Terdiam, itulah hal yang sering aku lakukan jika berhadapan denganmu, mungkin itu caraku untuk mengungkapkan apa yang kusebut 'Cinta'.
Konyol memang, ungkapan cinta macam apa yang aku lakukan itu? Diam bukan sebuah ungkapan cinta yang tepat untuk mendapatkan apa yang kusebut cinta.
Mana mungkin seseorang yang aku cinta akan tahu perasaanku jika aku hanya berdiam diri, membisu, mematung dan tanpa mengungkapkan perasaanku?
Sampai kiamat datang pun, dia tidak akan pernah tahu jika aku sangat mencintainya melebihi apapun. Tapi apa boleh buat, aku sungguh tak berani mengungkapkan perasaanku padanya. Aku sungguh tak punya nyali bahkan aku akan kehilangan kosakata yang telah kurangkai sempurna jika melihat sorot matanya yang tajam saat berhadapan langsung dengannya.
"Diam, lagi-lagi kau hanya diam. Apa kau bisu sehingga tak ada lagi kata yang bisa keluar dari mulutmu?" ucapnya ketika melihat reaksiku yang tak bergeming, aku takut dan rasa takut itu kembali menyerang sistem kerja otakku sehingga membuatku lumpuh dan tak mampu berkata-kata.
"Kalau tak ada yang ingin kau katakan, maka jangan lagi menghalangi jalanku."
Dia melangkah pergi meninggalkanku yang masih diam mematung di tempat. Aku sebenarnya ingin mengatakan padanya satu kalimat sederhana, "Aku mencintai kamu," tapi lagi-lagi lidahku kelu. Dan aku gagal meloloskan kata itu.
Aku sudah lama mencintainya tapi sampai sekarang nyatanya aku tak pernah bisa mengungkapkan isi hatiku padanya, mungkin jika dihitung sudah hampir tiga tahun sejak senyum bak bunga putih yang merekah di pagi hari itu singgah di hidupku.
Kala itu aku tak sengaja melihat di acara Masa Orientasi Siswa (MOS) dia adalah kakak kelasku. Aku awalnya tak tertarik, namun sepertinya Tuhan mempermainkan perasaanku. Saat aku tak sengaja hampir terpeleset, tiba-tiba seseorang menangkapku. Dan dialah orang yang menyelamatkanku.
"Kamu tidak apa-apa?" katanya dengan datar.
Dia begitu indah, dia begitu menarik dengan sedikit sifat dinginnya membuatku sangat penasaran akan dirinya. Aku terhipnotis oleh manik matanya yang hitam. Meski tak seperti di dalam sebuah cerita telenovela atau seperti adegan drama Korea, tapi entah kenapa hatiku bergemuruh saat masuk ke dalam matanya. Mata itu seolah menyedotku dan selalu ingin menetap di dalamnya.
Semenjak saat itu, aku begitu memujanya. Tapi, Tuhan sepertinya mempermainkan perasaanku lagi. Lelaki yang aku puja itu telah memiliki kekasih yang amat sangat sempurna juga. Sakit rasanya hati ini, tapi sayangnya aku tak berniat membencinya apalagi melupakannya, bahkan saat dia lulus lebih dulu pun aku masih belum bisa melupakannya.
Takdir, mungkin aku harus bersyukur ketika takdir berpihak padaku, lelaki pemilik iris mata indah itu ada di dekatku lagi saat ini. Meskipun situasinya masih sama, sama-sama masih dalam radius jauh dari jangkauan tanganku. Setidaknya aku masih bisa melihatnya lagi, aku bahagia ketika ternyata takdir membawaku satu kampus bahkan satu jurusan dengannya.
Dia masih seperti kelopak bunga mapple indah dan akan selalu indah dan mewangi menyambut musim semi. Senyumku melengkung saat melihatnya, dia semakin tampan. Tapi detik berikutnya, senyumku meredup saat melihat beberapa teman perempuannya begitu modern dan fashionista. Bahkan menjadi temannya saja aku begitu tidak layak, lantas bagaimana bisa lelaki itu akan tertarik padaku?
Cobalah lihat aku? Aku bagai daun mapple yang mengering dan berjatuhan, tak ada kata indah melainkan akan menjadi sampah yang menghiasi musim gugur. Dan aku akan tersapu begitu musim gugur hilang.
Aku dan dia memang berbeda, sangat-sangat berbeda. Perbandingan kami terlalu jauh. Ia takkan jatuh cinta pada diriku yang hanya daun kering yang akan menjadi sampah selepas ia jatuh dari tangkainya.
Aku menyadarinya, aku memaklumi hal itu, tapi bolehkah aku egois kali ini? Aku bukan tak tahu diri, tapi aku terlalu mencintainya, aku menginginkannya.
"Aku mencintaimu, Ryan," hanya kata itu yang ingin kukatakan pada pria yang kini tengah di hadapanku.
Tapi sayangnya itu hanya lamunanku, ya hanya lamunanku yang berharap bisa mengeluarkan kalimat sarat akan makna. Faktanya aku tak bisa meloloskan kalimat itu dari mulutku. Terlalu sulit.
"Apa kau tetap akan berdiri mengahalangi jalanku tanpa mengeluarkan sepatah katapun?"
Untuk kesekian kalinya, aku hanya mampu mematung sembari merunduk takut, untuk kesekian kalinya aku gagal mengungkapkan perasaanku, dan untuk kesekian kalinya ia meninggalkanku dalam keadaan resah. Nyaliku selalu ciut jika berhadapan dengan pria menjulang tinggi bak model itu.
"Wanita itu selalu saja seperti itu semenjak SMA. Aku tidak mengerti kenapa, tapi harus aku akui kalau aku mulai terganggu."
Kudengar dia menggerutu pada temannya selepas berpapasan denganku. Ada sebersit penyesalan pada diri ini karena membuatnya risih. Aku menatap punggungnya secara nanar. Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu risih dengan tindakanku, aku hanya tidak tahu bagaimana caranya agar aku bisa sedikit mengeluarkan apa yang selama ini aku pendam padamu.
Aku bodoh, amat sangat bodoh. Kenapa hal-hal indah yang telah kurencanakan selalu menghilang? Kenapa lagi-lagi harus berakhir seperti ini? Aku gagal, aku gagal untuk kesekian kalinya.
Aku membalikkan tubuhku, berjalan berlawanan arah dengannya. Menyeka tepian mataku yang sudah basah karena lagi-lagi aku menangis saat tak berhasil menyampaikan perasaanku.
Aku muak dengan diriku, aku muak dengan kemampuanku yang payah ini. Tapi aku tak bisa menyalahkan Tuhan, ini murni salahku, mencintai apa yang melebihi batasan diriku.
Tapi aku tidak kecewa sama sekali padanya, aku hanya berharap cahaya bintang biru sapphire bisa menerangiku agar aku bisa melihat mimpi indah bersamanya dimasa depan, meski itu mimpi maka biarlah cahaya bintang biru sapphire itu tetap abadi dikehidupanku.
Biarlah aku mencintainya dalam diam, sampai saat dimana musim dimana terowongan besi berbau karat dengan sedikit aroma khas lumut hijau yang menghiasi pemandangan indah itu datang menyapaku. Aku akan menunggu waktu itu, aku tak peduli seberapa lama aku menunggu keyakinan itu datang padaku, aku akan tetap menunggunya sampai waktu yang indah itu berpihak lagi padaku setelah pertemuan yang tak terduga itu yang membawaku menjadi seperti ini.
Bahkan jika harus menunggu sampai matahari terbit berkali-kali setelah malam berakhir atau saat gelombang menghancurkan batu dengan deburan ombaknya menjadi serpihan kecil, aku tetap akan berpegang teguh untuk tetap setia mencintainya.
Aku tau aku begitu egois, tapi aku tak ingin berakhir dengan menyedihkan, yang pada akhirnya membuatku kecewa karena cinta yang sesaat dan membuatku terjatuh ke lembah dalam tak berdasar.
Aku ingin seperti yang kukatakan sebelumnya, aku menginginkannya, aku mencintainya, maka ijinkanlah aku untuk selalu mencintainya selama aku mampu untuk mencintainya dengan sepenuh hatiku tanpa ada sedikitpun rasa kecewa.
Maaf jika terlalu egois.