat laki-laki yang dulu kuhajar karena menabrakku, sedang duduk dimeja makan , beserta wanita itu. Saat aku melihat mereka berdua tiba-tiba sang laki-laki berkata.
"Jadi kau meninggalkanku hanya karena laki-laki pengantar pizza waktu itu?" Jawab laki-laki itu dengan kesal.
"Tidak dia hanya kenalanku" Wanita itu menjawab
Tanpa pikir panjang laki-laki itu mengambil pisau yang ada dimeja dan hendak menusukku, tetapi wanita itu menghadangnya dan menahan pisau itu. Jika tidak kuubah takdir ini maka wanita ini akan mati. Para malaikat maut juga berdatangan dari jendela dan menyaksikan kejadian itu.
Aku langsung mengambil kursi dan memukulkannya, tepat mengenai kepalanya yang membuat dia pingsan. Seketika para malaikat maut semuanya mengerumuni laki-laki itu. Aku tahu laki-laki itu pasti mati terkena dampak bencana alam jika tidak segera ditolong.
Aku hendak menolongnya tetapi wanita itu menarik tanganku dan mengajakku keluar dan tidak sempat menolongnya.
"Ayo kita lapor polisi" kata wanita tersebut
"kita tidak sempat, ayo kita pergi dahulu dari kota ini" jawabku
"kenapa kau terburu-buru?" tanya wanita itu
" Kota ini sebentar lagi akan hancur" Jawabku
"Ah kau ini melucu, baiklah kalau begitu aku akan pergi ke kantor polisi sendiri" jawab wanita itu
"Baiklah aku tidak peduli padamu" jawabku
Aku memutuskan keluar kota menggunakan motor yang biasa ku gunakan mengantarkan pizza. Aku berkendara hingga ke pinggir kota dan melihat bahwa mereka sudah mengelilingi kota ini dan tak membiarkan seseorang yang harusnya mati keluar dari kota itu. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Hingga aku dulu pernah mendengar cerita ayah saat menyelamatkan ibuku dulu.
Ibuku dulu sudah dinyatakan menderita kanker sedari kecil dan ayahku melihat ibu selalu diikuti malaikat maut saat akan menjalani operasi. Ayahku dan ibuku adalah sahabat sedari kecil dan ayah menaruh hati kepada ibu.
Saat akan menjalani operasi ibuku mengalami kritis. Ayahku yang dari kecil sudah besar dikeluarga Cenanyang mengetahui cara mengelabui malaikat maut dengan membagi energi kehidupannnya dengan orang yang akan mati. Namun hal ini hanya mengelabui mereka dalam hitungan menit saja.
Aku tahu jika aku bisa menyelamatkan wanita itu dari 7 cara kematiannya, aku bisa menggunakannya sebagai jalan aku bisa kabur dari tempat ini. Akhirnya aku kembali menemuinya di kantor polisi, tetapi aku tidak menemuinya dimanapun. Aku menggunakan ingatanku untuk menemukannya.
Benar saja aku menemukannya di toilet wanita dengan pergelangan tangannya yang sudah bersimbah darah dan hendak meminum cairan pembersih lantai.
Aku mencoba merawat lukanya tapi dia malah kabur menuju kejalan raya. Saat berlari menyeberang jalan dia hendak tertabrak mobil. Aku melindunginya dan dia terselamatkan dari takdirnya. Aku sudah menggagalkan 4 jalan kematiannya. Masih tersisa 3 lagi tetapi selama aku didekatnya semua akan baik-baik saja. Aku segera membawanya kerumah sakit agar mendapatkan perawatan dari dokter.
Waktu sudah menunjukkan malam hari, dan waktu terjadinya bencana tinggal 17 jam lagi dan saat ini pukul 20:00.
"Kenapa kau menyelamatkanku bahkan kau saja tidak menganggapku" kata wanita itu
"Maafkan aku, tidak hanya kau saja yang menderita di dunia ini" Jawabku
Mulai saat itu aku dan Grace mulai bercerita satu sama lain mengenai masa lalu masing-masing. Grace masih tidak percaya dengan semua ceritaku. Aku sudah menjelaskan dengan sungguh-sungguh tapi dia masih tidak mau mengakui hal yang ku alami.
Grace meminta aku untuk mengantarkannya kembali ke apartemennya pada pukul 4 pagi hari untuk mengambil barangnya. Betapa kagetnya aku, para malaikat maut sudah menunggu kedatangan Grace dan beberapa dari mereka merasuki Grace. Mereka merasuki Grace dan mengarahkan Grace untuk melakukan gantung diri. Aku berusaha keras menggagalkan perbuatan mereka pada Grace, tapi apa daya, kekuatan Grace melebihi 10 orang.
Aku terpental dan ranselku terjatuh. Tiba-tiba kalung peninggalan kakek dan nenekku keluar dari ransel. Aku pakaikan kalung itu kepada Grace yang sudah bersiap untuk menggantung dirinya sendiri. Aku meminta bantuan leluhurku untuk membantuku. Akhirnya Grace tersadar, dan mulai saat itu Grace bisa melihat para Malaikat maut. Grace kaget dan segera keluar dari kamar 304.
Aku segera menyusul Grace, dan para malaikat maut mengejar kami karena mereka tahu bahwa kami adalah para penentang hukum langit. Aku teringat bahwa salah satu cara kematian Grace yang lainnya adalah terjatuh dari tangga. Aku menggemngam tangan Grace yang sebelumnya jimat itu sudah kugenggam terlebih dahulu ketanganku.
"Genggam terus tanganku jangan kau lepaskan, jika kau lepaskan sebelum keluar dari apartemen makan kau akan mati" kataku kepada Grace
"Baiklah" dengan wajah panik Grace berlari menuruni tangga apartemen
"Kita harus segera pergi dari kota ini, sekarang kau sudah bisa melihat mereka kan" Kataku kepada Grace
"Cepat bawa aku keluar dari sini" Kata Grace
Ketika sudah mencapai batas aku mengambil sebagian energi kehidupan Grace agar aku bisa keluar dari pembatas yang mereka buat. Tapi entah kenapa Grace tertinggal dibelakang dan tidak bisa melewati penghalang.
"Sesuai takdir, kau sendiri yang telah membunuhnya"
*tidak mungkin kenapa hanya aku yang bisa keluar* dalam hati aku berkata
Aku akhirnya kembali menghampiri Grace dan memeluk dirinya.
"Maafkan aku, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian" aku memeluk dirinya dengan erat
"Kau yang sudah membunuhnya, kau tidak bisa mengambil energi kehidupan manusia biasa, hanya Cenayang yang bisa membaginkehidupan"
"bukankah dia bisa melihat kalian" Jawabku
"Bisa melihat tidak berarti dia adalah Cenayang"
Aku mememluk erat Grace sambil mengusap kepalanya untuk menenagkan Grace.
"Cepatlah pergi, aku tidak apa-apa. Aku juga sudah tidak mau hidup" kata Grace
"Tidak, kau masih memiliki seorang anak diluar sana yang menunggumu." Jawabku
******** Aku memberikan jimatnya kedalam saku Grace********
"JANGAN BERBALIK dan melihat " kataku Karena para malaikat maut sudah mulai menarik jiwaku.
"Hiduplah dengan bahagia, Aku selalu menjalani hidup seperti itu tetapi tidak bisa. Tolong wujudkan mimpiku itu" Kataku.
*Aku mendengkapnya dan memberikan kecupan terakhir dikeningnya*
***********
"Telah terjadi angin topan yang dahsyat, yang menghancurkan Kota Sugar River dan hanya satu wanita yang selamat dari bencana tersebut. Saya reporter melaporkan dari tempat kejadian"