Dia selalu menuruti apa pun yang ibunya perintahkan demi kebaikan. Namun malam itu, dia sangat menyesal.
●●●
Hari beranjak malam, dan cakrawala berangsur gelap. Jarum jam berdetak seiring angkutan yang mereka tumpangi mendekati sebuah lahan luas. Warna-warni lampu yang terang membuatnya terpukau. Sudah lama sejak pasar malam terakhir tiba di desa ini.
"Nanti kita mainkan semua permainan, ya, Bu?" seru bocah itu antusias. Wanita berambut hitam yang duduk di sampingnya sontak tersenyum lembut. "Iya, sayang. Tapi, ingat! Jangan bermain tanpa pengawasan Ibu. Oke?" Mendengar kalimat itu, anaknya langsung mengangguk paham.
Ia bernapas lega. Dalam hati sangat bersyukur karena memiliki anak yang penurut.
Sesampainya di sana, mereka berjalan masuk dengan mata berbinar takjub. Wahana-wahana besar yang dihias indah tampak sangat memukau. Bocah berumur 10 tahun itu menarik tangan ibunya menuju kotak besi panjang berisi satu patung manusia kerdil yang menyerupai jin.
"Ibu! Ibu! Peramal!" Ia melompat-lompat sembari membaca tulisan besar di atas kaca tempat jin itu terlihat. Matanya berwarna merah, membuat sang ibu sedikit merinding.
Tanpa aba-aba, ia memasukkan koin yang tadi diberikan oleh ibunya. "Ayo beri kami ramalan! Apakah besok Ayah akan pulang?" Wanita itu tersenyum pahit, lalu memegang pundak anak tunggalnya. "Levi ... Ayah tidak bisa pulang besok. Kita sudah membicarakannya, kan?"
"Kau akan mendapatkan kebahagiaan besok!" seru patung jin itu dengan mata bercahaya. Bocah bernama Levi tiba-tiba melompat girang, kemudian memeluk paha ibunya. "Berarti besok Ayah akan pulang! Ibu sendiri yang pernah bilang, 'kita tidak boleh berhenti berharap!'" Mau tak mau, ia hanya bisa mengangguk dan tersenyum hangat.
Tidak sanggup menghancurkan harapan anak kesayangannya.
Mereka kembali berjalan, lanjut mengelilingi pasar malam yang luas. Beberapa permainan berhasil di menangkan oleh sang ibu, sukses membuat Levi bersorak bangga. "Ingat, jaga boneka-boneka ini dengan baik. Jangan sampai rusak, atau pun hilang. Mengerti?" dia bertanya seraya memberikan hadiah boneka yang ketiga.
"Mengerti!" seru Levi mantap.
Kini mereka sedang berdiri bersama pengunjung lain yang mengantri untuk naik wahana kincir angin. "Ibu! Ibu! Kenapa kincir angin itu sangat besar?" tanya Levi sambil menunjuk-nunjuk ke arah depan. "Agar kita semua bisa muat di dalamnya," jelas sang ibu.
Tidak berhenti disitu saja, Levi sibuk bertanya selama mereka menanti giliran. Ibunya begitu sabar menanggapi dan menjelaskan apa pun yang ingin dia ketahui. Namun sayangnya, tidak semua orang memiliki tingkat kesabaran yang sama.
"Buk! Anaknya bisa diam gak?!" Seorang pria bertato menoleh dengan tatapan sinis. "Ma-maaf, Pak. Umurnya baru sepuluh tahun, jadi—"
"Saya gak nanya! Lagi pula, Anda ini wanita yang hamil di luar nikah itu, kan? Ngapain datang ke sini?!" hardik Pria itu habis-habisan. Ibu Levi terpaku bisu. Wajahnya berubah pucat saat kalimat hina tadi terdengar. "Pantesan aja berisik. Anak haram ternyata," lanjutnya.
Ia cepat-cepat menutup rapat kedua telinga Levi. Matanya melotot tajam, menatap si pria garang dari atas sampai ke bawah. "Tolong jaga kalimat Anda! Lagi pula, orang seperti Anda sama sekali tidak punya hak untuk merendahkan status saya dan anak saya!" sinisnya dengan wajah memerah.
"Apa kau bilang?!" Tinjunya diangkat, siap menghajar wanita yang berani mengangkat dagu di hadapannya.
"Aahh!" ia berteriak kesakitan saat Levi mencakar perut buncitnya sekuat tenaga. Dia langsung menarik ibunya mundur, menatap bengis ke arah pria itu.
"Kau bukan pria sejati! Sampah! Ayahku yang jarang pulang jauh lebih baik darimu! Besok saat dia pulang, kau akan tahu akibatnya! Huhuhu ...," Levi terus berteriak marah, sampai akhirnya tak kuat membendung tangis. Wanita itu terpelongo, kaget sekaligus takjub pada sikap anaknya.
Ia memeluk Levi erat-erat sembari mengelus kepala dan punggungnya. Para pengunjung dan beberapa petugas keamanan menyingkirkan pria itu dari antrian.
"Sayang ... tenanglah ... jangan menangis lagi ... ibu baik-baik saja, kok ...." Meskipun tangisnya mereda, Levi masih sesenggukan. "Lain kali, jangan berkata seperti itu lagi, yah?" ucapnya sembari menghapus air mata sang anak. Levi refleks tersenyum senang saat ciuman ibunya mendarat di pipi kiri. "Hehehe ... maaf, Bu."
Setelah hiruk pikuk yang sempat mengganggu, Levi dan ibunya kembali bersenang-senang. Beberapa orang memperhatikan mereka dengan pandangan yang sulit diartikan. Namun, mereka berdua tidak acuh.
Malam semakin larut. Banyak pengunjung mulai bergegas pulang. Levi dan ibunya berjalan ke gerbang keluar dengan masing-masing tiga boneka lucu di pelukan mereka.
"Apa malam ini menyenangkan?" tanya wanita itu sembari berjalan di sebelah anaknya. Levi mengangguk cepat, lalu berkata, "Iya, Bu! Sangat menyenangkan! Mungkin peramal itu salah. Buktinya kita sudah bahagia malam ini." Sang ibu terdiam, bingung harus menjawab apa.
Sudah lama mereka menunggu, tetapi tidak ada satu angkutan pun yang terlihat. Levi mulai rewel karena mengantuk. Jantungnya berdebar cemas, takut sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya.
Dari ujung jalan, dua buah lampu terang mendekat bersamaan. Senyumnya merekah, berharap kendaraan itu adalah angkutan yang akan mengantar mereka pulang.
Namun ketika cahaya itu mendekat, tampak samar-samar sesosok pria yang duduk di balik kursi kemudi. Matanya membelalak kaget. Pria gila yang familiar itu tersenyum miring tanpa berniat menurunkan kecepatan.
"Levi! Levi, BANGUN!!" Si anak melompat kaget, terbangun dari tidurnya. Ia melongo kesana kemari, belum sadar seutuhnya. "Ibu? Ada apa?" Tanpa mendapatkan jawaban, Levi perlahan di dorong menjauh dengan teriakan-teriakan panik.
"LEVI, LARIII! SEMBUNYI DI TIANG BESAR ITU! JANGAN BERBALIIIK!" titah ibunya sekuat tenaga. "Tapi kenapaaa?!" Levi bertanya seraya berlari mematuhi perintah ibunya. Begitu sampai di sana, Levi berdiri ketakutan di balik tiang dengan napas tersengal-sengal.
BRAK! DUAR!
●●●
Surya bersinar terang, tetapi tak sanggup menerangi kegelapan di hatinya. Orang-orang ramai berdatangan, meski dia tidak kenal. Seorang pria yang selalu dia rindukan ikut hadir menampakkan diri.
"Kamu harus menjadi anak yang kuat ...." Hanya itu yang bisa dia katakan sembari menepuk pundak kiri anaknya. Padahal semua orang tahu, dia turut mendapatkan luka yang sama.
Levi menoleh dengan senyuman pahit. "Ayah memang pulang hari ini. Tapi ... mungkin kebahagiaan yang dimaksud si peramal adalah jika Levi melawan perintah ibu malam itu."
●●●
Terima kasih sudah membaca!;)
[NB: Sama sekali tidak berhubungan dengan anime AOT, hanya meminjam nama dan gambar saja]