Disebuah Rumah yang sederhana, seorang gadis sedang bergelut dengan pekerjaan rumahnya dan di kejutkan dengan suara bising dari arah depan rumahnya.
Dengan segera Ia keluar karena ingin melihat siapa yang membuat keributan di depan rumahnya.
"Ada apa ini?" tanya Syafa dengan wajah bingungnya.
Ya gadis itu bernama Syafa Az-Zahra.
" Bayar hutang adik mu, dia sudah meminjam uang ku sebesar 10juta, dan kamu lah yang menjadi penjaminnya." Ucap seorang wanita yang sudah tidak muda lagi itu.
" Bayu berhutang, tapi untuk apa?" gumam Syafa.
" Kamu mau bayar atau tidak, kalau tidak saya akan menyita barang-barang yang ada di dalam rumah mu.'' Wanita itu berucap lagi.
" Maaf Bu, saya belum punya uang sebesar itu, tapi saya janji akan membayarnya, beri waktu saya Bu," ucap Syafa dengan memohon.
" Baik, saya beri anda waktu selama seminggu untuk mencari uang itu," setelah berucap Wanita itu berlalu begitu saja.
Banyak para tetangga yang hanya menyaksikan dan tidak sedikit pula ada yang terus menggunjingkan Syafa yang tengah menangis itu.
" Salah kakak apa sama kamu Bayu, sampai hati kamu terus menyiksa kakak, hiks." Tangis Syafa yang semakin pilu kala mengingat kelakuan adiknya yang terus saja berbuat ulah dan Syafa lah yang harus menyelesaikan nya.
Dengan langkah yang lemas, Syafa masuk ke rumahnya dan mengunci pintunya, dengan memeluk kakinya, Syafa melanjutkan tangisnya lagi, dia terus berfikir akan mencari uang kemana dengan nominal sebesar itu, sedangkan Ia hanya karyawan pabrik.
" Aku harus kuat, aku akan mencoba mencari jalan keluarnya," tekat Syafa yang sudah mulai tenang.
Syafa Az-Zahra gadis berusia 23 tahun, dia anak pertama dari dua bersaudara. Bayu Pradana adik laki-laki Syafa yang bertabiat buruk, Ia selalu berbuat ulah dan kakaknya lah yang harus menyelesaikan nya.
Syafa dan Bayu korban dari Broken Home, Ibu Ayahnya berpisah dan sidah memiliki keluarga masing-masing, Syafa dan Bayu tidak lagi di perdulikan Ibu dan Ayahnya, mereka menganggap Syafa dan Bayu akan jadi beban jika sala satu di antara mereka membawa Syafa ataupun Bayu.
Kelakuan Bayu semula tidak seperti sekarang, Ia menjadi seperti ini karena bentuk keperotesan dengan takdir.
Keesokannya, Syafa sudah bersiap-siap untuk berangkat bekerja, Ia berangkat menggunakan sepeda yang di belinya di tukang loak saat gaji pertamanya bekerja di sebuah toko.
Sekarang Syafa bekerja di sebuah pabrik yang memproduksi sebuah makanan yang di jual di pasaran.
Saat Syafa sudah berada di pabrik, Ia langsung bergegas untuk melakukan absen fingerprint untuk tanda bahwa Ia hadir di hari kerja.
Pekerjaan yang sangat melelahkan tapi Syafa tidaklah pernah mengeluh, di setiap tetes keringatnya Ia selalu mengingat bahwa Ia masih mempunyai adik yang masih harus di kuliahkan dan harus di beri makan dengan layak walau harus memeras keringat nya sendiri.
Syafa melamun di kala Ia harus memindahkan box yang berisikan makanan yang sudah siap kemas di sebuah rak bersusun lima dan kebetulan seorang pria berpakaian formal melintas di bawah, kejadian yang tidak terduga Syafa menjatuhkan Box itu ke bawah dan menimpa Pria itu.
Brug.
Para karyawan berteriak, teriakan itulab membuat Syafa terjaga dari lamunannya.
"Astaga, apa yang ku lakukan," wajah syok Syafa terlukis.
Beberapa security menghampiri kerumunan karyawan dan terlihat lah seorang pria yang sudah tidak sadarkan diri dan oara security itu segera membawanya ke sebuah klinik terdekat dari pabrik itu berada.
"Syafa, ikut saya." Ucap pria berbadan gempal dan berkepala plontos yang bertuliskan di nametag yang melingkar di lehernya sebagai Supervisor.
"Baik Pak." Syafa berjalan dengan menundukan kepala nya, Ia sangat merasa bersalah karena kecerobohan nya mengakibatkan seseorang terluka dan di bawa ke Klinik.
Sampailah Syafa di ruangan berAc dan sudah ada si pria berbadan gempal itu, tangan yang di lipat di atas berut buncitnya dan tatapan yang mematikan membuat Syafa harus menelan salivanya dengan susah payah.
"Kamu tau salah kamu di mana?" ucap pria itu dengan tegas.
"Sa-saya tau Pak, maafkan saya, saya tidak sengaja," lirih Syafa masih dengan menundukkan kepalanya.
"Sudah kedua kalinya kamu melakukan hal yang hampir serupa, dan kedua kalinya juga kau mengakibatkan seseorang terluka karena ulah mu." Bentak pria itu dengan nada yang tinggi.
"Maafkan saya Pak, saya benar-benar tidak sengaja." Jawab Syafa yang sudah terisak, Syafa sangat tau kesalahannya tapi Ia tak mau sampai Ia di pecat karena saat ini Ia benar-benar membutuhkan uang.
"Saya akan memberikan SP 2 pada mu, dan sekali lagi kamu melakukan kesalahan, surat pemecatan yang akan kamu terima," ucapan supervisor itu membuat Syafa sedikit bernafas lega karena Ia masih di beri kesempatan untuk memperbaiki nya.
"Tapi berbeda urusan jika korban mu tadi meminta kamu di pecat, ya dengan terpaksa saya akan memecatmu." Baru saja bisa bernafas lega, Lagi-lagi Syafa merasakan kekhawatiran dan bingung harus bagaimana.
"Baik Pak, saya mengerti," lirihnya.
"Ya sudah kamu boleh keluar, dan berusahalah untuk meminta Maaf pada korban mu itu," ucap supervisor itu.
"Baik Pak, saya permisi." Syafa pun berlalu keluar untuk dari ruangan supervisor itu.
Melamun lagi sampai Ia tak sadar menubruk seorang gadis seusianya yang sepertinya memang sengaja menunggunya keluar dari ruangan Supervisor itu.
"Aduuhh, eeh kamu kirain siapa." Ucap Syafa.
"Aku heran sama kamu Sya, belakangan ini kamu selalu melamun di tanya kenapa jawaban nya selalu sama, tidak apa-apa. Bahkan aku disini saja kamu tidak melihat ku." Ucap gadis itu yang bernama Mayliani sahabat Syafa dari sekolah SMP sampai sekarang.
"Aku sebenarnya lagi ada masalah, May." Ucap Syafa dengan ragu, pasalnya Ia tidak mau kalau masalahnya di ketahui orang lain.
"Sini duduk dulu," May menarik tangan Syafa kesebuah kursi yang terletak di samping ruangan Supervisor.
"Cerita sama aku, walaupun aku tidak bisa membantu mu banyak seenggaknya dengan bercerita kamu bisa melepaskan beban itu walau sedikit."
Syafa menghela nafasnya, Ia membenarkan kata-kata May, Ia berharap setelah bercerita benan hidup yang di pikulnya sedikit hilang.
"Bayu berbuat ulah lagi, dan kali ini dia sudah meminjam uang pada tetangga ku sebesar 10 juta dan selama seminggu aku harus melunasi nya," jelas Syafa dengan pilu.
"Ya Tuhan, Bayu sudah keterlaluan Sya, terus kamu sudah ada uangnya?" tanya May.
"Kalau sudah ada, tidak mungkin aku memikirkan nya lagi, May." Cetus Syafa karena sedikit kesal.
"Oh iya kau benar😁," ucapnya yang memamerkan gigi kelinci nya.
"Aku punya simpanan hanya satu juta dan 9 jutanya aku harus mencari kemana," ucap Syafa dengan wajah yang bersedih.
"Kau yang sabar ya. Oh ya, aku punya simpanan tidak banyak sih hanya 3 juta tapi itu bisa membuat meringankan utang mu bukan." Ucap Mayliani dengan tulus.
"Tidak May, aku tidak mau melibatkan mu," tolak Syafa halus.
"Aku sangat senang di libatkan dengan urusan mu Sya, karena itu membuat ku merasa di anggap benar-benar sahabat sama kamu," ucapnya lembut.
"Terima kasih May." Mata yang bulat sudah meneteskan airmata lagi karena terharu dengan kebaikan sahabat nya itu.
Di sebuah Klinik, Pria korban kecerobohan Syafa baru saja sadarkan diri, pria tampan dengan setelan formal dan perban di kepalanya meringis memegangi kepalanya.
"Ssstttt sakit sekali," ringisnya.
"Zid, kamu sudah bangun," ucap pria yang baru masuk ke ruangan perawatan itu.
"Aku di mana, Ki?" tanya Zidan, ya pria itu bernama Zidan Wijaya seorang cucu dari pemilik pabrik tempat Syafa bekerja.
"Kamu di Klinik, tadi kamu kecelakaan pas sedang mantau para karyawan," ucap Rizky, Ia adalah teman Zidan.
"Wanita itu, dimana dia. Dia harus tanggung jawab." Ucap Zidan dengan geram.
"Wanita itu sudah mendapatkan SP dari Pak Unang, sudah jangan di perpanjangan lagi." Ucap Rizky memberi nasihati.
'Wanita itu mirip sekali dengan Zira.' Gumam Zidan dalam hati.
Keadaan Zidan tidak parah Ia hanya mengalami cidera ringan yang tidak memerlukan perawatan insentif dan di perbolehkan pulang dengan dokter klinik itu.
Saat Zidan ingin melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan perawatan, ponselnya berdering dan melihat ada nomor rumah sakit yang menelpon nya.
"Halo, Oma sudah sadar, baik saya segera kesana." Daniel mematikan sambungan telepon itu dan segera keluar dari ruangan perawatan dan menuju parkiran mobil.
"Lhi Zid, kamu mau kemana?" tanya Rizky yang melihat Zidan menghampiri nya dengan sedikit tergesa-gesa.
"Oma sadar Ki, Aku harus ke rumah sakit." Ucapnya dengan cepat dan masuk ke mobil tapi langsung di halangi Rizky.
"Biar aku yang menyetir." Ucap Rizky dan di setujui Zidan.
Mereka pun berlalu dari Klinik menuju Rumah sakit Pelita Hati untuk menemui Sang Oma yang sudah sadar dari komanya.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di pelataran Rumah Sakit Pelita Hqti dan langsung menuju ruang inap VVIP tempat Omanya di rawat.
"Oma," lirih Zidan setelah masuk ke ruangan dan melihat sang Oma yang sudah membuka matanya.
"Zidan, cucu Oma." Ucap sang Oma dengan terbata-bata, air mata yang menetes saat melihat cucu kebanggaan nya berada di Hadapannya.
"Oma sudah sadar, Zidan sangat khawatir dengan Oma." Zidan memeluk tubuh rentan sang oma dengan hati-hati.
"Bagaimana keadaan Zira, Zidan." Pertanyaan itu membuat Zidan dengan cepat melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.
"Zi-Zira baik-baik saja, Oma." Jawabnya dengan tergagap.
"Syukur lah, lalu dimana dia?" tanya Oma.
"Zira di larikan ke luar kota untuk mendapatkan perobatan dengan fasilitas yang lebih lengkap dari Rumah Sakit ini, Oma." Ucap Zidan dengan yakin, tapi sedetik kemudian Zidan merutuki jawabannya sendiri dalam hati.
"Kau bilang Zira baik-baik saja, tapi kenapa harus melakukan pengobatan dengan fasilitas yang lebih lengkap, berarti keadaan nya sangat mengkhawatirkan." Ucap Oma dengan rasa khawatir yang teramat sangat.
"Tidak Oma, Oma jangan terlalu banyak berfikir. Seminggu lagi Aku akan menjemput nya di bandara karena Zira akan pulang ke sini." Ucap Zidan berbohong lagi.