#Jangan Berbalik
Salah satu kegiatan Ekstrakurikuler yang cukup favorit disekolah adalah kegiatan Pramuka. Disuatu sekolah Swasta bernama SMA Harapan Bangsa tengah mengadakan acara kemping yang akan dilaksanakan di sebuah hutan belantara.
Kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari dan diikuti oleh anggota ekskul baik siswa maupun siswi dari kelas X sampai kelas XII. Semua peserta telah berkumpul pada waktu yang telah ditentukan. Mereka mendirikan tenda-tenda sebagai tempat untuk berteduh selama berlangsungnya acara.
Sekitar kurang lebih setengah kilo meter dari tempat berdirinya tenda, terdapat sebuah sungai dengan air yang jernih dan sejuk. Jauh diujung sana terlihat ada beberapa rumah warga penduduk desa yang tidak terlalu padat.
Upacara pembukaan telah usia dilaksanakan. Pembacaan susunan acara serta pengarahan dari pembina pramuka telah selesai. Acara yang berlangsung dibawah terik sinar matahari membuat semua peserta kelelahan.
Tak terasa hari sudah sore, acara hari pertama sudah usai, masing-masing peserta kembali ke tenda masing-masing. Ada yang memilih beristirahat di tenda, ada yang menyiapkan api anggun.
Amel salah seorang anggota peserta kemah bersama empat orang temennya memilih pergi ke sungai untuk membersih diri dan mengambil wudhu untuk menunaikan solat ashar.
Suasana yang sejuk dan teduh serta suara kicau burung dan semiliir angin dari rimbunnya pepohonan hutan ini sedikit menghilang penat mereka usai seharian berpanas-panasan dibawah terik matahari.
Untuk sampai disungai mereka harus menuruni jalanan tanah yang agak terjal karena sungai terletak dibawah permukaan tempat mereka kemping.
Para gadis remaja itu tertawa riuh bermain air sungai, mereka bergantian mandi berjaga-jaga takut ada siswa cowok yang ngintip. Air sungai yang jernih dan sejuk membuat mereka ingin berlama-lama mandi. Usai puas bermain air mereka memutuskan kembali ke tenda. Saat para gadis ini berjalan menaiki dataran tanah yang lebih tinggi untuk bisa sampai ke tenda, mereka berpapasan dengan seorang laki-laki dengan kepala plontos perawakan tinggi besar. Usianya diperkirakan 40 tahun, ia menatap tajam ke arah Amel dan teman-temannya.
"Sore pak.."
Para gadis tersebut menyapa dan tersenyum ke arah laki-laki itu, namun laki-laki tersebut hanya senyum simpul dengan tatapan matanya yang tajam.
"Sore.." jawab laki-laki itu dengan suara yang dingin dan misterius.
Ada rasa takut menyusup dihati para gadis remaja itu. Merekapun mempercepat langkah menuju tenda mereka. Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat, buru-buru amel melaksanakan solat ashar, agak terlambat tapi dari pada tidak solat, pikirnya. Iapun mengimami temen-temennya menunaikan kewajiban solat empat rakaat itu.
Dari depan tenda sebelah, Angga yang merupakan kakak kelas Amel disekolah, mengamati gadis pujaannya itu. Ya Angga yang merupakan ketua Osis di sekolahnya, sudah sejak lama menyimpan rasa cintanya kepada Amel, adik kelasnya itu. Diam-diam ia selalu mengamati setiap gerak gerik Amel.
Betapa solehahnya amel, Selain berparas menawan dan pintar, gadis ini taat beribadah, gimana caranya agar aku bisa dekat dengannya, Gumam Angga dalam hati.
Angga termasuk siswa cerdas disekolahnya. Ia menjadi idola para gadis, Badannya tinggi dan atletis, wajahnya hitam manis ala Salman Khan si bintang film India. Selain sebagai ketua Osis, ia terkenal di sekolahnya atas berbagai prestasi dan ia juga aktif diberbagai kegiatan organisasi sekolah.
Banyak gadis yang mendekatinya, namun perhatiannya selalu tertuju pada Amel, gadis solehah, cantik, cerdas dan berprestasi yang konsisten berkurudung menutup dada.
****
Malampun tiba, suasana riuh berubah sunyi senyap saat seluruh anggota peserta kemah bersiap untuk tidur. Jam sudah menunjuk pukul 22.00, obor-obor dan beberapa lampu charger led yang menerangi tenda-tenda tak mampu melawan pekat dan gelapnya malam di hutan ini. Suara-suara hewan liar bersahut-sahutan dari sekitar tempat tenda mereka. Suara lolongan anjing yang terdengar dari kejauhan membuat suasana terasa semakin mencekam. Malam pertama kemah ini membuat Amel sedikit bergidik. Ia tak bisa memejamkan mata. Suara-suara aneh yang terdengar membuat bulu kuduknya merinding.
Ia melirik teman-temannya sudah tertidur pulas. Entah kenapa ia sulit sekali memejamkan mata, ia memutuskan mengambil Qur'an kecil dari dalam tasnya. Namun ia harus berwudhu untuk memegang Qur'an tersebut. Tapi mana mungkin ke sungai tengah malam begini, gumamnya dalam hati.
Ia mengambil ponselnya. Dibukanya aplikasi whatsaps. Harus minta tolong siapa, ia bertanya pada diri sendiri.
Netranya kemudian tertuju pada kontak bernama Angga Mahendra, disudut kiri sebelah atas ponsel cerdas itu tertulis Angga 'sedang online'.
"[Assalamualaikum Kak, belum tidur?]" Amel memencet tombol kirim.
"[Eh..Amel. Iya nih mel..ga bisa tidur nih. Amel blm tdr juga?]" bales Angga.
"[Iya kak..Amel juga ga bs tdr, ga tau rada merinding gitu kak]"
"[Eh kak..Amel boleh minta tolong ga]"
"[Insya Allah mel..emang mau minta tlg apaan mel?]"
"[Amel mau ambil wudhu kak, bisa temenin amel ??]"
"[Kakak bantuin amel wudhu pake air galon aja kak, kakak pompain gitu, amel takut mau keluar tenda sendirian, makanya minta tlg kakak]"
"[Ini temen-temen udah pada ngorok, amel ga enak mau bangunin mereka. jadinya mintok kak Angga deh]"
"[Ok, mel..siap, aku temenin. aku keluar ya]"
"[Makasih kak..maap ya kak amel ngerepotin ?]"
Amel segera mengenakan kerudung instan berwarna hitam dikepalanya, ia membuka pintu tenda, angga sudah berdiri sekian meter di depan pintu tenda. Ia segera keluar, menyusul Angga, di dekatnya sudah ada air galon berserta pompanya. Tanpa basa basi amel mulai mengambil wudhu, disebelahnya Angga memompa Air. suara anjing melolong terdengar dari kejauhan, membuat bulu kudu merinding.
Tiba-tiba Pyarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr....seperti ada sesuatu berkelebat. Dan terdengar seperti ada benda jatuh di dekat mereka.
Spontan Amel menutupkan kedua tangan ke wajahnya lalu tanpa sadar ia membalikkan badan, menyembunyikan muka dibalik lengan Angga.
Angga merespon dengan meraih kepala gadis itu kedalam dadanya yang sebelah kiri. Amel membenamkan wajahnya disana, ada desir menyeruak dari dada Angga. jantungnya berdebar-debar kencang. Ada gemuruh yang entah apa rasanya. Bukan debar takut, tapi debar-debar rasa tak percaya gadis yang selama ini dia kagumi, yang diam-diam selalu dia pikirkan kini ada dalam pelukannya.
Antara rasa takut bercampur dengan gemuruh di dadanya, Pelan tangan Angga mengusap kepala Amel yang ditutup kerudung itu, ia benamkan lebih dalam lagi wajah amel ke dalam dadanya yang bidang. Karena ketakukan, Amel semakin dalam membenamkan wajahnya di dada Angga, tak sadar kedua tangannya melingkar mendekap erat pinggang sang ketua Osis tersebut.
Angga membalas dekapan Amel, ia merengkuh tubuh Gadis pujaannya yang tengah ketakutan itu dengan kedua tangannya. dipeluknya erat tubuh yang yang menggigil takut itu, tangan kirinya mengusap kepala Amel, sedang tangan kanannya memeluk pinggang sang gadis.
Sekian menit tubuh dua anak manusia itu berdekapan, mereka terdiam, suasana mencekam membuat mereka tak berani bersuara. Begitu suara aneh tadi hilang, Amel tersadar dan secepat kilat melepaskan pelukannya.
"Astagfirullahhal'adzim..astaghfirullahhal'adzim" berkali-kali ia mengucap kalimat istighfar
"Maaf kak..maaf, amel takut kak" ucapnya dengan suara lirih nyaris tak terdengar.
Wajah putihnya yang cantik terlihat panik dalam temaram malam.
"Gak pa-pa mel..ga usah takut ya. Aku jagain kamu. ayo lanjutin wudhunya" jawab Angga dengan tatapan mata hangat.
Angga memompa air dalam galon tersebut, dalam hati iapun merasakan kengerian dan bulu kuduknya merinding, entah suara apa barusan. Namun demi menjaga gengsi dihadapan gadis pujaannya ia harus pura-pura berani walau sebenarnya nyalinya juga ciut.
Amel mengulang kembali wudhunya, Saat amel menunduk mengusap wajahnya dengan air, Angga melihat sesosok hitam berkelebat dari balik pohon rindang dibelakang tenda mereka.
"Audzubillahhiminassyaitonirrajim" Ucapnya pelan.
Angga menunduk, tak berani menatap kebalik pohon itu, saat menunduk itu tak sengaja Netranya melihat Amel yang tengah menyingkap roknya hendak membasuh kaki, ditengah gelap malampun terlihat kaki itu sangat indah, putih terawat. Kaki yang selama ini selalu tertutup kaos kaki, kini ia bisa melihatnya. Amel memang selalu menjaga Auratnya, malam ini benar-benar suatu keberuntungan buat Angga, ia bisa melihat kaki dan betis amel, bahkan bisa memeluknya di tengah malam yang mencekam ini.
"Amel masuk dulu ya Kak..makasih kak Angga udah nemenin" ucap Amel membuyarkan lamunannya, gadis itu segera berlari ke dalam tenda usai berwudhu.
Anggapun segera menyusul masuk ke tenda laki-laki di sebelah tenda amel, tenda mereka berjarak sekitar dua meter.
Rasa ngeri yang dirasakan Angga tak mampu mengalahkan debar cinta dihatinya saat ia bisa mengelus kepala Amel serta memeluknya baru saja. Sungguh seperti mimpi, Gumamnya. Sejujurnya ia ingin kejadian tadi berlangsung lebih lama lagi. Namun apadaya suasana begitu mencekam. Ahhh..desahnya pelan. Iapun merebahkan dirinya dengan seulas senyum dibibir, membayangkan mata gadis bermata bulat itu.
Ditenda sebelah, Amel menyesali apa terjadi baru saja, tak henti ia mengucap istighfar karena telah bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahromnya.
"Semoga allah memgampuniku" komat kamit ia berdoa. Ia segera membuka Qur'an kecil ditangannya dan mulai mengaji surah Yasin dengan suara yang sangat pelan.
*****
Pagi-pagi terdengar suara riuh dari luar tenda. Angga terbangun dari mimpi indahnya, Ia bermimpi pergi jalan berdua dengan Amel. Dengan malas ia membuka mata mendengar suara keributan di depan tenda. Ia segera keluar, ingin tau apa yang terjadi. Teman-teman dan guru pembina ramai-ramai mencari keberadaan Amel yang tiba-tiba tidak ada ditendanya.
Amel hilang? Kemana ia? disungai tidak ada. Teman-teman satu tenda tidak ada yang tau ia kemana. Sudah dicari sejak satu jam lalu tidak ada yang tau ia kemana.
Peserta kemah dari SMA Harapan Bangsa semua panik mencari keberadaan Amel. Tim dari sekolah lain belum tau tentang kabar hilangnya Amel.
Guru pendamping memerintah agar mencari ke area sungai. Barangkali Amel hendak buang hajat pagi-pagi lalu hanyut. Tapi ketika dicek kondisi sungai, air stabil tidak berarus.
Angga mungkin jauh lebih panik dibanding yang lain, bagaimana tidak, gadis yang selama ini dia kagumi tiba-tiba hilang padahal semalam ia masih menemani Amel untuk berwudhu di depan tenda. Angga berjalan sendiri menyusuri tiap sudut hutan itu untuk mencari Amel. Hatinya diliputi rasa khawatir yang begitu dalam.
Ia berjalan terus hingga netranya tertuju pada sesosok orang yang tergelatak dibawah pohon pisang. Mengenakan Kerudung hitam persis seperti kerudung yang semalam Amel kenakan saat memintanya menemani wudhu. Tak salah lagi itu Amel, pekiknya.
Angga segera berlari dengan sedikit berteriak mendekati sosok itu. Hatinya sudah diliputi berbagai prasangka buruk. Jangan-jangan Amel dibunuh?? Angga menjerit. Segera dibalikkannya tubuh yang tertelungkup dibawah pohon pisang itu.
Angga memeluknya erat. Ia menangis meraung-raung. Saat ia mendekap tubuh Amel, ia merasakan ada detak jantung. Amel masih hidup, pekiknya.
Ia perhatikan detail tiap tubuh Amel. Tidak ada luka, tidak ada tanda-tanda kekerasan. Amel sedang tidak dijahati orang, ia hendak memegang dada Amel untuk memastikan denyut jantungnya. Tapi ia ragu. Ia pun memilih mendekatkan jari tangannya di depan hidung Amel. Terasa hangat, dan ada hembusan nafas.
Amel masih hidup, pekiknya. Ia goncang-goncangkan tubuh Amel. Tapi Amel tidak bereaksi. Iapun memutuskan untuk menggendong tubuh Amel dan membawanya ke tenda. Ditengah perjalananan menuju tenda Angga bertemu dengan teman-teman sekolahnya serta guru pendamping.
Merekapun bersama-bersama membawa Amel ke tenda.
Angga sedang membaluri kening Amel dengan minyak kayu putih. Serta mengoleskan sedikit minyak tersebut di depan hidung Amel yang mancung itu. Amel terkesiap, pelan ia membuka mata, kaget ia dikelilingi banyak orang.
"Ini ada apa?" Tanya Amel sambil berusaha bangun.
"Syukurlah Mel..kamu udah bangun" ucap Angga dengan nada khawatir.
"Emang ada apa kak sama Amel?"Amel bertanya dengan bingung.
Temen-temenpun menjelaskan bahwa saat hendak solat subuh tadi, Amel tidak ada ditenda. Temen-temen tidak ada yang tau kemana Amel pergi, dicari kemana-mana juga tidak ketemu, sampai akhirnya Angga menemukannya tidur telungkup ditengah hutan dibawah pohon pisang.
Amel kaget mendengar penjelasan itu, ia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba dirinya ada di pohon pisang tersebut. Ia berusaha mengingat-ngingat apa yang terjadi namun ia merasa buntu, otaknya tak mampu mengingat. Ia merasa tidur sekitar jam setengah dua belas saat selesai mengaji. Ia pun selalu baca doa sebelum tidur.
Pak Dwi selaku guru pendamping meminta anak-anak untuk melupakan hal tersebut. Semua diminta untuk beraktifitas seperti biasa.
***
Jadwal kegiatan kemah hari ini adalah lomba tali-temali, masing-masing sekolah mengirim 1 regu untuk putri dan satu regu untuk tim putra.
Setiap regu diminta membuat gapura dengan bahan yang terbuat dari tongkat dan tali. Dalam pembuatannya, peserta lomba wajib menerapkan ilmu tali temali yang sudah diajarkan dalam kegiatan pramuka di sekolah masing-masing.
Acara lomba berlangsung dengan semarak. Masing-masing regu antusias mengerjakan lomba dengan harapan bisa menang. Tak terkecuali Amel, dia melaksanakan lomba dengan penuh semangat.
Tak terasa hari sudah sore, kegiatan lomba telah selesai. Masing-masing peserta kembali ke tenda masing-masing. Mereka bergegas mandi ke sungai. Membersihkan diri, tak lupa melaksanakan kewajiban solat 5 waktu. Usai solat isya' Amel tertidur dengan pulas karena lelah akibat lomba tali-temali siang tadi.
Dalam tidurnya Amel mendengar ada seseorang yang memanggil namanya.
"Amellllllll...Amellll, tolong aku melll"
"Buka matamu Ame, sini tolong akul" lanjut suara misterius tersebut.
Amel yang sudah tertidur pulas, tiba-tiba terbangun mendengar suara tadi, masih dengan mata terpejam, ia membuka pintu tenda dan keluar seorang diri.
Suasana malam di dalam hutan yang suci senyap, hanya diterangi lampu charger dan obor-obor ditiap depan tenda, terasa mencekam ditambah suara-suara hewan melolong dari kejauhan.
Amel berjalan dan mencari sumber suara.
"Hihihi...hihihihi terus ikuti aku mellll...jangan berbalik. Tolong aku mell" suara wanita yang misterius itu menggema ditelinga Amel
Masih dengan mata terpejam amel berjalan mengikuti suara itu, suasana sekitar hutan sangat gelap gulita.
"Sini Amel, jangan pernah berbalik. Ikuti aku" suara menyeramkan perempuan misterius itu terus mempengaruhi Amel.
Amel yang seolah terhipnotis mengikuti perintah suara tersebut, ia berjalan terus tanpa mengenal rasa takut berjalan sendirian dalam pekatnya malam dan rasa dingin yang menusuk tulang, membuat bulu roma bergidik.
"Hihiiii....hihihi" kembali suara kekehan menyeramkan itu terdengar entah dari manadatangnya.
Dengan mata terpejam Amel terus berjalan, hingga tiba di dekat pohon pisang itu...
Bruaaakkkkkkkkkkkkkkkkk...
Amel terjatuh dengan wajah tertulungkup dibawah pohon pisang itu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh di telinga Angga. Tubuhnya menggeliat, pelan ia membuka mata, Netranya memandang sekeliling, dilihatnya teman-temannya yang masih pada terlelap dalam mimpi.
Angga segera bangun dan meraih ponsel yang ada di sampingnya. Ia melihat jam diponsel cerdasnya itu menunjukkan pukul 04.00, sebentar lagi adzan subuh, pikirnya.
Ia pun berdiri dan mengintip keluar tenda, suasana masih gelap gulita, serta udara masih terasa dingin menusuk tulang. Ia kembali menutup pintu tenda. Angga yang mengenakan jaket kulit tebal berwarna hitam itu masih merasakan hawa dingin yang teramat sangat.
Segera ia meraih senter lalu berjalan keluar tenda seorang diri. Hendak ke sungai untuk buang hajat dan mengambil wudhu untuk menunaikan solat subuh. Ia berjalan menyusuri hutan yang masih gelap. Suara burung berkicau dari atas pohon terdengar merdu. Tangan kirinya ia masukkan ke dalam saku jaket sebelah kiri, sedang tangan kanannya memegang senter. Ia berjalan seorang diri, Bibirnya menggigil menahan dingin. Gigi atas dan gigi bawahnya beradu mengeluarkan suara gemerutuk. Saat hendak menuruni undukan tanah yang membentuk seperti anak tangga, tak sengaja netranya melihat sesosok hitam di bawah pohon pisang misterius itu. Angga hendak menjerit dan hampir saja lari terbirit-birit. Namun setelah sosok hitam itu berdiri, Angga merasa mengenali sosok tersebut.
"Aaaaamellll........" Pekik Angga.
Angga yang tadinya hendak menuruni undukan tanah, untuk menuju sungai, kini ia berbalik arah dan berlari menuju pohon pisang tersebut.
Sesosok di dekat pohon pisang itu pun berlari kearah Angga, tak sadar Amel segera berhambur kepelukan Angga sambil menangis tergugu.
Angga mengusap kepala Amel yang tertutup jilbab hitam itu.
"Kamu nggak kenapa-napa Mel...???kenapa bisa ada disini lagi?" Tanya Angga keheranan.
Amel yang masih menangis hanya menggeleng tak mengerti. "Nggak tau kak..Amel juga gak ngerti kenapa Amel ada disini" Ujarnya dengan kepala yang masih terbenam di dada Angga.
Tangan Angga mendekap kepala gadis itu, mereka tak bersuara. Hanya terdengar sesenggukan tangis Amel.
"Amel takut kak..."
"Nggak usah takut, ada kakak disini'
Angga melepaskan Amel dari pelukannya. Kedua tangannya memegang kepala Amel, lalu ia menatap Amel dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia masih melihat Amel mengenakan kaos kaki.
"Mel..maaf bisakah kamu sedikit angkat rok mu?" Ucap angga hati-hati.
Ragu Amel mengangkat sedikit roknya. Terlihat kaki Amel masih tertutup kaos kami dan celana legging dibetis bagian bawah.
"Sudah cukup, Kakak cuma mau memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi sama kamu" Ucap Angga sambil memegang bahu Amel dengan kedua tangannya.
"Maksud kakak..?"
"Pakaianmu masih lengkap, berarti tidak ada pelecehan seksual, kakak khawatir aja. Sudah dua kali kamu ada di tempat ini mel..ntah apa yang sebenarnya terjadi"
"Iya kak Amel takut kak..." Tangis Amel makin menjadi.
Angga kembali merengkuh Amel ke dalam peluknya, entah sepertinya ia mengambil kesempatan dari kejadian ini untuk bisa menyentuh Amel. Karena selama ini ia kesulitan untuk mendekati Amel.
Amel seolah tak sadar ia tengah bersentuhan dengan laki-laki yang bukan Mahromnya.
"Nanti kita ceritakan ini sama Pak Dwi..sekarang kita solat subuh dulu ya, kakak mau ke sungai, kita wudhu disana" Ucap Angga.
"Iya Kak.." Amel baru tersadar kemudian ia melepaskan pelukan Angga.
"Maaf kak..." Ucap Amel dengan wajah tertunduk malu.
"Kakak juga minta maaf Mel...Kakak gak bermaksud berbuat kurang ajar sama kamu.."
"Iya kak...Amel ngerti"
Mereka kemudian berjalan menuruni undukan tanah menuju sungai. Saat mereka sudah sampai di bibir sungai, terdengar suara riuh dari atas. Ternyata teman-teman peserta lain sudah pada bangun dan juga hendak menuju sungai untuk sekedar membersihkan diri dan menunaikan solat subuh.
***
Hari ini acara apel pagi sudah dimulai. Kegiatan pramuka dihari kedua ini adalah mencari jejak. Semua peserta sudah bersiap berpencar sesuai kelompok masing-masing. Tiap kelompok terdiri tiga anggota. Amel satu kelompok dengan Via Dan Elsa. Masing-masing kelompok dilepas dengan interval waktu tertentu.
Namun karena kurang konsentrasi kelompok Amel tersesat karena tidak jeli membaca petunjuk. Tiga orang gadis ini berjalan menyusuri jalanan menuju suatu perkampungan. Hingga mereka tiba disuatu pemukiman penduduk. Kaki mereka terasa lelah, karena sudah berjam-jam berjalan kaki, waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Mereka memutuskan beristirahat sejenak dengan menumpang duduk di balai bambu yang ada di depan rumah seorang warga.
Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi dari kejauhan, makin lama suara sirine itu terdengar makin mendekat. Dan tak lama lewat di depan mereka beberapa rombongan mobil polisi, dan iringan mobil tersebut menuju arah kampung sebelah.
"Ada apa ya bu, kok ada mobil polisi lewat kampujg ini?" tanya Amel pada ibu pemilik rumah yang sedang menjemur gabah.
"Kabare di kampung sebelah itu ada warga yang hilang nduk..sudah berapa hari tidak ketemu, jadi orang tuanya lapor polisi, itu mungkin polisinya datang untuk melakukan penyelidikan opo piye to jenenge ibuk ndak ngerti"
"Loo...hilang kenapa itu bu?Via bertanya penasaran.
"Yo ndak tau juga nduk...anak sing ilang masih perawan kayak kalian ini tapi sudah lulus sekolah tahun lalu, kabarnya setelah pamit mandi ke sungai ndak balek-balek"
"Oalahhh gitu to bu...apa jangan-jangan hanyut disungai ya bu?" Timpal Via.
"Bisa jadi nduk..sing ati-ati kalian di hutan sana. Sungaine deres..nek mandi disungai ojo menyang nang jerune, hutan e itu yo angker nduk, pokok akeh dungu ae lan ngastiti" ibu itu berpesan
Mendengar nasehat ibu itu ketiga gadis tersebut jadi takut dan bergidik.
"Kalian ini dari mana nduk..kok nganggu seragam-seragam?" tanya ibu itu.
"Kami peserta kemah bu...itu bu dihutan sana itu lo...lumayan gak terlalu jauh dari sini kok bu. Kami tadi tersesat pas ada kegiatan penjelajahan, nyasar kerumah warga kampung sini" Amel menjelaskan
"Oalahh..arek kemah to..Wes berapa hari kemah dek alas kono nduk?" Tanya
"Ini baru dua hari bu..." Amel menjawab sambil menuangkan teh ke dalam gelas.
Tak terasa hari sudah menjelang magrib. Matahari mulai bersembunyi dan mengeluarkan warna jingga diufuk barat sana.
"Bu kami pamit nggeh..meh magrib bu, tak mbalek posko. Matur nuwun nggeh bu" Amel pamit sambil mencium tangan ibu tadi.
"Iyo nduk ndang balik selak magrib nduk..ati-ati ya nduk"
****
Ketiga gadis remaja inipun berjalan cepat-cepat untuk kembali ke tenda mereka. Mereka lupa waktu mengobrol-ngobrol dengan si Ibu hingga sore hampir berlalu. Saat tengah memasuki hutan, bulu kuduk mereka merinding. Suasana yang mulai gelap membuat mereka semakin ketakukan apalagi setelah mendengar nasehat ibu tadi yang mengatakan bahwa hutan ini angker. Amel melirik jam dipergelangan tangan kirinya, masih jam lima lebih limat menit tapi kenapa sudah mencekam suasana dihutan ini..pekik Amel dalam hatinya.
Mereka bertiga saling berpegangan tangan satu sama lain. Suasana sepi mencekam, tiba-tiba seperti ada suara derap kami yang mendekat ke arah mereka.
Amel, Via dan Elsa spontan menghentikan langkah kakinya karena tubuh mereka bergetar ketakutan, mereka saling berpelukan dan memejamkan mata.
Lalu mereka merasakan ada sesuatu yang menyentuh kaki mereka.
Meooooongggggggggg.....
Ahh ternyata hanya seekor kucing. Mereka menarik nafas lega dan melanjutkan berjalan dengan tetap saling berpegangan satu sama lain.
Sampailah di dekat pohon pisang itu, ada seorang laki-laki berkepala plontos tengan berdiri disana. Tiga gadis itu berjalan dengan takut melewati pria tersebut. Mereka seperti pernah melihat laki-laki itu, tiba-tiba tercium bau anyir dan bau busuk menusuk indra penciuman tiga gadis remaha tersebut.
"Heii kalian, ngapain lewat disini?!!" Hardik lelaki itu.
Tiga gadis itu ketakutan.
"Kalian jangan pernah dekat-dekat dengan pohon pisang ini!!" laki-laki bersuara berat itu menatap tajam seolah memberi ancaman.
"Saya peringatkan sekali lagi, jangan pernah mendekati pohon ini!"
"Paham?!!!!"
Ba-baiiiikkkk pak" Amel, Elsa dan Via kompak menjawab.
Merekapun mempercepat langkah kaki mereka hingga akhirnya sampai juga ditenda.
Saat sampai di depan tenda, Pak Dwi sudah menunggu mereka.
"Kalian bertiga ini dari mana saja?" terdengar nada khawatir dari suara guru pendamping itu.
"Maaf, Pak..kami tadi tersesat"
"Iya Pak, kami tadi tersesat ke pemukiman warga pak. Kaki kami lelah jadi kami memutuskan istirahat sebentar dia salah satu rumah warga" Amel menundukkan kepalanya.
"Lain kali harus jeli membaca petunjuk, tempat ini asing untuk kita. Kalau kalian tersesat jauh bisa berbahaya" Sambung Pak Dwi.
"Baik Pak, kami minta maaf"
"Yasudah sekarang kalian boleh istirahat"
Tiga gadis itupun masuk ke dalam tenda. Hari sudah malam, namun Amel masih memikirkan kejadian tadi saat ia tersesat dirumah warga, lalu bertemu laki-laki dengan kepala plontos itu.
Amel tak habis pikir kenapa laki-laki itu melarang mereka mendekati pohon pisang itu?dan sudah dua kali ini Amel secara misterius menghilang dari tendanya setiap malam dan paginya ia ditemukan di dekat pohon pisang itu.
Ada apa sebenarnya?ia bertanya dalam hatinya.
Amel memutuskan menghubungi Angga. Ia mengirim pesan kepada kakak kelasnya itu tentang keanehan yang ia rasakan. Ia juga menceritakan tentang kejadian tersesat tadi siang serta keanehan seorang laki-laki yang tadi menjelang magrib ada di dekat pohon pisang itu.
Angga memberitahukan hal itu kepada Pak Dwi selaku guru pendamping.
Mereka bertiga kemudian bertemu untuk membicarakan hal itu.
Usai melaksanakan solat magrib, teman-teman sedang mengikuti pesta api unggun. Pak Dwi mengajak Angga dan Amel untuk berbicara di tenda. Amel menceritakan tentang keanehan yang ia rasakan terhadap pohon pisang itu. Pun tentang cerita Ibu dikampung tadi tentang ada seorang gadis yang hilang dan belum ditemukan, serta keanehan seorang laki-laki berkepala plontos itu.
Pak Dwi seolah sedang menemukan benang merah. Ia menghubungi kepala sekolah dan mereka membicarakan sesuatu yang Angga dan Amel tidak mengetahuinya.
Malampun tiba, semua telah bersiap untuk beristirahat di dalam tenda masing-masing. Amel merasa ketakutan dan tak ingin tidur malam ini karena takut kejadian itu terjadi lagi. Namun rasa kantuk tak bisa dilawannya. Usai membaca dzikir ia pun terlelap dalam tidurnya.
Kembali sebuah nama memanggik namanya dengan nyaring.
"Amelllllll..bangunlah. Bantu aku melllll..bebaskan aku dari sini"
Amel berdiri, masih dengan mata terpejam, ia berjalan keluar dari tenda seorang diri. Tanpa merasa ngeri sedikitpun ia berjalan lurus mengikuti sumber suara yang seolah menuntunnya. Anehnya matanya masih terpejam rapat.
Ada sebuah cahaya yang mengikuti gerak langkah kaki Amel, pun ada derap-derap langkah kaki lain yang mengikutinya.
Udara terasa dingin menusuk tulang, Hutan masih diselimuti gelap yang pekat.
Sementara Amel terus berjalan, hingga sampai disamping pohon pisang itu, ia kembali terjatuh dan...
Brukkk...
Tubuh Amel terkulai disana. Tak lama ada segerompolan Pria berbadan tegap berlari kearah Amel yang sudah terkulai jatuh di dekat pohon pisang itu. Suasana tak lagi gelap, cahaya senter menerangi sosok tubuh Amel yang telah diangkat oleh beberapa pria berjaket hitam-hitam itu.
"Segera gali" Perintah salah seorang dari mereka.
Sementara beberapa orang dengan cekatan segera menggali tanah, mereka mengangkat pohon pisang itu dalam hitungan menit. beberapa Pria berbadan tegap yang telah siap dengan cangkul ditangannya itu telah selesai menggali tanah dibawah posong pisang itu.
Pak Dwi tampak berlari ke arah tenda, ia membangunkan Angga dan meminta Agar Angga menjaga Amel serta memastikan Amel masih tertidur pulas usai tadi berjalan dalam mimpinya.
Tak lama Pak Dwi kembali berjalan ke arah pohon pisang itu. Pria berbadan tegap yang ada disana spontan menutup hidung mereka. Ternyata ada sesosok tubuh tang terkubur disana. Mereka yang sudah mengenakan sarung tangan dengan sigap mengangkatnya dari dalam lubang dibawah pohon pisang itu dan memasukkan tubuh yang telah menjadi mayat tadi ke dalam sebuah kantong berwarna orange.
Jam sudah menunjuk angka 03.00, beberapa pria berbadan tegap tadi berlari kearah pemukiman warga, dengan pistol ditangan serta senter yang dipasang dikepala mereka berlari menerobos hutan.
Tak lama terdenger suara sirine ambulance memecah keheningan malam. Peserta kemping terbangun dan berhambur keluar dari tenda mereka untuk melihat apa yang sedang terjadi. Lalu terdengar suara tembakan peringatan dari arah perkampungan. Tak lama kemudian suara sirine mobil polisi memecah kembali kesunyian malam.
Rupanya begitu mendengar cerita Amel, Pak Dwi melihat ada kejanggalan yang berkaitan dengan seorang gadis yang hilang diperkampungan warga yang tak terlalu jauh dari tenda, setelah itu Pak Dwi menghubungkan dengan pohon pisang dan seorang lelaki berkepala plontos yang melarang Amel agar tidak mendekati pohon tersebut. Pak Dwi meminta tolong kepada Kepala sekolah agar melaporkan hal itu kepada polisi, lalu polisi mengirim beberapa tim untuk berjaga disekitar tenda. Ketika Amel berjalan dalam tidurnya tadi, Polisi segera merekam kejadian tersebut dan mereka membuntuti Amel. Sesuain kecurigaan awal bahwa ada sesuatu dipohon pisang, maka polisi segera mengbongkarnya dan menemukan adanya mayat seorang gadis di bawah pohon pisang tersebut.
Polisipun segera sigap memburu Pria berkepala plontos diperkampungan warga. Dicurigai dia sebagai pelaku pembuhunan terhadap mayat yang ditemukan dibawah pohon pisang itu. Belum diketahui apa motif pembunuhan yang dilakukan oleh pria paruh baya tersebut. Polisi akan melakukan introgasi dan penyelidikan yang mendalam.
Jam sudah menunjuk pukul 04.00, Adzan subuh telah berkumandang. Anak-anak peserta kemping yang terbangun akibat mendengar suara sirine dan suara tembakan tadi segera bergegas untuk mengambil wudhu ke sungai guna melaksanakan solat subuh.
Tak terkecuali Amel juga sudah terbangun dari tidurnya. Ia bersyukur mendapati dirinya masih terbaring di dalam tenda. Namun disampingnya ada Angga yang menemani.
Tak lama Pak Dwi masuk ke dalam tenda dan menjelaskan semuanya pada Amel serta Angga. Teman-teman yang lain ikut mendengarkan cerita Pak Dwi.
Pagipun telah datang. Matahari bersinar cerah. Perwakilan polisi datang menjelaskan bahwa tempat kemping mereka akan di jaga oleh polisi hingga acara selesai.
Lelaki berkepala plontos itupun mengakui perbuatannya yang telah membunuh Seorang gadis bernama sekar itu. Motif pelaku adalah ia hendak menjadikan gadis tersebut sebagai istrinya namun sekar menolak. Ia kemudian disekap setelah itu ia panik lalu tak sengaja pisau yang ia gunakan hanya untuk mengancam sekar ternyata mengenai perut sekar ketika gadis itu berontak untuk melarikan diri. Lelaki itu kaget dan syok ia kemudia menguburkan mayat sekar di dalam hutan ini dan diberi pohon pisang agar tidak menimbulkan kecurigaan. Namun tak lama rombongan kemah datang sehingga perbuatannya tercium juga.
Acara perkemahan pun berlangsung sesuai rencana. Amel tidak lagi merasakan ketakukan dan tidak lagi dihantui oleh mimpi buruk yang membuat ia harus berjalan dalam tidurnya.
Acara penutupan berlangsung dengan khidmat Angga kemudian bertekad bahwa ia akan meraih sukses, menjadi pemuda yang soleh dan berprestasi, agar kelak setalah dewasa ia bisa meminang Amel, gadis solehah impiannya.
End