Tanganku gemetar dan jantungku berdetak sangat kencang sambil melihat layar televisi yang ada diruang audisi.
"Tyas Wijaya..."
"Iya...." aku berlari masuk kedalam ruang audisi.
Didalam ada 4 juri yang sudah siap mendengar permainanku. Aku menghirup nafas panjang dan menghembuskan perlahan mencoba menghilangkan rasa gerogi yang ada pada diriku.
Perlahan aku mengesek biola dipundak ku. Aku memainkan lagu my memories. Lagu lama yang sering aku mainkan bersama teman-temanku sewaktu aku masih sekolah dulu. Sebelum aku berangkat aku ingat sekali pesan ayahku, jangan memainkan lagu yang disukai juri namun mainkanlah lagu yang aku kuasai dengan begitu lagu itu akan menyatu dengan diriku.
Aku memejamkan mataku menikmati setiap gesekan pada biolaku. Dan ketika laguku berakhir, aku membuka mataku. Aku melihat semua juri terdiam melihat kearah ku. Aku menunduk, aku merasa permainanku memang jelek. Aku sudah bersiap dengan komentar apa pun yang juri berikan.
Lama sekali mereka terdiam, membuat aku semakin ragu dengan permainanku. aku menunduk hampir saja aku tidak kuat menahan air mataku.
Tiba-tiba suara pelan tepuk tangan terdengar hingga menjadi sangat keras. Aku mengangkat kepalaku dan melihat semua juri bertepuk tangan dan tersenyum kearah ku.
"Ini yang aku cari..." salah seorang juri berjalan mendekat ke arahku.
Aku tersenyum bahagia, namun air mataku juga mengalir. mungkin karena terlalu bahagia karena aku bisa lolos ke babak selanjutnya.
Setelah ini, aku kembali ikut audisi penyisihan dari 50 besar hingga menjadi 20 besar. Disitu akan disatukan 2 musik berbeda untuk menampilkan satu persembahan. Disini aku satu tim dengan Eno Wijaya. Nama belakang yang sama denganku tapi dia lebih hebat dariku. Dia salah seorang pianis yang sangat bagus. Aku merasa aku kecil dan tidak ada apa-apanya disampin Eno. Aku takut aku tidak akan bisa bermain dengan baik nantinya.
Satu Minggu sebelum penampilan aku terus berlatih dengan dia. Aku selalu bangun pagi-pagi agar bisa mempersiapkan diri dengan baik.
" kamu siap..."
Aku bersiap dengan biolaku, sambil menghela nafas panjang dan bersiap memainkan lagu yang sudah kami pilih. Permainan Eno sudah sangat bagus, aku yang selalu mengacaukannya dengan berbagai kesalahan yang aku buat.
"Maaf kan aku ya...."
Sudah berapa kali kami mengulang lagu ini. namun aku selalu saja membuat kesalahan.
"Tidak apa-apa, kita istirahat dulu, nanti kita coba lagi."
Aku menunduk menyesal sambil berjalan mengikuti Eno yang pergi ke luar dan duduk di balkon sambil melihat pandangan diluar. Lalu dia mengambil sebuah gitar. Aku kaget, dalam benakku bertanya apa yang dia lakukan dengan gitar itu.
"Sini duduk sampingku."
perlahan aku duduk disampingnya. Dan perlahan pula jemarinya yang panjang mulai memetik gitar dan memainkan sebuah lagu dengan indahnya. Aku hanya terdiam, kaget sekaligus kagum. Dia tidak hanya pandai bermain piano namun juga pandai bermain gitar.
"Gila aku semakin terpesona olehnya." pikirku dalam hati.
Sampai dia selesai dengan lagunya aku masih bengong melihat kearahnya.
"Hoee... "
kata Eno sambil tangannya mengayun didepan wajahku menyadarkan ku.
"Maaf...."
"kenapa malah bengong?"
"Sumpah... bagus banget. aku sampai terbawa oleh lagumu."
"Dulu aku sering bermain gitar dengan teman-temanku, udah lama sekali aku tidak main gitar."
"Kenapa?"
"Karena ibuku ingin aku Sukses dengan bermain piano bukan gitar."
"loh kenapa?... bagus banget lo permainan gitar kamu, tapi permainan piano kamu juga bagus banget sih. kalau bisa kedua-duanya aja."
Eno tersenyum dan kembali memainkan sebuah lagu lagi. Disana kami ngobrol bersama sambil memainkan beberapa lagu. walaupun sedikit aku juga bisa bermain gitar walau gak bagus sama sekali sih.
Hari-hari berlalu, kami semakin dekat dan sudah membangun kemistri diantara kita. Permainan kita sudah menyatu dan terdengar menjadi sebuah penampilan yang sangat bagus. itu sih menurutku.
Hari H pun tiba, dari pagi semua orang sudah sangat sibuk mempersiapkan penampilannya. Aku tidak melihat keberadaan Eno dimana-mana, aku mulai mencari keluar dan ternyata dia sedang duduk di balkon sambil menutup matanya.
"Kamu tidur?"
"Tidak...aku hanya merilekskan pikiranku."
"oh... ya sudah lanjutkan, aku tidak akan menganggu."
Aku berjalan pergi, namun tangan Eno menahan tanganku.
"Duduk disini temani aku."
"tapi aku harus latihan..."
"Jangan latihan terus, nanti kamu capek dan akhirnya mempengaruhi permainanmu nanti malam."
Aku duduk disamping Eno, aku mencoba merilekskan pikiranku, namun tetap tidak bisa. Aku terus berfikir bagaimana kalau permainanku nanti jelek dan mempengaruhi Eno.
"Jangan pikirkan apa-apa, soal nanti malam. Semua akan berjalan lancar."
Aku hanya diam, aku kaget bagaimana dia tahu apa yang aku pikirkan padahal aku tidak berkata sepatah katapun.
Waktu untuk mempersembahkan penampilanku dan Eno pun sebentar lagi, Aku masih gugup dan Eno mencoba menenangkan ku. aku mulai tenang hingga akhirnya nama kami dipanggil. Aku bersiap dengan biolaku, aku melihat kearah Eno yang yang tersenyum dan mengangguk kearahku membuatku tenang.
Akhirnya kami selesai dengan permainan kami, terlihat semua juri juga menyukai permainan kami. Jadi aku senang dan lega. dibalik panggung aku tersenyum girang berharap kami dapat nilai yang bagus nanti.
Ternyata benar apa yang aku harapkan, kami mendapat nilai yang paling bagus dari semua peserta lain. Setelah hari itu kami mulai menyiapkan penampilan-penampilan lain yang akan kami persembahkan selanjutnya.
Dari situ kami mulai dekat, aku tidak tahu kapan rasa itu tumbuh. Aku merasa nyaman disampingnya. Tapi aku hanya memendam rasa ini sendiri takut rasa ku ini akan mempengaruhi pertemanan kita bahkan penampilan kita nanti.
Hari demi hari berlalu, kami masuk 3 besar. hari ini adalah final yang merebutkan juara 1,2 dan 3. aku dan Eno sudah menyiapkan penampilan terbaik kami berharap kami akan membawa pulang hadiah juara 1 yang sudah berada didepan mata. Hingga akhir nya apa yang kami harapkan menjadi kenyataan. aku dan Eno menjadi juara 1 dan membawa pulang hadiahnya. Tapi aku sedih, setelah hari ini kita mungkin tidak akan bertemu kembali.
Benar saja, hari ini aku dan Eno berpisah pulang ke rumah kita masing-masing. Eno melambaikan tangannya dan tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumannya dalam hati aku berdoa semoga Allah kembali mempertemukan kami suatu saat nanti.
Setelah hari itu aku tidak lagi mendengar kabar apa pun dari Eno. aku sempat meminta nomer nya tadi nomer itu aku simpan disebuah buku dan tidak tahu dimana buku itu berada saat ini. Aku hanya bisa mengenang alunan musik yang dibawakannya yang masih tersimpan rapi di kepala ku.
2 tahun berlalu, aku masih saja sama seperti dulu, hanya saja namaku banyak dikenal sekarang. Dan aku bekerja disebuah cafe dengan memainkan biolaku. Aku tidak bisa bernyanyi namun aku bisa membuat orang terbawa perasaan oleh alunan musikku.
Aku memainkan kembali lagu dimana saat aku dan Eno dulu. ketika dia bermain gitar dengan tangannya yang lentik dan wajahnya yang masih terbayang di benakku walau kini sudah mulai memudar.
Aku melihat kedepan, sosok pria berjalan kearahku. Seperti nya aku kenal, namun siapa. Aku terdiam meletakkan biolaku dan mencoba mengingat kembali siapa sosok pria didepanku itu.
Dia duduk di sampingku dan mengambil gitar. Dipetiknya gitar itu. Aku terkejut lagu ini lagu yang biasa aku mainkan dengan Eno.
"Kenapa benggong, ayo kita mainkan lagi lagu kita."
"Hah...."
aku terkejut namun aku mengambil biolaku dan mulai memainkan lagu yang sering aku mainkan dengan Eno dulu. Aku berfikir ya ini benar-benar Eno kan. Aku berharap dia bebar-benar Eno yang dulu.
Setelah sekian lama akhirnya aku bertemu dengan Enk, pria yang 2 tahun ini berada di hatiku.
"Eno....."
"Apa kabar kamu Tyas..."
Aku tersenyum bahagia, tidak tahu bagaimana mengutarakannya. aku sangat bahagia.
"Aku jauh-jauh datang kesini untuk mengatakan satu hal kepadamu."
"Iya apa...."
"Aku mencintaimu...."
"Hah....gak salah yang aku dengar ini." gumam ku dalam hati. aku menunduk, wajahku merah karena malu.
"kenapa...maaf ya tiba-tiba, tapi aku tidak tahu kapan rasa itu tumbuh. aku baru sadar ketika aku tidak lagi melihatmu berada di sampingku. aku mencintaimu.
"Sebenarnya, aku juga merasakan hal yang sama."
Eno melihat kearahku, aku malu namun aku berusaha mengangkat kepalaku dan kukatakan sekali lagi.
"Aku juga mencintaimu."
****