"Aku akan menjadi kekasih terbaikmu tapi ingat jangan berbalik ketika kita berjalan bersama"
*********************************
Laura menatap nanar ke arah rekan kerjanya. Mereka masih menunggu Steffi menyelesaikan pekerjaannya, hari ini steffi berulangtahun. Dia akan mentraktir semua rekan kerja di kafe kecuali Laura.
Bahkan ketika Laura melewati mereka tidak ada yang menyapanya semua asyik dengan gawai masing-masing dan bercengkrama penuh keceriaan. Laura kembali terabaikan.
Laura berperawakan mungil dan memiliki penampilan biasa dan dari dulu Laura terbiasa tidak dianggap keberadaannya walaupun terkadang masih terasa sakit hatinya ketika orang mengabaikannya. Dia seakan ada tapi tidak terlihat seperti kerikil di jalanan.
Dengan langkah gontai Laura membuka pintu minimarket tempatnya bekerja. Bersamaan ketika dia membuka pintu hembusan angin terasa kencang dan dingin menerpa wajah Laura. Membuat gadis itu mengerjap berapa kali ketika membuka mata seorang pria berada tepat di depan Laura. Dia tampan dengan kulit putih seperti porcelain, pria tersebut menatap Laura seakan ingin tahu.
"Tampan sekali beruntung wanita yang akan memilikinya". Laura berkata dalam hati
"Kau bilang apa?". Pria tersebut bertanya dengan suara rendah. Dia urung masuk ke minimarket, Laura tercengang untuk sesaat dia menoleh ke kiri dan kanan memastikan dirinya diajak bicara tapi tidak ada siapa-siapa di halaman minimarket hanya ada Laura dan pria tersebut.
"Aku tidak mengatakan apapun"
"Ya.. Kau mengatakan sesuatu. Mari Ku antar pulang"
"Ti.. tidak. tidak usah". Laura tergagap tetapi seakan terhipnotis Laura melangkah menuju kostannya.
"Nama Ku Satria"
"Aku Laura".
Sejak hari itu Satria sering menemani Laura. Mengantar jemput ke tempat kerja, makan atau menemani Laura ke tempat wisata dan sejak Satria ada seakan Laura terlahir kembali ke dunia. Semua menyapa Laura, mengajak bicara walaupun yang mereka tanyakan hanya tentang siapa Satria.
"Lauraaaaaa.. Lauraaaa. Suara panggilan dengan erangan tertahan membuat Laura menoleh dan hendak berbalik ke belakang mencari siapa yang memanggilnya tapi tarikan tangan Satria menyadarkannya.
"Kafe sudah dekat Laura"
Ini untuk kesekian kalinya Satria hanya menemani Laura makan. Dia selalu membayar semua makanan Laura tetapi tidak pernah memesan makanan.
"Kenapa kau tidak pernah makan Satria?".
"Karena itu bukan jenis makanan yang Ku santap". Laura menatap nasi goreng dihadapannya. Jarang dia menemukan orang yang tidak menyukai nasi goreng. Satria tersenyum, sepasang mata coklat tuanya menatap Laura, ada getaran di hati gadis itu.
"Laura maukah kau menjadi kekasih Ku?". Laura menatap Satria. Dia tidak mengenal pasti siapa Satria, dimana rumahnya, siapa temannya tetapi keberadaan Satria di tengah rasa sepi dan tidak keberdayaan membuat Laura mengabaikan hal itu.
"Aku tidak menarik Satria mengapa kau memilih Ku?". Suara Laura begitu lemah dan putus asa.
"Sesuatu yang tidak menarik bagi manusia lain belum tentu tidak menarik buat Ku". Satria menatap lembut pada Laura.
"Aku akan membuatmu menjadi paling berharga di dunia ini karena kau istimewa. Jadi maukah kau menjadi kekasih ku?". Laura mengangguk karena lidahnya terasa kelu untuk menjawab.
" Tapi ada satu syarat Laura, Aku akan menjadi kekasih terbaikmu tapi ingat Kau tidak boleh berbalik jika berjalan bersama Ku. Apapun yang kau dengar dan rasakan. Kau jangan pernah berbalik"
"Kenapa?" Satria tersenyum, sebuah tarikan tipis di bibirnya membuat aura tampannya begitu istimewa.
"Karena Aku tidak ingin ada yang menginginkan dirimu dibelakang Ku". Satria berbisik dengan suara rendah. Laura tersipu malu karena beberapa pengunjung berbisik melihat ke arah mereka.
Sejak itu kebersamaan Laura dan Satria sering terlihat.
Hari ini Satria kembali menjemput Laura ke minimarket tempat kerjanya. Laura shift sore sehingga pulang kerja hampir jam 10 malam. Satria tidak pernah naik kendaraan pribadi, jaman sekarang kendaraan online banyak mungkin Satria menggunakannya. Laura tak mau repot memikirkannya terpenting bagi dirinya sekarang ada Satria di hari-hari nya.
Ketika sedang berjalan bersama . Suara erangan muncul kembali kali ini lebih kuat dan jelas.
"Laura.. Lauraaaa.. ". Gadis itu ingat pesan Satria untuk tidak berbalik mencari sumber suara. Genggaman Satria terasa dingin.
Mereka telah tiba di Kost Laura. Satria menatap Laura , dia memiliki mata tajam dengan sorot lembut ketika menatap Laura.
" Kau gadisKu yang baik ,Laura". Laura tidak mendengarkan perkataan Satria karena suara erangan itu terdengar lagi. Rendah, parau dan menghinoptis Laura.
"Lauraaaa.. Lauraaaa.." Kali ini punggung Laura terasa panas, embusan panas membuat gadis itu tersentak. Di malam yang dingin kenapa ada udara panas dibelakangnya.
Laura tersadar ketika kedua pipinya merasakan sentuhan Satria. Dia harus mendongak ketika menatap Satria. Ada kilatan dimata Satria.
"Besok kamu ulang tahun bukan, Jaga dirimu saat bersama Ku. Ingat selalu pesan Ku jangan pernah berbalik ketika kita berjalan bersama. Apakah kau akan berjanji Laura sayang?"
"Aku berjanji Satria". Laura berkata sambil mengangguk walaupun dia ingin bertanya tetapi akhirnya dia memilih diam dan mengingat dengan baik pesan Satria.
***********************
Esok hari ketika pulang dari minimarket bersama Satria. Langit malam begitu cerah dengan bintang yang bertaburan. Satria mengenggam tangan Laura erat.
"LAURAAAA.. LAURAAAA... LAURAAAAAA". Kali ini suara semakin jelas dan kuat, embusan angin kencang terasa mencengkram punggung Laura.
"Satria kau dengar itu?". Satria hanya diam, wajahnya dingin menatap ke depan jalan.
" LAURAAAAAAAAA". Laura merasakan ada sesuatu yang dingin lalu berganti panas menjalar ke punggung merambat naik ke lehernya. Laura menoleh ke arah Satria tapi kemana prianya. Laura panik.. Dia menoleh ke kanan kiri ketika menoleh ke belakang Laura terperanjat.
Satria berada di belakang Laura, memunggungi Laura. Kedua tangannya terbentang menghalangi berapa makhluk berpakaian panjang putih kecoklatan kusam dengan rambut menjuntai menyentuh jalanan. Tangan kehitaman mencoba menggapai ke arah Laura dari balik tubuh Satria.
"Satriaaaaaa". Laura baru hendak berbalik memutar tubuhnya tetapi suara Satria terdengar parau, jauh dan marah.
"JANGAN BERBALIK LAURA. Jangaaaaannnn pernah berbalik. Ke depan Laura,melangkah ke depan. JANGAN PERNAH BERBALIK dan menoleh ke belakang lagi . Dengar pesan Ku Laura Kau telah berjanji"
Laura gamang tetapi melihat keadaan Satria Laura berbalik menghampiri Satria, dia memilih menolong kekasihnya.
"Kau tidak menepati janji Laura padahal Aku datang untuk mendampingi mu melewati hari. Aku kecewa padamu Laura". Satria berlalu meninggalkan Laura bersama makhluk yang mencengkram erat Laura. Dingin berganti panas membuat Laura tak berdaya, gelap dan kesadarannya hilang
***********
Laura tersadar dari pingsannya. Sekuriti minimarket dan beberapa rekan kerja mengelilingi Laura. Laura bertanya kemana satria tetapi teman-temannya menatap aneh.
"Dia bicara apa? kenapa begitu kacau?"
"Aku tidak paham apa yang dikatakan Laura"
Sebuah tangan hitam memegang tangan Laura mengarah mencabik ke arah steffi. Steffi menjerit histeris ketika Laura hendak menyerangnya.
**********************
Keluarga Laura menatap nanar dan iba ke arah Laura.
"Semoga kejiwaan Laura kembali normal lagi". Sebuah suara jauh terdengar
"Dia terus meracau tidak jelas"
Laura mendengus apa peduli kalian selama ini pun tak pernah hadir, biarlah dia disini menunggu kehadiran Satria ketika memikir kekasihnya cengkraman dingin membekap Laura begitu kuat membuat gadis itu memberontak dan menjerit.
"Lepaskan.. lepaskan Aku"
"Pasien mengamuk".
"Cepat lakukan tindakan"
Beberapa perawat diikuti dokter mulai mengelilingi Laura. Disini dalam rumah khusus jiwa yang sakit, Laura akan menghabiskan hari-hari yang panjang.
-End-