Aku berharap bertemu dengan bintang yang telah lama ku-impikan.
Namun siapa yang sangka, aku malah lebih terpesona dengan sang bulan.
°°°°°✈°°°°°
Hari itu matahari tampak bersinar terang tanpa di tutupi awan yang berarak. Suara pesawat yang yang lepas landas terdengar silih berganti.
Aku menyandarkan tubuh ke kursi pesawat sambil menghela nafas dengan panjang. Saat itu aku duduk tepat di samping jendela pesawat. Tujuan penerbangan pesawat kali ini adalah Kota Beijing. Sebuah kota dimana idola favoritku berada.
Perjalanan kali ini pasti akan menyenangkan, semoga saja aku bertemu dengan Ma Jiaqi di sana. Aku tersenyum puas seraya menatap keluar jendela pesawat. Kulihat kursi di samping masih kosong. Semoga bukan orang aneh yang mendudukinya.
Dari pintu pesawat orang-orang terlihat saling bergantian melewati pramugari yang menyapa mereka dengan ramah. Kemudian saat itu mataku langsung tertuju pada seorang lelaki yang begaya agak sedikit nyeleneh. Bahkan orang-orang di dalam pesawat tampak memusatkan perhatian mereka pada lelaki itu.
Lelaki itu memiliki rambut panjang berkilau yang terurai di bahunya. Dia juga tampak memakai pakaian berwarna merah menyala yang bertuliskan 'Kentut adalah kebebasan'.
Di tangannya, tampak sebuah gitar yang bergambar Woody Woodpecker. Pffftt! . . . aku berusaha menahan tawa mati-matian.
Kumohon jangan duduk di sebelahku . . . kumohon jangan duduk di sebelahku. Oh, Tuhan tolong kali ini saja!
Aku berharap dengan memejamkan mata sambil menyatukan kedua tangan. Aku yakin lelaki seperti itu akan banyak bicara ketika sedang dalam perjalanan.
"Lagi berdoa ya mbak?" tiba-tiba aku mendengar suara lelaki dari kursi kosong yang ada di sampingku. Aku pun langsung membuka mata dan menoleh ke arahnya. OH TIDAK! lelaki aneh itu sudah duduk di sebelahku. Dia tampak tersenyum ramah. Aku hanya bisa tersenyum tipis untuk membalas senyumannya.
"Ngomong-ngomong, Mbak mau ngapain ke Beijing?" tanya lelaki itu sambil mengaitkan rambutnya yang panjang ke daun telinga.
"Jalan-jalan aja. . ." jawabku sambil menatapnya dengan enggan.
"Lah kok samaan Mbak, aku juga mau jalan-jalan aja ke sana!"
He hehe he hehe hehehe. . .
Tiba-tiba aku mendengar suara tawa Woody Woodpecker yang menghentikan interaksi antara aku dan lelaki itu. Aku langsung menatap ke arah lelaki itu untuk mencari sumber suara.
"Tunggu sebentar ya Mbak!" lelaki itu tersenyum sambil mengambil sesuatu dari sakunya. Ternyata sumber suara itu berasal dari ponselnya. Tampaknya ada seseorang yang menelponnya.
Kali ini aku tidak bisa menahan tawaku. Tawaku meledak begitu saja. Suara tawa Woody Woodpecker yang khas itu benar-benar membuatku geli.
Lelaki itu langsung menatapku sambil mengarahkan ponsel ke telinganya. Dia terlihat menampakkan giginya untuk tersenyum lebar ke arahku.
Selang beberapa lama berbicara lewat ponselnya, lelaki itu pun perlahan meletakkan ponselnya kembali ke sakunya.
"Mbaknya kok tadi ketawa? ketawain aku ya Mbak?!" tanya lelaki itu sambil mengangkat kedua alisnya. Setelah melihatnya lebih dekat, aku bisa sedikit mengakui ketampanannya.
"Iya!" sahutku dengan blak-blakan sembari tersenyum padanya.
"Aku lucu ya Mbak?" tanyanya lagi.
"Iya!" jawabku singkat.
"Dari mananya yang lucu Mbak?" wajah lelaki itu mulai terlihat serius, dia menatapku tajam.
"A-a-anu, aku tertawa karena Woody Woodpecker! kamu kayanya suka sekali ya sama kartun itu?!" jawabku pelan sambil berbalik bertanya padanya, berharap dia tidak marah dengan sikapku.
"Suka banget! karena Woody Woodpecker persis mencerminkan karakterku, karakaternya itu dianggap biasa saja tapi sangat kuat!" jelas lelaki itu dengan percaya diri dan syukurlah dia tidak terlihat marah.
Aku yang mendengar penjelasannya hanya bisa mengernyitkan dahi, karena tidak mengerti sama sekali dengan penjelasannya. Apanya yang biasa? apanya yang kuat? bukankah kartun yang terkenal kuat itu adalah Popeye?, benakku bertanya-tanya.
***
Pesawat sekarang berada di ketinggian 35.000 kaki, setidaknya begitulah pengetahuanku dari membaca majalah-majalah pengetahuan yang terletak di kantong kursi belakang pesawat.
Aku dan lelaki itu saling terdiam, dia tampak sibuk dengan pensil dan buku gambarnya. Menurutku dia adalah seorang seniman, pantas saja penampilannya begitu. Setahuku senimankan memiliki jiwa yang bebas.
Aku memasang headset ke telinga, perlahan aku pun memejamkan mata. Namun, sepertinya mata ini tidak akan bisa tertidur, dan akhirnya kembali terbuka. Dengan pelan kulirik lelaki yang duduk di sampingku.
Dia masih sibuk dengan buku gambarnya. Rasa penasaran perlahan muncul di benakku. Toh lagi pula aku merasa mulai bosan memandangi awan-awan yang putih di luar jendela.
Aku mengernyitkan dahiku, ketika melihat sketsa gambaran suasana saat ini di dalam pesawat. Tanpa kutahu, lelaki itu ternyata menyadariku yang sedari tadi menatap sketsa gambarnya.
"Penasaran ya? haha!" tegurnya sambil tertawa kecil. Aku yang mendengarnya langsung kaget, pipiku menjadi merah karena malu. Aku hanya terdiam mendengar tegurannya.
"Judul gambar ini adalah 'Jejak'," ucap lelaki itu sambil tersenyum menatap sketsa gambarnya sendiri.
"Kenapa?" akhirnya aku mulai sedikit tertarik.
"Jejakku, bahwa aku telah melewati detik ini. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita selanjutnya," jelasnya dengan sedikit menatapku. Namun aku hanya mengernyitkan dahi karena masih belum paham dengan penjelasannya.
"Time is money!" ujarnya lagi sambil tersenyum lebar. Aku pun mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum tipis karena akhirnya bisa memahami penjelasannya.
"Oh iya kita kan belum kenalan Mbak, siapa tahu nanti ketemu lagi pas jalan-jalan iya kan?. . . Kenalkan nama aku Damar! Damar Panji tepatnya!" katanya sambil cengengesan.
"Aku Wati!" lagi-lagi aku hanya menjawab singkat pertanyaannya.
°°°°°✈°°°°°
Aku melangkahkan kaki keluar dari bandara Internasional Beijing. Mataku langsung menyapu ke sekeliling tempat itu. Aku menarik nafas sambil memejamkan mata.
Jadwal kegiatanku selama lima hari sudah kutulis dengan rapi di buku catatan. Pokoknya aku sudah tidak sabar untuk segera bisa menjelajahi banyak wisata dan juga merasakan makanan tradisional khas Tiongkok. Dan jangan lupa, bertemu Ma Jiaqi adalah kegiatan utama.
Dari jauh aku bisa melihat Miku. Dia adalah adik sepupuku yang sudah lama tinggal di sini. Dialah yang juga akan menyusun kegiatan pertemuanku dengan Jiaqi.
Katanya Jiaqi adalah kakak kelas di sekolahnya sekarang, dan Miku lumayan dekat dengannya. Ada rasa sedikit senang dan juga gelisah ketika melihat wajah gadis remaja itu. Dia selalu mengejekku, karena terlalu suka dengan anggota idola TNT itu.
"Kak Wati!!!" Miku berlari ke dalam pelukanku. Tidak lupa dia juga meloncat-loncat kegirangan karena sangat senang bertemu denganku.
"Miku aku kangen deh!" aku melepaskan pelukannya dan langsung mencubit kedua pipi Miku. Matanya langsung membola, karena dia benci di perlakukan seperti itu.
"Ayo cepat, pertemukan aku dengan Jiaqi!" desakku sambil merangkul bahu gadis imut itu.
"Idih baru nyampe, pikirannya langsung Jiaqi..., ingat umur kak!" kritik Miku, sepertinya dia masih kesal dengan perlakuanku tadi. Gadis itu memanyunkan mulutnya. Tetapi aku malah semakin gemas melihat wajahnya.
"Cepetaaaan..." aku menyeret paksa miku, masih dalam rangkulanku. Gadis bertubuh mungil itu terpaksa menurut.
°°°°°⛩°°°°°
Dalam satu minggu ke depan aku akan menginap di apertemen Miku. Aku tidak sabar menunggu besok, karena kata Miku, Jiaqi akan punya waktu untuk menemuiku.
Setelah melewati malam tanpa tidur. Hari pertemuanku dengan Jiaqi tiba. Aku mengenakan pakaian terbaikku hari itu. Miku yang melihat kelakuanku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa sih gantengnya Kak Jiaqi, Miku nggak tertarik. Gantengan detektif Conan kali Kak!" celetuk Miku dari balik pintu.
"Hahaha! Idih! mending aku suka sama Jiaqi kale! ... Detektif Conan itu kartun Miku...." celotehku yang berhasil membuat gadis yang baru berumur 14 tahun itu kembali memanyunkan bibirnya.
°°°°⛩°°°°
Aku dan Miku tiba di sebuah cafe yang sudah di janjikan Jiaqi. Aku mulai cengar-cengir sendiri, karena semakin tidak sabar bertemu Jiaqi.
Dari jauh aku bisa melihat seorang lelaki yang memakai topi hitam, berjalan ke arah kami. Itukah dia?
Belum melihat wajahnya, mataku ini sudah terpana lebih dulu. Lelaki itu pun duduk di depan kami berdua. Bukannya menyapaku, dia malah menyapa Miku lebih dulu.
"Miku, ada apa?" tanyanya masih dengan topi dan juga masker yang menutupi setengah wajahnya.
"Ini ada kakakku mau ketemu, dia ngefans be..."
"Jiaqi?? itu kamu???" aku langsung memotong penjelasan Miku, sembari menatap lelaki yang ada di depanku. Perlahan dia lepas masker yang menutup wajahnya. Benar! dia Jiaqi. Lelaki itu langsung memberikan senyuman yang berhasil meluluh lantahkan hatiku.
"Makasih Kak, udah ngefans sama aku. Padahal aku ini nggak sempurna kok!"
"NGGAK! KAMU SEMPURNA BANGET!" pekikku, yang berhasil membuat Miku terperanjat dan langsung meringis. Bahkan kelakuanku itu berhasil menarik perhatian semua orang di Cafe.
Setelah itu, kami pun menikmati makan siang bersama. Aku tidak berhenti menatap Jiaqi, tapi Miku terus saja menggangguku.
"Kak jangan berlebihan, nanti Kak Jiaqi-nya nggak nyaman sama Kakak!" bisik Miku ke telingaku sembari menyentuh lenganku. Namun aku sama sekali tidak menggubris teguran Miku.
Karena terlalu banyak minum, aku pun terpaksa harus ke toilet sebentar. Meninggalkan Jiaqi-ku yang tampan sendirian bersama Miku.
°°°°⛩°°°°
Aku keluar dari toilet cepat-cepat, seakan aku telah kehabisan waktu. Namun saat keluar, aku tidak melihat Jiaqi maupun Miku di tempat duduk mereka. Aku berdiri mematung dan langsung mengambil ponselku. Nasibku benar-benar sial, melihat ponselku tidak bisa menyala karena kelupaan mengisi baterai tadi malam.
Terpaksa aku menyusuri Cafe untuk mencari mereka. Kata kasir, mereka baru saja pergi keluar. Aku pun segera berlari keluar sembari celingak-celingukan. Dimana Jiaqi dan Miku?. Apa Miku pacaran sama Jiaqi?. Dasar! padahal dia bilang Detektif Conan lebih tampan dari Jiaqi!
Anak itu keterlaluan. Dia sudah lupakah kakaknya ini baru pertamakali datang ke sini. Aku benar-benar buta jalan! Tulisannya huruf mandarin semua lagi.
Aku berjalan tanpa arah, berharap bisa menemukan Miku dan Jiaqi. Namun telingaku mendengar suara yang tidak asing.
He hehe he hehe hehehe. . .
Suara tawa Woody Woodpecker?. Damar?, lelaki aneh di pesawat itu kan?. Aku menilik ke sekeliling tempat itu. Mataku langsung membola, ketika melihat Damar benar-benar ada di sana. Aku seperti menemukan keluarga yang telah lama hilang. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menghampiri Damar.
Tapi aku tidak pernah menduga, air mataku keluar begitu saja ketika aku sudah berdiri di hadapan Damar.
"Wati?" mata Damar membola, dia mencoba menenangkanku.
Damar tidak menanyakan apapun padaku. Dia hanya memberikan aku sebuah es krim cokelat. Lalu menyuruhku ikut dengannya. Dan tentu saja aku mengikutinya, toh lagi pula hanya dia orang yang ku-kenal dari semua orang yang ada di sini.
Damar mengajakku menyusuri tempat yang bernama Nanloguxiang. Tempat itu berupa gang sempit, namun penuh akan wisatawan bahkan penduduk lokal. Perlahan aku menikmati momen itu. Aku dan Damar semakin dekat. Aku bahkan lupa dengan kepergian Jiaqi dan Miku.
Tidak lupa kami juga pergi ke tembok besar China. Wah! aku benar-benar terpesona dengan tempat bersejarah itu. Bahkan Damar juga sempat bernyanyi di depan umum dengan gitarnya.
Hal yang paling berkesan untukku adalah ketika aku melihat Damar menggambar. Dengan rambut panjangnya yang beterbangan itu, dia tampak mempesona. Tubuhnya yang jangkung dan kekar, membuatku tidak memandangnya aneh lagi. Aku berdiri menatap lekat padanya sembari memegangkan gitar kesayangan Damar.
"Kenapa Wat, kamu jatuh cinta padaku ya?" tegur Damar yang ternyata sedari tadi menyadariku yang terus menatap wajahnya. Wajahku pun langsung memerah. Namun Damar malah memberikan sketsa gambarnya kepadaku.
Mataku langsung membola, ketika melihat wajahku yang ada di gambar itu. Pipiku pun langsung merona.
"Nah begitu dong, aku nggak suka lihat cewek nangis!" ujar Damar dengan binaran mata dan senyumannya yang mempesona.
°°°°🌆°°°°
Hari semakin sore, tetapi aku sama sekali tidak berniat kembali ke apertemen Miku. Aku pun mengajak Damar untuk makan malam bersama, dengan alasan membalas budi padanya. Karena sudah menyelamatkanku yang hampir tersesat di kota ini. Untunglah... Damar setuju.
Kami berdua makan bersama di salah satu tempat yang memiliki pemandangan indah. Namun siapa sangka, aku bertemu dengan Miku dan Jiaqi di sana.
"KAK WATI!!!" Miku menghampiriku dengan wajah cemberut, dia terlihat marah. Bukankah aku yang seharusnya marah?
"Tadi aku nemenin Kak Jiaqi beliin hadiah buat Kakak. Katanya dia ingin membuat pertemuan Kakak dengannya lebih berkesan. Tapi Kak Wati malah menghilang! Miku hampir telpon polisi tau... hiks! hiks!" jelas Miku di akhiri dengan isak tangisnya. Dia tampak khawatir sekali denganku.
"Kak Wati!"
GRAB!
Mataku membola ketika Jiaqi tiba-tiba saja memelukku. Damar yang melihatnya langsung berdiri dari tempat duduknya, dan langsung beranjak pergi.
Karena khawatir, aku langsung melepaskan pelukan Jiaqi dengan pelan. Dan berlari mengejar Damar. Namun sayang, aku bukan orang yang pandai mencari seseorang di tengah kerumunan. Sekarang aku berharap bisa mendengar suara tawa Woody Woodpecker lagi.
~TAMAT~