Bagus adalah seorang pemuda desa didaerah yang cukup terpencil dikaki gunung. Dia tidak mau merantau karena harus menjaga ibunya yang sudah tua.
Bagus tidak mempuyai pekerjaan tetap. Keseharianya hanya bertani dan mencari ikan di sungai pada malam harinya.
Sebenarnya Bagus punya seorang kakak, tapi dia bekerja sebagai supir truk luar kota. Kakaknya bernama Danang dan sudah berkeluarga. Istrinya sedikit cerewet dan banyak maunya.
Malam itu Bagus sudah selesai mempersiapkan alatnya untuk menangkap ikan di sungai. Dia hanya menunggu waktu ibunya tertidur agar dia bisa keluar rumah dengan tenang.
Beberapa langkah setelah keluar rumah, Bagus dipanggil kakaknya, Danang.
"Aku ikut ya Gus, itu mbakmu minta ikan gabus buat lauk besok katanya." Danang berkata mengutarakan maksudnya.
"Ya bang, ayo." Sahut Bagus pendek sambil menenteng bawaannya.
Malam semakin larut, tapi tangkapan belum juga dapat. Bahkan, Bagus terkena batang bambu yang sedikit runcing dibagian telapak kakinya.
Masih dengan kaki tertatih Bagus terus menyusuri sungai. Danang hanya mengikuti dari arah belakang sambil membawa senter.
"Sudah hampir pagi, lebih baik kita pulang saja bang!" Ajak Agus saat melihat ke arah langit.
"Tapi belum dapat ikan sama sekali!" Danang menjawab keberatan. Dia pasti mengkhawatirkan reaksi istrinya setelah sampai rumah.
"Nanti ibu keburu bangun bang, lagian kalau sudah pagi ikan juga jarang yang keluar" Bagus memberiakan alasan yang tentu saja membuat Danang tidak bisa membantah lagi.
Akhirnya mereka pun pulang dengan tangan kosong. Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri jalan kampung menuju rumah.
Ketika sampai pada tanjakan yang sedikit curam mereka melihat kereta kuda yang kesulitan untuk berjalan naik.
"Kudanya tidak kuat ya pak?" Sapa Bagus pada sang kusir yang terlihat payah mengendalikan kuda karena meringkik sedari tadi dan tidak mau jalan.
"Ya ini, mungkin muatan terlalu berat" jawab sang kusir.
"Boleh kami bantu?" Tanya Bagus memberikan tawaran.
"Silahkan jika tidak keberatan" jawab kusir dengan tersenyum senang.
Akhirnya Bagus meletakkan peralatan yang dia bawa dan ikut mendorong kereta agar kuda bisa menariknya keatas.
"Bang, ayo bantuin!" bagus berteriak pada Danang yang masih berdiam diri memperhatikan.
"Aku pikir kamu kuat sendiri!" Kata Danang mengejek.
Tidak lama kereta pun bisa berjalan naik dan semua baik-baik saja.
Sang supir pun berterima kasih pada keduanya dengan senang.
"Terima kasih banyak karena sudah membantu, saya sudah sedikit terlambat dengan insiden tadi" kata sang kusir sambil menyerahkan dua kotak peti kayu pada Bagus dan Danang.
"Ini untuk ucapan terima kasih saya, tapi tolong kalian buka dirumah saja. Dan ingat setelah ini jangan pernah menoleh dan berbalik ke arah belakang!" Pesan sang kusir pada keduanya.
Danang dan Bagus menerima dengan penuh tanda tanya namun tanpa sadar tangan mereka tetap menerima pemberian tersebut. Setelahnya mereka menuju kebawah mengambil peralatan dan melanjutkan perjalan.
"Gus, ada yang aneh tidak?" Tanya Danang setelah beberapa langkah.
"Apa bang?" Tanya Bagus heran pada pertanyaan abangnya.
"Coba kamu pikir, tengah malam begini kereta kuda sebagus itu lewat kampung kita dengan muatan peti. Kapan pernah kita lihat selama ini?" Danang mengatakan keherannya.
"Sudahlah bang, tidak perlu dipikirkan yang penting kita hanya berniat menolong." Jawab Bagus sambil mengeleng.
Sepertinya Danang masih merasa penasaran dan tidak menghiraukan perkataan adiknya, bahkan dia juga lupa pesan sang kusir!
Danang berbalik dan melotot sangking kagetnya, bahkan dia tidak mampu berteriak.
Dengan tubuh gemetar Danang memegang lengan adiknya sebagia penopang tubuhnya. Dia sudah kembali ke posisi disamping adiknya.
"Sudah bang ayo kita pulang, mungkin ibu sudah bangun sekarang."
Setelah subuh Bagus bersama sang ibu bersama-sama membuka peti pemberian sang kusir. Dalam peti tersebut tampak biji-bijian buah yang pastinya sangat berguna untuk bibit dikebun mereka.
Sedangkan Danang setibanya dirumah sudah tidak mampu berbicara dan mengatakan apapun. Bahkan gerakan bibirnya tidak bisa memberikan informasi sama sekali.
Pesan: jadilah orang yang amanah dan tidak perlu penasaran dengan sesuatu yang bukan ranah kita.
TAMAT