Tanggal 14 Februari 2019. Disebuah ruang sunyi, terbaring sosok wanita yang sangat gigih dan kuat dalam melawan penyakit yang sudah lama dideritanya. Dengan tubuh yang tak ada artinya lagi ini, selalu tersenyum dan membuat teman-teman disekitarnya bahagia. Selalu menyemangati teman yang terbaring lemah kesakitan agar cepat pulih. Walau akhirnya dia yang harus pergi meninggalkan dunia ini...
💠💠💠
Hari Senin yang cerah berhiaskan rintikan air bening dari gumpalan kapas abu-abu, menyambut pagi ini. Aku yang baru selesai memakai seragam dan mengambil perlengkapan sekolah menuruni tangga mengekor aroma harum mie goreng. Dengan riangnya kakiku melangkah menuju sosok wanita yang paling aku sayangi di dunia ini. Siapa lagi kalau bukan Kakakku. Aroma mie gorengnya semakin tajam dan tak hentinya menggelitik hidungku. Alhasil rasa lapar pun muncul..
"Good Morning, My Sister" sapaku
"Kapan matangnya mie itu? Sepertinya enak nih" kikik ku yang duduk di meja makan.
"Morning too, my little princess. Bagaimana kondisimu? Masih ada yang terasa sakit?" Kata kakak yang mematikan api kompor dan menuangkan mie ke piring.
"Sudah jauh...jauh lebih baik dari kemarin. Rasa sakit yang tadi malam sudah reda pagi ini. Jadi bisa dibilang, aku sehat!" Jawabku yang melayangkan suapan besar mie ke dalam mulut.
"Kuharap kata "sehat" itu memang benar" ucap kakak pelan
Aku memandang kakak sambil mengunyah. "Ayah mana?" Tanyaku
"Itu ayah baru keluar kamar" jawab kakak yang duduk di berhadapan denganku.
"Ayah cepat kemari sarapan bersama!" Ajak ku
"Tidak perlu. Ayah bisa sarapan di kantor" tolak ayah
"Ehh jangan gitu dong ayah. Sekali-kali temani ra sarapan ya. Meski sekali ini untuk terakhir kalinya" pintaku
Ayah menghela napas dan mengangguk mendekati meja makan.
"Makasih ya, Ayah. Ra janji deh sarapan bersama ini yang terakhir" ucapku
"Iya iya terserah" ucap ayah yang nampak tak peduli
"Oh iya, satu permintaan lagi dari Ra" seruku
Ayah dan kakak menoleh menatap ku. " Yang antar ke sekolah ayah ya"
"Iyaaa.."
SMP HARAPAN BANGSA, sekolah populer nan elit di Bandung. Ayah memarkir mobil di samping jalan mendekati gerbang sekolah. Aku diturunkan tepat di area luar sekolah dan harus rela berjalan jauh ke gedung sekolah yang kira-kira 1 km jauhnya.
"Belajar lah yang giat" pesan ayah sebelum pergi
"Iya ayah. Ra pergi dulu ya, ayah hati-hati di jalan. Assalamu'alaikum" ucapku yang menutup pintu mobil dan berjalan masuk.
Pelajaran pertama hari Senin ini adalah olahraga. Kelas ku hari ini olahraga bareng kelas 9D dan materinya yaitu bola besar. Guru olahraga ku bernama Pak Devan, memilih untuk praktek bola voli terlebih dahulu. Setelah di absen, pemanasan dan dibagi urutan tes, aku mulai memasang posisi karena sudah masuk ke giliran ku. Sudah 2-5 pukulan berhasil kulewati namun, tiba-tiba saja aku merasakan kaku pada kaki dan rasa sakit dikepala. Saat telapak tangan ku diturunkan dari kepala, terlihat darah segar membekas disana, akhirnya aku hanya bisa melihat warna hitam dan tak bisa ingat apapun yang terjadi...
Tak lama setelah itu, kubuka mataku yang berat dan sudah disambut disebuah ruangan berwarna serba putih dan bau obat-obatan medis yang mencolok di hidung. Aku melihat ayah didekat pintu yang sedang bicara pada dokter. Di kursi yang jauh dari tempatku sekarang ini, kulihat kakak sedang menangis tersedu-sedu.
"Sebenarnya aku sakit apa?"
💠💠💠
Semenjak hari itu, aku jadi rutin kembali cek kondisi ke rumah sakit. Sudah 4 bulan aku rutin ikut pengobatan tanpa seorang pun memberitahu penyakit yang kuderita. Setiap hari, siang dan malam alat-alat medis juga obat-obatan menjadi teman sejati ku..
Pagi ini aku sedang duduk termenung di pinggir lapangan. Tubuhku terasa berat dan lelah tak karuan. Padahal aku tidak melakukan hal yang melelahkan. Aku menatap langit yang sudah berhiaskan gumpalan kapas berwarna abu-abu. Itu tanda nya hujan akan turun.
"Good morning my angel" seru seseorang yang tiba-tiba berlutut dan mencium salah satu telapak tanganku.
"Ini udah siang lho Raka" candaku
"Meski udah siang, semangat kita harus selalu semangat pagi" jelas Raka
"Tumben gak ke kantin Ra, padahal aku tadi nyari kamu lho. Ehh udah susah payah nyari, ternyata kamu lagi ngelamun disini" ucap Raka
"Hihi maaf ya aku lagi gak lapar. Lagian juga aku gak ngelamun kok!" Ujarku
"Masa? Jangan-jangan kamu selalu ngelamunin aku yang tampan ini ya?" Ucap Raka yang sudah kepedean.
"Ihhh pede banget kamu, hahaha"
Dia adalah satu dari beribu-ribu laki-laki yang merupakan sahabatku. Bisa dibilang sahabat jadi first love. Kebanyakan dari sahabatku selain Raka, tidak mengetahui bahwa aku sakit. Terkadang aku selalu menyiapkan jawaban jika mereka menanyakan "tablet apa yang selalu kamu bawa itu?" Aku hanya tersenyum dan menjawab bahwa ini adalah "vitamin". Aku tak ingin melihat mereka khawatir atas apa yang aku idap selama ini.
Kehidupan yang kujalani ini semakin cepat berlalu. Bagaikan timer yang sudah diatur untuk terus berjalan mundur hingga mencapai titik 0. Hari berganti begitu cepat bagiku, ingin sekali aku menghabiskan sisa waktu yang sedikit itu untuk merasa ceria dan bahagia. Nyatanya aku habiskan hanya dengan banyak konsumsi obat juga keluar masuk rumah sakit. Sudah 6 tahun kulewati dengan bosan dan lambat laun aku sudah mengurangi konsumsi jumlah obat.
Aku pikir, waktu ini akan kujalani dengan ditemani obat saja. Namun, sejak lembaran hidupku dimulai lagi dengan orang yang sangat aku cintai, Raka pandanganku mulai berubah. Belum lama ini aku dan dia menjalin sebuah hubungan. Sampai saat ini aku masih menganggap itu sebagai sebuah mimpi indah. Dimulai dari cakap-cakap santai jadi sahabat dan menjadi pasangan ku.
Awal kami memulai hubungan ini tampak lancar dan baik. Dimulai dari janjian pulang berangkat bersama dan pergi ke tempat istimewa bersama. Tanpa sadar aku jadi tak peduli lagi pada kondisiku yang mengidap penyakit ini. Karena bertemu Raka, aku jadi semangat untuk melawannya. Hingga saat ini, dia lah alasan untukku tetap hidup. Ia adalah sosok yang selalu ada dalam setiap doa ku sehari-hari.
Hingga suatu hari, aku tak sengaja mampir ke lapangan untuk melihatnya eskul. Tapi, di sisi lapangan aku melihatnya sedang bersama wanita yang sangat aku kenal. Dia adalah salah satu sahabatku yang sudah lama menyukai Raka bahkan sebelum aku sempat kenalan dan akrab dengannya. Mata ku yang menatap canda tawa mereka mulai mengeluarkan air mata. Air mata yang sudah tak bisa di bendung lagi karena melihat orang yang kuharap kan bersama yang lain. Seperti ditusuk duri mawar.
Sudah beberapa kali kucoba untuk menghubungi nya. Namun nihil hasilnya, tak ada balasan dan tak ada panggilan masuk darinya. Aku terus menantikan ponselku menampilkan namanya. Tapi tak ada yang terjadi hingga mataku terpejam lelap.
Hubungan kami semakin hari semakin renggang. Raka jadi semakin jauh dariku dan suka memberikan alasan lupa kasih kabar dll. Setiap kali aku bertemu dengan Raka, di sampingnya selalu ada wanita itu. Mereka berdua asyik bicara dan tertawa bersama tanpa memikirkan diriku yang melihat jelas mereka. Padahal dulu, wanita itu tak mau menganggu hubunganku dengan Raka. Nyatanya sekarang, ia malah menusukku dari belakang dan merampas milikku.
"Kenapa jadi begini?"
💠💠💠
Siang ini aku duduk lagi di pinggir lapangan termenung untuk sekian kalinya. Pikiranku kacau balau hingga rasanya langit pun bisa merasakan betapa suramnya diriku ini. Belum lagi aku dapat kabar yang kurang baik dari dokter. Setelah aku berhasil melawan penyakit ini selama 6 tahun lamanya, dokter mengatakan bahwa aku mengidap leukimia parah tahap akhir yang sudah tidak bisa di apa-apa lagi. Dokter juga sudah memperkirakan usia hidupku yang tak kurang dan tak lebih dari 4 Minggu lagi. Bahkan, penyakit ini dapat merenggut ku ke alam lain kapan saja dari prediksi dokter. Menyedihkan! Perasaan yang selama ini mengganjal di hatiku jadi nyata. Sudah sejak lama aku mulai merasakan tanda-tanda kematian yang semakin hari semakin dekat padaku...
"Lho Zara? Lagi apa disini?" Ucap sebuah suara wanita
"Ehh ternyata kak Risa dan Putra juga, kenapa ada disini?" Aku balik nanya alih-alih sebagai pengalih perhatian agar aku bisa menyeka air mataku.
"Aku lagi dihukum bersihin sampah gegara berisik di kelas. Dan kak Risa ini pengawas ku" ucap Putra
"Salah sendiri itu" ucap kak Risa
"Kamu kenapa nangis? Apa Raka nyakitin hati kamu?" Tumben juga kamu gak bareng dia, apa ada masalah diantara kalian?"
"Iya tuh tumben gak bareng Raka? Punya cewek lain ya?"
"Ihh udah sana kamu bersih-bersih!"
"Iya kak!! Dah Ra!"
"Dahh.. semangat ya.."
"Jawab dong!"
"Tidak kok. Aku tidak ada masalah apapun sama Raka. Lagian juga hubungan kami bentar lagi juga udahan"
"Kok gitu? Padahal kalian pasangan yang cocok lho. Kalau bukan gegara adikku, terus kenapa?"
"Hidup aku udah..."
Tunggu, jika aku kasih tahu, nanti Kak Risa khawatir. Jangan deh jangan...
"Udah apa?"
"Hancur kak. Raka sekarang jarang bicara sama aku dan akhir-akhir ini aku dapat kabar dari banyak orang, dia lagi dekat sama sahabatku Vera. Wanita yang udah lama ini suka banget sama Raka sebelum aku. Dari pada aku buat masalah, jadi aku putuskan untuk akhiri hubungan ini dengan ikhlas. Jika tidak, aku bisa nunggu Raka balik lagi sama aku biarpun lama dan nihil terjadi."
"Sabar ya Zara. Meskipun kau adik kelas aku, aku udah nganggap kamu adik aku sendiri. Aku yakin itu cuma gosip iseng aja. Semoga Raka balik lagi sama kamu. Adik aku itu kan sayang banget sama kamu, gak mungkin dia bakal lakuin itu kan." Hibur kak Risa yang memelukku
"Hehe iya juga kak, makasih udah hibur aku. Aku harap aku bisa terus seperti ini" ucapku
"Kita bakal terus gini kok. Meski beda sekolah, aku akan sering mampir ke rumah kamu" ujarnya
Kuharap begitu kak...ಥ‿ಥ
Karena menerima pelukan hangat kak Risa, aku tak boleh me-nyia-nyia kan kehidupan ku yang sudah tinggal hitungan mundur seperti timer. Belum lagi dokter menyarankan aku untuk melakukan operasi yang keberhasilan nya tipis setipis kertas. Mungkin lebih tipis dari apapun:-\
Semakin cepat dentingan jarum jam, semakin lama tubuhku rapuh, lemas dan pucat. Bahkan aku sampai kesulitan berdiri dan mengambil benda apapun mengguna kan tangan ini. Setiap saat aku merasakan darah yang mengalir di sekujur tubuh kian menampakkan dirinya. Raka yang menjadi acuan hidupku kini sudah tak pernah lagi membalas pesan yang kuberi. Ia juga tak tahu bahwa kondisiku semakin memburuk tiap menitnya.
Setiap hari rasanya hanya semenit untukku. Waktu yang kurasakan kini semakin cepat berlalu pergi. Satu... Dua... Tiga... Bibir ini selalu mengucapkan angka itu tak hentinya. Aku takut keberadaan ku di dunia ini tak lama lagi. Karena itu, aku banyak menghabis kan waktu bersama para sahabatku sampai tak peduli lagi bahwa hari kelulusan kian mendekat. Aku juga banyak mempelajari cara agar bisa membuat sahabatku tertawa riang dan selalu ingat kejadian bahagia ini meski aku sudah lelah..
Timer nya tak lama lagi akan sampai ke titik puncaknya..
Hari yang cerah ini, aku sedang berdiri di samping sebuah pohon rindang dengan menatap sosok laki-laki yang merupakan tujuan ku hidup. Bersama dengan wanita penusuk sedang bermesraan. Selama ini aku sudah dibuat terlalu lama menunggu dalam ruang hampa keegoisan ku sendiri. Namun ia tak akan kembali dan tak lagi peduli apa yang terjadi padaku. Karena ia telah bahagia bersama wanita pilihannya sendiri.
"Raka disaat aku pergi nanti, tolong lupakan aku dan jangan datang pada pemakaman ku. Aku sangat suka padamu. Maaf kan aku jika tak jadi wanita harapan kamu. Terima kasih, telah hadir di sisiku lama sekali." Ucapku berbisik dan berjalan pergi. Tak lama setelah aku pergi, angin kencang berhembus di Sertai buntutan awan mendung. Seolah ikut merasakan kesedihanku.
Terima kasih telah jadi tujuan ku untuk bertahan di dunia ini...
💠💠💠
Hah... Hah.... Hah....
Siang ini tubuhku serasa lelah sekali, sangat-sangat lelah lebih dari hari-hari sebelumnya. Hari ini, aku jadi ingin bertemu sahabatku terutama Raka. Aku ingin mendengar ucapan mereka dan elusan hangat tangan Raka pada dahiku. Rasa rindu itulah namanya. Rindu ini terus meluap dan menjadi-jadi tak dapat kupendam lagi.
*To:Raka
From:Zara
"Raka.... Kapan kau akan mengelus ku lagi? Dimana kamu dan kenapa kau menjauh dari ku? Aku rindu bercanda tawa denganmu di taman. Datanglah untuk sesaat ya..."
*Datanglah untuk terakhir kalinya...ʘᴗʘ✿*
[Terkirim].
Kini pesan yang ku ketik dengan susah payah telah terkirim pada Raka.
💠💠💠
Aku yang dalam perjalan menuju taman sempat terhenti di persimpangan karena sebuah pesan masuk. Namun, aku menahan niat membuka pesan itu karena ingin melihat kejutan yang menanti saat aku tiba. Tapi yang kuharap kan tak kunjung datang. Taman seperti biasanya banyak dikunjungi anak-anak dan sudah 2 jam lebih ia tak muncul juga. Padahal aku sudah tak sabar menantikan orang yang kucintai hadir dan tersenyum padaku.
"Kemana ya Raka?" Gumamku yang menengadah kepala dan disambut rintikkan deras air hujan. Aku bukannya menghindar malah duduk terus di kursi taman. Hingga seluruh tubuhku basah. Saat itu pula aku teringat sebuah pesan di ponselku dan aku sontak membacanya segera.
*To:Zara
From:Raka
"Aku tak bisa datang karena ada urusan yang lebih penting. Maaf ya, mungkin lain kali*.."
Begitu ya... Dia jadi tak datang selama ini.
Hujan semakin deras mengguyur tubuhku. Karena sudah putus asa aku pun berjalan di derasnya hujan dengan langkah yang terhuyung-huyung sambil menangis. Tiba-tiba saja pandanganku buram dan aku merasa menabrak sesuatu dan tak ingat apa-apa lagi.
"Kenapa cinta sejati ku harus pergi dariku? Apa aku tak ditakdirkan bersama orang yang selalu memeluk dan mengelus ku dengan lembut disertai banyak kasih sayang?"
"ZARA! Zara bangun!!" Ucap suara yang sangat aku kenal
Dengan beratnya aku membuka mataku dan sudah terlihat banyak orang berkerumun.
"Lho? Aku kenapa?" Tanyaku
"Syukurlah....hiks...hiks...syukurlah kau sadar Zara!!" Seru kak Risa yang memelukku
"Aku khawatir banget sama kamu yang tiba-tiba tumbang. Hiks... Hiks... Hiks... Zara! Kamu gak kenapa-napa kan?" Ucap kak Risa
"Enggak kok gak apa-apa" jawabku bohong
"Aku pulang dulu ya kak. Makasih udah nolong aku" pamitku
"Jangan langsung pulang. Mending ke rumah aku dulu aja ganti baju baru pulang"
"Gak usah repot gitu kak. Lagian rumahku tinggal 2 blok dari sini kok"
"Tapi kamu bisa sakit jika pergi dengan basah kuyup gini"
"Makasih perhatiannya. Tapi aku gak apa-apa kok gini. Dah kak Risa!!"
"Oh iya jangan lupakan aku ya! Hehe!!"
"Heii Zara!! Duhhh dasar keras kepala!"
"Apa maksudnya jangan lupakan dia??"
//Di sisi jalan sebrang//
Jadi, Zara nunggu aku sampai rela basah kuyup gitu?
"Lho Raka kenapa ngelamun?"
"Ahh enggak kok gak apa-apa. Yuk jalan!"
"Iya!"
💠💠💠
Malam ini aku tak ada nafsu makan dan langsung ke kamar. Sejak aku pulang, ayah dan bunda tak habis-habisnya menanyakan banyak pertanyaan pada diriku yang pulang dengan keadaan basah kuyup. Wajar sih mereka khawatir. Khawatir banget melebihi aku yang sudah lemah tak berdaya ini. Aku berusaha bangun dari kasur menuju meja belajar dan susah payah menguatkan tangan untuk menulis sebuah kata-kata untuk beberapa orang. Sejenak aku melirik ke arah bingkai foto berisikan foto keluarga dan juga sahabat. Di bingkai pertama terlihat ada wajah ayah, bunda, kakak dan aku. Di bingkai kedua ada fotoku bersama Vera,Raka,kak Risa dan Putra. Ada juga bingkai yang ukuran nya kecil yang terlihat ada aku dan Raka. Foto itu diambil setelah hubungan itu terjadi 2 hari setelah itu. Tanpa sadar air mataku mulai menetes dan membasahi kertas yang sedang aku tulis.
"Ya Allah, jika umurku sudah habis maka tak ada yang bisa aku lakukan lagi. Memang singkat sih, tapi takdir ku sudah begini ya mau bagaimana lagi. Semoga sepeninggal aku, semuanya tetap akur dan tak bersedih selamanya"
"Memang tak semulus yang kuharap kan, tapi dengan takdir yang seperti ini aku sangat bahagia. Kebahagiaan yang kudapat dari kehangatan semua nya, sudah cukup ku dapatkan..."
Aku berjalan gontai ke kamar ayah. Kulihat ayah yang tertidur dimeja nya memancarkan kelelahan karena begitu keras bekerja. Hanya demi aku dan kakak agar tak kekurangan apapun. Aku mengambil selimut dari kasur dan memakaikannya pada ayah, lalu ku cium keningnya perlahan. Tanganku tak berhenti mengepal karena menahan tangis. Sejenak aku memeluk ayah dan menangis..
"Ayah... Terima kasih telah bekerja keras untuk Ra. Ra tahu ayah lelah, tapi ayah selalu memaksakan terlihat baik-baik saja didepan Ra. Sekarang, ayah jangan merasa lelah setiap hari ya. Kasih sayang ayah dan peluh ayah, suatu hari akan Ra balas dengan doa Ra" ku peluk ayah yang tertidur dan berjalan ke kamar kakak. Tapi sejenak aku terdiam melihat ayah..
Di kamar kakak, aku melakukan hal yang sama. Mencium kening dan sempat merapikan alat tulis yang berserakan dan alat jahit. Kini aku sedang memeluk kakak yang tertidur.
"Kakak, terima kasih sudah mau mengurus Ra. Ra tahu kakak berusaha tegar dan kuat di depan Ra. Ra juga tahu, kalau kakak itu lelah menjadi sosok bunda Dimata Ra. Semenjak bunda pergi, kakak lah yang merawat ra. Terima kasih ya sudah selalu ada disisi Ra dan mendengarkan semua untaian kata-kata juga air mata Ra. Sekarang sudah saatnya Ra pergi. Kakak belum boleh menyusul ku. Karena Ra akan pergi ke tempat yang jauh dan tak akan bisa disusul begitu saja" ucapku
"Maaf jika Ra selalu merepotkan dan membuat kesal. Ra sayang kakak dan ayah. Mungkin disaat kakak memanggil nama Ra, Ra sudah tak bisa merengek seperti biasa nya. Tapi Ra akan terus menjadi adik kesayangan kakak dan anak imut ayah. Sekarang Ra pamit untuk menemani bunda disana.." ku peluk kakak dalam sunyi malam.
Entah kenapa disaat akhir-akhir ku ada di dunia, bintang selalu saja bersinar terang. Tak peduli aku hidup apa mati. Mereka terus bersinar layaknya kenangan yang kutinggal kan...
Aku berjalan kembali kekamar. Setelah di kamar, aku melihat seluruh penjuru kamar. Dari barang-barang yang ku koleksi dan semuanya. Aku juga memandang album foto kenangan ku. Setelah puas, aku membaring kan tubuh dan memeluk boneka kesayangan ku. Jam menunjukkan pukul 00.00 malam. Jam pasir yang selalu aku bolak-balik kini hanya menyisakan sedikit pasir lagi sebelum jatuh kebawah sempurna. Tubuhku kini terasa mati rasa, dingin,kaku. Mataku mulai buyar, napasku pendek dan rasa sakit mulai menyerang sekujur tubuhku.
Sudah akhiri ini. Akhiri ini segera. Aku lelah. Sudah tak kuasa menahan beban yang selama ini aku lawan. Semakin lama tubuhku semakin sakit dan mungkin.... Ini lah saat terakhirku di dunia.
Malam dihari itu adalah malam dimana aku untuk terakhir kalinya aku melihat bintang yang bersinar. Hari terakhir dimana aku melihat orang yang kusayangi dan kucintai. Hari terakhir aku memeluk dan melihat wajah mereka. Dan untuk terakhir kalinya, aku menghirup oksigen yang disediakan oleh tuhan.
"Hah.... Jika ini adalah takdir yang kau berikan.... Aku akan.... Menerima nya...karena aku sudah tak perlu ke..ba...ha...gia..an...lagi"
"Teman....teman....ayah....kakak....Raka.... Terima kasih telah jadi bagian hidupku yang singkat. Walau aku masih diselimuti kecewa, mungkin Tuhan sudah punya rencana lain yang jauh lebih baik. Dan...hah....lebih indah dari....i....ni....." Ucapku dengan susah payah. Kutarik napas dalam-dalam dan kupejam kan mata ini. Rasanya sangat lelah dan aku pun bisa tertidur dan entah sampai kapan aku bangun lagi...
💠💠💠
(Dapur, keesokan harinya)
"Tumben Ra belum bangun" ucap ayah yang duduk dimeja.
"Entahlah, padahal sudah aku panggil kok" ucap kakak yang sekejap menghampiri ayah di meja.
"Mungkin dia gak dengar, cepat bangunkan ke kamar!" Titah ayah
"Iya, yah. Ayah makan duluan saja biar nanti aku saja yang antar Ra"
-Kamar-
"Ra.... Wake up princess. Nanti pangeran mu nunggu terlalu lama"Seru kakak yang menggoncang tubuhku.
Lho? Kok badan Ra dingin ya?
"Belum bangun juga?" Tanya ayah yang datang menghampiri
"Ra tidak mau bangun. Tubuhnya juga dingin sekali. Apa sakitnya kambuh?" Ucap kakak khawatir
Ayah langsung berlari dan mengecek suhu tubuhku. Dengan muka cemas, ayah membuka mulut dan memanggilku.
"Ra...Zara.... bangun nak! Jangan buat ayah khawatir ini masih pagi!!" Panggil ayah
"Raaaaaaa bangunnnnn, kakak udah buatin pancake buat sarapan. Kalau gak dimakan nanti kamu nyesel..."
"Tak mungkin!"
"Kenapa yah?"
Ayah mundur dari kasur dan terduduk seketika sambil menutup wajahnya.
"Ayah...?"
"Zora, Zara sudah tiada" ucap ayah lesu
"Ayah bohong kan? Mana mungkin!! Zara kan udah bisa bangkit dari sakitnya. Mana mungkin kan??" Ucap kakak yang tak percaya
"Ayah akan panggil ambulan dulu"
"Tak mungkin!! Ra..... Hiks...hiks...hiks... RA!!"
"Buka matamu!! Kamu masih denger suara ku kan? Jangan pura² deh, ini gak lucu!"
"Zora, ikhlas kan semuanya. Kendalikan diri mu!"
"Hiks...hiks...ayah...ZARA BANGUN!!"
Suara Isak tangis mewarnai pagi hari yang mendung di sebuah ruangan apartemen. Disana adalah hari terakhir seorang gadis kecil yang sudah berjuang dan kini telah hidup tenang di alam sana.
💠💠💠
(Pemakaman)
Udara senja ini sangat dingin. Hingga bisa menembus tulang-tulang yang ada didalam tubuh meski dibalut baju tebal. Langit yang tak bercahaya seperti biasanya, seakan-akan ikut menangisi kepergian Zara. Hingga rintikkan air mulai mengeras membasahi pemakaman...
"Zara Anida"
Nama yang indah itu tertulis disebuah batu nisan. Didekatnya terdapat bunga dan foto kecil dirinya yang sedang tersenyum manis. Kehidupannya selalu diisi dengan kebahagiaan yang datang silih berganti dengan kesedihan hingga akhir hayat nya. Dibalik senyum yang selalu mewarnai wajah nya itu, menyimpan beribu-ribu penderitaan akan penyakit yang ia idap.
Di derasnya hujan kala itu, seorang pria datang dengan membawa buket bunga tulip kesukaan gadis itu. Datang dengan raut wajah penuh tidak percaya sampai air mata pun mengalir dari kedua matanya.
"Kenapa kau ingkar janji padaku Ra? Kata nya kamu mau selalu ada dan nemenin aku kan? Gak mungkin kan ini? RAAA?!"pria itu terduduk disamping batu nisan itu.
"Seharusnya kamu yang kenapa ingkar janji pada Ra? Disaat Ra mau bertemu kamu, ehh malah dicuekin gitu aja! Pengkhianat! Ra itu butuh kamu tahu gak buat kasih semangat. Dia itu kena leukimia tahap akhir tahu gak?! Dia itu mah nemuin kamu tapi kamu malah pergi sama wanita lain tepat didepan mata Ra sendiri! Ra itu selalu sabar nunggu kabar dari kamu tahu! Kemana aja kamu selama ini? Disaat Ra pergi kamu yang datang? Dasar bodoh!!" Ucap Kak Zora
"Sabar Zora... Biar aku yang urus adikku sendiri. Maaf yaaa" ucap kak Risa
"Sudahlah Raka, jika kau menyesal disini gak ada gunanya lagi" seru Putra
"Biarkan aku sebentar lagi disini" ucap Raka
Tak lama ayah yang memegang payung berjalan menuju Raka sambil mengeluarkan sesuatu dari tas.
"Maaf mengganggu kesedihan mu, tapi anakku meminta untuk memberikan surat ini pada mu" kata ayah yang menyodorkan surat pada Raka yang basah kuyup.
"Te-terima kasih..."
"Jangan terlalu bersedih nak. Itu juga adalah permintaan terakhir anakku"
💠💠💠
Dear Raka: sosok penyemangat hidupku dan cinta pertamaku.
Jika kau membaca ini dan mendapatkan nya dari ayah, maka aku pasti sudah tiada. Sekarang ini pukul 10 lewat 45 menit di hari ke 11dibulan Maret. Aku menulis ini meski harus memaksakan diri...
Baca dan resapi setiap tulisanku. Maaf jika tulisannya miring dan berantakan. Karena dalam kondisiku yang lemah sekarang, cukup sulit untuk memasok energi..
Yoo Raka.... Mungkin saat ini aku hanya bisa melihat mu dari alam yang berbeda. Aku sekarang mengerti satu kalimat yang pernah diucapkan bunda semasa masih hidup. Bahwa cinta itu harus dimiliki namun tak semua cinta harus dimiliki. Maksudnya adalah ada cinta yang memang benar harus kita dapat dan ada juga cinta yang tidak benar-benar harus dimiliki kita. Jika kita memaksakan hal itu, nanti kita akan menyesal di kala waktu dan ruang memisah kan. Mungkin aku bukanlah sosok pemberani yang bisa menyerukan kata "aku cinta kamu" dengan lantang seperti sebagian orang. Aku juga bukan orang yang bisa merangkai kata dengan baik seperti puisi eyang Sapardi Djoko Damono. Aku hanya ingin menjadi Ra, diriku sendiri dan mengatakan bahwa aku cinta padamu hingga detik terakhir ku. Aku rela membuang waktu bersama orang yang dekat denganku demi mendapatkan sebuah pesan darimu. Agar aku yakin bahwa kau masih mencintai ku. Aku sayang padamu seperti kakakku sendiri. Aku juga rela melepasmu bersama orang lain, meski itu harus dengan temanku sendiri. Karena disaat kau bersam yang lain, aku pasti akan berpikir bahwa aku dari awal memang tak pantas untukmu^_^
Tapi sekarang aku sudah tak bisa menyesali kebodohanku lagi. Karena aku harus benar-benar pergi sekarang. Aku harus pergi jauh dari semuanya terutama cinta itu. Harus rela meninggalkan semua kenangan dan waktu yang dilalui bersama.
Maaf aku tak bisa berada disisimu lagi dan sudah ingkar janji. Terima kasih atas semua bentuk perhatian dan kasih sayang juga cinta mu padaku. Terima kasih sudah mau menyemangati agar terus melawan sakit ini dan terima kasih senyum dan lawakan garing itu. Terima kasih sudah mau menerima putri tak berguna ini untuk menjalani hari-hari singkat ku..
Terima kasih sudah membuat diriku yang lemah menjadi sosok yang kuat dan paling beruntung di dunia...
Aku pergi dulu ya Raka.
Entah sampai kapan aku pergi, yang jelas kau tak boleh nyusul dulu ya!
Daisuke da yo.... zutto....zutto....Daisuke!
*Salam hangat untuk terakhir kalinya,
Zara*(^^)
Raka menangis semakin menjadi-jadi, ia sadar bahwa selama ini ada sosok wanita yang selalu sabar dan tulus mencintai nya. Merelakan waktu berharga hanya demi diri nya. Namun, ia telah terlambat. Ia telah pergi ke alam yang lebih luas menyusuri dimensi waktu dan ruang berbeda. Kini mereka telah terpisah 2 dimensi.
Langit yang mendung kini berubah menjadi cerah. Namun masih samar karena masih ada tetesan air yang seakan-akan tak rela pergi jauh dikala wanita ini pergi. Wanita yang ceria dan periang. Tidak peduli akan beban yang ia pikul sendiri dan juga rasa sakit yang ia tanggung dikedua pundak kecil nya. Berusaha tersenyum meski sakit. Berusaha kuat dan tegar meski dirinya tahu bahwa ia lelah dan tertatih-tatih menanggung itu semua.
Semuanya sudah lepas dari nya. Kini sosok wanita itu telah terbaring tenang tanpa penyesalan. Seorang wanita yang rela memberikan semua sisa waktu hidup yang serasa seperti hitungan mundur untuk orang lain. Orang yang dikenal maupun tidak. Ia memberikan tanpa mengharap imbalan.
"Ra, maafkan ayah jika tidak sempat melakukan banyak hal denganmu. Meski kau pergi lebih cepat dari ayah, kau akan tetap menjadi anak ayah yang sangat dibanggakan bunda juga sudah punya teman disana. Jadi istirahat lah dengan tenang ya..." (Ayah)
"Jangan pikirkan tentang siapa yang akan mengurus rumah dan memakan semua masakan ku. Karena aku masih punya ayah dan teman-teman. Maaf karena selalu membangunkan mu dengan cara kasar. Sekarang tidurlah sepuasnya ya..." (Kakak)
"Ra... Aku selalu akan mencintaimu dan sayang padamu. Maaf selama ini aku pergi darimu dan tidak peduli padamu. Terima kasih telah menganggapku sebagai penyemangat di sisa hidupmu. Tenang lah di alam sana ya Ra... Aku akan baik-baik saja setelah kepergian mu. Aku juga tak akan terus menangis..." (Raka)
💠💠💠
Walau kini kita memiliki dinding di tengah-tengah, kalian akan selalu menjadi hal yang paling berharga dalam hidupku yang singkat. Kalian adalah penyemangatku dan aku akan tetap hidup dihati kalian. Dalam setiap kenangan yang dibuat. Meski tak lagi hadir dalam sosok nyata...
"Aku pergi dulu ya semuanya...jaga diri baik-baik terutama ayah dan kakak. Raka aku selalu akan mencintaimu..."
"Aku pergi yaa..."
Jangan tunggu aku....
(Zara)