Seperti judul lagu, mungkin inilah yang terbayang di benakku saat ini. Karena jodoh ada ditangan Tuhan. Dan takdir tak bisa diubah semudah itu.
Mari ku ceritakan sebuah kisah piluku dimasa lalu. Pilihan yang tak mampu ku ubah, serta hanya mampu ku pendam dalam hati hingga belasan tahun lamanya.
*
Namaku Aisyah, asli dari sebuah kota di Jawa Timur. Awal tahun 2000 an, Aku bertemu dengan seorang Pria yang bisa dikatakan membekas dalam ingatanku hingga kini.
Bermula dari tempat kursus bahasa Inggris. Di hari pertama masuk kursus, ada salah satu anggota kelompokku yang masuk. Namanya Syarifudin, Aku biasa memanggilnya Syarif.
Di hari ke tujuh kursus barulah Dia masuk. Respon pertama kali bertemu, kaget melihat Dia! Bukan.. Bukan karena aku mengenal dia, karena itu adalah pertama kali kami bertemu. Tetapi adalah parasnya yang sangat mirip dengan seseorang yang menjadi cinta pertamaku dimasa lalu. Raut muka dan penampilan yang hampir serupa, membuatku hilang fokus. Satu-satunya hal yang jelas berbeda, hanyalah logat bicaranya, karena dia berasal dari tanah Sunda, jauh dari tempat asli kelahiranku.
Suatu ketika Aku ditunjuk untuk mewakili lomba cerdas cermat antar kelompok dan saat itu Dia langsung meraih tanganku, menggenggam dan mengantarku menuju kedepan seperti sudah sangat lama kenal. Sejak saat itu, Kami menjadi saling dekat.
Syarif sebenarnya masih kuliah tapi mengambil waktu cuti buat kursus, sementara Aku sudah lulus kuliah. Meskipun demikian, Kami seumuran, karena Aku masuk Sekolah Dasar lebih cepat dibanding anak sebayaku. Kita sering sekali ngobrol bercanda. Selama 6 bulan kursus Kita terus bersama. Sampai suatu saat Dia bertanya.
"Ais.. Kamu tuh suka tipe pacar yang seperti apa sih?"
"Tipe? Emang merk tv pakai tipe?"
"Emm.. maksudku kriteria pasangan yang jadi pacar idamanmu?"
"Syarif, Aku sedang tidak mencari pacar. Karena yang ku cari adalah calon suami."
Syarif hanya terdiam mendengar jawabanku.
*
Dihari terakhir Dia di kota Pare(tempat kursusku di Pare, Kediri), Dia mengajakku jalan-jalan ke alun-alun, dan disana Dia menyatakan perasaannya kepadaku.
Dia tidak meminta jawaban dariku, karena menurutnya Aku akan menolak setelah mengatakan hanya mencari calon suami, sedang Dia sendiri masih kuliah. Padahal kalo boleh jujur Aku juga ingin menjawab, kalo Aku sebenarnya juga sayang dan sebenarnya Aku juga sudah lama tahu jika Dia menyukaiku.
Suatu ketika Syarif pernah bercerita, jikalau Dia menyukai seorang wanita, maka Dia akan sering mendatanginya, sekalipun jauh rumahnya. Hanya dengan melihat genteng rumahnya juga sudah cukup membuatnya senang dan Dia seringkali datang ke rumahku hanya untuk meminjam buku atau hal-hal lain yang sebenarnya tidak penting.
Dia juga pernah bercerita, pernah dikhianati oleh mantan pacarnya. Dimana mantan yang sangat Dia sayangi justru malah menikah dengan sepupunya, saat itu Dia merasa sangat marah.
*
"Ais.. Gimana Syarif?"
Obrolanku suatu ketika dengan sahabat terdekatku.
"Syarif baik-baik saja. Masih sehat wal' afiat."
"Iisshh.. Bukan itu maksudku! Hubungan Kalian itu lho! Kenapa nggak jadian saja? Kan sama-sama suka!"
Aku ceritakan bagaimana Syarif menyatakan perasaannya padaku yang sontak membuat sahabatku geregetan.
"Haadduuhh.. Kenapa nggak diterima saja!"
"Aku juga bingung bagaimana menerimanya." Ku tutup mukaku dengan kedua tangan.
"Bukan jamannya lagi main gengsi-gengsian kalee..!"
"Sudahlah, kalo jodoh nggak kemana."
"Si jodoh lagi sibuk sama biro, dengan membuat biro jodoh." Sahutnya.
"Nggak jelas banget!" Jawabku tak kalah ketus.
*
Sehabis dari Pare, Dia pindah kuliah di Malang. Suatu hari, temanku mengajak ke Malang untuk menghadiri wisuda Syarif. Dulu tahun 2001 belum ada handphone, kalaupun ada juga saat itu termasuk barang mewah. Aku dan Syarif, biasanya hanya berkomunikasi lewat telepon kost. Tapi saat itu sengaja Aku ke malang tidak memberitahunya.
Dari lubuk hatiku saat itu hanya mengatakan, 'Ya Allah pingin banget ketemu Syarif'.
Saat itu, Aku dan temanku sedang naik angkutan umum dan secara tidak sengaja, aku melihat Syarif. Spontan saja Aku segera berteriak sekeras mungkin memanggil namanya.
"SYAARRRIIIIFFFFF!!!"
Awalnya dia tersentak, kaget dan bingung. Hingga beberapa saat kemudian Dia membalas sambil melambaikan tangannya.
"TETTEEHHHH!!!!"
Syarif asli Bogor. Semenjak Dia mengutarakan perasaannya waktu itu, Dia jadi memanggilku 'teteh'. Padahal awalnya Dia memanggilku 'Ais'.
Saat Dia memanggilku itu, Dia memintaku untuk turun dari angkutan, tapi Aku tidak turun, karena takut ditinggal teman. Padahal jika dipikir kembali, bisa saja kalau Aku turun terus minta antar Syarif. Entah mengapa justru aku lebih memilih ikut teman.
Sehari berselang Aku pulang ke Pare. Di angkutan umum, berharap bisa kembali bertemu Syarif. Tetapi nyatanya hingga tiba di terminal tak kunjung bertemu Dia. Terpaksa segera naik bus.
Dan ternyata.. Ketika bus mulai keluar dari terminal, Aku baru melihat Syarif dipinggir jalan. Kembali Aku berteriak memanggil namanya.
"SYYAARRIIIIFFFFF!!!!!" Teriakku mengabaikan tatapan para penumpang bus yang lainnya.
Dia kembali memintaku untuk turun, tapi entah mengapa Aku tidak menurutinya, meskipun hati kecil ingin sekali berjumpa dengannya.
Ketika sudah tiba di kost tempat tinggalku, Dia kemudian telepon.
"Teteh tahu nggak, Aku itu dari pagi nungguin Teteh di terminal, gak kunjung ketemu. Giliran udah capek mau pulang malah ketemu.. Teteh itu seperti hantu! Manggil terus hilang!" Cerocos Syarif dari balik gagang telepon, yang hanya ku tanggapi dengan tertawa saja.
Selama Dia kuliah di Malang, meskipun terpisah jarak antar kota, kami cukup sering berhubungan lewat telepon. Seringkali pula, Aku mendengar curhatan Dia tentang kuliah dan pacarnya. Sering pula Aku goda, apakah masih suka denganku, yang hanya ditanggapinya dengan tawa. Walau sebenarnya Aku masih berharap Dia mengatakannya, tapi tak pernah terjadi hingga Aku bertemu dengan Pria yang kini jadi suamiku.
*
3 hari sebelum Aku menikah, Syarif menelepon. Dia mengatakan tidak akan lagi memanggilku 'Teteh', karena Dia menyayangiku sebagai wanita, bukan lagi sebagai kakak.
'Deg!' Seketika Aku kaget.
Mengapa terlambat? Padahal sudah sejak lama Aku menantikannya. Dengan wajah memerah tertunduk lesu dan mata berkaca-kaca, serta suara yang berat, Aku harus mengatakannya.
"Maaf Syarif.. A..Aaku tidak bisa." Suara parau ku dari balik telepon terdengar jelas.
"Kenapa?" Sahut Syarif.
"Karena Aku akan menikah tiga hari lagi." Ku tutup kedua mataku sambil menahan tangis yang segera pecah.
"Kamu bercanda kan, Ais? Tiga hari lagi itu hari ulang tahunku!" Suara Syarif mulai meninggi, terdengar sedang menahan emosi.
Akhirnya, Aku hanya mampu mengiyakan bahwa Aku memang menikah di hari ulang tahunnya. Syarif tampak sangat marah, dengan menyamakan ku seperti mantan pacarnya yang sudah menyakiti dan mengkhianatinya. Aku hanya mampu mengucap maaf berkali-kali, dan sayangnya kata maaf ku tak diterima.
Syarif kemudian memutuskan kontak dan mengganti nomornya. Semua akses untuk menghubunginya ditutup.
*
Sejujurnya, hingga belasan tahun lamanya, Aku tetap memendam perasaan sedih dan bersalah yang selalu menghantuiku.
Ingin sekali rasanya, bertemu dengannya sekali saja. Hanya untuk meminta maaf dan melihatnya bahagia.
**
cuap_cuap :
Cerita ini adalah kisah nyata dari Bundaku tersayang. Dan untuk beliau yang kini entah dimana, semoga seperti harapan Bundaku, beliau hidup bahagia.
"Tuhan adalah Yang Maha Kuasa, dan saat menunjukkan KuasaNya, maka kita tak akan kuasa"
*End*