“Happy birthday Dhira,” mama, papa, serta Andre kakanya mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
Hari ini Dhira Dityani berulang tahun ke 18, ia mendapat banyak kado.
~~~
Disekolah,
“Happy birthday!” Ari dan Putri serta teman teman lainnya memberikan sejumlah kado padanya, tentu berisi benda benda kesukaannya.
“Selamat ulang tahun Dhira,” Dhonny memberikan sebuah kado yang lumayan besar padanya.
“Makasih,” jawab Dhira jutek.
Dhira meletakkan kado dari Dhonny itu di atas mejanya, “Eh, ini dari siapa?”
Dhira memperhatikan sebuah kotak kecil yang ada di mejanya, ia menggambil dan membolak balik kotak itu.
“Pokoknya siapapun yang ngasih, terima kasih,” Dhira tersenyum senang.
Sepulang sekolah Dhira membuka satu per satu kado itu, pertama kali ia membuka milik teman temannya, setelah semua dibuka ia membuka kado dari Dhonny, isinya cangkir berbentuk beruang, boneka beruang kecil jaket merah maron.
Kado terakhir yang ia buka adalah kado misterius tadi, kadonya adalah kado paling kecil dari semua kado “Haaa..”
Dhira terkejut bukan main, ternyata isi dari kado itu adalah boneka kecil yang sangat imut berbentuk kucing dengan bulu lembut warna putih.
“Ini imut banget..” ia kemudian melihat ada kertas bertuliskan.
‘Untukmu dari Reyansyah’
Dhira tak pernah menyangka Reyansyah, sosok yang dari dulu ia kagumi dari jauh memberi kado ulang tahun untuknya, secara misterius
Boneka Kucing itu diberi nama Naomi, walaupun hanya sebuah boneka Dhira sangat senang, bukan karena bentuknya kucing tapi itu adalah pemberian Reyansyah, idolanya sejak SMP.
Malam harinya, Dhira mendengarkan lagu dengan headset ia berbaring di tempat tidurnya, dan Naomi (boneka kucingnya) ada di dekapannya, “Huft, gue ngantuk”
***
Pagi,
“Dhira, sarapan!” pinta mamanya
“Nggak, aku langsung lari pagi,” Dhira mengikat tali sepatunya dengan kencang.
“Kakak kamu mau ke kampus, mama mau ngantar kakak kamu nanti,”
“Iya ma,” Dhira keluar dari rumahnya.
Setelah berjalan sebentar, Dhira duduk di sebuah kursi, ia memegangi Naomi sambil mengelusnya Naomi selalu ada di dekatnya karena Naomi adalah kesayangannya (sekarang).
Dhira memandangi jalanan komplek yang ramai, orang orang itu berjalan jalan atau cuma sekedar lewat.
Hari itu ia sangat senang jika ia bisa terbang rasanya ia ingin terbang sampai ke ujung alam semesta.
“Dhira,”
“Iya” Dhira menoleh, ternyata yang memanggilnya itu Dhonny. Namanya bukan kesal, tapi sangat jengkel.
“Kamu lari pagi,”
“Iya,”
~nyinyir banget ih~ batin Dhira.
“Kamu bilang kamu suka sama aku, berarti kita saling suka,” entah apa alasan Dhonny mengatakan itu tapi yang pasti Dhira tidak menyukainya.
“Terus?” tanya Dhira datar.
“Kenapa kamu gak mau jadi pacar aku?”
“Kan gue udah pernah bilang, cinta ini cuma lo yang..” belum sempat Dhira meneruskan, Dhonny memotong kata katanya.
“Iya, aku tahu, tapi aku udah gak sanggup liat kamu sama cowok lain,”
“Iya aku suka kamu tapi sebatas teman biasa, aku gak cinta atau sayang sama kamu,” timpal Dhira.
“Suka, sayang dan cinta itu sama,"
“Salah, suka cinta dan sayang itu beda. Suka adalah rasa nyaman, sayang adalah rasa peduli, sedangan cinta adalah gabungan keduanya,” jelas Dhira agak marah.
“Ok, tapi aku mau kita pacaran!” tegas Dhonny.
“Kok maksa? aku udah bilang aku gak mau, ya gak mau,” Dhira berlari menjauhi Dhonny.
Berlari tanpa tujuan sambil menahan tangis, ia tak tahu harus kemana lagi jika ia kerumah maka ia akan di introgasi. Ya tentu karena adanya air mata di wajahnya.
BRUK. Dhira menabrak seseorang. ia mendongak ~Rey~ batinnya meledak bisa berpelukan dengan Rey, most wanted di sekolahnya. Orang yang memberikan hadiah padanya.
"Kenapa lo nangis?" Rey memegang pipi Dhira.
Dhira menggeleng cepat.
"Bilang," tegas Rey, lebih tepatnya membentak.
"Dhira, gue gak maksud," Dhonny yang tiba tiba datang langsung di hantam tatapan tajam dari Rey.
"Lo apain Dhira?"
"Urusan?" Dhonny menaikkan sebelah alisnya.
Dhira disembunyikan Rey di balik tubuhnya. "Urusan, urusan banget, penting," tekan Rey.
"Gue cuma.."
BUG. Seketika sebuah pukulan keras mendarat di wajah Dhonny, "Kalo gue liat lo ganggu Dhira lagi, mati lo!" bentak Rey melihat kasihan pada cowok yang sudah terhempas di depannya.
"Sok," Dhonny bangkit.
BUG, kali ini Dhonny yang memukul Rey. Pukulan demi pukulan menghantam satu sama lain, sedangkan Dhira hanya ketakutan.
"Udah!" Dhira menengahi, tapi bukannya berhasil melerai perkelahian itu, Dhira justru terjatuh karena Dhonny yang salah sasaran.
"Dhira, lo gak apa apa?" ujar kedua orang itu.
"Dhonny, gue benci lo! gue benci lo!" deraian air mata menggenangi wajah Dhira.
"Hiks," Dhira menarik jaket milik Rey, "antar aku pulang," sadar atau tidak, Dhira gak peduli, ia ingin pulang, di antar oleh orang 'baik' bukan idolanya.
"Ayo naik," Rey menyodorkan punggungnya, Dhira melingkarkan tangannya di leher Rey.
Dhonny sangat sial, pertama kehilangan Dhira, dan kedua, ia di hajar, ketiga ia di caci dan di maki oleh Dhira.
~cinta itu pahit
~apalagi cinta yang berlebihan
~sangat sakit
Akhirnya Dhira mulai tenang di kursi taman yang terletak di ujung komlek perumahan. Rumahnya tinggal 10 meter lagi.
“Fiuh, kenapa hidup aku kayak gini,” keluhnya.
“kenapa?” amarahnya seketika berubah menjadi tangis.
"Udah, lo yang tenang," Rey memperbaiki posisi Dhira di punggungnya.
“Sebelum SMA kita pernah ketemu?” Rey mencoba memastikan, ia sudah beberapa kali memperhatikan, dan hasilnya juga sama. Ini juga untuk mengalihkan pembicaraan.
Dhira tersenyum tipis, “Ya, kita satu SMP, cuma beda kelas,"
“Oh, kamu yang kesiram air cucian piring kan?” ujar Rey sekali lagi untuk memastikan. Aksen berbicara nya berubah 'aku-kamu'.
“Ha?” Dhira tidak menyangka Rey mengetahui kejadian memalukan itu, padahal yang melihat itu hanya Karin (temannya).
“Gimana kamu tahu?"
“Aku..” Rey tidak bisa menjawab itu, mukanya berubah aneh saat Dhira menanyakan hal itu, “merhatiin kamu,” jawabnya santai melihat kedepan.
“Sejak kapan?” Dhira mulai berharap.
“Lama,”
“Kenapa?”
“Cinta...” Rey berbisik, Dhira bahkan tidak bisa mendengarnya.
“Ha, apa”
“Cinta, mungkin aku suka sama kamu," kali ini suaranya lebih lantang dan menoleh ke wajah Dhira yang ada di pundaknya.
"Ha,"
"Gak denger gak masalah," santai Rey.
"Oh," Dhira tidak menduga ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, karena Rey juga merasakan hal yang sama.
"Kamu juga cinta kan?"
"Apaan?" Dhira malu malu kucing.
"Entah, sejak SMP aku terus ingat kejadian itu, kejadian yang bikin aku ketawa, tapi aku gak tau siapa kamu, dan di SMA, kata kata itu 'badan gue mahal, gak ada yang jual, enak aja' bikin aku ingat," Rey meniru cara berbicara khas Dhira.
Dhira cengengesan mengamati khas dirinya.
Setiap Dhira di Jetak dia pasti bilang, "kepala gue mahal, gak ada yang jual,"
Setiap Dhira di cubit pipinya dia pasti bilang, "pipi gue mahal, gak ada yang jual,"
dan lainnya.
"Hehe," Dhira mencengir.
“Oh iya, makasih udah ngantar aku sampai sini” ujar Dhira sambil tersenyum.
“Iya sama sama.”
"Aku masuk," baru saja Dhira memegang gagang pintu Rey membelok badannya dan langsung mengecup bibirnya.
"Mulai besok kita pacaran."
"Ho," kaku Dhira setelah kepergian Rey yang meninggalkan senyuman termenis yang pernah Dhira lihat.
“Bye,” Dhira melambaikan tangannya, ia masuk kerumahnya dengan tetap melihat kearah Rey, namun ketika Rey menoleh ia langsung bergegas masuk.
Malam itu tak henti hentinya Dhira tersenyum, ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
~END~
Uwu banget gak sih...