"Terimakasih untuk semua para pendengar telah setia bersama kami selama tiga puluh menit terakhir, ada tembang SEMUA TENTANG KITA dari band kesayangan anda, check it out" itulah sebait kalimat penutup yang terlontar dari bibir manis seorang pembawa acara radio nasional, Venus.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya dia segera meraih tas dan bersiap untuk pulang. Belum sempat dia berdiri, seorang pria tinggi dan tampan telah berdiri disampingnya. Pria itu tersenyum, dan menyodorkan tangannya.
"Selamat ya" pria itu tersenyum.
"Waduh, biasa aja, kenapa harus terimakasih?" Venus menatap heran pria yang berdiri didepannya.
"Berkat kamu, rating kita naik loh" pria itu tetap mempertahankan senyumannya yang benar-benar menawan.
"Ya kalau naik, itu tandanya radio kita memang banyak fans nya haha" Venus terkekeh mendengar pujian dari atasannya itu.
"Tetap saja kan, kamu yang bawain acaranya" pria itu tetap kekeh dan menatap Venus dengan malas.
"Baiklah, iya, takut nanti bos jadi marah kalau ga ngalah" Venus berjalan meninggalkan pria itu.
Pria itu mengikuti langkah wanita manis yang berjalan selangkah didepannya. Dia senang memperhatikan cara dia berjalan, terlebih indahnya senyuman yang wanita itu tebarkan. Siapa saja yang memandang, pasti terpesona. Lalu dia menggeleng-menggelengkan kepalanya menepis pikiran bodoh yang ada di kepalanya. Bagaimanapun Venus sangat menutup diri terhadap lelaki, entah kenapa dia pun bingung.
Venus berdiri menantikan kendaraan umum, entah kenapa dia lebih suka menaikinya, baginya ada kesan hangat dan nyaman bila duduk dalam angkutan umum. Terlebih banyak kenangan yang masih selalu diingatnya. Kenangan dulu yang sulit untuk dibuang dari setiap nafasnya.
"Ayo, kita pulang bersama" suara pria yang dikenalnya membuat lamunannya menghilang.
"Aku ingin menunggu angkutan umum saja" Venus mencoba menolak secara halus dengan tersenyum.
"Ayolah, jangan menolak, kamu ga lihat sekarang sudah jam berapa" pria itu masih menunggu.
Venus melirik jam tangannya, benar, sudah sangat lewat untuk jam pulang pikirnya. Dia mengangguk, dan berjalan mendekat lalu masuk kedalam mobil pria yang sedari tadi menunggu.
Pria itu tersenyum karena wanita yang selalu membuat suasana hatinya bahagia bersedia untuk diantarkan pulang. Sekalian bisa berkenalan dengan orang tuanya, begitu kata isi hati dan pikirannya yang sejalan.
Tak berapa lama, mobil berhenti disebuah rumah yang tampak sederhana, nyaman meski tak terlalu besar. Pria itu turun dan langsung berlari untuk membuka pintu, wanita itu menatapnya heran dan turun. Venus berjalan memasuki rumahnya, sedangkan pria itu masih mengikutinya dari belakang.
"Terimakasih sudah mengantarkan ku pulang" Venus tersenyum menatap pria yang sedikit memaksanya untuk mengantarkannya pulang.
"Ya, sekalian bisa berkenalan dengan orang tua kamu" pria itu tersenyum malu sambil membuang wajahnya menatap sekeliling halaman rumah.
"Maaf ya, orang tua aku sudah ga ada" wajahnya murung, terlihat kesedihan didalam sana.
"Maaf, aku ga tau, sungguh!" pria itu sedikit kaget mendengar apa yang wanita itu katakan.
"Jadi maaf, bukannya aku tidak sopan, tapi aku tinggal sendiri, dan tidak baik menerima tamu pria" kembali menatap wajah pria itu.
"Iya, aku maklum, ya sudah, jaga dirimu, aku pulang" pria itu berjalan kearah mobilnya dan melambaikan tangan.
Venus membalas lambaian itu dan melihat mobil perlahan menghilang diujung jalan. Dia menghembuskan nafasnya pelan lalu masuk kedalam rumahnya. Dia membersihkan tubuh, setelah mandi dan berpakaian, dia masuk kedapur karena memang perut nya sudah sangat lapar. Memasak makanan yang sangat dia suka, lalu memakannya. Makan sendiri membuatnya meneteskan air mata, karena tetap saja dia teringat seseorang.
Venus segera membersihkan bekas makannya, setelah membuat segelas minuman hangat dia berjalan ke ruang keluarga. Duduk sendiri, sambil membolak balik majalah fashion yang ada diatas pangkuannya. Tak berapa lama ponselnya berdering, nama pria yang sempat mengantarkan dia pulang tertera di layar ponselnya. Venus menggeser tombol hijau dan panggilan tersambung.
"Halo, ada yang bisa dibantu?" Venus menjawab panggilan Adit.
"Halo, apa kamu sibuk?" Adit membalas jawaban itu.
"Iya aku sibuk" ucapnya sambil berdusta.
"Wah, aku ganggu ya, aku pikir jam segini kamu sudah ga sibuk lagi" kekeh Adit terdengar diseberang sana.
"Kamu kan tau, aku harus cari inspirasi buat penampilan aku nantinya" ucap Venus berdalih lagi.
"Oh iya, lupa, kamu kan selalu up date ya kalau bicara" Adit mengangguk tanda dia mengerti, meskipun Venus tidak melihatnya.
"Aku tutup ya" ucap Venus malas.
"Baiklah, selamat aktifitas ya" Adit membalas salam Venus.
Jujur saja dia tidak begitu suka jika ada teman kerja menelpon pada waktu malam. Baginya urusan kerja dibicarakan ditempat kerja, bukan malah menelpon pada saat dia berada dirumah.
Besok, hari liburnya bekerja. Ada sebuah tempat yang akan dia kunjungi. Sudah lama rasanya dia tidak singgah karena jadwal pekerjaannya yang padat. Besok dia akan menunaikan janjinya. Venus memejamkan mata dengan senyum di bibirnya, berharap pagi segera datang dengan cepat.
Venus berpakaian rapi, serba putih, karena seseorang sangat menyukainya memakai baju warna putih. Dia tersenyum menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Dia meraih tas dan bergegas pergi. Tak lupa dia singgah membeli sebucket bunga lili.
Venus tiba disebuah tempat, kediaman seseorang yang jadi masa lalunya. Dia tersenyum bahagia, sesekali matanya menatap rumah yang tidak terlalu megah. Berpagar kecil dan beratap tidak terlalu tinggi. Dia sengaja membuat atap yang tidak terlalu tinggi, agar dia bisa duduk dan berteduh dibawahnya.
Merapikan dedaunan kering yang gugur, menata tanaman yang ada ditempat itu, dia bersenandung riang. Dia bahagia bisa merawat tempat itu. Tempat dimana sebuah nama tertulis dengan tulisan indah. BINTANG ORION, nama itu sangat indah jika dibaca. Hatinya menjadi hangat, seperti nama itu masih selalu ada disetiap nafas dan hidupnya.
Venus menatap rumah terakhir pria terindah yang hampir saja menjadi suaminya. Cincin yang masih melingkar dijari manisnya tetap setia tanpa pernah dia berpikir untuk melepaskannya. Andai kejadian itu tidak pernah terjadi, dia pasti menjadi wanita yang paling bahagia didunia.
Venus tersenyum getir, tapi semua sudah terjadi. Dia hanya mengelus rumah mungil itu. Air mata tak akan dia keluarkan karena memang sudah janjinya untuk tidak menangis. Amanat terakhir pujaan hatinya untuk jangan menangisi setiap kenangan bersama yang sudah berakhir.
"Apa kabar mu? kamu sudah merasa lebih baik disana kan? Bagaimana caranya aku bisa bertemu denganmu, bisakah ku gapai kamu?, jujur aku rindu" Venus menatap sendu rumah mungil itu.
Tak lama Venus berdiri, belum sempat dia melangkah pergi, suara berat pria terdengar di belakangnya. Adit sudah berdiri dibelakangnya, entah sejak kapan dia berdiri tanpa Venus sadari.
Pria itu menatapnya tajam, sesekali dia mengusap wajahnya kasar. Adit berjalan mendekat sambil menggeleng-menggelengkan kepalanya. Sungguh hal ini membuatnya sedikit mendapatkan jawaban. Entah kenapa dia tak pernah tau apa yang disimpan erat Venus.
"Jadi ini yang membuatmu tidak pernah membuka hati kepada pria manapun?" Adit menatap dan menunggu jawaban dari Venus.
"Sudahlah, aku ingin pulang" jawab Venus dengan malas, dia enggan menatap Adit.
"Stop, Venus!" Adit meraih tangan Venus, membuat wanita itu menghentikan langkahnya.
"Kamu mau apa? bukannya kamu sudah melihat sendiri?!" Venus meninggikan nada suaranya.
"Jangan menjauhi aku, kamu tau kan aku sudah sejak lama menyukaimu!" Adit berteriak sambil mengguncang tubuh Venus.
"Jangan, kumohon jangan begini" Venus menangis dan tak sanggup untuk berbicara, tubuhnya lemas.
Adit memeluk tubuh Venus, meski Venus berusaha untuk melepaskannya, dia tidak peduli. Mereka terus begitu sampai Venus terdiam dan menangis dalam pelukannya. Dia tau jika wanita yang sedang dia peluk membutuhkan tempat bersandar. Meski terlihat tegar tapi tidak dengan hatinya. Kini dia sudah tau kenapa Venus terlihat menutup diri, wanita ini begitu sakit, sampai tidak ingin menerima cinta dari pria manapun.
"Menangislah, jika memang kau ingin menangis" Adit mengusap rambut wanita itu.
"Aku sakit, aku rindu dengannya, apa yang harus kulakukan, kemanapun ku melangkah, aku tak bisa melupakannya, apa aku bisa menggapai Bintang?" Venus menumpahkan semua isi hatinya. Hatinya sedikit lega kini.
Adit terdiam, dia tak sanggup berkata-kata. Matanya menatap lurus melihat sebuah nisan yang terlihat indah terawat. Betapa besar seorang wanita mencintai seseorang yang sudah lama pergi meninggalkan dunia untuk selamanya.
"Dia juga pasti sedih melihatmu begini, cobalah untuk membuka hatimu, kamu tau, aku akan menjagamu dengan seluruh hidupku menjadi taruhannya jika kamu ragu" Adit masih memeluk Venus tanpa ingin melepaskan pelukan itu.
Venus terdiam, tangisnya perlahan hilang, menyisakan air mata yang hampir mengering. Benar yang dikatakan Adit, dan pria ini pun terdengar serius dengan ucapannya. Dia mengangkat wajah dan menatap lekat pria yang sedang memeluknya.
"Berat sekali kata-katamu, apa kamu serius dengan semua itu?" Venus menunggu jawaban Adit.
"Aku bersungguh-sungguh, demi Allah" Adit tersenyum penuh arti.
Venus tersenyum, dia berbalik menatap rumah mungil yang sejak lama dia rawat, sepintas bayangan pria yang dia sayang berdiri disamping rumah mungil itu, tampak tersenyum, tanda dia bahagia melihatnya sudah mau membuka hati kembali.
Venus membalas senyuman itu, dia menganggukkan kepala, dan kembali menatap wajah tampan pria yang sungguh-sungguh menerimanya dengan cinta yang bertaruh nyawa.
Sekian