Aku terpaksa menyetujui perjodohan ini demi untuk membuat orang tua ku bahagia, namun hati ku masih tak rela, aku masih teringat seorang gadis yang ku temui di dalam kereta Minggu lalu saat aku kembali ke desa orang tua ku.
Aku mengucapkan kalimat ijab qobul, menyebut nama seorang gadis yang tidak aku kenal bahkan aku lihat, karena ini memang sebuah tradisi dalam keluarga ku.
Selesai aku mengucapkan kalimat itu dan berdoa, aku berdiri dan berjalan menuju kamar dimana istriku berada, untuk menjemput nya.
Saat aku masuk aku melihat seorang gadis yang mengenakan gaun pengantin islami sedang duduk tertunduk di atas tempat tidur, mendengar langkah kaki ku yang berjalan menghampiri nya, gadis itu mendongakkan kepalanya menatap wajah ku.
Ternyata dia adalah gadis impian ku.
*********
Pagi itu aku berangkat lebih awal ke stasiun, agar aku tidak ketinggalan kereta karena macet di ibukota, yah aku bekerja di salah satu perusahaan ternama di ibukota sebagai staff manager disana.
Aku sengaja tidak membawa mobil pribadi ku untuk pulang ke kampung halaman ku di Jawa Timur, karena aku lebih suka dan rileks jika aku naik kereta api, tak lebih lagi aku tidak akan terkena macet sehingga cepat sampai ke kampung halaman ku.
Aku masuk kedalam kereta dan duduk di bangku sesuai nomor tiket ku, aku naik di kelas ekonomis, karena aku dari dulu lebih menyukai duduk di sana.
Aku duduk di samping seorang gadis cantik yang berjilbab yang sedang fokus membaca mushaf nya, aku duduk dengan pelan tanpa ingin mengganggunya. Namun gadis itu juga tak terganggu dengan kedatangan ku.
Aku mendengar lirih suaranya yang indah sedang melantunkan ayat-ayat suci, hatiku merasa tenang mendengarnya.
Tak lama kemudian kereta api yang aku tumpangi sudah berjalan, dan gadis itu selesai membaca mushaf nya dan meletakkan nya di dalam tasnya. Dia melihat ke arah ku yang juga melihat ke arah nya saat itu, Dia tersenyum ramah ke arah ku, akupun membalas senyuman itu sebagai awal perkenalan kita.
"Mas tujuannya kemana?" Tanya gadis itu ramah.
"Saya tujuannya ke Jawa Timur mbak." Jawab ku sungkan, sambil menatap wajah nya yang cantik dan merona.
"Jawa Timur mana mas? Saya juga Jawa Timur." Lanjut gadis itu lagi memecah keheningan dalam kereta, karena dalam lingkaran bangku yang aku tumpangi hanya ada aku dan dia, namun aku duduk di samping nya memiliki jarak, karena musim pandemi wabah virus yang sedang tersebar luas di Negara ini, sehingga tak banyak penumpang disini.
"Surabaya mbak, kalau mbak sendiri?" Tanyaku balik dengan nada bersahabat ku.
"Saya juga tinggal di Surabaya mas." Jawab gadis itu sambil tersenyum tipis ke arah ku. Senyuman yang begitu menawan dan mendebarkan hati.
"Wah kebetulan sekali sama, mbak kerja juga di Jakarta?" Tanyaku penasaran.
"Tidak mas, aku sedang melanjutkan studi di sini."
"Oh, dimana?"
"Di Universitas ternama di ibukota ini."
"Wah hebat, mbak sudah semester berapa?" Tanyaku lanjut penasaran dengan nya.
"Saya sudah semester akhir di fakultas kedokteran mas."
"Subhanallah sungguh hebat, ternyata anda seorang calon dokter muslimah." Ucapku merasa takjub.
"Alhamdulillah, doa kan saja mas, oh iya jangan panggil saya mbak, panggil saya saja Azizah." Ucapnya.
"Ah iya Azizah, panggil saya juga Athar, saya rasa umur kita tidak terpaut jauh."
"Ah iya, tapi alangkah lebih sopan lagi jika saya panggil mas Athar."
"Mmmm, boleh saja." Ucapku sambil tersenyum.
"Mas Athar kerja di Jakarta?"
"Iya, saya kerja di perusahaan PT Mega Jaya."
"Wah itu sebuah perusahaan ternama di Indonesia."
"Alhamdulillah." Jawab ku ramah.
"kamu pulang apa karena liburan kuliah?" Tanyaku lagi.
"Bisa di bilang begitu, mas sendiri?"
" Iya kebetulan libur panjang, jadi aku memutuskan untuk menghabiskan waktu libur bersama orang tua disana." Jawab ku.
"Istri mas tidak ikut?" Tanyanya lagi membuat ku berhasil tersenyum mendengarnya.
"Mmm, saya masih belum berkeluarga." Jawab ku.
"Oh, saya kira mas sudah berkeluarga."
Lalu kami melanjutkan obrolan kami yang semakin jauh semakin bersahabat, entah kenapa aku merasa senang dan nyaman berada di sisinya, ini kali pertamanya aku merasa senyaman ini dekat dengan seorang gadis, padahal di kantor banyak gadis cantik yang secara terang-terangan menyatakan perasaan nya kepada ku, tapi tak ada yang berhasil memikat perhatian ku, namun gadis cantik di sampingku ini, pertama bertemu sudah begitu menarik perhatian ku, dari tutur katanya yang lemah lembut dan senyuman nya yang menyejukkan hati, bukan karena dia mempunyai paras yang cantik ataupun karena dia akan menjadi seorang dokter, namun aku tertarik akan akhlak nya yang ramah serta pendiriannya. Ya Allah seandainya dia adalah jodohku, hamba akan merasa sangat bersyukur dan bahagia, semoga saja.
Setelah waktu yang cukup lama, akhirnya kereta yang kami tumpangi sudah sampai di tempat tujuan kami. Aku dan dia segera keluar dari kereta, dan berjalan beriringan menuju pintu keluar stasiun.
"Ya sudah mas Athar, seperti nya saya sudah di jemput." Ucap Azizah sambil melihat kearah seorang pria tampan yang sedang berdiri tegak di samping mobil Jazz warna merah.
Aku pun ikut menoleh kearah nya.
"Dia kekasih mu?" Tanyaku sambil tersenyum supaya tidak terkesan kepo.
"Mmm, lebih dari itu." Jawab nya yang membuat harapan ku pupus.
"Oh."
Melihat ku dengan ekspresi wajah yang putus asa gadis itu hanya tersenyum ke arah ku.
"Aku pergi dulu mas, semoga Allah bisa mempertemukan kita kembali dalam suasana yang berbeda." Ucap nya sambil tersenyum simpul.
"Semoga saja, hati-hati." Balas ku berpura-pura senang agar tidak terlihat seperti orang yang malang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Balas ku, lalu gadis itu berjalan menuju ke arah pria itu, dan tersenyum senang ke arah nya, seperti nya ia merasa bahagia karena bisa bertemu dengan pria itu.
Melihat itu aku hanya menggelengkan kepalaku, dan kembali berjalan keluar mencari angkutan umum, karena jarak rumah ku tidaklah jauh dari stasiun.
Saat aku duduk di dalam angkot, aku masih memikirkan gadis itu, senyuman nya yang indah tidak bisa aku lupakan, namun sayangnya dia sudah memiliki pasangan, semoga aku bisa mendapatkan jodoh seperti gadis itu, gadis idamanku.
---------
Sesampainya di rumah, aku di sambut hangat oleh keluarga ku, aku sangat merindukan ayah dan ibu ku, Karena sudah setahun lamanya aku tidak berjumpa dengan beliau, terlebih adik perempuan kesayanganku dan satu-satunya, Nabilla. Dia begitu merindukan ku sehingga memeluk ku dengan erat. Dia masih remaja, masih duduk di bangku kelas 2 SMA.
"Mas Athar, Nabilla kangen sama mas." Ucap nya setelah aku mencium telapak tangan ke dua orang tua ku.
"Mas juga dek, gimana studi kamu sekarang dek?" Aku bertanya sambil masuk kedalam rumah.
"Alhamdulillah lancar kak, aku selalu mendapat ranking 3 besar di kelas." Jawab nya sambil membantu ku membawa barang ku.
"Alhamdulillah mas bangga sama kamu dek." Aku tersenyum sambil menepuk pundak adek kesayangan ku.
"Athar, kamu cepatlah mandi lalu kita makan bersama." Ibu ku berkata di sela-sela obrolan kami.
"Baik Bu."
Aku langsung berjalan menuju kamar ku di lantai atas untuk membersihkan diri.
Selesai mandi aku memakai baju santai ku di rumah dan turun ke bawah untuk makan bersama keluarga besar ku.
Saat makan, tidak ada satupun kata keluar dari mulut kami, karena memang dalam Islam menganjurkan untuk diam ketika makan.
Selesai makan aku berpamitan kepada ke-dua orang tua ku untuk pergi sekedar berjalan-jalan karena rindu suasana kampung halaman ku. Benar saja mereka mengijinkan aku pergi, yang pastinya aku pergi sendiri karena Nabilla adik ku sedang sibuk mengerjakan tugas sekolah nya.
Aku berjalan menelusuri kompleks perumahan, saat itu langkah ku terhenti di depan sebuah kedai kopi.
"Athar..." Terlihat seorang pria yang seumuran dengan ku menyapa ku. Aku menoleh kearah nya.
"Doni." Aku sedikit terkejut melihat sahabat dekat ku sedang nongkrong dengan beberapa pria seumuran ku dan dia.
"Kapan kamu pulang Thar?" Doni berjalan menghampiri ku.
"Aku baru saja kembali tadi siang Don."
"Sini deh, kamu gabung dengan kami." Tawar Doni.
"Baiklah." Aku berjalan bersama Doni bergabung dengan yang lainnya, ada beberapa yang sudah aku kenal ada juga beberapa yang tidak aku kenal karena mereka pendatang baru.
Kami mengobrol seputar kehidupan kami sebagai anak muda yang lajang, ada beberapa diantaranya membahas tentang pacar nya namun, aku yang masih jomblo hanya diam saja mendengar nya.
"Eh Thar, itu bukannya di Ratih yah?" Tiba-tiba Doni menunjukkan pandangannya ke jalan pada dua orang gadis yang kebetulan sedang lewat di depan kami. Sontak aku ikut menoleh ke arah nya.
"Hmmmmb, iya dia Ratih." Aku menjawab dengan nada suara ku biasa.
"Dia tambah cantik yah." Doni berkata penuh memuji.
"Jelas Cantik dia itu perempuan Don." Aku berkata dengan senyuman di bibir ku menggoda Doni.
"Aku heran sama kamu Thar kenapa kamu dulu gak nerima cinta nya? padahal dia dulu setengah mati suka sama kamu." Goda Doni.
"Ah kamu Don, kayak gak tau aku ajah, aku malas buat pacaran, aku gak tertarik dengan hubungan semacam itu." Tolak ku dengan senyuman.
"Dasar kamu, andai itu aku pasti aku sudah neriama dia." Doni berkata menggoda ku. Membuat ku hanya tersenyum mendengarnya.
"Mas Athar.." Sapa Ratih menghampiri kami yang sedang duduk di depan kedai.
"Waalaikumsalam Ratih." Balas ku membuat Ratih tiba-tiba salah tingkah dan tersenyum malu-malu.
" Mas Athar kapan datang?" Ratih bertanya sambil membeli sesuatu di kedai itu bersama satu temannya.
" Tadi siang.." Jawab ku seadanya.
" Bagaimana keadaan mas Athar sekarang?" Ratih kembali bertanya.
" Alhamdulillah seperti yang kamu lihat, aku baik."
Ratih kembali terdiam mendengar jawaban ku.
"Hmmmmb, mas Athar apa aku boleh meminta no ponsel mu?" Ratih kembali berkata.
" Boleh saja, nanti kamu bisa minta ke Doni." Aku mencari alasan menghindar dari nya, seperti nya ia terlihat sedikit kecewa.
"Ya sudah, aku balik dulu yah Don." Aku beranjak dari tempat duduk ku sambil menepuk bahu Doni.
"Buru-buru aja kamu Thar, padahal baru ajah dateng." Doni menatap wajah ku dengan wajah sedikit jengkel nya.
"Aku masih ada urusan sama keluarga ku jadi aku pergi dulu." Aku langsung melambaikan tangan ku kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan Doni, Ratih dan yang lainnya.
***********
" Assalamualaikum." Aku membuka pintu depan rumah.
"Waalaikumsalam."
Terlihat kedua orang tua ku sedang berbincang di ruang tamu.
"Athar..." Ayah memanggil ku saat aku masuk kedalam rumah.
"Iya Ayah..." Jawab ku sambil berjalan menghampiri mereka.
"Sini ayah mau mengatakan sesuatu yang penting kepada mu." Ayah terlihat sedikit serius.
Aku duduk di kursi di depan beliau.
"Athar, kami berencana mau melamar anak sahabat ayah buat kamu." Ayah mulai menyampaikan maksudnya.
Aku tercengang mendengar nya.
"Aku masih belum siap untuk berkeluarga yah." Aku menolak dengan halus.
"Jangan menolak nak, umurmu sudah waktunya untuk berkeluarga, apa kamu gak kasian liat ibu mu sibuk sendiri an ngurus rumah sendiri." Ayah mencoba membujuk ku.
Aku terdiam sejenak memikirkan nya.
" Apa lagi yang kamu tunggu, studi mu sudah selesai dan pekerjaan mu sudah mapan di kota jadi sudah selayaknya kamu untuk menikah nak." Bujuk ayah lagi saat melihat kediaman ku.
"Iya Thar, ibu dengar dia gadis yang baik dan sekarang masih menyelesaikan studi akhirnya sebagai seorang dokter." Ibu ikut membujuk ku.
"Dokter." Tiba-tiba aku mengingat wanita yang pagi tadi aku temui. Mungkin kah dia?
"Baiklah, terserah ayah dan ibu saja." Aku akhirnya setuju dengan perkataan ayah, jujur saja aku berharap semoga itu benar-benar dia.
Namun karena sudah menjadi adat keluarga kami, bahwa kami baru bisa bertemu setelah ijab Kabul sehingga membuat ku tidak bisa memastikan apa benar itu dia. Jika seandainya bukan dia aku akan menerima nya, asal dia benar-benar wanita pilihan keluarga ku.
"Akhirnya kau bersedia." Ayah berkata penuh bahagia.
"Athar melakukan ini sebagai tanda bakti ku sebagai seorang anak yah." Aku berkata menegaskan nya.
"Ayah harap kelak kamu tidak melakukan nya karena itu nak." Ayah berkata penuh yakin. Aku hanya terdiam mendengar nya.
"Besok kita pergi melamar nak." Ayah kembali berkata membuat ku terkejut.
"Secepat itu yah?"
"Jangan menunda-nunda sesuatu yang baik nak, itu pamali." Ibu menjawab nya.
"Baiklah, terserah ayah dan ibu saja, aku pamit dulu untuk beristirahat." Aku beranjak dari tempat duduk ku dan berjalan menuju kamar ku di atas.
"Apa kita tidak keterlaluan memaksanya yah?" Terdengar suara ibu yang merasa cemas dengan kediaman ku.
"Biarlah Bu, dia sudah dewasa dan sudah sepantasnya berkeluarga, dari pada dia seperti teman-teman nya selalu nongkrong gak jelas arah kehidupan nya." Ucap Ayah samar-samar saat aku menaiki tangga namun masih terdengar jelas..
Sesampainya di kamar, aku langsung menghempaskan tubuhku dengan malas di tempat tidur ku, meraih ponsel di samping ku. Membuka notif pesan dan beberapa panggilan dari nomor yang tidak ku kenal.
'Mas Athar ini aku Ratih.' Isi pesan itu.
"Ternyata gadis itu benar-benar meminta nomor ku, dasar Doni." Ucapku merasa kesal sendiri.
Bukan karena aku tidak suka dengan Ratih, memang dia gadis yang cantik dengan rambut bergelombang yang indah, sejak sekolah SMA sampai kuliah dia selalu memberikan perhatian lebih pada ku namun, karena sifat ku yang dingin dan enggan untuk berhubungan dengan yang namanya cinta membuat aku enggan untuk membalas semua perhatian nya, bukan karena aku membenci cinta namun, karena aku takut dosa, mungkin terlihat naif, tapi memang begitu adanya, sejak dari kecil ayah dan ibu ku selalu mengajariku points-points penting dalam agama. Keluarga ku bukan kalangan orang awam biasa, ayah dan ibu lulusan dari pondok pesantren tertua di Jawa timur, walau seperti itu beliau tidak pernah memaksa kami anaknya untuk menempuh pendidikan di pesantren. Beliau selalu memberi kebebasan kepada kami tentang pendidikan kami. Namun, meski begitu mereka selalu mengajari kami point-points penting dalam agama terutama kewajiban sholat dan membaca mushaf Al-Qur'an. Aku merasa beruntung hidup dengan keluarga ku seperti ini.
**********
Keesokan harinya, terlihat ibu dan Nabilla tengah sibuk di dapur membuat kue, kebetulan hari ini libur jadi Nabilla tidak masuk sekolah.
"Mas Athar mau kemana?" Nabilla bertanya ketika aku berjalan melewati dapur.
" Mau ketemu Doni sebentar."
" Mas jangan lama-lama nanti ayah mau ngajak mas pergi." Nabilla berpesan padaku.
" Emang Ayah mau ngajak mas kemana?" Tanyaku bingung.
" Ayah mau ngajak mas ke rumah paman sebentar buat ambil mobil, kan kemarin mobilnya di bawa paman." Nabilla berkata sambil mixer adonan kue.
" Oke, nanti kamu telpon mas yah dek, kalau ayah udah pulang." Pesan ku.
"Ok." Nabilla tersenyum tipis.
"Mas pergi dulu. Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam."
Aku kembali melanjutkan langkah ku menuju pintu depan lalu keluar rumah, menuju rumah Doni yang tak terlalu jauh dari rumah ku.
Aku berjalan menelusuri lorong perumahan tempat kami tinggal. Dalam perjalanan aku berpapasan dengan beberapa tetangga yang mengenal ku, menyapa ku walau sekedar bertanya tentang kabar.
"Mas Athar.." Ratih menyapaku saat ia keluar dari warung, membeli sesuatu. Membuat ku menghentikan langkah kaki ku.
Aku menoleh kearah nya.
"Ratih.." Balas ku.
" Mas Athar mau kemana?" Ratih bertanya.
" Mau pergi ke rumah Doni." Jawab ku.
" Kebetulan arah kita sama, bareng yuk." Ratih berkata sambil tersenyum manis ke arah ku.
"Boleh saja." Aku tersenyum membalas senyuman nya.
Lalu kami melanjutkan perjalanan kami menuju tempat tujuan kami masing-masing.
" Mas Athar kerja apa di kota?" Ratih bertanya membuka topik pembicaraan.
" Aku bekerja sebagai staf keuangan di perusahaan PT Mega Jaya." Jawab ku masih menunjukkan pandangan ku.
"Wah itu jabatan bagus mas." Ratih memujiku.
"Ah itu hanya biasa, kamu sendiri kerja dimana?" Aku berbalik bertanya dengan sesekali menatap nya.
"Aku bekerja sebagai admin di salah satu perusahaan asuransi di Surabaya mas." Jawab nya sambil menundukkan pandangannya.
"Alhamdulillah." Jawab ku merasa sedikit senang mendengar nya.
" Mas disana sudah punya pasangan?" Ratih bertanya mengalihkan pembicaraan membuat terdiam sejenak.
" Aku masih sama seperti dulu, masih enggan dengan yang namanya cinta." Jawab ku datar, terlihat ia menghela nafas berat mendengar ucapan ku.
"Emang mas Athar gak pengen nikah?" Ratih bertanya lagi dengan nada serius.
" Soal nikah, entahlah."
" Mmm, aku sudah
(masih bersambung dulu.)