Aku akan membuktikan, bahwa aku benar-benar mencintaimu.
❤❤❤
Bel pulang sekolah telah berbunyi, aku sedang memasukkan semua peralatan sekolah ke dalam tas. Namun, tiba-tiba seseorang menahan tanganku.
“Hai Miku!" sapa seorang remaja tampan yang familiar bagiku.
Dialah Rey, seorang remaja yang memiliki wajah yang tampan. Selain itu, dia juga mahir dalam bermain bola basket. Tak heran, jika para gadis kepincut dengannya.
Aku menatap wajahnya dengan raut wajah kesal.
“Rey, kenapa kau selalu mengganguku? Aku sudah bilang, kalau aku tidak menyukaimu!" ketusku yang kesal dengan tingkah laku Rey.
“Benarkah?" tanya Rey.
Aku menganggukkan kepala, menjawab pertanyaan yang dilontarkan olehnya. Setelah mengetahui bahwa aku serius, Rey terdiam. Aku tak peduli dan berjalan melewatinya.
Aku melalukan hal ini, bukan karena aku membenci Rey. Aku hanya tidak menyukai sifat playboynya yang telah mendarah daging. Banyak gadis yang telah dia jadikan kekasih, namun pada akhirnya, hubungan mereka kandas.
Jadi, aku takut akan mengalami sakit hati, jika aku menjadi kekasihnya.
❤❤❤
Keesokan paginya, sinar matahari menyorot, menyilaukan mataku. Aku terbangun dengan rambut yang masih acak-acakan.
“Miku, bangun! Lihat udah jam berapa itu!" perintah ibu seraya menunjuk jam dinding yang telah menunjuk pukul 06.30 pagi.
Sontak hal itu membuatku kaget, aku bergegas berlari ke kamar mandi. Selepas mandi, aku memakai seragam sekolah dan kemudian berlari menuju sekolah.
“Aduh, kumohon jangan terlambat," ucapku panik.
Jam tangan menunjuk angka 7, aku telah masuk ke dalam sekolah.
“Huft... Huft... Selamat," ujarku dengan nafas terengah-engah.
Aku berlari untuk masuk ke dalam kelas. Namun, saat berlari, aku tak sengaja menabrak seorang siswa yang tengah membawa buku.
“Eh maaf ya. Aku gak sengaja," ucapku meminta maaf seraya memunguti buku yang jatuh.
“Iya gak papa," ucapnya.
Mendadak tubuhku mematung. Aku merasa tidak asing dengan suara ini. Aku menatap wajahnya. Benar saja, dia adalah Rey.
“Miku kamu kok buru-buru begitu? Bangun kesiangan ya?" tanya Rey.
Aku menjadi salah tingkah. Aku berdiri dan kemudian berlari lagi.
“Chotto Miku-chan!" Rey berteriak, berusaha untuk menghentikanku.
Namun, aku tidak mendengarkannya dan berlari masuk ke dalam kelas. Rey memandangiku dengan mata berkaca-kaca.
‘Jadi, aku masih belum bisa meyakinkannya,' gumam Rey.
Sepulang sekolah, aku berjalan pulang seperti biasanya. Saat berjalan, tiba-tiba saja uangku berterbangan terkena hembusan angin. Ah sial... kenapa nasibku harus selalu sial seperti ini.
Aku berlari mengejar lembaran uang yang beterbangan. Setelah cukup lama berlarian. akhirnya aku berhasil mendapatkan uang itu.
TIIINN... TIIINN...
Terdengar suara nyaring klakson truk. Aku menoleh ke kanan dan terkejut saat melihat sebuah truk besar sedang melaju kencang ke arahku. Ternyata, sekarang aku sedang berdiri di tengah jalan.
Aku hanya bisa terdiam, karena jarak truk itu sudah tidak jauh lagi dariku. Apakah aku harus mati dengan cara seperti ini?. Namun, tiba-tiba seseorang mendorong tubuhku hingga terhempas ke samping.
Brakkk!
Terdengar suara truk menabrak seseorang. Aku bergegas menghampiri orang itu. Aku terkejut, tubuhku merinding saat mengetahui bahwa orang yang tertabrak tadi adalah Rey.
Tubuhnya terluka parah, perlahan cairan merah pekat mulai keluar dari lukanya. Semua warga datang dan menghampiri kami berdua.
“Pak, tolong bawa dia ke rumah sakit!" pintaku kepada para warga.
Mereka mengangguk, menyanggupi permintaanku. Akhirnya, mereka memanggil ambulans untuk membawa Rey ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit. Rey langsung ditangani oleh para dokter.
“Dokter, tolong selamatkan dia!" aku meminta tolong dengan mata berkaca-kaca.
“Kami akan melakukan yang terbaik. Nona tunggu di sini dulu ya," ucap dokter menenangkanku yang kali ini tengah panik.
Aku menganggukkan kepala, berusaha untuk tenang. Sementara itu, dokter mulai menangani Rey. Aku hanya bisa mondar-mandir dan sesekali mengintip ke dalam ruangan. Bukankah aku ingin membencinya?. Tapi kenapa aku malah khawatir?.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya dokter keluar. Aku berlari menghampirinya.
“Bagaimana keadaanya dok?!" tanyaku.
“Tubuh Rey terluka parah, darahnya keluar terlalu banyak. Bahkan lengan kanannya patah. Dia masih belum sadar," ujar dokter.
Setelah mendengar ucapan dokter itu, mendadak tubuhku menjadi lemas. Tubuhku rasanya seperti tidak kuat untuk berdiri tegak lagi. Aku berlari ke atap rumah sakit untuk menyendiri.
Ini semua salahku. Jika saja aku lebih berhati-hati, maka Rey tidak akan berakhir di rumah sakit seperti ini. Aku benar-benar merasa bersalah.
“Rey, maafkan aku." Aku berdiri sambil menatap matahari yang hampir terbenam
Perlahan, bulir-bulir air mata mulai mengalir dari sudut mataku.
“Rey, maafkan aku!"
Aku selalu mengucapkan kalimat itu berulang kali. Walau aku tau, jika aku mengucapkan kalimat ini berkali-kali, tetap saja tidak akan bisa menebus kesalahanku.
Tiba-tiba, seseorang merangkulku dari belakang.
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri."
Sontak, aku terkejut. Kemudian dia melepaskan rangkulannya dan membalikkan tubuhku menghadap tubuhnya.
“Rey?!"
Ya, dia adalah Rey. Dia sedang berdiri dengan tubuh berbalut perban dan tangan yang digendong menggunakan kain. Aku tak bisa membendung tangisku lagi.
Aku memeluk Rey dan menangis sejadi-jadinya.
“Miku, kenapa kau menangis?" tanya Rey.
Aku tidak menjawab pertanyaannya dan masih terus menangis. Rey membalas pelukanku, dan membelai rambut hitamku.
“Jangan menangis, itu bukan Miku yang aku kenal," ucap Rey menenangkanku.
“Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf hiks." Aku menangis sesegukan.
“Haish.... Kenapa kau harus meminta maaf. Kau tidak salah," ucap Rey masih berusaha untuk membuatku berhenti menangis.
“Kenapa kau sangat baik padaku? Bukankah aku sudah bilang bahwa aku ini tidak menyukaimu? Kenapa kau...
“Karena aku mencintaimu," ucap Rey memotong pembicaraanku.
Deg!
Aku terdiam setelah mendengar ucapan Rey.
“Aku benar-benar mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu, meski kau tidak mencintaiku. Lah kok jadi berbelit-belit gini sih," ujar Rey dengan diiringi candaan di akhir kalimatnya.
Aku memeluk Rey dengan erat.
“Aku juga mencintaimu, Rey." Aku menyatakan perasaan yang selama ini aku pendam.
—Tamat—
Aloo Othor cantek dan imoet balik. BTW nih ya, maap kalo ceritanya mirip sinetron-sinetron. Tolong dimaklumi. Ok sekian dan terima gaji :D