Aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan.
Mengagumi dia dari bayangan.
Dia bagaikan matahari yang bersinar terang, tidak bisa dijangkau tapi memberi kehidupan hanya dengan merasakan kehadirannya.
Seorang teman yang hanya sebatas teman sekelas.
Aku menyadari jika orang sepertiku tidak akan bisa mendapatkan hadiah utama sepertinya.
Mungkin karena inilah otak manusia cenderung digunakan untuk berimajinasi, karena ada banyak hal yang tidak bisa mereka peroleh dan hanya bisa membayangkannya saja.
“Andai saja ada sesuatu kejadian besar terjadi dan aku menjadi seorang pahlawan….”
Aku terus berdelusi tentang menyelamatkan semua orang dan menjadi pahlawan. Mungkin dengan itu dia akan melirikku.
Tapi tiba-tiba suara di luar gedung menjadi sangat berisik membuat beberapa siswa menjadi penasaran. Ruangan kelas kami berada di lantai dua sehingga hanya perlu melihat keadaan di luar lewat jendela.
“Waaa apa itu?..”
“Mereka banyak..”
“Apakah ini sebuah parade cosplay?.”
Para siswa terus berbicara dengan temannya membuat keadaan kelas menjadi ricuh. Aku tidak bisa melihat apapun karena seluruh tempat sesak oleh puluhan siswa, mungkin aku bisa melihat sesuatu jika turun ke lantai bawah.
“Awas panah!!!!”
Seorang siswa berteriak keras sambil menjauh dari jendela, aku seketika di buat bingung dengan sikapnya yang berbaring di lantai. Tapi aku segera menyadari saat ratusan anak panah menghujani jendela dan membuat kacanya pecah lalu.….
“Gyaaaaa…!”
“Sakit…!”
“Mataku…!”
Teriakkan puluhan siswa terdengar keras ketika tubuh mereka di tembus oleh banyak panah, bahkan ada beberapa diantaranya mereka tidak lagi bergerak dikarenakan panah mengenai bagian Seperti mata dan dahi. sementara yang masih selamat mulai mengeluarkan busa pada mulut mereka.
“Panah beracun.” Gumamku setelah melihat sebagian besar teman sekelas ku tidak lagi bernyawa.
Kepanikan segera terjadi ketika para siswa yang masih selamat menjadi histeris ketika melihat mayat teman-teman mereka. Tapi itu belum berakhir saat sesosok makhluk berkulit hijau dengan tinggi 135 cm muncul dari balik jendela.
Melihat kedatangan makhluk itu semua siswa hanya terdiam.
‘Bagaimana dia sampai di atas sini? apa dia melompat?.’ batinku Ketika melihat makhluk berkulit hijau itu.
Aku melihat tatapan makhluk hijau itu tertuju pada siswi selamat, makhluk hijau itu menggenggam sebuah pisau dan bersiap untuk menghujam senjata itu pada gadis yang aku kagumi dari bayangan.
Gadis itu hanya menatap sekeliling dengan bingung tidak mengerti apa yang baru saja terjadi tanpa menyadari dibelakangnya maut tengah mengintai.
“Adera…. JANGAN BERBALIK!”
Teriakku dengan keras, tapi Adera yang kebingungan malah menoleh ke belakang. Matanya terbelalak ketika melihat makhluk hijau itu bersiap menusuk dirinya dengan pisau bernoda darah, tapi tiba-tiba….
Braaaaak
Dengan refleks aku mengambil sebuah kursi dan melemparkannya pada makhluk itu yang membuatnya terpental ke belakang dan jatuh dari lantai 2.
Kembali suasana kelas menjadi ricuh, sebagai siswa-siswi menangis dan yang lainnya mencoba melarikan diri keluar dari sekolah. Aku hanya bisa melihat matahariku terdiam sambil menangisi mayat seorang gadis yang merupakan teman dekatnya. Tapi.…
Groaaaaaaaahhh
Terdengar suara yang begitu keras membuat jendela kaca yang tidak hancur bergetar hebat. Keadaan kembali hening semua orang dipenuhi oleh ketakutan. Tapi siswa yang berhasil menenangkan diri segera berlari dari ruang kelas dan di ikuti beberapa siswa.
Hingga yang tersisa hanya aku dan ‘dia’.
Aku hanya duduk diam di lantai memandangi Adera yang masih menangisi temannya.
Sementara suara teriakan para siswa terus terdengar di luar tapi aku tidak peduli.
Beberapa saat kemudian Adera berhenti mengisi dan melihat sekeliling hanya untuk menyadari jika tidak ada siswa lain selain diriku.
Mata kami saling bertemu dan bertatap cukup lama hingga gadis itu memalingkan wajahnya dengan pipi memerah. aku hanya tersenyum kecil melihat itu. aku telah meyakinkan diri untuk menghadapinya, menghadapi ketakutan terbesar dalam hidupku.
Menyatakan cintaku padanya.
Tapi seakan tidak memberi ijin, beberapa makhluk hijau menyerbu masuk kedalam kelas, melihat itu Adera sangat ketakutan. Aku segera bergegas menarik tangannya untuk berlari lewat pintu yang lain. Makhluk hijau yang melihat kami langsung mengejar tapi itu berakhir saat aku menutup pintunya.
‘Kelihatannya mereka tidak mengerti cara menggunakan engsel pintu’ pikirku melihat makhluk hijau itu kesulitan membuka pintu yang tidak dikunci.
Di sepanjang koridor aku melihat banyak jasad para siswa tergeletak lantai, itu membuatku sangat mual ketika melihat kondisi mengenaskan mayat-mayat itu.
Mereka seperti makanan sisa, yang hanya dimakan di bagian paling enaknya saja sementara sisanya di biarkan berceceran. Melihat pemandangan itu Adera terlihat tidak baik aku pun memutuskan untuk menggendongnya.
Aku membawanya ke atap karena di bawah sudah dipenuhi oleh monster. Sesampainya di atap aku segera mengunci pintu dan menaruh benda apa saja untuk menahan pintu.
Setelah itu aku melihat Adera yang menatap ke bawah di mana lautan monster berada. Dia hanya terdiam melihat monster-monster itu dari balik pagar kawat. Dia terlihat sedih mungkin karena masih memikirkan tentang teman-temannya.
Perlahan aku mendekatinya dan berdiri disampingnya. Bukan hanya sekolah tapi seluruh tempat Sepertinya mendapat serangan dimana seluruh kota terlihat terbakar dalam kobaran api,
Kemudian aku mengalihkan kembali perhatian pada Adera, dia tidak terlihat terganggu karena keberadaanku bahkan setelah aku menggenggam tangannya, dia terlihat membalas tanganku dengan menggenggamnya semakin erat.
Aku mencoba untuk meliriknya dan mendapati air mata kembali membasahi pipinya. Dengan penuh tekad aku memberanikan diri untuk berbicara tentang perasaanku.
Warna pipinya semakin memerah ketika mendengar setiap perkataan yang aku katakan padanya.
Dia hanya memalingkan wajahnya tanpan memberikan jawaban, hingga aku memberanikan diri untuk menyentuh pipinya dan kemudian mengecup bibirnya.
Itu sangat lembut. Dan yang luar biasa adalah aku mendapat ciuman pertamaku saat dunia tengah menghadapi kiamat.