Senja tlah mnampakan diri dengan semburat warna jingga di upuk barat, mentari perlahan menenggelam kan diri untuk malam yang akan datang. Segerombolan burung yang nampak terbang menuju pepohonan tempat nya bernaung bersiap menyambut datang nya sang rembulan malam.
Aku berjalan sendirian entah dimana kini aku berada. Sepanjang mata memandang hanya ada pepohonan yang aku dapati, aku berlari terus berlari namun, bukan jalan pulang yang ku temui, aku hanya berputar dan terus berputar kembali pada pohon yang sebelum nya telah aku tandai.
"Astaga aku tersesat. Aku harus bagaimana," hiks...aku menangis, aku bingung aku tak tau jalan pulang. Seandainya saja aku tidak terpisah dari teman ku kala aku mendaki gunung tadi pasti kejadiannya tak akan seperti ini.
Aku menggigil ketakutan, mata ku kian menajam seiring rasa takut yang kian membuncah dalam setiap deru napas ku, ku pertajam pendengaran ku.
Krasak...wak..wak..wak..
'Su-suara apa itu,? Aku menyipitkan panadangan, ku lihat pepohonan bergoyang di iringi daun yang berguguran. Glek....aku menelan saliva ku. Keringat membanjiri pelipis ku, pun dengan kaus yang ku kenakan sudah basah akibat banjir keringat dari tubuh ku. Entah mengapa hawa dingin di hutan ini, tak terasa dingin di tubuh ku, aku malah berkeringat, perut ku pun terasa mual, jantung tak hentinya bedetak kencang.
Kuk...kuk...kuk..
"Sial kenapa harus ada suara burung hantu sih," keluhku. Ku raba bulu kuduk ku yang kian meremang, ku lipat tangan ku di Dada. "sekarang aku harus berjalan ke arah mana? Jangan kan berjalan dalam gelap ketika terang pun aku tersesat," aku mengacak rambut prustasi, aku bingung harus jalan ke arah mana.
"Rania...," ucap seseorang pelan, seketika aku merinding, bulu-bulu ku berdiri tegak.
"Kemarilah...," Suara mirip perempuan itu kembali terdengar.
"Ikutlah dengan ku. Aku tau jalan pulang...khi..khi..khi."
'Sial, kenapa di saat seperti ini aku harus bertemu makhluk mengerikan ini,' gumam ku dalam hati.
"Berbalik lah, dan ikut dengan ku," pintanya dengan suara lembut khasnya.
'Jangan berbalik Rani abaikan saja apa yang dia katakan,' perintah otak ku sendiri. Aku berjalan mengikuti insting ku, entah kemana aku berjalan aku pun tak tau. Jika aku terus di sini aku takut, bahkan makhluk itu terus mengikuti ku di belakang.
Hmmmm....hm....hmmm
Senandung yang keluar dari mulutnya, membuat tubuh ku kian bergidik ngeri, makhluk itu terus mengikuti ku dari jarak satu meter, mungkin karena aku membentengi diri ku dengan dzikir dan juga lapalan ayat kursi dan beberapa surat-surat pendek yang ku tau. Namun, tetap saja semua itu tak mampu menghilangkan rasa takut ku.
Aku terus berjalan setengah berlari. "Berbaliklah Rani, aku teman mu. Temani aku di sini, aku kesepian," hiks...hiks... Kini giliran isak tangis yang ku dengar dari belakang ku.
'Abaikan saja Rani, jangan dengarkan makhluk itu,' suara di kepala ku memerintah.
Aku terus berjalan hingga aku mendengar suara sayup-sayup di kejauhan memanggil-manggil nama ku.
"RANI....RANI...KAMU DIMANA?" Itu adalah suara teman-teman ku.
'Aku disini,' jawab ku, namun entah mengapa bukan suara yang keluar dari mulut ku, tapi hanya lenguhan saja.
Em...em...'kenapa ini? kenapa aku tidak bisa bicara?'
"Rani....," suara itu kini seolah ada tepat di dekat telinga ku.
Sebuah tangan yang terasa dingin bak air es, tiba-tiba muncul dan membekap mulut ku.
"Rani...aku teman mu," seketika bau anyir memenuhi indra penciuman ku.
Deg...deg...deg...Jantung ku berdegup kencang, hawa dingin menyeruak di sekujur tubuh ku. Aku diam terpaku bak terhipnotis, aku tak dapat bergerak atau pun bicara, hanya gejolak dalam jiwa ku yang kian memanas.
'Ya tuhan tolong aku,' lirih ku dalam hati. Tangan dingin itu terus membekap ku, dan tangan yang satunya lagi sudah akan menjangkau mata ku. Kuku-kuku panjangnya yang berwarna hitam keunguan itu meraba wajah ku. Seketika pandangan ku gelap.
'Berdzikirlah Rani, berdo'alah,' suara itu kembali timbul di kepala ku. Seketika ku lapalkan do'a dan surat-surat pendek yang ku tau.
"Aaaa.....aaaa panas...panas.." ku dengar makhluk itu berteriak histeris, aku terus berdzikir tiada henti hingga pada akhirnya makhluk itu pergi.
Seketika napas ku terasa lega namun, aku tak hentikan dzikir yang keluar dari mulut ku, aku takut makhluk itu kembali.
Srak...srak... Sebuah cahaya menyorot tajam ke arah ku, membuat mata ku silau akan cahaya nya, ku tutupi pandangan ku dengan telapak tangan ku.
"RANI....HEY....RANI ADA DI SINI DIA TELAH DI TEMUKAN...!!!!"
"Syukurlah..." ucap semua orang. Ternyata itu adalah teman-teman ku beserta TIM SAR yang datang untuk mencari ku.
Aku dibawa kembali ke tenda dan di rawat di sana, aku menceritakan segala pengalaman ku selama tersesat di hutan pada teman-teman ku. Mereka tampak terkejut dan bergidik mendengarnya, mereka bilang mereka salut pada ku karena bisa kembali lagi.
Tamat.