Hallo, ini andin.
Jika kamu membaca surat ini, itu artinya aku sudah mati dan kamu akan menjadi korban selanjutnya. Jadi, setelah selesai membaca surat ini segeralah lari dan bersembunyi sejauh mungkin. Aku akan menceritakan segalanya dari awal.
****
Kamu mungkin ingat kita dulu pernah sekelas di sekolah menengah atas. Aku lumayan populer dulu, jadi kuyakin kamu pasti mengingatku. Tapi, cerita ini bukan tentangku. Ini tentang ninda, gadis yang bunuh diri di lantai atas gedung sekolah saat kita duduk di kelas 3.
Aku tau ini bukan cerita yang menyenangkan untuk dibahas. Kita semua berduka pada saat itu. Akan tetapi, pada saat bersamaan kita juga penjahat secara tidak langsung.
Kita semua tau bukan, awal mula agnes dan teman-temannya membuli ninda? Itu disebabkan agnes cemburu dengan ninda karena dwi menyukai ninda. Kita semua juga tau, jika agnes menyukai dwi sejak kelas satu.
Saat itu aku tidak pernah menolong ninda sekalipun. Tidak hanya aku, tapi kita semua. Kita hanya diam melihat teman sekelas kita dibuli. Aku pikir, itu karena pada saat itu kita masih 17 tahun. Kita masih seorang remaja bodoh yang takut tidak memiliki teman jika berteman dengan orang yang tersisih.
Kamu ingat bukan agnes dan teman-temannya pernah memukuli ninda sepulang sekolah. Hal itu sempat ramai dibicarakan di sekolah karena untuk pertama kalinya, ninda melaporkan perbuatan agnes dan teman-temannya kepada kepala sekolah. Akan tetapi, tetap saja yang berkuasalah pemenangnya. Ayah agnes merupakan investor terbesar yayasan sekolah kita, jika ia mencabut semua dananya lambat laun yayasan bisa bangkrut dan juga karena ayah agnes adalah orang ternama kasus tersebut langsung di tutup dan tidak di tindak lanjuti. Agnes dan teman-temannya tidak mendapat hukuman apapun. Orang tua agnes hanya memberi uang konpensasi kepada ninda. Jika kupikirkan lagi sekarang, hal seperti itu bukan hal yang bisa dibayar dengan uang. Aku jadi mengetahui dari mana sebenarnya sikap sombong agnes berasal.
Saat itu belum ada sosial media dan jaringan internet secanggih sekarang. Tidak ada yang peduli dengan ninda, anak yatim piatu yang menerima beasiswa penuh.
Aku pikir pada saat itu, ninda bunuh diri karena merasa tidak adil dengan kasus pemukulan yang di alaminya pada saat itu. Akan tetapi, ada hal yang lebih mengejutkan.
****
Tiga minggu lalu dwi datang menghubungiku setelah 13 tahun lamanya. Dia memberi tahuku bahwa seluruh teman sekelas kita akan mati satu persatu. Di mulai dari agnes dan teman-temannya. Jadi aku pikir ini berhubungan dengan kasus bunuh diri ninda.
"Ini tentang ninda, bukan?" tanyaku kepada dwi yang hanya menganggukkan kepala.
"Jika ini tentang ninda, artinya ada seseorang yang ingin membalaskan dendam, karena tidak mungkin bukan, ninda bangkit dari kuburnya? Tapi siapa? karena setauku ia tidak memiliki keluarga satupun"
"Aku tidak tau pasti, aku hanya mendapatkan email peringatan dari anonim" kata dwi sambil menunjukkan pesan elektronik dari orang yang tak dikenal.
"Mungkin saja itu hanya email iseng" kataku tak percaya sambil melambaikan tangan di depan wajah.
"Kasus ninda lebih rumit dari kelihatannya. Ia bukan bunuh diri hanya karena dipukuli. Aku mengenalnya dia gadis yang kuat" dwi merenung sambil menatap secangkir kopi di hadapannya.
"Kita semua pembuli" lanjut dwi.
"Kita masih 17 tahun, wi. Dan bukan kita yang membuli ninda, tapi agnes dan teman-temannya"
"Usia tidak lantas membenarkan tindakkan kita. Membiarkan pembulian juga merupakan tindakkan pembulian" kata dwi lemah.
"Kamu tau, seandainya dulu ada satu dari kita yang menantang agnes mungkin saja ninda masih hidup sampai sekarang" lanjut dwi
"Kita semua tau, seberapa berpengaruh orang tua agnes pada saat itu. Kita yang masih berusia 17 tahun tidak akan mampu melawannya" kataku membela diri walaupun hati kecilku membenarkan perkataan dwi.
"Dia hamil" kata dwi membuatku berhenti menyesap kopiku.
"Ninda?" tanyaku masih tak percaya.
"Ya, gilang salah satu teman agnes yang memperkosanya. Aku juga baru tau belakangan. Ia hamil, itulah yang menyebabkan ia bunuh diri" aku menutup mulutku tak percaya mendengarkan pernyataan dwi.
"Jadi, sesuai email yang kuberitahukan kepadamu. kita semua akan mati. Aku menduga semua akan di mulai dari agnes dan gilang"
****
Awalnya aku masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dwi. Akan tetapi, dua hari setelah aku bertemu dengan dwi, aku mendapatkan kabar bahwa agnes dan gilang mati secara mengenaskan .
Agnes mati di bathupnya dengan kondisi perut terbuka lebar dan isi organnya di keluarkan. Kata polisi yang menyelidiki kasus pembunuhan agnes, tidak ada tanda-tanda perlawanan pada jasad agnes.
Sedangkan gilang yang sekarang bekerja sebagai arsitek mati dengan jatuh dari lantai tujuh di kontruksi bangunan yang sedang ia kerjakan. Tidak hanya itu, saat jatuh ke tanah, tubuhnya tertancap sebuah linggis yang ditanamkan di tanah. Linggis tersebut menembus perut bagian atasnya.
Setelah kejadian itu, aku mencari kabar tentang semua teman sekelas kita. Selama tiga minggu ini, aku sudah mendapati delapan teman sekelas kita tewas.
Sekarang aku menulis surat ini karena aku merasa beberapa hari ini ada seseorang yang mengikutiku. Aku merasa ada seseorang yang mengawasiku baik itu di tempat ramai maupun saat aku sedang sendiri di rumah. Aku rasa giliranku sudah dekat.
Jika kamu menemukan surat ini, maka larilah dan bersembunyi. Jangan mencoba melawan. Karena dari kedelapan kasus pembunuhan yang di alami teman sekelas kita, tidak ada satupun yang berhasil dibongkar oleh polisi. Pembunuh ini sangat ahli dan berutal. Kamu hanya bisa lari dan bersembunyi.
Semoga Kamu Selamat,
Salam,
Andin
End/Selesai