Hai perkenalkan namaku Aleta Quenby Elvina biasa dipanggil Leta umurku 14 tahun aku adalah korban dalam peristiwa yang bisa di bilang besar di sekita tempat tinggalku dan diriku banyak sekali yang mengenang karena aku menyelamatkan banyak nyawa dalam peristiwa tersebut bahkan foto ku adalah foto utama di sekitar tugu peringatan yang terletak tidak jauh dari lokasi kejadian.Aku anak pertama dari dua bersaudara dan memiliki adik perempuan bernama Ayumi berumur 12 tahun.Aku di kenal orang sebagai anak yang memiliki hati yang tulus,baik,ramah,peduli dan murah senyum kepada sesama namun senyuman terakhir ku perlihatkan kepada keluarga ku.
Pagi yang cerah seperti biasa aku berangkat ke sekolah setelah mengantarkan adik ku ke sekolah.Seperti biasa aku menjalani kehidupan di sekolah mulai seperti dari belajar,berolahraga,membaca buku.Kelas ku selesai lebih dulu dan diperbolehkan pulang awal sama seperti kelas lainnya karena guru tengah mengadakan rapat dan tak lupa aku menjemput adik ku dari sekolah.Setelah menjemput adik sesampainya di rumah yang di cari atau menanyakan tentang apa yang aku lakukan di sekolah oleh ibu ku adalah Ayumi bukanlah diriku,mungkin bagi orang lain itu adalah hal kekanakan bagi remaja seusia ku tetapi bagiku itu adalah hal yang karena sejak dulu aku tidak pernah mendapatkan hal seperti itu bahkan pujian saja tidak pernah ada untukku.
Setelah semua kegiatan luar selesai aku melanjutkan dengan kegiatan rumah membantu orang tua ku seperti mencuci pakaian,mencuci piring,menyapu,mengepel,melipat baju dan lain-lain sesudah berganti baju dan melaksanakan ibadah sholat.
Setelah itupun aku belajar mengerjakan tugas.Menurut tetangga ibu ku adalah orang yang pilih kasih dan kasar,ayah ku adalah orang yang terkadang keras dan kasar dalam mendidik anaknya tetapi bagiku mereka tidak seperti apa yang di bicarakan oleh para tetangga mereka adalah orang tua yang hebat dan luar biasa terutama ibu yang membawa ku ke dunia.Banyak luka yang ku dapatkan luka dalam maupun luka luar artinya luka mental lebih dalam daripada luka fisik.
Aku sering menangis diam-diam tiap malam,aku juga selalu ingin melakukan bunuh diri dan aku juga tak tahan untuk menangis ketika orang tua ku memperlakukan ku dengan baik karena aku sudah terbiasa dengan sikap mereka yang seperti itu dan aku juga selalu berusaha untuk membuat orang tua ku marah atau kesal agar aku di marahi hahaha cukup bodoh bukan? Aku tahu bahwa salah jika berbuat sepeti itu tapi aku harus bagaimana lagi? Walau orang tua ku kasar aku tahu bahwa semua itu demi kami dan demi diriku.Rasanya di mata orang tua ku aku serba salah dan rasanya di mata orang tua ku hanyalah terdapat satu anak mereka yaitu Ayumi adik ku.Kunci dari orang tua ku adalah Ayumi adik ku.
Hari ini adalah hari minggu jembatan terkenal yang berada di sekitar tempat tinggalku mulai ramai karena jembatan itu terkenal akan keunikannya dan pemandangan sekitar jembatan.Disebelah kanan aliran sungai sedangkan sebelah kiri pegunungan nan indah.Aku beserta keluarga ku keluar pergi ke jembatan untuk menikmati pemandangannya banyak sekali orang yang disana menyenangkan sekali bukan?.Tapi di tengah kebahagiaan tersebut tiba-tiba terjadi gempa bumi berkekuatan tinggi namun tidak menyebabkan tsunami datang.Semua orang panik dan berteriak juga termasuk diriku yang terkejut.
Semua orang saling berpegangan tangan agar tidak jatuh.Jembatan itupun bergoyang kekanan kekiri yang membuat semua orang ketakutan dan menyebabkan bagian tengah jembatan roboh itu semakin membuat semua yang ada di jembatan semakin ketakutan.Ibu ku langsung memeluk adik ku dengan pelukan erat ayahku berada di depan ibu dan adik ku sedangkan aku berada di belakang ibu dan adik.Orang-orang yang di tidak berada didalam jembatan histeris karena kasihan dan terkejut sama saat bagian tengah jembatan roboh.Tak lama setelah gempa berhenti tim penyelamat pun tiba untuk menyelamatkan para korban.Tim penyelamat cukup terkendala oleh TKP rasanya seperti susah sekali mengevakuasi para korban.Lantas diriku tergerak untuk membantu evakuasi,awalnya ayah dan ibu ku tidak mengetahuinya karena aku pergi secara diam-diam.
Setelah itu aku membantu tim penyelamat membantu mengevakuasi orang-orang.Orang yang diutamakan adalah anak-anak dan perempuan.Aku awalnya di suruh untuk duluan oleh tim penyelamat tetapi aku menolak dengan alasan "Aku ingin membantu tim penyelamat untuk mengevakuasi" memang tidak di izinkan tetapi aku tetap membantu dan akhirnya aku di izinkan oleh tim penyelamat membantu.Di tengah pengevakuasiaan gempa susulan pun terjadi,tim penyelamatan pun mempercepat proses evakuasi.Orangtua ku terkejut karena aku ikut evakuasi saat aku menyuruh orang tua dan adik ku untuk menuju tim penyelamat.
Setelah semua selesai evakuasi aku pun menuju luar jembatan,saat ingin keluar aku tiba-tiba mendengar suara tangisan anak kecil yang ternyata terpisah dari orang tuanya,kondisi saat itu masih terguncang gempa susulan.Aku yang mengetahui hal ini pun langsung bergegas menyelamatkan anak kecil itu tetapi dari arah berlawanan tim penyelamat berteriak padaku :
"Nak! Ayo nak! Kemari! Apa yang kau lakukan? Mengapa kau berbalik arah?" Teriak salah seorang tim penyelamat.
Aku pun menjawab teriakan salah seorang penyelamat sambil berteriak "Ada yang tertinggal! Seorang anak kecil yang sedang menangis memanggil ibu nya karena terpisah oleh sang ibu!".
Orang-orang di sekitar yang mendengar teriakan Leta pun membuat seorang ibu teringat akan anaknya,yaaa....ibu itu adalah ibu dari sang anak kecil tersebut.Ia lupa bahwa ia membawa anaknya dan terpisah lantaran panik.
Salah seorang tim penyelamat pun bertanya "Apa yang akan kau lakukan? Di sini terlalu berbahaya biarkan tim penyelamat yang menolongnya!".
Leta yang dari tadi merasa membuang waktu saja ia pun bergegas menyelamatkan bocah tersebut,tempat bocah tersebut pun berada tidak jauh dari bagian jembatan yang roboh.Bukankah berbahaya bukan? Bisa juga jembatan itu roboh semua!? Hal itu tak membuat tekad Leta pupus untuk menyelamatkan bocah itu.Beberapa tim penyelamat menyusul Leta untuk membantunya.Leta yang sampai duluan pun lalu menggendong sang anak dan sebelum menggendong bocah tersebut Leta berkata untuk membujuk sang anak :
"Dek,tidak perlu takut tidak perlu menangis di sini ada kakak! Kakak akan membantu mu pergi dari sini! Lihat disana ibumu sedang menunggumu apakah kau tidak mau menyusul ibu mu?".
Setelah itu sang anak pun mau untuk di gendong Leta dan saat akan menyerahkan kepada tim penyelamat lagi-lagi terjadi gempa susulan semua orang panik termasuk Leta sendiri.Semua orang pun menyoraki Leta agar cepar-cepat menjauh dari jembatan di karenakan sepertinya jembatan akan roboh.Leta bingung karena di depannya ada tim penyelamat yang tengah membawa sang anak tersebut,tiang jembatan runtuh hampir mengenai salah seorang tim penyelamat,sang bocah dan Leta namun beruntung Leta mendorong kedua orang yang ada di depannya agar tidak kejatuhan.Leta menyuruh agar mereka berdua cepat meninggalkan TKP.
Mereka berdua pun keluar dari jembatan kecuali Leta malahan Leta tewas tenggelam bersama dengan puing-puing jembatas yang jatuh ke sungai.Awalnya Leta ingin keluar dari jembatan namun sayang seribu sayang takdir berkata lain jembatan semuanya runtuh bersama Leta.Semua orang berteriak histeris begitu pula sang adik Ayumi.Ayumi terus menerus memanggil nama sang kakak dan air matanya tak terbendung.
"Kakak! Kakak! Tidak! Dia bukan! Dia pasti dia selamat! Kakak pasti nasih hidup!" Teriakan Ayumi semakin kencang malah lebih kencang saat jembatan runtuh bersama kakak nya.
"Kakak!" Teriakan singkat penuh makna di iringi tangisan yang terus mengalir bagai aliran yang dulu tenang kini harus mengalir begitu deras.
Hal itu membuat Ayumi pingsan dan Ayumi beserta korban lainnya di bawa ke posko darurat.Sementara itu tim penyelamat menyisir dan mencari Aleta hingga jasadnya ketemu.Sebelum jembatan runtuh Aleta sempat melihat keluarganya terutama sang ibunda tercinta,wajah yang seperti tidak khawatir sama sekali yang dimana wajah itu tidak melihat Aleta.Aleta yang melihat sedig dan menangis bagaimana bisa seorang ibu tidak khawatir pada anaknya yang di ambang kematian.Aleta menangis,Aleta mengingat masa lalu,tangisannya ingatannya ada dimana-mana termasuk senyum sang ibunda.
"Ibunda,Ibu ku,malaikat ku.... Mengapa engaku tidak khawatir padaku? Mengapa engaku tidak bersedih melihat anak mu di ambang kematian antara hidup dan mati? Mengapa kau tidak histeris malahan mencoba menenangkan Ayumi? Apakah aku tidak penting bagimu? Apakah kau tidak peduli padaku? Apa kesalahan ku? Mengapa kau seperti ini? Mungkinkah keberadaan ku,kehadiran ku dan kelahiran ku adalah sebuah kesalahan? Kau selalu mencoba mengusir ku? Suata ketika engkau marah padaku karena aku memarahi adik,saat engkau marah engkau berkata AKU LEBIH BAIK TIDAK MEMILIKI ANAK DARIPADA HARUS MEMILIKI ANAK SEPERTIMU!!! Bukankah kalimat ini sudah jelas? Bukankah dari awal kau sudah tak menginginkan ku? Kau pernah menyuruh untuk mati dengan caramu.KAU PERNAH MENYURUH KU UNTUK MEMINUM RACUN!. Aku tahu aku nakal aku tahu emosi ku masih labil kenapa ketika aku marah tanpa alasan kalian malah memarahi ku.Ibu,Ayah dan Ayumi adik ku aku rela melakukan apa saja hanya demi kalian bahagia.Aku rela menyerahkan nyawa.Aku rela menjadi aib.Aku rela menjadi tameng dan aku rela menanggung semua beban kalian.Tuhan....bila di kehidupan selanjutnya aku masih mau memiliki malaikat tanpa sayap seperi ibunda,pahlawan tak berkuda seperti ayah dan adik kecil seperti Ayumi.Tuhan....aku tidak mengaharapkan apa-apa.Aku hanya berharap engaku menjaga mereka seperti engkau menjaga diriku.Aku berharap ibu,ayah dan adik hidup bahagia,aman,sentosa dan sejahtera.Ringankanlah beban mereka,berilah mereka pengganti yang lebih baik untuk menggantikan ku,berikanlah mereka semangat agar mereka bisa menjalani kehidupan dengan baik.Ibu....Ayah...Adik ku Ayumi....Semuanyaaa....Selamat tinggal....Semoga kita bertemu kembali di surga nanti dengan kehendaknya sang pencipta....Ibu...Ayah...Ayumi...Maaf dan terima kasih...." Itulah kata-kata terakhir Aleta sebelum menghebuskan nafas terakhirnya.
Tak lama kemudian,jasad Aleta pun di temukan oleh tim penyelamat dan dibawa ke rumah sakit untuk di tindak selanjutnya.Sementara itu di posko darurat Ayumi tersadar dari pingsannya dan berteriak memanggil kakaknya.
"KAKAAAKKK!!!" Teriak Ayumi.
Lalu Ayumi menanyakan kepada ibu dan ayahnya yang di sampingnya.
"Ibu...Dimana kakak? Ayah....Dimana kakak? Mengapa ia tidak ada di sini? Ahhh....aku ingat sekarang kakak tenggelama bersama puing-puing jembatan! Bagaimana dia sekarang? Apakah baik-baik saja? Apakah kakak masih hidup? Mengapa kalian menjawab? Mengapa kalian membisu?".
Pertanyaan terlalu banyak di lontarkan oleh Ayumi.Ayah dan ibunya hanya bisa membisu tanpa suara tanpa jawaban.Karena hal itu Ayumi pun turun dari ranjangnya untuk mencari Aleta sang kakak.
Ayah dan ibunya melarang tapi Ayumi masih saja tetap bersikeras dan akhirnya ayah dan ibunya mengizinkannya mencarai Aleta namun ayah dan ibunya harus ikut menemani.
Mereka bertiga telah mencari Aleta tetapu tak kunjung ketemu.Ada satu yang tak mereka periksa,di tempat terdapat foto para korban yang berhiasi bingkai cantik.Mereka bertiga tidak mengetahui bahwa ada tempat utama bertempatkan foto utama.
Didepan banyak kerumunan yang menangis histeris melihat foto-foto tersebut.
Tiba-tiba datanglah seorang wanita sekitar umur 30an bertanya kepada mereka bertiga.
"Permisi bu...mengapa kalian bertiga tidak kesana?" Tanya wanita tersebut.
"Memangnya di sana ada apa ya bu?" Tanya balik Ayumi kepada wanita tersebut.
Lantas wanita tersebut menjawab sambil menunjuk "Di sana terdapat foto para korban yang tewas,ditengahnya atau posisi utama adalah pahlawan bagai bidadari.Sayang ia tewas di usia mudanya".
Ayumi pun bertanya kembali "Berapakah usianya bu...?".
Wanita itu menjawab "Ah aku tak tahu pasti sekitar umur 14-16 san gitu".
Ayumi pun terus bertanya "Bagaimana ciri-cirinya? Bagaimana ia tewas? Berapa jumlahnya yang tewas?".
Wanita itupun menjawab lagi "Cantik,tidak terlalu tinggi,tidak terlalu pendek,memakai kerudung berwarna ungun,memakai baju berwarna putih berlengan panjang.Ia tewas tenggelama bersama puing-puing jembatan.Akibat sikap penyelamatannya dan pengorbanannya tidak terlalu banyak yang menjadi korban tewas eeeee....sekitar 5 orang ditambah dirinya 6 orang".
Ayumi semakin yakin bahwa itu adalah kakak nya.Ciri-ciri dan penjelasan dari sang wanita tersebut menjadi bukti kuat bahwa itu adalah kakak nya Aleta.
"Bu...Ayah....Itu...kakak....aku yakin sekali....itu pasti diaa....aku tak pernah salah..." Ucap Ayumi sambil bergetar.
"Terima kasih bu atas infonya" Ucap sang ayah berterima kasih kepada wanita tersebut.
Wanita tersebut menjawab "Sama-sama pak" dan meninggalkan mereka bertiga.
Tiba-tiba datang lagi remaja yang tak lain adalah sahabat kakak nya Tia,Ella,Doni,Johnny dan Isela.Mereka bertemu di depan kerumunan.
"Ayumi? Apa yang kau lakukan di sini? Dimana kakak mu? Mengapa hanya bertiga?" Tanya Tia
"Kak Tia,kak Ella,kak Doni,kak Johnny dan kak Isela aku tak tahu dimana kakak.Kami sudah mencarinya tetapu tidak ketemu" Jawab Ayumi.
Isela pun memotong pembicaraan mereka "Bagaimana mereka tidak tahu sedari tadi hanya mengkhawatirkan putri kecil mereka,tidak mencari Aleta,bagaimana bisa Aleta memiliki orang tua seperti mereka? Aleta adalah malaikat bagi korban peristiwa ini.Sayang sekali di umurnya yang masih muda harus pergi meninggalkan mereka.Hmph! Itu lebih baik".
"Apa yang kak Isela katakan? Kakak!? Apa yang terjadi?" Tanya Ayumi yang bergemetar.
"Mengapa kau tak melihat dan masuk kedalam.Apakah di sana ada kakak mu tidak?" Jawab Isela sambil menunjuk agar menyuruh keluarga Aleta masuk kedalam.
Ayumi pun bergegas masuk kedalam.Ia tertegun karena melihat foto sang kakak terpajang di tempat utama.Ayumi bertanya-tanya "Darimana foto itu berasal? Mengapa terpajang di situ? Apakah kakak benar-benar telah tewas?"
Ayumi menangis histeris melihat ini ia tidak menyangka kakaknya harus pergi terlebih dahulu.Ayumi sangat sayang kepada kakaknya tetapi Tuhan sang pencipta lebih sayang kepada Aleta.Bukankah kata-kata tersebut sudah tak asing lagi bukan?
Jenazah Aleta di kebumikan di pemakaman umum.Ia satu liang lahat dengan sang nenek yang tak lain adalah ibu dari ibunya.Hal ini di karenakan adalah permintaan terakhir Aleta jika suatu saat nanti ia pergi meninggalkan dunia ia ingin untuk di makamkan satu liang lahat dengan sang nenek.Banyak sekali pelayat yang berdatangan untuk mendoakan Aleta.
Rencananya setelah jembatan di perbaiki akan di bangun tugu peringatan di sekitar jembatan.Tugu itu bernama "Tugu Peringatan Aleta".Tujuan di bangunnya tugu tersebut adalah untuk mengenang para korban terutama Aleta.Setiap tahunnya diadakan kunjungan di makam Aleta,makam para korban,tugu dan sekitarnya untuk mengenang kematian Aleta dan korban.
Aleta semoga kematian mu husnul khotimah.Semoga engkau tenang di alam sana.Semoga dosa-dosa mu di ampuni dan amal-amal mu di terima.Semoga engkau di sisi samping Tuhan dan di jannah-Nya.Pengorbanan mu tak akan pernah kami semua lupakan.Malaikat kecil kami.....💫
Itulah kata-kata yang di ucapkan serentak oleh para pelayat saat proses pemakaman Aleta.
Aamiin.....❣
Baca juga ver.novelnya dan karya yang lainnya.
Makasii❣