Aku tiba-tiba terbangun didalam sebuah ruangan kecil berukuran 3x3 meter. Dinding ruangan yang kusam karena dimakan waktu serta warna cat hitam yang mulai pudar serta mengelupas. Hanya sebuah lampu yang menyala redup, menerangi sebagian ruangan. Setiap sudut ruangan tertutupi oleh kegelapan karena cahaya lampu tak sampai menjangkaunya. Bisa kalian bayangkan betapa redupnya lampu ini.
Aku masih bingung dengan keadaanku ini. Aku masih ingat terakhir kali, aku pergi keluar untuk merayakan tahun baru dikota. Entah kenapa aku bisa terbangun didalam ruangan seperti ini. Aku melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 21:00 tanggal 31 Desember 2020. Masih ada 3 jam untukku agar bisa menikmati pertunjukkan kembang api.
Aku berjalan kesetiap sudut ruangan dan meraba-raba dinding untuk mencari pintu keluar. Terasa sensasi berminyak kurasakan saat meraba dinding. Serasa meraba tubuh seseorang yang berkeringat. Setelah kuraba semua sisi dinding, aku tidak menemukan sebuah pintu atau jendela. Aku heran kenapa aku bisa masuk sedangkan tidak ada pintu.
Setelah terdiam cukup lama, aku mencoba berjalan mengelilingi ruangan hingga aku merasakan sesuatu hal yang berbeda dilantai. Benar saja ini adalah papan kayu dan terdapat gagang pintu. Ku tarik pintu itu dan kulihat hanya kegelapan total.
Aku sesekali menarik nafas dan coba meraba pintu yang berada dilantai tersebut. Aku merasakan seperti sebuah anak tangga. Aku diam sebentar untuk menguatkan tekatku menuruni tangga ini. Perlahan tapi pasti aku menuruni tangga.
Aku menuruni tangga dengan posisi tanganku dibawah sebagai alat peraba untuk memastikan agar aku tidak terjatuh dan sebagai alat navigasi. Aku merangkak turun, menuruni tangga yang tak tahu seberapa jauh akan membawaku turun. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku menuruni tangga dengan merangkak, aku tidak bisa melihat arlojiku karena disini benar-benar gelap sekali, bahkan aku saja tidak bisa melihat kedua tanganku karena terlalu gelap.
Selama menuruni tangga banyak kurasakan hal-hal menjijikkan, seperti aku menyentuh benda cair yang lengket berbau amis, Lantai yang berminyak, hingga sesuatu yang lembek. Aku tidak mau memikirkan apa yang sudah kusentuh, karena akan membuatku mual.
Aku mulai lelah dan bosan, hingga akhirnya aku merasakan sebuah lantai. (Akhirnya aku bisa berdiri) dalam hatiku aku berbicara dan merasa lega. Aku raba sekitarku dan kurasa ini sebuah lorong kecil, yang pas untuk dilewati 1 orang.
Aku makin heran dan penasaran kenapa aku terjebak disini. Karena sudah tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain tetap berjalan, aku memutuskan untuk terus melangkah. Aku berjalan hingga aku merasa menendang tubuh seseorang. seketika kakiku gemetaran.
Apakah mungkin ada sebuah tubuh tergeletak menghadang jalanku. Aku pun jongkok dan meraba sesuatu yang menghalangi jalanku. Benar saja, aku meraba dan tahu bahwa yang sedang kuraba ini sebuah tangan. Aku sangat takut dan gemetaran. kuputuskan untuk melangkahinya saja. Saat aku melangkahkan kaki kananku, tak sengaja kaki kananku menginjak kepalanya hingga terdengar suara tulang yang retak dan membuatku terpeleset dan jatuh.
Aku merangkak dan segera berdiri menjauhi tubuh itu. Sambil berjalan sempoyongan aku berjalan dengan bertumpu pada dinding lorong yang tak tahu dimana ujungnya ini. Hingga aku merasakan bahwa didepanku terdapat sebuah jalan bercabang 4. Aku tidak tahu aku harus memilih yang mana, hingga aku memutuskan untuk tetap berjalan lurus.
Setelah aku berjalan lurus, kakiku terasa terendam air dan lama kelamaan, aku terasa makin masuk kedalam. Aku tidak ingin tenggelam dan kuputuskan kembali. Tapi anehnya kali ini hanya terdapat 2 percabangan jalan saja. Apakah aku yang lupa atau tempat ini terus berubah, tempat apa ini sebenarnya?.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku disini dan sudah berapa banyak aku melewati persimpangan jalan. Aku merasa telah terjebak disini selama 3 tahun dan aku heran kenapa aku tidak merasakan lapar dan haus.
Aku pun putus asa dan menyerah. Aku duduk dilorong yang sangat gelap ini dengan posisi termenung dan wajah kebawah. Aku sudah tidak mau berjalan lagi. Tiba-tiba suara aneh muncul dari ujung lorong. Suaranya mirip sekali iblis yang biasa kudengar di film-film. Suara yang sangat menyeramkan itu berkata padaku.
"Apakah kau sudah menyerah?" Suara misterius
"Iya, Aku sudah muak" Jawabku
"Kau yakin tidak mau bermain lagi denganku?" Jawab Suara misterius
"Aku benci bermain denganmu dasar SIALAN!!" Jawabku
"Jika kau berhenti, kau akan bernasib sama dengan yang lainnya, menjadi satu dengan labirin ini, tapi jika kau tetap berjalan kau mungkin akan menemukan pintu keluarnya" Jawab suara misterius itu
" HEY KELUARKAN AKU DARI SINI!!!!!" Jawabku
Aku tidak memperdulikan omongannya dan terus duduk termenung dan menyesali beberapa perbuatanku waktu dulu. Padahal aku ingin sekali mengawali tahun 2021 dengan lebih baik, dan mungkin tahun ini menjadi tahun terbaikku, itulah harapanku. Aku terus termenung meratapi masalalu hingga tak sadar punggungku sudah menempel dengan dinding.
Aku kaget dan segera berdiri namun apadaya kulit punggungku sudah menyatu dengan temboknya. Aku tidak peduli dan terus berusaha bangkit hingga kulitku terkoyak dan tekelupas. Kurasakan perih teramat pedih, dan bisa kurasakan darahku mengalir menuju kebawah.
Aku terus melangkah karena masih banyak yang ingin kucapai. Aku berjalan dan terus berjalan bahkan melewati tumpukan mayat, darah yang menggenang, duri-duri tajam yang berada di seluruh dinding hingga dinding yang termat panas yang bisa mengupas kulit dan mengeringkannya.
"Aku suka dengan tekatmu" Suara misterius
(Aku memilih diam dan terus berjalan)
"Kau lolos tes seperti sebagian orang yang lain" jawab Suara misterius
Tiba-tiba terdapat cahaya putih di ujung lorong yang bersinar. Cahaya itu kian lama kian mendekat memenuhi lorong dan akhirnya mengenaiku.
"Pak bangun pak" seseorang sedang menggoncang tubuhku
(aku terbangun dan bertanya kepadanya apa yang sedang dia lakukan)
"Bapak tadi menunggu pergantian tahun 2021, tidak sadar tubuh bapak mengalami hipotermia. Cuaca diluar sangat dingin -50C°, kenapa memaksakan pergi keluar dengan baju tipis" tanya dia
"Bukannya wajar, seorang gelandangan setiap tahunnya mati kedinginan" Jawabku