“Pacaran aja sama Jo selama sebulan! Please! Paling enggak sampai di hari reuni kampus kami!” Kak Rara menarik tanganku dan menggenggamnya erat-erat. Sudah hampir tiga puluh menit dia merengek dan memohon kepadaku seperti anak kecil agar aku mau pura-pura jadi pacar sahabatnya, Jo.
Telingaku terus terasa gatal tapi mataku sudah ingin saja pergi tidur. Aku yang semestinya sudah pulang tiga puluh menit yang lalu harus duduk dan mendengar rengekan kakak sampai restoran hampir tutup. Ia terus menghentikanku meski sudah puluhan kali kutolak permintaannya.
“Oke!” Aku menjawab dengan kesal. Aku tidak mau rengekan kakak berlanjut sampai pagi.
“Oke? Kamu serius?” Kakak bertanya padaku dengan mata berseri.
“Tapi ada syaratnya. Aku yang nentuin hubungan ini! Hanya aku yang boleh memutuskan sampai kapan kita pacaran. Kak Jo juga harus nurutin semua keinginan aku tanpa terkecuali. Dan satu lagi, aku enggak mau kakak ikut campur sama hubungan kami setelah jadian.” Aku sebisa mungkin memberi syarat yang kupikir akan mustahil kakak menyetujuinya. Ide bagus.
Kak Rara terdiam sejenak. Ia tampak berpikir dan menimbang-nimbang. Tak lama ia menarik tanganku lagi yang dilepasnya dan menyalamiku kuat-kuat.
“Setuju!” Ia tampak serius. Apa-apaan ini?
“What?! Kak, meskipun aku bilang setuju, belum tentu dong kak Jo juga setuju sama syarat yang kukasih? Ini enggak masuk akal!” Aku tidak bisa menduga hal ini. Kakak benar-benar bertekad mencarikan kak Jo pacar untuk balas dendam kepada mantan pacarnya yang dulu sampai mengorbankan adik sendiri.
“Aku jamin Jo bakal setuju. Dia anak baik jadi dia bakal nurut kalo aku bilangin. Lagian ini juga demi kebaikan dia.” Kakakku tersenyum senang. Raut putus asanya luntur seketika.
“Tapi kak_”
“Makasih ya, aku bakal bilang ke Jo buat ketemu sama kamu. Bye!” Kakak melambaikan tangan dan pergi begitu saja meninggalkanku sedang aku terduduk di restoran yang sudah hampir tutup dalam keadaan masih bingung.
Esok harinya benar, kak Jo menemuiku saat istirahat makan siang kantor. Ia berdiri di depan kantor firma hukum tempatku bekerja seperti seorang yang terkena masalah.
“Kak Jo butuh pengacara? Kenapa enggak masuk?” Aku menemuinya sambil sedikit mencandai. Mukanya tampak lusuh, tidak jauh berbeda dengan kakakku yang seorang pengangguran padahal dia seorang Dosen kampus yang cukup ternama.
“Aku denger kamu mau jadian sama aku.” Kak Jo to the point sekali. Itu memang ciri khasnya, walaupun yang kudengar dosen sastra pintar basa-basi.
“Jadi kakak terima syarat dari aku?” Aku tidak mau kalah untuk bicara langsung ke intinya.
“Iya.” Kak Jo menjawab singkat.
Ini di luar kendaliku. Bukan ini yang aku harapkan. Yang pertama, kak Jo sama sekali bukan tipe idamanku. Di luar profesinya sebagai dosen dan wajahnya yang tampan, tidak ada hal yang membuatku kagum. Sifat kekanakannya mirip sekali dengan kakak perempuanku, sikap bodohnya juga, kegemaran aneh mereka juga, dan lagi gaya berpakaiannya kuno, Kedua, ini tidak masuk akal, aku sangat yakin kak Jo tidak pernah menyukaiku. Dia jelas sekali menyukai kak Rara. Seharusnya mereka yang pacaran bukan aku. Dan ketiga, aku sangat menentang kebohongan. Tidak ada hal yang berakhir baik jika dimulai dengan kebohongan. Aku tidak mau berpura-pura menjadi pacar kak Jo lebih lagi menjadi pacarnya sungguhan. Menerima kak Jo sebagai pacarku artinya aku menggali kuburanku sendiri.
“Kak Jo serius? Apa yang kak Jo pikirkan? Coba ditimbang-timbang lagi! Aku enggak mau ya kalau kak Jo melakukan ini dengan terpaksa!” Aku mulai bicara serius dengan kak Jo di dalam ruangan seperti sedang menghadapi klien.
“Aku udah mikirin dan aku setuju.” Kak Jo menjawab dengan enteng. Itu membuatku tercengang.
“Oke! Berarti ini hari pertama kita!” Aku menyerah. Tidak ada pilihan lain. Kak Rara dan Kak Jo memang sama-sama aneh dan tidak bisa ditebak. Yang bisa kulakukan adalah mengikuti jalan cerita yang mereka buat. Aku tahu benar ini salah, tapi aku juga ingin melihat sampai di mana akhir cerita ini. Firasatku akan berakhir buruk.
Dari saat itu kami resmi berpacaran. Hubungan kami sama sekali tidak seperti orang pacaran tapi lebih mirip adik yang mengadopsi kakak. Kak Jo benar-benar mengikuti semua keinginanku, dia mengubah gaya pakaiannya sesuai yang aku inginkan, menjagaku dengan baik, dan dia juga tidak lagi dekat dengan kak Rara setidaknya dari yang aku lihat. Aku bahkan hampir saja jatuh cinta dengan kak Jo yang baru. Semuanya memang terlihat sempurna, tapi hanya itu. Tidak lebih.
Pada kenyataannya, kak Jo tidak pernah menganggapku sebagai seorang wanita. Dia hanya menganggapku adik. Dia mencintai wanita lain yang aku tahu benar itu siapa. Dan aku juga tahu orang yang dicintainya juga mencintainya hanya saja orang itu tidak sadar saja. Dua orang itu seakan tidak mau melewati batas padahal sudah melakukannya sejak lama.
Aku menyerah dengan ikut hanyut dalam kepalsuan hubungan ini hingga beberapa jam sebelum acara reuni kampus. Acara yang mendasari awal mula pacaran tidak jelas ini. Aku melihat kak Jo tampak begitu murung di sepanjang perjalanan mengantarku pulang dari kantor.
“Apa Kak Jo baik-baik aja?” Aku menanyainya. Sebenarnya selama kami pacaran hampir sebulan ini aku tidak pernah memedulikan perasaannya. Ini pertama kali karena aku merasa tergganggu.
“Enggak apa-apa kok.” Kak Jo menjawab dengan lirih. Aku tahu dia berbohong.
“Kak Jo bertemu kak Rara akhir-akhir ini?” Aku bertanya lagi. Aku ingin memancing saja. Hubungan mereka sudah pasti buruk karena adanya aku.
“Kami sering berpapasan sih, tapi paling cuma saling sapa saja kok, enggak lebih. Kamu enggak perlu khawatir! Kamu enggak suka kan kalo aku deket sama kakak kamu? Kita udah jarang banget ngobrol kok! Oh iya, gimana kerjaan kamu tadi?” Nada bicara Kak Jo terdengar tidak nyaman. Ia seperti ingin cepat-cepat mengganti topik.
Sebenarnya aku tidak begitu masalah jika kak Jo akrab dengan Kak Rara. Aku kan juga membuat syarat tidak masuk akal itu agar hubungan ini dibatalkan. Sekarang aku malah merasa seperti orang jahat. Aku seakan senang sendiri karena bisa memanfaatkan orang lain. Padahal sebenarnya itu membuatku merasa tidak nyaman. Kak Jo dan kak Rara yang dulunya sangat ceria, jadi pendiam belakangan ini.
Kak Rara hampir tidak pernah menemuiku lagi dan beralasan takut mengganggu kami pacaran. Dua tahun terakhir, kami memang tidak serumah dan jarang berkumpul, tapi sebelum jadian dengan kak Jo, kak Rara kadang datang berkunjung walau hanya numpang sarapan. Sekarang kami paling hanya bertemu di luar, ia bahkan membuat banyak alasan agar tidak bertemu denganku.
Kak Jo juga berubah drastis seperti yang sudah kukatakan sebelumnya. Itu hanya membuatku senang sementara sebagai seorang pacar, tapi tidak sebagai seorang adik temannya. Aku sudah mengenal kak Jo cukup lama dan tahu bagaimana karakternya, saat melihatnya seperti sekarang ini, aku merasa kak Jo seperti memakai topeng. Dia terlihat sangat menyedihkan.
“Kak Jo kenapa sih terus bohong?” Aku bertanya pada kak Jo setelah membuatnya menghentikan mobil. Aku sudah muak dan tidak mau lagi jadi tokoh dalam cerita yang mereka buat.
“Bohong apa?” Kak Jo tampak seolah tidak mengerti.
“Kak tolong jangan jadi munafik deh! Aku udah tahu kok kalau selama ini kak Jo suka sama kak Rara. Bener kan?” Aku tidak berbasa-basi. Kak Jo hanya diam.
“Kenapa sih kakak setuju pacaran sama aku dibanding pacaran sama kak Rara? Atas dasar apa? Cuma mau balas dendam sama mantan pacar kakak yang dulu? Cuma mau nunjukkin ke dia kalau pacar kakak sekarang adalah pengacara yang cantik dan sukses? Kak Jo rela membunuh diri kak Jo yang dulu hanya untuk itu? Sejak awal tuh hubungan ini enggak masuk akal! Kakak sebenernya sadar enggak sih?” Aku mencerca kak Jo dengan banyak pertanyaan dan sudah marah-marah saja padanya tanpa sadar.
“Yang pertama karena ini ide kakakmu. Yang kedua karena ini ide kakakmu. Yang ketiga dan seterusnya karena ini ide kakakmu. Aku tahu ini nggak masuk akal, tapi ini semua ide kakakmu. Terus aku harus gimana?” Kak Jo menjawab dengan sedikit frustasi.
“Kenapa kak Jo nggak bilang terus terang aja kalau suka sama kak Rara? Kenapa malah milih pilihan yang rumit macam gini?” Aku bertanya dengan jengkel.
“Kamu kira aku enggak pernah nembak kakakmu? Aku udah pernah bilang kalau aku suka sama dia, dan itulah kenapa aku selama ini enggak pernah punya pacar setelah putus sama mantanku yang dulu itu. Rara bilang dia enggak bisa pacaran sama aku. Kamu mau tahu alasannya? Dia bilang hidupnya masih cukup sulit. Dia enggak mau masalah hidupnya itu ditambah lagi dengan masalah percintaan. Dia benci jadi beban orang lain. Itu juga kenapa dia enggak pernah pacaran.” Kak Jo bicara panjang lebar tentang kak Rara. Aku sebelumnya tidak tahu hubungan mereka ternyata sedekat itu.
“Tapi kan kak Jo suka sama kak Rara, kenapa malah mau pacaran sama aku?” Aku mulai bertanya dengan tenang.
“Karena cuma ini solusi yang bisa bikin kakakmu tenang. Dia bilang dia enggak suka aku dihina sama mantanku yang dulu. Rara bilang itu bikin dia sakit hati. Dia juga malu sama dirinya sendiri yang enggak bisa lebih hebat dari mantanku itu. Dia mau aku setidaknya sekali aja bisa mebuat mantanku nyesel karena selalu ngerendahin aku. Rara ngenalin aku ke beberapa temen ceweknya, tapi aku enggak ada niat untuk jadian sama mereka. Rara keliatan putus asa banget dan malah nemuin kamu. Aku nggak bisa nolak permintaannya Rara dan bikin dia kecewa terus.” Kak Jo mengeluarkan unek-uneknya. Aku bisa melihat kak Jo sayang sekali dengan kak Rara.
“Kak Rara tuh memang egois banget sih! Dan di samping egoisnya itu, lebih nyebelinnya, dia rendah diri banget! Semua hidup kan memang sulit! Memang dia aja yang kesulitan? Orang yang udah berkecukupan juga punya masalah kan? Kenapa kakak merasa buruk sendiri?!” Aku mulai tidak dapat menahan air mataku. Aku merasa bersalah karena kak Rara berpikir seperti itu.
“Aku enggak tahu harus gimana lagi Nay. Kalau boleh jujur, aku juga tersiksa kayak gini terus. Dua hari lalu bahkan aku bertengkar sama Rara. Aku sengaja ketemu sama dia karena kangen tapi dia ngusir aku karena udah janji sama kamu. Aku minta maaf ya.” Kak Jo sudah mau bicara jujur kepadaku. Sebenarnya aku yang harusnya minta maaf. Aku yang membuat kak Jo selama ini kesulitan.
“Aku yang harusnya minta maaf kak. Aku tahu harusnya hubungan ini enggak pernah dimulai, aku minta maaf malah kayak memanfaatin kak Jo sama kak Rara.” Aku benar-benar merasa bersalah.
Tepat setelah itu, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan palsuku dengan kak Jo. Aku sadar kalau hubungan ini bukannya menjadi solusi tapi malah akan menambah masalah. Setelah mendengar cerita dari kak Jo tentang mantan pacarnya yang dulu dan tentang perasaannya pada kak Rara, aku pun mencari inisiatif untuk ikut membantu menyelesaikan masalahnya tanpa harus membuat kebohongan. Aku merencanakan sesuatu dengan kak Jo tanpa sepengetahuan kak Rara. Aku yakin itu adalah solusi terbaik yang bisa kami pilih.
“Kak Jo, aku nyerahin urusan ini sama Kakak ya!” Aku rasa peranku cukup sampai di sini.
Acara Reuni kampus malam itu cukup ramai dan meriah. Hampir semua orang berjalan bergandengan dengan pasangan masing-masing. Jo masih berdir di depan gedung dengan pakaian rapi menunggui seseorang.
“Rara!” Ia memanggil wanita yang ditunggunya begitu melihatnya datang.
“Loh Jo, kamu kok sendirian? Nayla mana?” Rara menengok ke kanan kiri mencari sosok adiknya.
“Aku punya pacar beneran sekarang.” Jo berbisik di telinga Rara sambil tersenyum riang.
“Masa?! Di mana?” Rara tampak bingung. Ia tidak tahu sejak kapan Jo punya pacar baru. Ia bahkan bertengkar dengan temannya itu dua hari lalu.
“Aku bakal kenalin dia! Yuk masuk!” Jo menggandeng tangan Rara dan menariknya masuk ke dalam gedung. Beberapa teman menyapa keduanya dan sebagian bertanya apa mereka berdua sudah menikah.
Tidak berselang lama, mantan pacar Jo dan pacar barunya datang. Melihat Jo bersama Rara, mantannya itu tersenyum kecut sambil menghampiri keduanya.
“Hai!” Mantannya itu menyapa.
“Hai!” Jo membalas salam mantannya itu sambil tersenyum. Di sisi lain, Rara tampak sibuk melepaskan tangan Jo yang melingkar di pinggangnya. Rara takut pacar baru Jo salah paham.
“Jadi mana pacar kamu yang hebat itu?” Mantan pacar Jo bertanya dengan ketus. Ia terlihat sedikit sebal saat tahu Jo menggandeng Rara. Malam itu Rara terlihat cantik juga.
“Pacarku yang hebat itu adalah wanita yang menemaniku dari nol. Dia selalu bisa membuatku tenang saat aku kesulitan, dan selalu ada saat aku butuh. Kami memiliki kegemaran yang sama dan menertawakan hal kecil bersama. Aku merasa nyaman saat bersamanya dan merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia. Dia orang yang paling istimewa yang hadir dalam hidupku. Dia tidak pernah sama sekali membuatku kecewa dan malu. Dia juga tidak akan pernah melakukan sesuatu yang memalukan seperti yang seseorang lakukan.” Jo menanggapi pertanyaan mantannya itu dengan kata-kata penuh penekanan. Sebenarnya ia mencoba menyindir pacarnya itu yang dulu berselingkuh di belakang Jo. Bagi Jo itu memalukan.
Rara yang mendengar perkataan Jo hanya terdiam. Ia seakan tahu siapa wanita yang dimaksud Jo. Wanita itu menatap Jo cukup lama dan membiarkan tangan Jo tetap melingkar di pinggangnya.
“Maksudmu pacarmu adalah Rara?” Mantannya itu menoleh ke arah Rara dan menatapnya seakan mengejek. Ia mengeraskan suaranya agar semua orang memperhatikan. Ia masih berpikir dirinya lebih hebat dari Rara dan Jo. Ia ingin mempermalukan keduanya.
“Loh kok kamu tahu? Aku belum kasih tahu kamu loh! Jadi kamu juga berpikir sama ya kayak aku? Rara adalah wanita yang hebat dan istimewa? Terima kasih loh sudah mau mengatakannya di hadapan semua orang ....” Jo tersenyum senang. Ia tampak sangat puas dengan percakapan malam itu di mana semua orang memperhatikan.
“Ih apaan sih! Yuk kita pergi aja Yang!” Mantan pacar Jo baru sadar sedang mempermalukan dirinya sendiri. Ia pun menarik tangan pacarnya dan bergegas pulang bahkan sebelum sampai ke inti acara.
“Jo! Maksud kamu apa?” Rara bertanya. Ia benar-benar bingung dengan percakapan Jo tadi dengan mantannya.
“Maksud apa?” Jo bertanya balik. Ia mulai melepas tangannya dari tubuh Rara.
Rara tampak kesal karena Jo berpura-pura tidak tahu. Ia pun menarik tangan sahabatnya itu dan membawanya ke tempat yang jauh dari keramaian.
“Kamu enggak punya pacar baru kan?” Rara mulai mengintrogasi.
“Memang enggak.” Jo menjawab santai.
“Kamu putus sama Nayla?” Rara bertanya lagi.
“Menurut kamu?” Jo balik bertanya lagi.
“Kalian enggak bertengkar kan?” Rara menantap Jo menyelidik.
“Kamu mau kami bagaimana?” Jo bertanya lagi.
“Kok malah tanya aku?” Rara terlihat bingung.
“Ya iyalah. Kan kamu sutradaranya.”
“Apaan sih Jo! Serius ah!”
“Ra, sejak awal aku enggak pernah punya perasaan sama Nayla. Aku udah anggep dia adik sendiri. dan sejak awal juga hubungan ini sebatas itu. Enggak lebih. Tolong jangan suruh aku melakukan apa yang enggak aku mau! Aku baik-baik aja bahkan kalau pun aku punya puluhan mantan kayak si Lyla itu. I’m fine! Yang buat aku enggak baik-baik aja adalah kalau kamu jauh dari aku. Kamu satu-satunya solusi dari setiap kesulitan aku, bukan orang lain. Kamu mau tahu kenapa aku mau pacaran sama adik kamu? Itu karena kamu, Ra. Kamu adalah alasan kenapa aku sampai sejauh ini.” Jo menjelaskan.
“Terus? Kamu mau putus sama Nayla? Mau nyakitin hatinya dia?” Rara bertanya gusar.
“Aku enggak mau kita marahan kayak kemarin. Aku sudah bilang satu-satunya orang yang istimewa di hati aku itu cuma kamu dan hubungan ini dimulai juga karena kamu. Jadi, kamu seharusnya tahu siapa yang paling disakiti di sini.” Jo tidak mau menjelaskan apa-apa lagi setelahnya.
“Kalian di sini toh?” Nayla menghampiri Rara dan Jo tanpa terduga.
“Nay? Kamu dari mana aja? Aku nungguin dari tadi tahu!” Rara terkejut dengan kedatangan adiknya. Ia pura-pura tidak menghiraukan Jo.
“Ngapain nunggu aku kak? Aku ke sini cuma mau kasih ini kok ke kak Jo!” Nayla terlihat senang sambil memberikan kotak kecil kepada Jo. Itu membuat Rara bingung.
“Bukannya kamu ke sini buat nemenin Jo?” Rara bertanya heran pada Nayla.
“Kak! Udah deh enggak usah nyusahin diri sendiri! Aku tahu kok Kak Rara suka kak Jo. Jadi kenapa aku yang harus capek-capek pacaran sama dia?! Udah ah aku pergi ya! Semangat kak Jo!” Nayla pergi begitu saja setelah bicara pada kakaknya dan menyemangati Jo.
“Loh Nay! Kok pergi?!” Rara semakin dibuat bingung dengan tingkah adiknya. Ia mencoba menyusul Nayla, namun terhenti begitu Jo menarik tangannya, membuat tubuhnya berbalik ke arah pria itu.
“Ra, aku sering dengar kamu bilang kamu wanita yang buruk, enggak cantik, enggak pintar, enggak punya pekerjaan yang layak, kamu enggak pantas menjalin hubungan, dan banyak lagi yang kamu katakan tentang diri kamu sendiri. Kamu merasa diri kamu kurang menarik dan itu yang membuatmu akhirnya menarik diri. Kamu jadi menutup telinga setiap kali orang mengatakan hal yang positif tentang kamu. ___. Hari ini aku ingin kamu sekali aja mendengarkan. Kata-kata ini bukan untuk menghibur kamu. Aku bukannya ingin membuat kamu senang. Ini jujur dari lisanku sendiri. Aku cuma mau memberitahu kenyataannya ke kamu kalau kamu adalah wanita yang paling istimewa yang pernah aku temui. Kamu wanita yang kuat, tegar menghadapi masalah, ceria, selalu bisa mencairkan suasana, selalu memedulikan orang lain, dan kamu orang yang paling bisa kuandalkan dan kupercaya. Kamu yang mengubahku menjadi lebih baik dan lebih semangat setiap harinya. Kamu orang terpenting di hidup aku dan itu kenyataannya.” Jo menatap mata Rara sambil memegang erat kedua tangan wanita itu.
“Aku enggak tahu kamu berpikiran seperti itu tentang aku. Aku jadi enggak bisa ngomomg apa-apa.” Rara merasa tersentuh dengan kata-kata Jo.
“Tolong jangan pernah lagi merasa buruk terhadap diri kamu sendiri!” Jo meminta. Rara mengangguk.
“Aku juga enggak mau kehilangan kamu lagi, Ra. Sedetik pun aku enggak mau kamu memaksa aku untuk menjauh seperti kemarin.” Jo meminta lagi. Rara mengangguk kedua kalinya mengiyakan.
“Janji ya?” Jo mengangkat jari kelingkingnya.
“Janji.” Rara tersenyum dan melingkarkan satu jari kelingkingnya ke jari Jo.
“Oke. Karena kamu udah janji, aku berharap kamu juga mau menghabiskan 24 jam dalam hidupmu sama aku!” Jo mengambil kotak kecil yang di bawa Nayla tadi dari sakunya. Ia menunjukkan kotak itu kepada Rara.
“Gimana maksudnya?” Rara tampak kebingungan.
“Maukah kamu, Kirana Gunadi menjadi istriku, Haidar Trihadmojo dan saling menemani di saat sulit maupun senang juga saling menjaga sampai kita tua dan tidak ada lagi kata esok?” Jo membuka kotak itu dan berlutut di depan Rara.
“Jo? Kamu bercanda?” Rara terkejut melihat cincin berlian dalam kota itu. Ia terlihat tidak percaya Jo sedang melamarnya.
“Kok bercanda sih Ra? Ini serius!”
“Iya iya! Berdiri dulu deh!” Rara menarik Jo untuk berdiri.
“Jadi diterima enggak ini?” Jo masih menyodorkan kotak itu kepada Rara.
“Iya!” Rara mengambil kotak itu dari tangan Jo lalu melangkah pergi.
“Ra! Beneran enggak sih? Kok malah main pergi aja?!” Jo menyusul Rara di belakang.
“Iya, nanti kita bahas lagi!” Rara masih terus berjalan. Ia melangkah kembali ke tempat reuni.
“Ra! Gimana sih? Jadi sebenernya tadi diterima atau enggak?” Jo bertanya lagi.
“Menurutmu gimana?” Rara bertanya balik sambil tertawa cekikikan. Ia empercepat langkahnya.
“Ih.. Rara!” Jo juga mempercepat langkahnya bergegas menggapai wanita itu.