Malam itu adalah tanggal tiga belas dalam penanggalan Jawa. Di luar jendela rumah mewah yang terletak di sudut kota yang sunyi, langit malam tampak bersih, memamerkan bulatan bulan yang hampir paripurna. Cahayanya yang keperakan tumpah ruah, menembus sela-sela gorden sutra di kamar utama.
Di tengah kamar, Aryo berdiri dengan segelas wiski di tangan kanan, sementara mata serakahnya tak berkedip menatap sosok wanita yang duduk bersila di atas permadani beludru.
Wanita itu bernama Nawang. Parasnya begitu elok, melampaui segala definisi kecantikan wanita bumi. Kulitnya seputih pualam, memancarkan pendar cahaya lembut sewarna perak yang entah bagaimana membuat lampu kamar sedemikian redup tak berarti. Setiap kali tanggal tiga belas tiba, atmosfer di sekitar Nawang selalu berubah. Udara malam yang biasanya gerah seketika menjadi sejuk, membawa aroma wangi bunga wijayakusuma yang mekar di tengah malam.
"Nawang," panggil Aryo, melembutkan suaranya seolah ia adalah pria paling mencintai di dunia. Ia berlutut di hadapan wanita itu, menggenggam jemari Nawang yang terasa hangat dan sehalus sutra. "Proyek tender di pusat kota besok pagi adalah pertaruhan hidup dan matiku. Jika aku gagal, semua usaha kita selama ini akan hancur."
Nawang membuka matanya. Sepasang manik mata yang jernih bagai telaga itu menatap Aryo dengan ketulusan yang teramat dalam. Bagai bidadari yang turun dari rembulan, cinta Nawang kepada Aryo adalah jenis cinta yang buta dan tak bersyarat. Bagi Nawang, Aryo adalah pelabuhan sukmanya di dunia fana ini.
"Kenapa kamu harus cemas, Mas?" suara Nawang mengalun merdu, mirip petikan kecapi yang menenangkan. "Selama rembulan masih menyinari bumi pada malam-malam ini, kekuatanku adalah milikmu. Apa yang kamu inginkan, katakanlah."
Aryo menahan senyum kemenangannya. "Aku ingin seluruh petinggi perusahaan itu bertekuk lutut besok. Aku ingin angka kontrak tertinggi jatuh ke tanganku tanpa celah."
Nawang mengangguk perlahan. Ia memejamkan mata kembali, menarik napas dalam-dalam seiring dengan cahaya rembulan di luar jendela yang mendadak bersinar lebih terang, seolah ditarik masuk ke dalam tubuhnya. Dada Nawang naik turun, mengumpulkan energi gaib yang mencapai puncaknya malam itu.
Seketika, angin berembus kencang di dalam kamar yang tertutup rapat, menerbangkan ujung-ujung rambut hitam Nawang yang panjang. Di mata Aryo, pemandangan itu adalah kombinasi antara keindahan magis yang memukau dan mesin pencetak uang yang tak ternilai.
"Sudah, Mas," bisik Nawang beberapa saat kemudian. Suaranya terdengar sedikit lebih berat dari sebelumnya, dan pendar di kulitnya sedikit meredup, menyisakan kelelahan yang samar. "Besok, duniamu akan berubah seperti yang kamu mau."
Aryo langsung memeluk Nawang erat, menghujani wajah bidadari itu dengan kecupan-kecupan penuh kepalsuan. "Terima kasih, Sayang. Kamu adalah hidupku."
Namun, di dalam kepala Aryo, rencana lain yang jauh lebih kelam sedang berputar. Ia tahu betul aturan mistis ini: Nawang hanya memiliki kekuatan penuh pada tanggal 13, 14, dan 15 Jawa. Setelah malam tanggal 15 berlalu dan bulan mulai menyusut, Nawang harus kembali ke dimensinya di balik rembulan untuk memulihkan energinya selama sisa bulan berjalan, sebelum bisa turun kembali menemui Aryo.
Aryo mulai merasa tidak puas jika harus menunggu sebulan sekali hanya untuk mendapatkan keajaiban. Baginya, satu bulan adalah waktu yang terlalu lama untuk orang yang sedang gila harta. Dia tidak ingin Nawang pergi ke mana pun. Dia ingin mengunci bidadari ini di bumi, menjadikannya tawanan pribadi yang bisa ia peras kekuatannya kapan saja ia mau.
Dua hari kemudian, saat tanggal lima belas Jawa mencapai puncaknya, Aryo diam-diam melangkahkan kaki ke sebuah rumah kayu yang pengap di pinggiran hutan kota—tempat seorang dukun ilmu hitam yang sudah ia bayar mahal telah menunggunya dengan selembar kain kafan bertuliskan rajah hitam.
Malam merayap menuju angka dua pagi pada penghujung tanggal lima belas Jawa. Di atas ranjang mawar, Nawang tertidur dengan sisa-sisa cahaya keperakan yang masih menyelimuti tubuh anggunnya. Malam ini adalah batas akhir baginya di bumi. Beberapa jam lagi, sebelum fajar menyingsing, jiwanya harus membumbung kembali ke balik pelukan rembulan untuk memulihkan energi sucinya yang terkuras habis demi ambisi Aryo.
Aryo berjalan berjinjit memasuki kamar. Langkah kakinya tak bersuara, tertutupi oleh deru pendingin ruangan. Di tangan kanannya, ada sebotol minyak mistis berwarna hitam pekat yang baunya anyir seperti darah bercampur kemenyan, serta selembar kain kafan kecil penuh coretan rajah sulur berduri.
Wajah Aryo malam itu tak lagi menampakkan binar cinta. Yang tersisa hanyalah raut dingin seorang pemburu yang tak ingin mangsanya lepas.
"Maafkan aku, Nawang. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi setiap bulan," bisik Aryo teramat pelan.
Dengan jemari yang gemetar oleh perpaduan rasa takut dan gila harta, Aryo mencelupkan telunjuknya ke dalam minyak hitam. Ia mendekati Nawang, lalu dengan perlahan mengoleskan minyak itu ke telapak kaki sang bidadari, membentuk pola rajah gaib yang melingkar rumit hingga ke pergelangan kakinya.
Begitu cairan anyir itu menyentuh kulit pualam Nawang, sang bidadari sedikit menggeliat dalam tidurnya. Alisnya bertaut. Di alam kasat mata, dari titik rajah tersebut, mendadak tumbuh sulur-sulur hitam tak terlihat yang berduri tajam. Sulur itu merambat secepat kilat, melilit kedua kaki Nawang, lalu menancap ke dalam pori-porinya, menjangkar sukmanya langsung ke lantai bumi.
Aryo tersenyum puas melihat Nawang tidak terbangun. Ia segera menyembunyikan botol minyak dan kain kafan rajah itu di dalam brankas besi di balik lemari pakaiannya.
Beberapa jam kemudian, fajar menyingsing. Tanggal enam belas Jawa telah tiba.
Nawang terbangun dengan rasa sakit yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Dadanya terasa sesak, seolah atmosfer bumi mendadak berubah menjadi air raksa yang menghimpit paru-parunya. Ia mencoba bangkit, berniat untuk melompati jendela dan melebur bersama sisa cahaya pagi menuju khayangan rembulan. Namun, tubuhnya terhempas kembali ke atas kasur. Kedua kakinya terasa seberat timah.
"Mas... Mas Aryo..." panggil Nawang dengan suara yang bergetar menahan perih.
Aryo yang sedang bersiap mengenakan setelan jas mewahnya—hasil dari tender yang kemarin sukses besar—berbalik dengan wajah yang pura-pura terkejut. "Nawang? Kamu belum kembali ke atas? Ada apa dengan tubuhmu?"
Nawang menatap lengannya sendiri dengan pandangan nanar. Cahaya keperakan yang biasanya memancar indah dari kulitnya kini meredup drastis. Kulit pualam itu kehilangan binarnya, menjadi sangat pucat dan sedingin es. Ketika Nawang menggerakkan jemarinya, rasanya begitu kaku. Tubuhnya tidak membusuk, tidak pula terluka, melainkan kehilangan bobot spiritualnya. Ia merasa sangat rapuh, kering, dan lemas, persis seperti sehelai daun di musim gugur yang lepas dari ranting dan siap luruh ke tanah kapan saja.
"Aku... aku tidak bisa kembali, Mas," bisik Nawang, setitik air mata bening bergulir di pipinya yang tirus. "Energi bumi mengikatku. Kesucianku terkontaminasi oleh sesuatu yang hitam... aku merasa sangat lemah."
Aryo menghampiri, memeluk Nawang dengan kehangatan palsu yang kini terasa memuakkan jika tahu apa yang ada di dalam hatinya. "Jangan takut, Sayang. Mungkin bumi sedang merindukanmu. Anggap saja ini takdir agar kita bisa bersama lebih lama. Aku akan merawatmu."
Namun, kata "merawat" bagi Aryo adalah kebohongan terbesar.
Sejak hari itu, dengan Nawang yang terjebak di bumi dalam kondisi selemas daun kering, Aryo mulai menunjukkan belang aslinya. Uang hasil keajaiban Nawang ia gunakan untuk berfoya-foya. Rumah mewah itu mulai sering didatangi wanita-wanita lain saat Nawang dikurung di kamar atas. Aryo tak lagi memedulikan rasa sakit Nawang yang setiap hari merintih karena sukmanya terus-menerus diisap oleh rajah sulur berduri di kakinya.
Hingga suatu siang, saat Aryo sedang pergi ke luar kota bersama selingkuhannya, Nawang mencoba merangkak turun dari tempat tidur. Dengan tubuh yang teramat ringan dan rapuh, ia terseret hingga ke dekat lemari pakaian karena mencium bau anyir yang sangat menyengat—bau yang memicu rasa sakit di kakinya.
Dengan sisa tenaga yang ada, tangan Nawang yang gemetar menyentuh bagian bawah lemari, hingga ia tidak sengaja menemukan sebuah laci rahasia yang tidak terkunci rapat. Di sana, tergeletak sisa sesajen, botol minyak hitam, dan robekan kain kafan dengan pola rajah yang sama persis dengan rasa sakit yang mengikat kakinya selama ini.
Sembari menggenggam robekan kain kafan yang anyir itu, pandangan Nawang mendadak mengabur. Ingatannya dipaksa melesat mundur ke satu tahun yang lalu, pada malam tanggal tiga belas Jawa di sebuah sendang tua di kaki gunung yang sepi.
Malam itu, Nawang sedang turun ke bumi untuk membersihkan sukmaraganya dari energi negatif jagat raya—sebuah ritual suci bidadari rembulan. Malangnya, ia diserang oleh sengkolo (energi kutukan bumi) yang membuatnya lemas dan tak bisa terbang kembali tepat waktu.
Aryo, yang kebetulan berada di sana, menemukan Nawang tergeletak tak berdaya di tepi sendang. Bukannya berbuat jahat, Aryo yang cerdik langsung memasang topeng terbaiknya. Ia merawat Nawang dengan sangat telaten selama tiga hari berturut-turut. Ia menyelimuti Nawang dengan sarung usangnya, membuatkan perapian, dan menyuapinya dengan air mata air suci tanpa meminta imbalan apa pun.
"Aku tidak peduli kamu ini manusia atau bukan," bohong Aryo kala itu, menatap mata Nawang dengan tatapan yang dibuat seolah-olah tulus dan penuh kepedulian. "Tugasku sebagai sesama makhluk Gusti adalah menolongmu sampai kamu bisa pulang."
Bagi Nawang yang hidup di khayangan yang serba dingin, perlakuan hangat Aryo terasa begitu menyentuh hati. Bidadari tidak mengenal konsep kebohongan manusia. Nawang mengira Aryo adalah manusia paling berhati mulia. Sejak saat itulah, Nawang jatuh cinta sepasrah-pasrahnya dan berjanji akan selalu turun setiap tanggal tiga belas Jawa untuk mengandalkan kekuatannya demi mengangkat derajat hidup Aryo.
Nawang tidak pernah tahu, sejak malam pertama di sendang itu, Aryo sebenarnya sudah tahu identitasnya dari kitab kuno milik kakeknya. Semua kebaikan Aryo hanyalah investasi jangka panjang untuk mengeruk kekayaan gaib sang bidadari.
Kilas balik itu terputus. Nawang kembali tersadar ke realitas kamar yang dingin. Genggamannya pada kain rajah itu mengencang hingga kukunya memutih. Seketika itu juga, jantung Nawang bagai berhenti berdetak. Air matanya berhenti mengalir, digantikan oleh kekosongan yang teramat dingin.
Pria yang dipujanya, yang dipenuhi segala keinginannya dengan ketulusan cinta seorang bidadari, adalah orang yang telah merantai sukmanya dan membuat dirinya sekarat seperti daun layu. Cinta yang tadinya suci di dalam dada Nawang, detik itu juga mati total, mengering, dan berubah menjadi jelaga hitam yang pekat.
Waktu berputar cepat hingga malam tanggal tiga belas Jawa di bulan berikutnya tiba. Langit malam bersih tanpa awan, memamerkan bulatan bulan yang bersinar teramat benderang. Namun, pendar rembulan malam ini terasa aneh—warnanya bukan lagi putih keperakan yang hangat, melainkan merah darah yang pudar di tepiannya, memancarkan aura mistis yang mencekam.
Aryo baru saja pulang ke rumah mewahnya dengan langkah sempoyongan. Aroma alkohol dan parfum wanita lain menguar kuat dari pakaiannya. Begitu membuka pintu kamar utama, ia tersenyum sinis mendapati Nawang sudah terduduk di atas permadani.
Aryo tidak memedulikan kondisi Nawang yang lemas. Di otaknya hanya ada angka-angka saham.
"Nawang! Bagus, kamu sudah bersiap," seru Aryo sambil tertawa egois. Ia mencengkeram bahu Nawang yang terasa sedingin es. "Dengarkan aku. Besok aku butuh saham perusahaan kompetitorku anjlok total, dan semua aset mereka beralih atas namaku. Malam ini kekuatanmu mencapai puncak, kan? Ayo, kabulkan sekarang!"
Nawang perlahan membuka matanya. Tidak ada lagi binar telaga yang penuh cinta di sana. Yang tersisa hanyalah sepasang manik mata yang memancarkan pendar cahaya keperakan yang tajam bagai sembilu. Bibirnya yang pucat menyunggingkan senyum dingin.
"Tentu, Mas Aryo... apa pun untuk pria yang telah 'mengunciku' di sini," suara Nawang mengalun, namun kini terdengar berlapis-lapis, bergema gaib memenuhi ruangan.
Di luar jendela, bulan purnama tepat mencapai puncaknya di garis tanggal tiga belas Jawa. Detik itu juga, seluruh energi gaib dari alam semesta tersedot masuk ke dalam tubuh Nawang. Karena sukmanya telah terkontaminasi oleh rasa sakit hati yang teramat dalam, kekuatan suci bidadari itu mendadak berbalik menjadi energi kutukan yang mengerikan.
BUM!
Pintu kamar tertutup rapat secara gaib. Aryo terlempar ke belakang, punggungnya menghantam dinding dengan keras. Ia mencoba bangkit, namun ia menyadari kedua kakinya telah lumpuh total.
Saat Aryo melihat ke bawah, matanya terbelalak horor. Dari balik ubin marmer kamar, merambat sulur-sulur hitam tak kasat mata yang penuh dengan duri beracun. Itu adalah manifestasi dari rajah ilmu hitam yang dipasang Aryo sendiri. Duri-duri gaib itu menancap ke dalam daging kaki Aryo, namun kali ini rasa sakitnya berlipat ganda.
Setiap kali duri itu menusuk, Aryo bisa merasakan darahnya sendiri mendidih di dalam pembuluh vena. Rasa sakitnya seperti disiram air raksa panas dari dalam. Aryo melolong histeris, mencakar-cakar lantai marmer hingga kuku-kukunya patah dan berdarah.
"Nawang, ampun! Kakiku! Sakit sekali, Nawang!!" jerat Aryo meratap, air matanya bercampur darah karena tekanan gaib yang menghimpit tubuhnya.
Namun, siksaan tidak berhenti di situ. Nawang perlahan bangkit berdiri. Keajaiban malam purnama bekerja sepenuhnya. Seiring dengan meluapnya rasa sakit hati Nawang, seluruh energi hitam yang mengikatnya hancur lebur.
Kondisi Nawang yang semula lemas dan rapuh seketika sirna. Kulitnya kembali memancarkan pendar pualam yang berkilau sempurna, pakaian bidadarinya kembali anggun tanpa cela, dan parasnya kembali menjadi sosok bidadari khayangan yang utuh, cantik, namun mematikan. Nawang melayang di udara, menatap Aryo dari ketinggian dengan tatapan dingin seorang hakim.
"Kamu ingin semua aset menjadi milikmu, Aryo? Lihatlah apa yang terjadi pada aset-asetmu," bisik Nawang.
Tiba-tiba, tanpa ada api atau korsleting, dinding-dinding rumah mewah itu mulai mengeluarkan asap hitam. Api gaib berwarna biru keperakan muncul entah dari mana, membakar tirai, tempat tidur, dan brankas besi tempat Aryo menyimpan jimatnya. Anehnya, api itu tidak terasa panas bagi Nawang, melainkan hanya membakar segala hal yang dibeli dari uang keserakahan Aryo. Mobil-mobil di garasi meledak, dokumen saham hangus menjadi abu, dan seluruh rumah mewah itu mulai runtuh terbakar tanpa sebab yang logis.
Di tengah kobaran api biru, sulur berduri itu merambat naik hingga melilit leher Aryo. Sembari menyaksikan seluruh kekayaan yang dipujanya hancur menjadi abu kelabu, Aryo perlahan kehabisan napas. Setiap detik terasa seperti keabadian yang menyiksa. Otot-ototnya kaku, wajahnya membiru, dan organ dalamnya hancur perlahan akibat racun gaib dari rajah buatannya sendiri.
Sebelum kesadaran Aryo hilang sepenuhnya, ia melihat Nawang melayang menembus langit-langit kamar yang terbakar.
Dengan tubuh yang kembali utuh, sempurna, dan bersinar seindah rembulan, Nawang membumbung tinggi ke angkasa, melebur bersama cahaya bulan purnama yang bulat sempurna di langit malam. Nawang telah bebas, kembali ke tempat asalnya di khayangan, meninggalkan bumi yang penuh kepalsuan.
Sementara di bawah sana, rumah mewah itu runtuh total, menyisakan jasad Aryo yang hangus berselimut abu dingin di atas tanah yang tandus.
TAMAT