15 tahun yang lalu..
" Ibu..boleh tidak Astri menanam bunga sendiri?"
" Boleh saja sayang, itu...alat alatnya ada di kotak milik Ibu, dan jangan lupa pakai sarung tangan plastik , agar tangan Astri tidak kotor"
Satu jam kemudian..
Astri berlari ke arah ibunya yang sedang berdiri,karena sedang menyirami tanaman, lalu menarik tangan Sang ibu, dan memaksa supaya Sang Ibu mengikutinya. Astri ingin Ibunya melihat hasil tangannya menanam tanaman bunga, yang tadi di pilihnya sendiri.
" Jangan cepat cepat sayang....nanti kamu lelah..." kata sang Ibu, mengingatkan putrinya, karena takut nanti putri kecilnya akan kelelahan.
" Lihat Bu...bagus kan bunga yang aku tanam..hehehe...."
" Ini...ini...bunga yang kamu pilih...." Sang Ibu terlihat sangat terkejut, matanya serat akan ketakutan.
***
" Astri...bangun!" Ibuku membangunkanku.
" Iya bu...hoaam..." Sahutku yang sebetulnya masih mengantuk.
Aku segera bangun dan mengambil handuk lalu akan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sreeekk...
Sebuah buku kecil( diary) menyangkut di kakiku. Buku itu tertiup angin, sehingga lembarannya terbuka.
" Uhh..dingin sekali pagi ini.." Ucapku ketika merasakan badanku sedikit menggigil.
Aku berjongkok dan kemudian mengambil buku itu di lantai karena mengganggu perjalananku.
Aku berdiri lalu meletakkan buku itu diatas meja, selanjutnya aku berjalan ke kamar mandi.
" Wah...kalau sudah mandi, badan rasanya segar..." celotehku sehabis keluar dari kamar mandi dengan rambutku yang masih meneteskan air.
Segera aku berganti pakaian dan berangkat kerja setelahnya.
***
Aku duduk di kursi favoritku di dalam bus karyawan. Perjalananku ke tempat kerja masih perlu waktu satu jam lagi, dan aku manfaatkan untuk mengulang kembali mimpiku tadi malam.
Tanganku membuka tas ,dan merogoh handset lalu segera ku pasang di kedua telingaku.
Musik pop dari Mahen membuat mataku terlelap seketika.
***
" Hey..As..Astri...bangun sudah sampai.."
Aku terkesiap ,ketika temanku Lina membangunkan aku yang tertidur di dalam bus.
" Hh.."
" Sudah sampai..mau turun tidak..." lanjut Lina lagi, kemudian berdiri dari tempat duduk di sebelahku dan mulai berjalan keluar Bus.
Aku masih dalam keadaan belum 100 persen tersadar, karena membuka mataku dengan terpaksa,
Tanganku mengucek kedua mataku, supaya penglihatanku jelas.
Setelahnya aku berdiri sambil merasakan kepalaku berdeyut.
" Mimpi yang aneh" Gumamku, karena tadi memimpikan suatu hal gaib yang tidak aku mengerti sama sekali.
***
Di dalam kantor.
" Hay Astri....sudah punya rencana merayakan malam tahun baru, acaranya mau kemana kamu?"
Tanya Teguh, rekan kerja yang duduk di meja sebelahku. Ketika itu aku baru saja akan duduk di kursi kerjaku.
" Ah...aku tidak ada acara kemana mana, tahun baru kali ini, pacarku tidak pulang soalnya.." Balasku dengan setengah sedih.
" Yah..." Teguh mengangkat bahunya lalu menurunkanya pelan.
" Aku kira kamu pergi kencan sama pacar.." Sambung Teguh, pria itu sepertinya sengaja menggodaku.
Aku acuh dengan ucapan Teguh, tidak berniat sama sekali meladeni candaannya kali ini, karena tugasku menumpuk di meja.
Akhirnya Teguh pun menyerah, tidak lagi menggodaku, dan kami sekarang sama sama sibuk dengan tugas kami.
Jam 12. 00 , Aku meregangkan otot ototku setelah 4 jam duduk di depan komputer. Aku bermaksud ingin memesan bakso untuk makan siangku di warung bakso sebelah kantor.
Aku membuka tas dan segera menemukan dompet lalu mengambilnya, tapi ketika bermaksud menutup tas kembali, mataku menemukan buku kecil( diary) yang tadi pagi ,berada didalam tasku.
" lho..kok aneh ya..perasaan aku tidak merasa memasukkan buku ini tadi, tapi kok bisa ada dalam tasku..?" Gumamku, merasa aneh.
Aku mulai mengingat ingat kegiatanku tadi pagi, tapi memang sepertinya ingatanku benar. Buku itu sudah aku letakkan di atas meja, dan diatasnya aku tumpuki dengan vas bunga.
"Astri...cepetan..nanti warungnya keburu ramai.." Ajak Lina lagi. Membuyarkan lamunanku.
"Iya iya..." Jawabku sedikit ngambek. Kemudian berdiri dari tempat dudukku.
Setelah ku pikir pikir, daripada penasaran, maka aku putuskan untuk membawa buku tersebut bersamaku ke warung Bakso.
***
Di warung Bakso.
Aku menikmati baksonya sambil ku sempatkan membuka buku itu( diary). Aku mulai membuka dan membaca halaman ke halaman, buku itu rupanya sangat menarik, karena memang memberi manfaat bagiku, yang hobby berkebun.
Ternyata isi buku itu hanyalah catatan tentang " Cara menanam bunga" dan ini mungkin saja tulisan tangan dari nenekku, sebab tintanya sudah banyak yang pudar.
Tanpa aku sadari, aku hampir selesai membacanya.
Di halaman ke tiga sebelum halaman akhir, sesuatu kutemukan terselip dalam buku itu, sebuah kertas yang dilipat rapih, ku buka dan ternyata di kertas itu ada lukisan bunga berkelopak warna hitam.
Gambar itu sama seperti tanamanku di rumah.
Seketika aku teringat bunga favoritku itu, tapi aku menyayangkan sekali ,bibit itu tidak bisa di lestarikan, karena sejak dulu ,bunga itu tidak bisa di perkembangbiakan.
Sebetulnya aku penasaran dari dulu, mengenai bunga yang kutanam, ketika usiaku 4 tahun yang lalu,bathinku melamunkan bunga.
Aku menjadi semakin tertarik dengan tulisan di kertas itu, kubaca dan kucermati setiap tulisan dibalik lembar kertas yang bergambar bunga kelopak hitam . Semakin lama ku cermati, tulisan itu malah membuatku terkejut.
#KUTUKAN BAGI SI PENANAM BUNGA#
judul yang di tulis di balik gambar bunga itu.
" Apa ini?", Aku sedikit kaget dan semakin penasaran.
#Waktu akan di mulai ketika 15 tahun terlewati, akan memerlukan korban untuk membuat bunga kegelapan ini tumbuh.......
Tulisan selanjutnya di balik gambar itu.
" APAA.." Teriakku spontan, membuat orang orang di warung itu menoleh kepadaku.
Aku tersentak , begitu terkejut dengan tulisan yang Belum selesai aku baca.
" Kenapa kamu Astri? " Tanya Lina , tangannya sambil menepuk pundakku.
" He..he..maaf ya.." Lina tertawa canggung ,sembari memandangi pengunjung yang menatap bingung ke arah kami ,yang hampir semuanya adalah karyawan.
Sementara Aku.., syok dan perlahan merasakan ketakutan.
" Yuk Astri...kita harus balik ke kantor, sudah lebih 5 menit ini..." ajak Lina, dan Aku mengangguk tapi badanku sudah mulai sedikit goyah karena ketakutan. Aku menutup buku kecil tersebut, lalu membawanya kembali ke kantor.
***
Pikiranku tidak bisa fokus dalam bekerja, penasaran sekaligus ada rasa takut.
Aku beranikan diri untuk melanjutkan kembali membaca tulisan itu lagi.
#.....sebanyak mungkin, terutama keluarga Penanam bunga.
# Sang Penanam sendiri akan dijadikan yang terkuat di dunia kegelapan, sebagai penguasa dunia.
#...........................#
#..........................#
# Bunga kegelapan akan musnah, jika Penanam pertama menghancurkannya#
Keringat dingin membuat pakaianku basah. Aku gemetar membaca tulisan di balik gambar bunga tersebut.
Terbesit keinginan untuk segera memusnahkan bunga tersebut, dan untuk itu, aku segera mengambil tasku dan tergesa gesa keluar dari kantor.
Tidak ku hiraukan panggilan Lina dan teman teman lainnya, karena dalam pikiranku hanya fokus untuk memusnahkan bunga tersebut.
Aku memesan ojek online, untuk segera sampai di rumah.
***
" Ibu...." panggilku dengan berteriak, begitu aku sampai di rumah.
" Ada apa Astri...., ibu sedang di kebun bunga..." sahut ibuku dari jauh.
Aku segera berlari menghampirinya.
"Bu....aku ingin memperlihatkan sesuatu pada Ibu..." Ucapku kemudian.
Tanpa menunggu jawaban dari Ibu, aku langsung mengambil buku itu dari dalam tas ku.
" Ini lihat bu....., apa ini memang benar, bukan sekedar gurauan saja bu?" Ucapku dengan penasaran.
Ibu segera meraih kertas yang bergambar itu, dan segera membaca tulisan yang berada di baliknya.
Ibuku segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya, matanya membulat sempurna.
Aku penasaran dengan ekspresi yang diperlihatkan ibu..
" Bu...apa benar bu...bu..cepat katakan bu..." , desakku karena tidak sabar.
Karena desakkan ku ,ibuku mengangguk dengan berat hati.
" Betul Astri...apa yang tertulis di sini ,memang benar.."
"Terus...apa kaitannya dengan aku bu, aku berfirasat buku ini memperingatkanku sejak kemarin, karena sepertinya buku itu terus mengikutiku."
"Ha..?..jadi kamu sudah merasakannya?" kata ibuku dengan sedikit keras.
Aku semakin yakin, semua ini ada kaitannya denganku.
" Ceritakan bu..aku akan mematuhinya jika memang itu syaratnya.."
Ibu mulai menceritakan semuanya, dan memerintahkan aku bergegas menemui kakekku yang sekarang ini ada di rumah kecil di tengah hutan, beliau adalah seorang pertapa.
***
Perjalananku pun di mulai.
Dengan taxi, aku pergi menyusul kakek. Aku beranikan diri untuk memasuki kawasan hutan, sebab aku ingin semuanya cepat selesai.
" Kek...kakek..." Sapaku setelah sampai di depan pintu rumah kecil milik kakek.
" Masuklah..cucuku..." Sahut kakek dari dalam.
Aku segera masuk ,karena pintunya tidak terkunci.
Kulihat kakek sedang terduduk diam dengan sikap bersemedi, dan seketika kedua matanya terbuka.
" Astri...kakek tahu maksud kedatanganmu kemari, untuk itu ,dengarkan perintah kakek baik baik."
Kakek mulai memberikan petunjuk untuk aku.
" Ambillah segera cetok yang tersimpan dalam lemari kakek, dan gunakan itu untuk menggali tanah di sekitar tanaman bunga itu. Selanjutnya cepatlah kamu pulang, karena waktumu tidak banyak, tinggal 65 jam lagi."
Aku seketika terkejut dengan kata kata kakek.
" Secepat itu kek...kenapa?"
" Jangan banyak bertanya, cepat lakukan perintah kakek!"
" Baik..Kakek.."
Aku sedikit ketakutan, dan akhirnya mematuhi apa yang kakek perintahkan.
Cetok itu di simpan dalam sebuah kotak ,dan di balut dengan kain putih, sepertinya alat penggali tanah ini sangat berharga.
" Kakek..aku sudah mengambilnya..."
" Cepat pulang sekarang!"
Kakek menyuruhku pulang, sebelum aku menyelesaikan kata kataku.
Aku terkesiap dengan kata kata kakek, dan tanpa pikir panjang, aku segera pulang.
***
Sesampainya di rumah, aku masuk ke dalam kamarku, membaringkan tubuhku , karena perjalanan ke hutan, membuat badanku pegal semuanya.
Tiba tiba ibu datang dengan tanpa mengetuk pintu.
Aku kembali terkesiap dengan kehadirannya.
" Astri...apa yang kamu lakukan, kamu harus segera menggali tanah itu, sebelum waktumu habis."
" Hah?, " aku kembali terkejut, kenapa semua orang seakan mendesakku untuk menggali tanah itu.
" Bu...aku lelah, apa tidak boleh jika aku gali tanahnya besok pagi saja?"
" Tidak bisa Astri, kamu harus menggalinya sekarang!"
" Tapi bu...aku..." aku melontarkan kata kata protesku, tapi itu tidak mempengaruhi ibu untuk mengubah perintahnya.
Ibu segera menarikku berdiri, lalu menarik tanganku untuk berjalan, ke kebun bunga yang berada di halaman belakang.
" Ibu....aku lelah..ingin istirahat dulu..." , rengekku sambil berjalan, tapi ibu tidak mempedulikannya.
" Tidak bisa Astri...kamu harus menyelesaikan semuanya sebelum tahun baru tiba.."
" Itu masih lama bu, masih 62 jam lagi dari sekarang ."
" Astri..." Teriak ibu, membentakku.
" Kamu tidak tahu, kalau untuk mengerjakan tugas itu, kamu akan melewati beberapa rintangan di dalamnya!"
" Maksud ibu..."
Aku semakin bingung.
Ibu memandangku dengan tajam, seolah menyiratkan kebencian tapi juga ketertidakberdayaan.
" Kamu yang memilih sendiri menanam bunga itu, kamu juga yang harus bertanggung jawab menyelesaikannya."
" Bunga itu adalah sebuah perjanjian , sekaligus peristiwa berdarah antara kakek dengan raja kegelapan, yang terjadi puluhan tahun yang lalu."
Aku terkejut dengan apa yang ibu ceritakan tentang kejadian di masa lalu itu
Kini semangatku terbakar setelah mendengar cerita dari ibu, dan malam ini juga aku segera memulai mengerjakan tugasku.
Ibu datang kembali dengan membawa kotak yang aku ambil dari rumah kakek, dan aku membukanya, kemudian mulai menggali tanah dengan alat itu, di samping tanaman bunga berkelopak hitam, yang aku tanam sewaktu masih kecil.
***
Tanah yang biasanya gembur, kini kenapa tiba tiba menjadi keras. Aku seketika mengeluh.
" Bu...tanahnya keras sekali,...aku sepertinya tidak sanggup mencukil tanah ini."
" Lakukan saja Astri...berjuanglah...kamu pasti bisa..." Ibu ku menyemangatiku.
" Ih..ih..." suaraku mulai kesal dan lelah.
Sudah hampir satu jam, tapi tanah itu masih baru berhasil sedikit di cukil.
Aku merasakan perih di telapak tanganku, dan aku memberhentikan sejenak karena tidak nyaman.
Ku lihat, telapak tanganku kini sudah mulai berdarah..
" Ibu...tanganku perih...aku tidak sanggup lagi menggali.."
" Coba ibu lihat,....ah..." Ibu ku mulai khawatir melihat telapak tanganku yang berdarah.
" Bagaimana ini bu,...sepertinya aku akan gagal.."
aku mulai putus asa.
" Tidak Nak, kamu tidak boleh gagal, nyawa kami semua berada di tanganmu.
Ibu kemudian berlari ke dalam rumah, dan datang kembali dengan obat , lalu kemudian mengobati lukaku.
Ibu membalut tanganku dengan perban, dan rasanya lukaku mulai membaik.
" Ini sudah mendingan bu, aku sudah tidak merasa sakit lagi." Ucapku seketika
" Baguslah Nak, dan sekarang kamu bisa melanjutkan menggali tanah lagi."
Perkataan Ibu, ingin membuatku menangis.
" Bu...kamu kejam sekali.." rintihku, tapi dalam hati.
" Ibu tahu Nak, ini berat buat kamu, tapi mau tidak mau, kamu harus menjalaninya." Ucap ibuku seketika, seolah tahu apa yang aku teriakkan dalam hati.
" Kamu harus yakin, kamu pasti berhasil, karena kamu adalah keturunan kami, keluarga yang mempunyai kekuatan indra ke enam." lanjut ibuku lagi.
" Apa bu...jadi aku juga memiliki kekuatan."
Ibuku mengangguk setuju, dengan itu aku kembali bersemangat dan percaya diri.
Kini aku mulai menggali tanah itu lagi, setelah ibu menuangkan air ke tanah tersebut.
Tanah itu sudah lumayan gembur, sehingga mampu aku mencukil nya sedikit demi sedikit, dan berhasil.
Tapi setelah itu muncul ribuan cacing yang berhamburan pergi dari tanah ini.
Mataku membulat ,aku segera menghindar, karena aku takut dengan cacing.
Entah sejak kapan, tanpa ku sadari ,aku sekarang berada di sebuah gua yang sangat gelap .
" Ah..." pekikku sangat terkejut.
" Kenapa aku bisa berada di tempat ini?" gumamku sangat terkejut.
" Astri ..ini adalah satu tahap dunia dimensi lain, dari beberapa tahapan lagi yang harus kamu lalui."
" Ambillah kotak di sebelah pojok barat gua , dan kamu gunakan untuk menggali tanah yang berada di depannya."
Ku dengar suara kakek, memerintahkanku.
" Kakek...kenapa aku bisa berada di sini?"
Aku penasaran dengan kejadian yang aku alami sekarang.
" Jangan banyak bertanya, cepat lakukan saja apa yang kakek perintahkan!"
Aku menuruti perintah kakek ,mengambil kotak itu dan segera menggali,..
Tiba tiba..keluar dari tanah yang aku gali itu beribu ribu kecoa
" Hiiii'.....". aku jijik dengan hewan yang satu ini, segera aku mundur sambil mengesot, menghindari ribuan kerumunan kecoa.
Tiba tiba lagi aku sudah berada di tengah hutan, di bawah pohon besar.
Aku lelah dan tertidur, setelah tahu ,aku selamat dari kerumunan kecoa tadi.
" Astri...astri bangun Nak..." , Ku dengar suara ibuku membangunkanku.
Aku terbangun dan tersadar, tapi lagi lagi aku terkejut.
" Ah!, dimana aku sekarang.." gumamku keras.
" Kamu berada di ruangan dimensi lain, dari bagian dimensi yang akan kamu lalui kembali."
Kini suara ibuku yang menyahutiku.
" Ibu...kenapa aku harus melalui dimensi dimensi ini, aku sepertinya sudah tidak kuat lagi, aku ingin kembali bu, bagaimana caranya aku kembali bu?" tanyaku dengan putus asa.
" Kamu belum bisa kembali Nak, kamu harus melewati dimensi ini dulu, dan mengerjakan tugasmu sebelum tengah hari malam tahun baru."
" Apa Bu..." aku tersentak kaget.
" Maka dari itu ,kamu harus cepat menyelesaikannnya."
" Lihatlah, sebuah kapak yang tergantung di ranting pohon di belakangmu itu, ambillah dan kemudian kamu tebang pohon itu menggunakan kapak itu, cepat Nak...waktu kamu tinggal 30 jam lagi!"
Aku segera mengerjakannya, dan mulai menebang pohon tersebut dengan menggunakan kapak kecil itu.
Tanganku mulai berdarah darah, aku merasakan perih sekali, tapi keinginan untuk aku pulang, sangat besar, sehingga rasa perih itu tidak ku hiraukan.
Akhirnya aku berhasil menebang pohon ini, dan setelahnya ribuan tikus keluar dari pohon itu.
Aku menjerit, karena aku sangat takut dengan hewan ini. Ribuan hewan kotor itu mendekatiku,...
" AAAAAAAAAAAAKKKKK" , aku menjerit sangat keras, sambil menutup kedua mataku.
Tiba tiba, tanpa aku sadari, aku kembali berada di dimensi lain.
" Selamat anakku, kamu sudah melaui rintangan itu, dan ini adalah rintangan terakhirmu,..." suara ibuku terdengar menggema, karena saat ini aku berada di antara lubang yang sangat besar, diantara gua gua di sekitarku.
Aku berdiri dan di bawahnya adalah sebuah danau yang airnya biru kehijau hijauan, hawa disini sangatlah dingin.
" Masuklah kamu dalam danau tersebut, lalu kamu akan menemukan sebuah tempat di dasar laut, cetok emas berada di sana, ambillah, kemudian kamu kembali berenang ke atas, dan seseudahnya gali lah tanah di sekitar rerumputan hijau di sebelah kirimu."
Rasanya aku ingin menangis, merasakan badanku yang seakan sudah tidak punya tenaga, aku teringat, sejak malam itu, perutku sama sekali belum aku isi.
" Ibu...aku lapar...aku haus...bolehkah aku memakan sesuatu sebelum melakukan tugas ini?"
" Anakku...kamu harus bersabar ,tahanlah rasa laparmu, waktumu tinggal 20 jam lagi dari sekarang,.."
" Tapi ibu...kalau Aku mati bagaimana, apa Ibu tidak keberatan."
" Itu sama saja anakku, kamu juga akan mati dan kami semua juga akan mati ,ketika kamu gagal menyelesaikan tugas ini..."
" Ah.." kembali aku terpekik kaget,
" Apa benar begitu Bu,...baiklah kalau begitu, aku akan menyelesaikan tugas ini, sebelum waktunya berakhir." Sahutku kemudian.
Kemudian aku menceburkan diri ke danau tersebut, dan berenang dengan kecepatan yang aku kuasai.
Sebuah benda berkilau emas, sudah nampak di depan mataku,..
" Sepertinya ini akan mudah ku selesaikan." gumamku.
Dengan semangat aku berenang hendak meraih benda tersebut ,dan aku berhasil, tapi ketika aku akan kembali berenang ke atas, sebuah ular mengikutiku.
Ular itu berwarna merah, dengan lidah panjang yang menjulur.
Aku terbelalak ketakutan, dengan semaksimal mungkin tenagaku ku kerahkan untuk cepat sampai ke atas dan...
" Aaaaa....." Ular itu berhasil mematuk kakiku, darahku menyembur keluar, bercampur dengan air danau.
Badanku mulai merasa lemas, tapi karena semangatku ,akhirnya aku bisa mencapai atas , selamat dari ular tersebut.
Aku sudah tidak tahan lagi, akhirnya aku tergeletak tak sadarkan diri di atas rerumputan hijau.
Cahaya keemasan berkilau , kilau itu berasal dari cetok yang berhasil aku ambil, aku tersenyum puas, setidaknya aku sudah berhasil sampai di sini.
Kupasrahkan saja hidup dan matiku kepada sang pencipta, karena aku sudah sangat merasakan lelah.
Ketika aku membuka mataku , dalam keadaan setengah sadar, aku lihat Kakek sudah berada di hadapanku, beliau tersenyum padaku, sembari berkata..
" Cucuku....kamu telah banyak membantu Kakek, kini saatnya kamu beristirahat, biarkan kakek membantumu.."
Dan kini aku tersadar kembali, dan kembali sangat terkejut, karena tiba tiba saja ,aku sudah berada di atas kasur tempat tidurku.
Aku terperanjat dan segera turun dari kasur, kudapati rumah dalam keadaan sepi...
" Ibu....ibu...." Panggilku, tapi sepertinya percuma, rumah dalam keadaan sepi.
Ku putuskan mencari ibuku ke kebun belakang, dan ternyata di kebun itu sudah banyak orang, mereka mengelilingi ibuku yang terkapar di tanah dengan bibir mengeluarkan darah.
" Ibu...", Panggilku sambil berlari menghampiri mereka semua...
Tak ku hiraukan orang orang itu, aku hanya fokus menolong ibu yang sudah terlihat pucat.
"Ibu...ibu kenapa?" tanyaku dengan panik dan khawatir.
" Aa...aasstriii....ka..kamu..harus segera menggali tanah itu, sebelum semua ini terjadi, masih ada waktu , atau kalau tidak semuanya penduduk bumi akan mati..."
" Ibu..ibu...bangun..." Aku berteriak, karena sesudahnya ibuku jatuh pingsan.
" Tolong...tolongin ka...mi..." Aku tersentak, ketika memandangi wajah mereka, bermaksud untuk meminta bantuan mereka, menolong ibuku.
Wajah mereka berbentuk mirip ular, tapi badan mereka manusia, mereka juga memiliki tangan dan kaki sepertiku.
Mereka memandangku dengan rakus, seolah aku adalah makanan lezatnya
Aku segera mundur dari mereka dengan merangkak,dan segera mengambil benda berkilau emas itu ,untuk menggali tanah , dan sedikit lagi tugasku akan selesai ,karena akar akar bunga tersebut sudah nampak dari atas.
Gali...gali..gali...dan terus gali....bahkan aku dengan tergesa gesa melakukannya.
Bunga itu kemudian tumbang, aku menjerit sangat bahagia....
" AKU BERHASILL"
Setelahnya aku jatuh pingsan seketika...
Sayup sayup aku mendengar letusan kembang api , aku tersenyum senang, sekilas aku membuka mata untuk terakhir kalinya, kembang api itu menghiasi langit malam ini....
HAPPY NEW YEAR....
***.
Tamat...
( cerpen yang panjang, atau di sebut cerpaaannn)...