Di ruangan dengan furniture berkualitas tinggi menandakan status pemilik ruangan, sesi wawancara sedang berlangsung. Aku duduk berhadapan dengan pelamar dipisahkan meja yang diatasnya ada Curriculum vitae, form wawancara kerja dan hasil psikotes serta nilai ujian tertulis pelamar. Sebagai pimpinan perusahaan bukan kali pertama Aku mewawancarai seorang pelamar tapi justru wawancara kali ini membuat jantung Ku berdebar dalam ruangan AC yang sudah disetting normal pun telapak tangan Ku tak henti berkeringat. Aku gugup sedangkan sang pelamar begitu tenang.
Dia memiliki rambut tebal hitam mengkilat yang terurai sepanjang bahu. Alis hitam terbentuk sempurna, bulu mata lentik menaungi sepasang mata hitam pekat, seulas senyuman diberikan pada Ku. Sungguh wajah cantiknya sangat mirip dari seseorang yang pernah hadir di masa lalu.
"Nama Anda Cleopatra Naungan Senja. Nama yang indah. Apakah anda mengetahui maknanya?" Aku membaca Curriculum vitae dari gadis di hadapan Ku. Aku tahu darimana nama Cleopatra berasal tetapi untuk naungan senja, Aku belum mengetahuinya.
"Cleopatra adalah nama yang ditakdirkan untuk Saya sepertinya ada harapan agar Saya tumbuh menjadi cantik, kuat seperti Cleopatra walaupun Saya tidak menginginkan berakhir seperti Cleopatra tentunya". Dia tersenyum kecil lalu berhenti sesaat sebelum melanjutkan kalimat kembali.
"Sedangkan naungan senja diberikan oleh orang tua Saya,naungan bermakna perlindungan agar sepanjang hidup ini selalu mendapat perlindungan dari atas dan juga diharapkan bisa menjadi tempat berlindung orang-orang yang mencintai Saya, senja adalah ketika orangtua Saya begitu berbahagia mendapat anugrah seorang putri
Aku tertegun mendengar penjelasan Cleopatra. Dalam sekali arti dari kata naungan, orangtua Cleo berharap agak putrinya selalu mendapat perlindungan dari Tuhan dan Cleo pun bisa menjadi tempat berlindung orang-orang yang mencintai dirinya. Aku merasa gadis itu menekankan kalimat orang yang mencintai dirinya. Bagaimana dengan senja, mengapa senja?.
"Anda lahir saat senja?" Gadis itu tersenyum samar.
"Maaf". Aku tersadar pertanyaan ini berkesan tidak profesional untuk sesi wawancara.
Dia seorang pelamar kerja sedangkan Aku adalah pimpinan perusahaan yang bergerak dalam bidang eksportir furniture berkualitas tinggi. Cleopatra nama gadis cantik dihadapan Ku melamar untuk posisi customer service seharusnya untuk posisi ini cukup sampai manager HR saja tapi seakan ditakdirkan untuk bertemu ketika berapa hari lalu Aku menemui manager HR di ruangannya. Suatu hal yang jarang Ku lakukan karena jika ada keperluan Aku cukup memanggil dia ke ruangan. Sebuah surat lamaran berserta hasil test sedang dibaca oleh manager HR terbuka lebar di meja. Melihat data pelamar seakan ada magnet yang menarik dan tak ingin Ku lepas lagi.
Nama : Cleopatra Naungan Senja
TTL : Jakarta, 01 Januari 1999
Membaca Nama dan tanggal lahir pun sudah membuat dunia Ku seakan terhenti terlebih ketika melihat foto Cleopatra. Sebuah wajah cantik yang menarik Ku kembali ke masa lalu.
Sebelum bertemu Cleopatra Aku membaca dengan baik form wawancara kerjanya. Dia memiliki dua orang adik kembar yang terpaut cukup jauh. Selisih 10 tahun. Ayahnya berprofesi sebagai wirausaha dan Ibunya seorang pegawai negeri sipil. Cleopatra memiliki background pendidikan yang baik, dia masuk sekolah lebih awal , menyelesaikan pendidikan Strata satu lebih cepat dengan IPK tinggi, hobi traveling dan tertarik dalam bidang fotografi. Sepertinya dia dibesarkan dengan baik oleh keluarganya.
"Sebelum covid 19 biasanya Saya dan keluarga menghabiskan waktu liburan bersama. Ayah dan Ibu suka mengunjungi tempat wisata alam. Kami suka menghabiskan waktu bersama menikmati pemandangan alam atau hanya menikmati makan bersama di belakang rumah. Ayah senang bertanam dan Ibu akan memasak makanan hasil dari tanaman Ayah". Cleopatra tersenyum menjawab pertanyaan Ku tentang hobi travelling-nya.
Aku menghela napas ada rasa cemburu di hati ketika mendengar cerita tentang keluarganya. Aku bertanya tentang hobi travelling-nya dan dia menjelaskan dengan panjang lebar.
Posisi yang dilamar Cleopatra saat ini adalah customer service. Ada kekosongan posisi dikarenakan Intan customer perusahaan mengundurkan diri dari posisi tersebut. Kami hanya membutuhkan satu pelamar sehingga dari divisi HR memutuskan untuk tidak membuka lamaran terbuka tetapi mencari rekomendasi dari karyawan sendiri untuk kenalan mereka yang kompeten. Daripada menyeleksi lamaran yang pasti membludak selama pademi lebih baik mencari pelamar yang sudah memiliki track record baik.
Aku jadi penasaran darimana Cleo mengetahui lowongan ini.
"Darimana anda mengetahui lowongan untuk posisi customer service ini?".
"Saya mengetahui dari Intan sendiri mengenai lowongan pekerjaan ini"
"Hubungan Cleo dan Intan, teman atau saudara?". Mengingat usia Intan terpaut tidak jauh dari Cleo kemungkinan mereka berteman.
"Intan adalah adik dari tunangan Saya". Cleo kembali tersenyum tenang menatap kedua mata Ku. Aku berdehem untuk menghilangkan keterkejutan, dia akan segera menikah padahal usianya baru 22 tahun.
"Saya tidak akan menikah dalam waktu dekat karena saat ini tunangan Saya sedang kuliah di Jerman dan masih terikat kontrak dengan perusahaan untuk tidak menikah selama masa studi". Cleo seakan tahu apa yang Ku pikirkan.
Aku mengatur napas memasang wajah tenang. Aku harus profesional dan menyingkirkan pertanyaan terkait kehidupan pribadi Cleo walaupun jujur saat ini Aku sangat ingin tahu semua yang menyangkut kehidupan pribadi Cleo.
Selanjutnya Aku mulai melakukan wawancara formal sesuai standar perusahaan. Nilai tinggi untuk hasil test dan ujian, memiliki background pendidikan yang baik, hasil wawancara diluar penilaian pribadi Ku cukup bagus untuk seseorang yang belum pernah berkerja. Secara keseluruhan tidak ada yang curiga jika Aku menerima Cleo walaupun ada maksud pribadi didalamnya. Aku mengatakan kepada Cleo dalam waktu tiga hari dia akan menerima hasil yang akan disampaikan oleh divisi HR. Tentu saja dia diterima tetapi prosedur perusahaan tetap akan Ku jalankan.
Cleo berdiri untuk pamit kali ini protokol kesehatan menyelamatkan Ku untuk tidak bersalaman karena jika itu terjadi. Cleo akan tahu berapa dingin telapak tangan Ku saat ini. Ketika gadis itu keluar dari ruangan Aku memperhatikan dengan seksama. Dia cantik, tinggi proporsional, kulit putihnya hampir sama dengan Ku, penampilannya elegan walau tidak menggunakan barang high end sepertinya keluarga Cleo mengurus putrinya dengan baik.
Aku menyesap kopi perlahan menenangkan hati yang berdetak kencang dari tadi. Tatapan Ku nanar memandang foto keluarga kecil Ku di atas meja. Arjuna suami Ku, dia tidak tampan seperti cerita Arjuna yang sering kita dengar tetapi dia pria luar biasa yang menarik Aku dari kehidupan masa lalu.
Sulit bagi Ku untuk membuka diri pada pria setelah kejadian di masa lalu. Arjuna lah yang mati-matian mengejar Ku, sifat acuh dingin Ku dibalas dengan kehangatan. Jika ada yang mengatakan Arjuna mengincar kekayaan keluarga kami jelas itu kesalahan karena Arjuna berasal dari keluarga berada. Bahkan tempat Ku bekerja adalah milik keluarga Arjuna. Dari tempat Ku bekerja inilah Aku mengenal Arjuna. Ketika Ku katakan masa lalu Ku, Arjuna bersedia menerima, di usia 32 tahun akhirnya Aku menikah dengan Arjuna. Aku mengabdikan diri sebagai istri yang baik bagi Arjuna bahkan ketika Arjuna di vonis mandul Ku terima dengan lapang dada. Arjuna bisa menerima Ku apa adanya, begitulah Aku mungkin ini adalah takdir atas kesalahan Ku di masa lalu. Kami pun telah mengangkat dua orang putri yang menggemaskan. Sekarang mereka tumbuh sehat dan pintar.
Alih- alih bekerja di perusahaan keluarga, Aku lebih memilih mencari pekerjaan lain. Ada kemarahan pada keluarga Ku yang tidak bisa tersalurkan karena terjadi atas dasar kesalahan Ku juga. Aku tidak bisa menyalahkan kedua orang tua Ku.
22 tahun lalu ketika usia Ku 16 tahun Aku melahirkan seorang putri dari pria yang entah dimana keberadaannya. Bagas namanya mengaku seorang mahasiswa di salah satu universitas. Dia kost dan Aku tidak mengenal keluarganya. Cinta pertama Ku itu sangat tampan memiliki alis tebal, hidung mancung, rahang tegas, postur tubuh tinggi tegap. Tubuh Ku yang mungil selalu nyaman berada dalam dekapannya. Kepolosan Ku masa muda dimanfaatkan oleh Bagas. Aku kebablasan sampai hamil.
Di bukan Mei 1998 ketika kerusuhan terjadi di ibukota negeri ini. Kehamilan Ku memasuki minggu ke-8. Aku khawatir dengan tubuh mungil Ku semakin bertambah minggu maka kehamilan Ku akan kentara. Aku mencari Bagas di kost-an tapi dari temannya informasi yang didapat dia sudah pindah kost. Aku mencari informasi di Universitas dan jurusan yang dikatakan Bagas tetapi tidak ada yang mengenal Bagas. Aku mengenal Bagas ketika berada di warung telekomunikasi kala itu Aku menunggu melati sahabat semasa SMA sedang menelpon pacarnya. Aku dan Bagas berada dalam kursi antrian yang sama. Lalu perkenalan terjadi. Aku memberi nomor telpon rumah pada Bagas.
Bagas berapa kali datang ke rumah. Saat Mama Papa tahu mereka marah besar bukan karena Aku pacaran di usia muda tetapi karena dari penampilan Bagas yang biasa saja. Papa Mama memang menekankan Ku untuk berteman dengan satu kalangan yang sama. Aku menjalin hubungan diam-diam. Kost-an Bagas adalah tempat pertemuan kami sering terjadi. Melati berkali-kali mengingatkan Ku tapi selalu diindahkan.
"Aku takut Bagas sakit hati atas perkataan orangtua mu, Cleo. Kamu jangan terlalu percaya sama Bagas". Aku selalu mengindahkan peringatan Melati. Sampai ketika Aku tidak mendapatkan haid selama dua bulan. Barulah Aku panik, melati membawakan Ku testpack yang dia ambil diam-diam dari iparnya. Dua garis merah muncul.
Bersama Melati, Aku mencari keberadaan Bagas dikarenakan Kami sering bolak- balik kost-an Bagas sampai ke kampusnya. Putra pemilik kost menjadi iba, akhirnya dia memberitahu kami kalau Bagas tidak kuliah, dia bekerja di warung telekomunikasi tempat Aku bertemu pertama kali. Dia memberikan alamat Bagas dari fotokopi KTP Bagas saat awal kost ditempat mereka. Bagas ternyata tinggal diluar Jakarta. Bahkan dia tidak bekerja di wartel itu lagi sejak Aku memberitahu pada bulan pertama Aku tidak mendapatkan haid.
Kerusuhan 1998 di Ibu kota membuat pencarian Aku bersama Melati terhenti. Kami tidak di izinkan keluar. Bersamaan dengan kenaikan ke kelas dua di Juli 1998 kehamilan Ku sudah memasuki 4 bulan sesuai dugaan tubuh mungil ini tidak bisa menutupi kehamilan.
Papa Mama marah besar, alih-alih mencari Bagas mereka justru hendak menggugurkan kandungan. Kakak laki-laki Ku melarang, Dia saat itu baru lulus SMA. Melihat kakak laki Ku menangis memohon. Hati Ku menjadi sakit betapa dia menyayangi diriku. Kesibukan Papa Mama membuat hubungan kami sangat dekat. Selisih dua tahun membuat hubungan kami layak teman, hanya saja ketika duduk dikelas 3 SMA. Kakak Ku sibuk belajar untuk persiapan ujian kelulusan SMA. Saat itulah Bagas datang dengan ilusi kebahagiaan bagi polos kesepian seperti diriku.
Usia kehamilan Ku yang semakin besar membuat aborsi menjadi beresiko. Mama Papa melakukan kebohongan dengan pihak sekolah. Mereka mengatakan bahwa Aku pindah ke daerah karena Ibu kota sedang tidak kondusif. Kenyataan Aku tetap di rumah, dilarang pergi kemana pun. Kakak Ku sudah berangkat ke Australia melanjutkan kuliah, tinggal Aku sendiri. Terkadang diam-diam Aku menelpon Melati hanya dia yang tahu rahasia hidup Ku.
Sampai 1 Januari 1999 Aku melahirkan secara Caesar. Aku sempat melihat bayi mungil Ku dan menamakannya 'Cleopatra' selanjutnya tubuh lemah Ku menjalani perawatan setelah melahirkan. Sampai di rumah Aku tidak pernah melihat bayi Ku lagi. Aku tidak mempercayai Mama Papa ketika mereka mengatakan Cleopatra sudah tiada karena mereka tidak bisa menunjukkan makam Cleo. Aku masih belia tapi insting Ku mengatakan bahwa bayi Ku masih ada.
Aku kesulitan mendapatkan informasi karena selama kehamilan Ku. Papa Mama hanya menggunakan assisten rumah tangga setengah hari. Bahkan dia tidak pernah bertemu dengan Ku, Kamar Ku bukan area yang mesti dibersihkan. Selama dia kerja Aku dilarang untuk keluar kamar. Papa Mama bahkan tidak menggunakan sopir keluarga. Keluarga Ku adalah perantauan di Jakarta jadi keluarga besar kami tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Ku.
Adapun keberadaan Bagas Aku ketahui dari Melati. Setelah melanjutkan kembali sekolah di SMA lain, Aku bisa berkomunikasi lagi dengan Melati. Putra pemilik kost mengabarkan bahwa saat dia bertugas di kota tempat tinggal Bagas karena melihat Ku dan Melati begitu gigih mencari Bagas akhirnya dia tergerak mencari keberadaan Bagas. Berbekal alamat KTP dia pun ke rumah Bagas ternyata keluarga Bagas sudah tidak tinggal di sana lagi sejak kematian Bagas. Informasi dari tetangganya Bagas meninggal karena kecelakaan bus saat akan mudik. Tetangga tidak tahu kemana keluarga Bagas pindah dan yang membuat Ku hancur ternyata Bagas telah berkeluarga.
Saat itu ternyata Melati menjalin kasih dengan putra pemilik Kost. Memang sahabat Ku saat itu dulu terkenal playgirl tapi bedanya dia bisa menjaga kehormatan diri.
Hari ini Aku bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang sama dengan Anak Ku 22 tahun lalu, tanggal lahir sama, raut wajah yang sama dengan pria yang seharusnya bertanggung jawab menjadi Ayah dia.
Setelah Aku tamat kuliah di bebani perasaan bersalah pada cucunya. Akhirnya Papa dan Mama menceritakan pada Ku.
Cleo diberikan kepada pasangan suami istri yang berapa tahun belum memperoleh anak. Mama mengenalnya di rumah sakit ketika mereka menjalani program kehamilan. Mama lalu membayar orang untuk ke rumah kedua orang tua angkat Cleo, orang upahan itu mengatakan bahwa ada anak terlantar yang orang tua tidak sanggup mengurusnya. kedua orang tua angkat Cleo menyetujui. Sejak hari itu Cleo menjadi putri mereka, Aku tahu saat itu begitu marah tapi pada siapa Aku harus marah. Papa Mama menjaga kredibilitas dan nama baik mereka yang terpandang di kalangan masyarakat. Nama baik yang membuat mereka tega menyingkirkan darah dagingnya sedangkan Aku melakukan kesalahan andaikata bisa menjaga kehormatan hal ini tidak akan terjadi.
Aku sempat mencari keberadaan rumah kedua orang tua angkat Cleo tapi tidak menemukannya. Mama sudah lupa persis alamat Cleo sedangkan orang upahan Mama setelah menerima bayaran cukup besar kembali ke kampung halamannya. Aku kehilangan jejak. Terkadang Aku mencari di sosial media berharap mengenal wajah yang muncul tapi bagaimana pun itu seakan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Ingatan Ku tentang Cleo hanya seorang bayi merah yang baru dilahirkan.
Hari ini ketika Aku bertemu seorang gadis dengan nama yang sama, tempat tanggal lahir sama, raut wajah yang menuruni persis seseorang yang seharusnya menjadi Ayahnya. Aku yakin dia adalah putriku perasaan ini mengatakan Iya walau Aku tahu harus menjalani test DNA untuk meyakinkannya. Untuk ini Aku akan bicara dengan Arjuna, semoga suami Ku mengerti.
Penerimaan Cleo bekerja di perusahaan akan memuluskan jalan bagi Ku untuk memastikan asal dia berada. Aku bertekad untuk itu.
**********************************
"Bagaimana?" Wanita paruh baya itu menatap putrinya penuh kasih ketika gadis itu memasuki mobil.
"Dia cantik"
"Lalu apakah kamu diterima bekerja?".
"Sepertinya ya".
"Jadi kapan kamu akan mulai kerja,Nak?".
" Aku tidak tertarik "
"Kalau tidak tertarik mengapa kamu melamar"
"Aku hanya ingin tahu seperti apa Ibu yang membuang anaknya. Dia tampak tertarik dengan kehidupan pribadi Ku seharusnya Mama tidak menyematkan nama Cleopatra seperti pemberian wanita itu"
"Wanita itu adalah Ibumu Cleo"
"Ibu Ku adalah Kamu, Ma yang merawat Ku dengan kasih. Bukankah Mama memberikan nama Naungan di tengah nama Ku agar Aku bisa melindungi dan menjadi tempat orang yang mencintai Ku. Dia tidak termasuk. Dia menanyakan apakah Aku lahir saat senja hari, Aku hanya mengatakan senja adalah saat orangtua Ku mendapatkan anugrah seorang putri walau Aku lahir di pagi hari justru senja hari saat sebuah keluarga tulus menerima Ku". Mata Cleo tampak terluka ketika mengatakan hal tersebut.
"Dari orang yang mengantarmu dulu, Ibumu tidak tahu mengenai ini. Semua atas suruhan Nenek dan kakek mu".
Mata wanita itu menerawang menghadirkan kembali kejadian puluhan tahun lalu di rumah sakit. Pertemuan dengan seorang wanita saat dia sedang dalam antrian dokter SPOG untuk merencanakan kehamilan setelah 4 tahun menikah dan belum memperoleh keturunan. Saat itu usianya 27 tahun, dia mengenal wanita itu sebagai pengusaha konveksi. Wanita tersebut tidak mengenalnya sepertinya dia lupa pernah bertemu sebelumnya karena dirinya pernah menemani salah satu sahabat ketika menjalani mitra kerjasama dengan wanita tersebut. Pengusaha seperti nenek Cleo tentu berjumpa dengan banyak orang sehingga melupakan pertemuan dengan dirinya yang hanya terjadi dua kali tetapi dia ingat persis pertemuan dengan pengusaha konveksi yang cantik. Kehidupan sempurna dari luar awalnya ketika dia mengenal Nenek Cleo.
Jika ada pepatah mengatakan dunia begitu kecil mungkin tepat menggambarkan ketika seseorang menghampiri dia dan suami. Orang upahan nenek Cleo, Dia mendesak jati diri keluarga Cleo karena awalnya khawatir bayi cantik itu korban penculikan. Setelah mengetahui hal sebenarnya, Dia dan suami sepakat untuk merahasiakan. Kehidupan sejatinya sering menghadirkan rahasia yang cukup kita ketahui bukan?.
Ketika Cleo berusia 12 tahun kehadiran adik kembar dari rahimnya tidak menyurutkan kasih sayang terhadap Cleo. Bertambah dewasa Cleo menyadari ketidakmiripan dirinya dengan anggota keluarga. Sampai Cleo menamatkan kuliah akhirnya dia dan suami sepakat memberitahu kalau putri tersebut merupakan anak angkat karena Cleo sudah bertunangan. Sudah saatnya dia mengetahui siapa sebenar dirinya. Dia sudah dewasa.
Tidak sulit mencari siapa putri dari nenek Cleo yang merupakan Ibu kandung dari Cleo karena hal itu sudah dia ketahui dari puluhan tahun lalu. Seorang gadis SMA yang cantik merupakan Ibu dari anak angkatnya. Pertanyaan Cleo menyadarkan dirinya dari bayangan 22 tahun lalu.
"Dia, si orang upahan mengatakan bahwa wanita yang melahirkan Ku tidak tahu bahwa Aku anaknya dibuang?
"Kami membayar dia mengatakannya, bagaimana pun Kami harus tahu asal mu Cleo karena saat diantar kamu begitu cantik dengan selimut mahal membalut tubuhmu jelas menandakan kamu bukan berasal dari kalangan biasa tapi dia mengatakan kamu anak terlantar karena kakek neneknya tidak dapat menerima sedangkan Ibunya tidak tahu kalau anaknya dibuang"
"Dia benar tidak diterima dalam keluarga apa bedanya dengan anak telantar". Mata hitam pekat gadis itu menggelap untuk sesaat lalu ketika dia menoleh kearah ibunya berganti menjadi binar manja.
"Mari kita pulang Ma, kasihan Mama sudah cukup lama menunggu Ku didalam mobil".
-End-