Dian seorang gadis penakut. Setiap hari selalu merepotkan keluarganya. Dia tidak mau tidur sendirian, ke manapun selalu di kawal. Di kamar mandi sekali pun!
Pernah suatu hari, Dian menyuruh adik lelakinya menemani dia di kamar mandi. Adiknya itu harus menunggu dia di pintu kamar mandi sampai Dian selesai mandi. Tentu ini sangat merugikan adiknya, Evan.
Evan semakin kesal tetapi takut mengadu kepada papa dan mama mereka. Akhirnya Evan menyusun rencana jahat untuk membuat Dian kapok dan menjadi gadis dewasa. Dia dan tiga temannya mencari sebuah rumah hantu untuk menjalankan rencana mereka.
Di jalan Almond, ada sebuah gubuk tua dengan jendelanya yang mengerikan. Konon, di rumah itu terjadi tragedi pembunuhan. Satu keluarga mati dibantai oleh perampok. Evan, Hadi dan Dimas menjalankan rencana mereka. Hadi diam-diam menyukai Dian, kakak Evan itu. Ia tidak setuju dengan usul jahat Evan.
"Kalau sampai dia kenapa-kenapa, siapa yang bertanggungjawab?"
Evan tertawa. Sepertinya dia meremehkan konsekuensinya kalau kakaknya itu terjadi sesuatu.
"Tentu akulah yang akan bertanggung-jawab, kalian berdua tenang saja," ucap Evan penuh percaya diri.
Evan pun melanjutkan rencana jahatnya. "Semua dengarkan aku! Kita taruh boneka jailangkung di depan jendela itu. Atau kain putih digantung di depan pintu. Gimana menurut kalian?"
Hadi langsung menyela, "Jangan berbuat hal ini, Evan. Kau harus ingat, Dian punya riwayat penyakit jantung!"
"Kalau dia mati, gimana?"
Evan tertawa. Hadi dan Dimas saling pandang. Mereka tidak habis pikir, kenapa adiknya ini sudah gila, ingin mengerjai kakaknya yang sangat penakut itu.
"Jangan, Evan. Saya tidak mau ikut-ikutan!" Hadi berbalik dan kemudian meninggalkan Dimas. Dia pergi bertemu dengan Dian dan akan memberitahukan semua rencana adiknya.
"Biarkanlah si pengkhianat itu! Palingan dia akan menyesal dengan sikapnya."
Evan tetap melanjutkan rencananya bersama Dimas.
"Jailangkung ditaruh di depan jendela kamar atas. Di tangga taruh kain putih. Terus, di kamar mandi taruh sapu ijuk. Ikat bagian batangnya. Pakaikan kain putih pula," suruhnya pada Dimas. Temannya itu melakukan semua yang diperintah Evan. Dia tahu Evan akan membayarnya setelah ini.
"aku akan mendapat imbalan,"gumam Dimas merasa senang. Masa bodoh dengan Dian si penakut itu, kalau dia sampai mati ketakutan bukan tanggungjawab dia. Begitu pikirannya.
Menjelang hari H mereka melakukan rencana itu...
"Kakak, ayo kita jalan-jalan," ajak Evan menarik paksa tangan Dian.
"Evan ini sudah jam sepuluh, kau mau bawa kakak ke mana?" tanya Dian sedikit curiga dengan sikap adiknya yang tak biasa begitu perhatian.
"Kakak, ayolah ikut saja aku. Kau pasti tidak akan menyesal. Kau tahu, Hadi ingin menunjukkan sesuatu yang spesial padamu," bujuk Evan lagi. Dian terkejut. Hadi memang menyukai dirinya, tetapi selalu dia abaikan. Sikap Hadi yang sangat pemalu itu, tidak mungkin mengajak dia ketemu. Pikiran Dian sedikit galau.
"Adik, jangan bercanda, ya. Kau tahu kan aku penakut. kalau sudah jam sepuluh begini banyak hantu yang gentayangan di jalan! Kau saja yang keluar, aku tidak mau!" tolak Dian. Ia menunggu papa dan mamanya pulang. Dia harus menunggu, karena pengawal pribadinya dibawa oleh orang tuannya.
"Kapan papa dan mama pulang? Susy dibawa sama mereka?" tanya Dian. Evan mengedik bahu.
"Aku sungguh tak tahu, kak. Ayolah temani aku jalan-jalan. Pliss, nanti kubelikan cokelat besar. Mau yaaa?" bujuk Evan dengan segala liciknya. Akhirnya Dian mengalah.
"Benarkah, asal ada cokelat?" tanya dia dengan muka naif.
"iyalah masa aku bohong sama kakak. Ayo!"
Dian mengganti baju dan memakai sweater beludru putih, dipadukan dengan denim biru toska. Ia menyisir rambutnya dengan dua jari. "Hemm sudah cantik," gumamnya.
Mereka pun berangkat dengan jalan kaki ke tempat itu. Rumah yang ada di ujung jalan sangat gelap dan tanpa penerangan. Bulu kuduk Dian meremang.
"Kau bawa aku ke rumah kosong itu? Apa yang kau rencanakan!" Dian terkejut. Tahu-tahu saja mereka sudah sampai. Evan melarikan diri. Dibantu Dimas, temannya membekap mulut Dian dengan saputangan yang sudah dibasahi dengan obat bius.
"HHMPH!!" Dian akhirnya lemas tidak berdaya lagi.
"Cepatlah seret dia!" perintah Evan kepada Dimas. Keduanya menyeret Dian masuk ke dalam rumah hantu itu. Dari kejauhan, Hadi memergoki mereka. Dia mengintip diam-diam dibalik pohon.
"Dian. Maafkan aku! Jangan khawatir, aku akan membantumu!"
...
"Evan, jika sesuatu terjadi pada kakakmu, aku tidak akan bertanggungjawab!"
"Tenang saja, Dimas. Kita akan berjaga di luar kok!" Evan dengan santai menepuk bahunya.
Satu jam tidak terjadi apa-apa...
Dian sadar. Ia mengerjap, kemudian bangun.
"Aku ada di mana?" gumamnya sembari menatap ruangan yang sangat gelap itu. Hanya sebuah lilin saja yang meneranginya. Lilin itu sengaja ditaruh Evan dan Dimas di lantai dekat kakaknya.
"AAAAH!" Dian sontak berteriak ketakutan.
Dia melihat sebuah bayangan yang mirip wajah orang di jendela rumah. Dia segera merangkak ke arah pintu. Ia mau membuka pintu itu, sebuah bayangan lain dengan baju putihnya melayang di depannya. Dia berteriak dan menangis ketakutan.
"Evaaan kau biad** ! Teganya kau mempermainkan kakakmu!"
Dian menggedor-gedor pintu sambil menjerit-jerit.
"Toloooong selamatkan aku! T-toloooong!"
Hening...
"Cepat bunyikan itu!" bisik Evan pada Dimas. Ia memutar kaset dengan rekaman suara kuntilanak.
"Khihihihihihi Khihihihihihi!!"
Dian gemetar, dadanya sesak. Rasanya dia kencing di celana. Dian sangat ketakutan mendengar suara perempuan mengikik di dalam rumah itu.
"Mamaaa, papaaa toloooong... tolong aku!" Dian lari dengan merangkak cepat masuk ke bawah meja.
Kletak! Kletak!
"su-suara apa itu?" Dian bergumam dan mengintip dari bawa meja.
Sebuah bayangan muka Perempuan juga ikut mengintipnya. Sontak Dian kaget sekali. Dia langsung lemas. Mulutnya berbusa...Dian memiliki riwayat penyakit ayan dan jantung koroner.
Keringat membasahi dahi dan telapak tangannya. Tubuhnya mengejang berkali-kali seperti seekor ayam yang disembelih.
"Evan dia akan mati! Cepat tolong!" Dimas yang mengintip di jendela terkejut. Evan pun demikian. Mereka segera masuk ke rumah, tetapi kunci rumah itu hilang!
"Sialan. Cepat buka gebrak saja!" perintah Evan panik sekali.
Kakaknya menggelepar dengan tubuh kejang-kejang. Dian menoleh dan melihat ada dua bayangan di jendela. Setelah itu ia terkulai. Pandangannya menjadi buram dan semuanya gelap.
...end...