Ketika liburan sekolah tiba, Tiga sahabat itu Tari, Sari, dan Nina mendapat tugas dari guru bahasa indonesia untuk membuat cerita pendek selama liburan sekolah mereka. Tari mengajak kedua sahabatnya Nina dan Sari berlibur ke pantai. Supaya mendapat pengalaman yang seru saat liburan dan bisa dibuat menjadi cerpen untuk memenuhi tugas dari guru mereka itu. Kebetulan Sari juga belum lama ini putus dengan pacarnya membuat gadis itu selalu murung dan dikit dikit menangis. Tari yang melihatnya pun merasa tidak tega. Jadi sekalian agar bisa menghibur sahabatnya itu. Siapa tahu saat di pantai nanti Sari bertemu dengan pria lain dan bisa segera move on dari mantan pacarnya. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, pikir Tari.
Hari ini mereka pun mulai berangkat. Perjalanan menuju pantai sekitar empat jam lamanya. Karena hari libur, pantai ini jadi semakin ramai. Banyak cowok bule yang ganteng ganteng sedang berselancar. Tentu saja hal itu membuat ketiga cewek itu sangat senang. Mereka ikut berjemur sambil itung itung cuci mata. Tidak sampai disitu saja keseruan mereka. Melihat ada juga kapal kapal kecil yang sengaja disewakan untuk para pengunjung pantai tengah berlayar di sekitaran pantai itu. Membuat Tari berinisiatif ingin menyewa salah satu kapal kecil disana juga. Mengajak kedua sahabatnya naik kapal untuk merasakan pengalaman berbeda saat melihat pantai dari atas kapal. Meskipun sewa kapalnya sangat mahal tapi karena Tari anak orang kaya jadi dia bisa saja menyewa kapal itu.
Mereka pun berlayar, menikmati indahnya pemandangan pantai dari atas kapal. Ada seorang nahkoda yang memang disiapkan untuk melayarkan kapal itu ketika menyewa kapal. Sebelum naik mereka juga membawa berbagai macam snack dan minuman ke atas kapal. Mereka pun bersantai sambil makan dan minum. Angin semilir sepoi sepoi membuat Tari dan kedua sahabatnya itu menjadi mengantuk dan ketiduran diatas kapal.
Sampai mereka tidak menyadari jika kapal mereka memasuki wilayah berkabut. Tari dan Sari pun bangun karena hawa dingin yang menembus ke kulit mereka.
"Tar, kita dimana ini? Kok lautannya gak kelihatan sih?" Tanya Sari yang sudah ketakutan sambil mendekati Tari yang tidak kalah takutnya.
"Aku juga gak tahu ini Sar. Loh Nina masih tidur aja itu, yuk bangunin!" Ajak Tari sambil mendekati Nina yang masih tertidur dengan pulasnya. Seperti orang mati.
"Nin bangun Nin, kita tersesat nih. Kamu enak amat masih bisa tidur!" Panggil Sari sambil mengoyang goyangkan tubuh Nina namun tidak mau bangun juga.
"Eh tunggu dulu, jangan jangan dia mati." Timpal Tari tiba tiba.
"Ih Tari, jangan nakut nakutin loh. Mending kita periksa dulu deh." Sari pun coba memeriksa denyut nadi dan napas Nina.
"Masih bernapas kok Tar."
"Wah syukur deh. Kalau dia masih hidup Sar."
"Tar, tar, Pak Nahkodanya kok gak ada. Hilang kemana dia Tar?" Ucap Sari semakin panik sambil menarik narik baju Tari.
" Jangan jangan Pak Nahkoda, kecebur ke laut terus tenggelam lagi Sar."
"Masa iya dia gak bisa renang sih Tar, kan dia bisa bawa kapal ini, masa gak bisa renang, aneh deh."
"Ya aku gak tahu, mungkin aja kan. Aku juga cuma nebak."
"Aihh, terus gimana kita baliknya Tar."
"Mana kutahu Sar, aku juga bingung." Tiba tiba sesuatu seperti mendorong mereka semakin jauh ke dalam kabut.
"Haduh, haduh Sar. Kok kapalnya gerak sendiri."
"Aah Tari, aku takut beneran ini. Aku pingin pulang aja lah Tar." Sari sudah menangis dipelukan Tari, meski sama takutnya dia coba bersikap tenang sambil menenangkan sahabatnya yang menangis.
"Eh berhenti dulu nangisnya. Lihat tuh di depan ada pulau!" Pekik Tari sambil menunjuk ke depan mereka ada sebuah pulau terpencil. Karena memang kapal mereka segera keluar dari kabut dan terbawa arus menuju bibir pantai. Sari pun mendongakan wajahnya kembali melihat pantai itu.
"Ini bukan pantai yang tadi kan?" Tanya Sari kemudian.
"Bukan, ini pulau terpencil kayaknya. Tapi ya udahlah gak papa setidaknya kita keluar dari kabut itu dulu." Mereka pun segera turun dari kapal setelah kapal mereka sudah menepi. Mengikat tali kapal di sebuah batang kelapa yang ada di pinggir pantai. Agar kapal itu tidak hanyut terbawa ombak.
"Yuk Sar, kita cari bantuan. Siapa tahu ada penghuninya di pulau ini."
"Terus Nina gimana?"
"Udah kita tinggal aja dulu. Gak kemana mana lah dia pasti aman di kapal. Baru kalau udah dapet bantuan kita bawa dia ke tempat yang lebih aman."
"Ya udah deh." Mereka pun pergi meninggalkan Nina yang tertidur pulas dengan tidak sewajarnya. Seperti disirep supaya tidur dengan nyenyak dan lama. Hutan di pulau ini cukup lebat, banyak ditumbuhi pohon pohon yang berbuah dengan berbagai macam buah yang sangat lebat. Tadi saat di pinggir pantai pun pohon pohon kelapa juga banyak buahnya. Jadi mereka tidak takut sampai mati kelaparan disini. Semakin dalam menyusuri hutan mereka belum menemukan pemukiman. Bahkan hewan hewan liar pun tidak ada. Hingga sampailah mereka pada sebuah sungai kecil namun arusnya deras. Ketika menyebrang sungai itu, Tari berhasil melewatinya namun sayang Sari justru terpeleset dan hanyut terbawa arus.
"Sari!!!!"
"Tari tolong aku!" Tari tidak berhasil menggapai tangan Sari, sehingga sahabatnya itu sudah tenggelam dan hanyut bersama arus karena memang arus disana deras sekali. Tari pun menjadi takut dan menangis terisak isak di tengah hutan yang sunyi itu.
"Sari jangan tinggalin aku sendiri di pulau terpencil ini Sar. Aku takut, hiks hiks. Maaf teman teman, aku yang ngajak kalian pergi ke pantai dan malah jadinya seperti ini." Setelah menghapus air matanya, Tari mencoba bangkit lalu melanjukan jalannya untuk mencari bantuan.
Sedangkan nasib Sari yang hanyut terbawa Arus. Masih bisa tertolong. Karena kebetulan dia di tolong oleh seorang pria tampan. Lalu dibawa ke rumahnya yang sangat megah seperti istana. Di samping pria tampan itu berdiri seorang pengawal yang mirip Pak Nahkoda yang membawa kapal mereka berlayar tadi.
"Pak bukannya bapak, Pak Nahkoda kita kan?" Tanya Sari penasaran. Namun pria itu tidak menjawab hanya diam tanpa ekspresi apapun. Hanya datar dengan tatapan yang tajam.
"Dia adalah pengawal ku yang menolongmu saat tenggelam di sungai lalu membawamu padaku." Jawab pria tampan itu dengan senyum manisnya.
"Oh kirain, habis mirip."
"Ya sudah mari kutemani makan, pasti kamu laparkan setelah tenggelam tadi?." Ajak pria tampan itu. Sari pun mengangguk dan mengikuti pria itu ke ruang makan. Di perlakukan sangat baik olehnya membuat Sari pun jatuh hati. Meski baru saja bertemu, pria itu sudah menyatakan cinta pada Sari dan mengajaknya menikah. Herannya Sari mau mau saja di ajak menikah pria yang baru ia temui itu.
Di dalam hutan, Tari terus berjalan hingga menemukan sebuah gua yang cukup besar. Saat ingin memasuki gua itu untuk berteduh, Tari justru seperti menabrak dinding tidak kasat mata lalu terpental.
"Aduh, sikuku sakit." Pekiknya, ternyata sikunya tergores tanah dan bebatuan sampai terluka. Seorang wanita tua tiba tiba muncul dari dalam gua tapi tidak bisa keluar.
"Siapa kamu?" Teriak Tari takut karena penampilan nenek tua itu sangat menakutkan. Rambut putih panjang berantakan dan baju yang kusut dan kotor.
"Pergilah Nak dari pulau ini, sebelum terlambat!" Tari mencoba mendekati nenek itu karena sepertinya nenek itu tidak jahat.
"Memang kenapa Nek? Ada apa dengan pulau ini?"
"Pulau ini berbahaya, jika kamu bertemu pria tampan dengan pengawalnya jangan sekali kali kamu memandangnya. Dan juga jangan makan makanan dari buah buahan yang ada di dalam hutan ini. Karena apa yang kamu lihat sekarang tidak seperti apa yang kamu lihat."
"Memangnya seperti apa yang sebenarnya Nek?"
"Kamu tidak perlu tahu, jika kamu tahu kamu pasti akan pingsan." Tari pun terkejut mendengar penjelasan nenek itu, dia pun semakin takut sampai kakinya gemetaran.
"T-tapi Nek, teman saya ada yang pingsan di kapal dan juga ada yang hanyut di sungai, bagaimana aku menolong mereka?"
"Aku tahu temanmu yang pingsan itu sama sepertiku dia bisa melihat apa yang sebenarnya di pulau ini. Jika temanmu yang hanyut itu sampai bertemu dengan pria tampan yang ada di pulau ini maka aku tidak yakin kamu bisa menolongnya. Dan jika temanmu yang pingsan itu sampai di temukan oleh pria tampan itu maka dia akan berakhir sama sepertiku. Terkurung di dalam gua ini selamanya."
"Nek, aku akan membantumu keluar dari gua ini dan keluar dari pulau ini bersama kita."
"Sudah terlambat Nak, Nenek sudah mati."
"Apa?" Tari pun terkejut karena ternyata dia sedang berbicara dengan hantu. Tari pun berbalik dan segera ingin pergi dari sana karena sangat takut berlama lama dekat dengan hantu. Tapi justru nenek itu memanggilnya lagi.
"Nak, jangan lupa jika kamu ingin selamat keluar dari pulau ini, sebelumnya matahari terbenam, kamu bersama temanmu harus keluar dari kabut yang ada di pulau ini. Dan jangan sekali kali kalian berbalik ke belakang. Jika kalian bertemu dengan pria berwajah tampan dan pengawalnya jangan tatap matanya!" Setelah mendengar ucapan nenek itu, Tari bergegas pergi dari depan goa itu berjalan tak tentu arah masuk ke dalam hutan lagi. Ketika Tari sudah hilang dibalik rimbunnya pepohonan, nenek tua itu segera menghilang ke dalam goa lagi dengan memasang raut wajah yang sedih.
Sambil berlari tak tentu arah karena takut, Tari terus memikirkan ucapan hantu nenek tua yang barusan dia temui.
"Jangan berbalik?" Pikirnya.
"Memangnya apa yang terjadi jika aku berbalik?" Imbunnya lagi.
"Ahhh semakin dipikir semakin aneh saja." Teriak Tari frustasi.
"Lebih baik aku balik ke pantai, terus bawa Nina pergi dari pulau ini. Pasti Sari juga sudah mati tenggelam di sungai." Tari kembali berlari tak tentu arah. Dia juga bingung harus pergi ke arah mana jika akan balik ke pantai. Bukanya menuju pantai, Tari justru bertemu Sari tengah berdiri di depan kebun bunga yang ada didepan sebuah rumah megah seperti istana.
"Ya Tuhan, ternyata Sari masih hidup. Aku harus mengajaknya pergi dari pulau ini!" Tari kembali berlari kearah Sari dan menarik lengan sahabatnya itu.
"Ayo Sar, kita pergi dari pulau ini. Pulau ini tuh horor banget tahu, kamu gak takut apa?" Ujak Tari tapi sahabatnya itu tidak merespon. Pandangannya kosong menatap lurus ke depan. Juga terlihat kantung mata yang mulai menghitam. Jangan jangan sahabatnya ini sudah tertangkap pria tampan yang di maksud hantu nenek tua itu tadi. Tanpa berpikir lama lama Tari langsung menarik lengan Sari agar mengikutinya, syukurlah tidak ada perlawanan dari Sari. Gadis itu hanya berjalan mengikuti dengan pandangan kosong mengikuti langkah kaki Tari.
Hari semakin sore sejam lagi matahari akan terbenang, Nina yang sedari tadi tidur mulai terbangun. Karena sihir yang membuat Nina tertidur hanya mempan pada siang hari. Jika matahari mulai turun, sihir itu lama kelamaan akan pudar. Nina pun terkejut saat bangun. Dia melihat sebuah pulau yang sangat gersang. Pohon pohon yang ada terlihat kering tanpa daun, buah buah yang menggelantung diatas pohon juga ternyata bukan buah tapi tengkorak manusia yang berlumuran darah. Nina pun berteriak keras sangking takutnya.
"Aaaarggghhh!"
Teriakan Nina sampai terdengar ke telinga Tari, dia buru buru mencari sumber suara itu dan berlari kearah sumber suara sambil menggeret lengan Sari.
"Tari, Sari, kaliankah itu?"
"Nina, kamu sudah bangun? Tolong bantu aku bawa Sari dong jalannya lambat banget nih. Kasian tak geret geret jadinya." Nina pun turun dari kapal berlari ke arah Tari untuk membantu Tari membawa Sari yang linglung.
"Kita ada dimana sih ini Tar? Kok banyak tengkorak." Tari yang mendengar ucapan Nina pun heran. Dimana ada tengkorak? Tari melihat kesekeliling hanya ada pohon kelapa dengan buahnya yang bergelantung dengan lebatnya.
"Udah jangan banyak tanya dulu, ayo kita bopong nih Sari buat naik ke atas kapal." Mereka pun menggotong Sari ke atas kapal. Tari segera menurunkan sekoci ke laut. Mereka bertiga pun naik keatas sekoci itu. Tari dan Nina mendayung dengan cepat masuk kembali ke dalam kabut. Sari di biarkan tergeletak dengan pandangan yang masih saja kosong. Tiba tiba sari mendengar seseorang pria memanggil namanya.
"Sari.... Sari..... Ikutlah bersamaku!" Sari pun terbangun dan duduk kemudian dia akan loncat ke dalam air untuk menemui seseorang yang memanggil namanya. Tari yang kebetulan berada di dekat Sari langsung memeluk Sari dengan erat. Menjatuhkan tubuh Sari dan menindihnya dengan kuat.
"Lepaskan aku, lepaskan aku, aku ingin menemui suamiku, minggirrrr!" Teriak Sari, gadis itu meronta ronta sambil memukul punggung Tari dengan kuat karena telah menghalanginya bertemu seseorang yang memanggilnya tadi. Yang ternyata adalah pria tampan yang menikahinya di dalam hutan tadi. Tari pun dengan sekuat tenaga menahan pukulan bertubi tubi itu. Dengan terus memeluk sahabatnya dengan erat.
"Nina, tolong dayung sekoci ini dengan cepat sampai keluar kabut. Aku akan menahan Sari agar tidak nekat jebur ke laut. Oh iya ingat jangan berbalik, apa pun yang terjadi jangan berbalik! Misal kamu lihat pria tampan jangan tatap matanya, kamu ngerti Nina."
"Iya Tar aku ngerti, aku akan ingat!" Jawab Nina sambil memacu dayungnya semakin cepat. Tepat matahari terbenam, sekoci mereka keluar dari kabut . Sari pun sudah mulai tenang dan kemudian jatuh pingsan. Tari kembali mengayuh dayungnya membantu Nina membawa sekoci mereka mendekati pantai. Tari pun bersyukur setelah berhasil membawa sahabat sahabatnya itu keluar dari bahaya. Apa yang baru mereka alami barusan akan menjadi pengalaman horor yang paling meyeramkan dalam cerita persahabatan mereka. Dan mungkin akan mereka tulis kedalam sebuah cerpen sebagai tugas liburan sekolah mereka.
TAMAT