Kematian adalah bagian dari hidup ku, jiwa sekarat seolah musik merdu yang ku dengar. Jeritan serta teriakan menjadi hiburan yang paling ku senangi.
Im psyco 🌚
Bukan ingin ku jadi begini, tapi apa daya rasa trauma dan pengalaman yang mengerikan menyeret ku pada lembah kegelapan.
Kejam? Ya aku memang kejam, aku membunuh setiap mangsa ku dengan sadis. Tapi apa aku di anggap salah jika aku membunuh karena ingin membalas dendam atas pembantaian yang orang tua ku alami. Keluarga ku mati mengenaskan di depan mata ku sendiri, mereka membunuh hanya untuk mengambil harta ku saja. Kenapa mereka harus membunuh orang tua ku jika mereka hanya ingin mengambil harta kami? seharusnya mereka lari membawa harta kami dan meninggalkan orang tua ku dalam kondisi hidup, tapi tidak mereka malah membantai nya mengahabisi mereka dengan sadis.
"Kini giliran kau Roy, aku sudah tau siapa kalian Jhon dan Roy, kalian akan merasakan apa yang orang tua ku rasakan." aku menyeringai, dari balik pohon falm yang terdapat di halaman rumah pria bernama Roy ini.
Sebilah pisau terselip rapi di kaki ku, linggis untuk mencongkel jendela telah ada dalam genggaman ku serta seutas tali tambang melilit di pinggang ku. Sudah lama aku menanti saat ini, ini adalah kesenangan dan juga pembalasan yang akan ku berikan padamu Roy sialan, kau dan teman biadab mu itu akan segera menemui ajal mu.
Aku mulai membobol rumah itu mencongkel jendela dan Yes aku berhasil, rumah ini minim penjagaan ternyata, aku mnyeringai senang.
aku masuk lewat jendela berjalan ke lantai atas, aku menemukan sebuah kamar paling dekat, ku buka dengan pelan, suasana kamar ini cukup terang, ku matikan lampu nya dan ku hampiri sosok yang tengah tidur di ranjang itu.
Seorang gadis kecil, berusia sekitar 8 tahun tengah tertidur pulas sambil memeluk boneka beruangnya.
"Kau sama seperti ku, aku tak akan membiarkan mu hidup gadis kecil, hidup sendirian itu menyakitkan aku tak akan membiarkan mu mendengar jeritan mereka di luar sana. Jadi kau akan pergi lebih dulu,"
Grab...aku mengambil bantal dan menekan nya di atas wajah gadis kecil itu. Gadis itu meronta menendang dan segala macam cara ia lakukan untuk melepaskan diri. Namun, semua sia-sia dia kalah dari ku. Setelah gadis itu mati tanpa suara aku beralih ke kamar sebelah nya.
Kamar seorang pria nampaknya, terlihat dari warna dan dekorasi kamar nya yang nampak menli.
Aku berjalan mengitari tempat tidur, nampak seorang pria muda seumuran ku tengah tertidur pulas dan tenang. Ku cabut belati yang ku taruh di kaki ku, dan menaruhnya di pipi sang pemuda.
"Hai!!!" sapa ku pelan ketika dia membuka mata nya.
"Je-jeslin sedang apa kau di sini?" tanyanya ketakutan.
"Aku hanya sedang mencari hiburan Ren," jawab ku pelan.
"Lalu apa ini? kenapa kau membawa benda berbahaya sepreti itu. Singkirkan itu dari wajah ku," ucapnya ketakutan.
Detak jantung dan napas nya yang memburu terdengar jelas di telinga ku. Membuat jiwa psyco ku semakin liar.
Bret...ku tusukan pisau ku tepat di lehernya.
Argghhh....dia menjerit namun segera ku tutup mulutnya, dia berusaha untuk melawan, namun aku pukul kepala nya menggunakan linggis hingga kepala nya bocor seketika lelehan darah segar mengalir di kepalanya yang penyok.
Ku ikat tali tambang yang ku bawa tadi ke leher Ren dan ku geret tubuhnya menuruni tangga, ku gantung tubuh Ren tepat di ruang tamu, lantas ku mati kan lampunya.
Tap..tap..
Seseorang menuruni tangga, dan berusaha mencari saklar. "Kenapa lampu nya mati, perasaan aku gak matiin deh tadi," ucapnya.
Seketika lampu menyala tanpa ia sentuh, dia nampak keheranan ia pun berbalik.
Aaarrrggghhh....dia menjerit histeris tatkala melihat tubuh putranya sudah mati tergantung dengan kondisi mengenaskan.
"Re-rendi ka-kamu kenapa nak," tubuh Ibu paruh baya itu gemtar ketakutan.
"Dia sudah tenang Tante," dia lantas menoleh ke arah ku yang tengah duduk di sopa.
"Hey, siapa kamu?" tanyaya marah.
"Aku? Apa tante tidak ingat siapa aku. Aku anak yang sekelas dengan Rendi tante," ujar ku.
"Jadi kau Jeslin, si anak yatim piatu itu?"
"Tepat sekali tante. Akhirnya tante mengenali ku juga," aku tersenyum senang.
"Apa yang telah kau lakukan pada anak ku?" ucapnya geram.
"Aku membunuhnya. Tante sudah lihat bukan, tidak mungkin dia menggorok lehernya sendiri dan memukul kepalanya dengan linggis lalu dia mengggantung dirinya dengan tambang," hahaha aku tertawa dengan lelucon ku sendiri.
"Dasar anak sialan," maki nya.
"Suuut...tante, jangan bicara keras-keras di hadapam mayat anak mu," aku menaruh pisau ku di leher tante itu. Tubuhnya terasa bergetar pun napas nya yang kian memburu.
"Bay....Tante," sssreett....aku menggorok leher tante itu dan membiarkannya jatuh ke lantai dengan tubuh menggelapar bak ikan yang tak sengaja ke daratan.
"A-ada apa ini?" teriak seseorang dari lantai atas.
"Ini dia sang pemeran utama tlah hadir," seru ku.
"Siapa kau?"
"Ah paman tidak mengenal ku yah, karena saat itu aku tengah bersembunyi di kolong tempat tidur," kekeh ku pelan.
"Apa maksud mu?"
"Paman tidak ingat, tujuh tahun lalu paman telah membantai habis sebuah keluarga kaya raya. Namun paman tidak tau masih ada gadis kecil yang tersisa dan melihat semua kejadian itu," ucap ku, dada ku tetasa nyeri, dengan apa yang telah aku ucapkan.
"Jadi kau datang untuk membalas dendam?" ucapnya seraya menyeringai.
"Benar sekali!"
"Tapi kau tidak akan bisa membunuh ku, polisi akan segera datang dan menangkap mu, rumah ini telah di penuhi kamera cctv, kau begitu bodoh dan berani sekali datang kemari untuk membunuh ku. Penjahat amatiran seperti dirimu tidak akan bisa membunuh ku, yang telah berpengalman dalam hal merampok dan membunuh," ujarnya, aku menyeringai senang.
"Terima kasih!" Dor...dor...aku menembak kaki pria bernama Roy itu, dia nampak terkejut mungkin dia pikir aku tidak memiliki senjata api.
"Berani sekali kau," racau nya.
Dor...dor....dia mebalas tembakan ku, seketika tubuh ku tumbang ke lantai lelehan darah terasa membasahi tubuh ku pun dengan rasa nyeri yang teramat sangat.
Aku tersenyum "Kau akan merasakan apa yang aku rasakan, hidup sendirian di dunia ini hingga ajal menjemput mu, aku tidak akan membunuh mu, aku ingin kau di penjara seumur hidup di kurung dalam sel sendirian hidup dalam kegelapan."
Pandangan ku menggelap dan di detik berikutnya aku menghembuskan napas terakhirku.
***
Suara ketukan palu di pengadilan memutuskan pria bernama Roy telah di ponis penjara seumur hidup, di biarkan hidup sendiri di dalam sel, dalam ke gelapan. Hukuman nya semakin berat saja ketika di ketahui dia telah membunuh rekan nya sendiri yang bernama Jhoni demi menguasai harta rekan sepropesi nya itu.
Tamat.