Dokter Chu berjalan di koridor rumah sakit, kemudian masuk ke sebuah kamar pasien.
"Aduh, gatal sekali!"
"Jangan digaruk!" tegurnya padaku.
"Eh, Anda dokter, ya?" tanyaku pada seorang laki-laki berseragam serba putih. Dia mendekat dan menyentuh dahiku. Di belakangnya ada seorang perawat perempuan.
"39 derajat. kamu demam. Tolong ambilkan paracetamol dan detosalicilat acid, suster."
"baiklah, Dok." Kemudian perawat itu permisi dan pergi keluar mengambilkan obat. Tak lama dia datang kembali dan mengatakan kalau obat itu sudah habis. Dokter harus membuat resep obat yang lain.
"Kamu alergi kerang. Apa kamu sudah makan makanan kerang-kerangan hari ini, ya?"
"Iya, dokter. Aku memakan sup kerang tadi dimasakan pacarku."
Dokter itu terdiam sejenak, menatap tajam lalu berkata, "Pacarmu yang memberikan makanan sup kerang? Seharusnya tidak boleh!"
"Tidak dokter, aku yang menyuruhnya. Maaf," gumamku serba salah.
"Tak apa. Ini pergi beli dan segera minum obat, ya. Hentikan makanan mengandung kerang. Snak atau makanan berat." jelas dokter padaku. Aku melirik wajahnya, wah dia sangat tampan. Bulu matanya begitu panjang dan indah. Pertama kali melihatnya dia membuatku berdebar.
Dokter itu memberikanku resep obatnya lalu aku berdiri untuk membayar biaya dan pamit.
"Berapa dokter?"
"Tidak perlu. Kamu memiliki kartu kesehatan jadi segera tebus obatnya dan pulanglah."
"Terima kasih, dokter."
Aku masih terus memandanginya sampai kepalaku terantuk di pintu keluar. Dia juga menatapku, tapi tatapan geli.
Satu bulan kemudian...
"Hari ini aku harus melupakan dokter itu dan menata hidup dengan baik." ucapku pada seorang teman di telepon.
"Baiklah, itu pilihanmu kawan, lalu bagaimana dengan Hendrik, pacarmu?"
"Dia cuma pacar bohongan. Kami sudah putus!"
Saat sedang menelepon, tiba-tiba seseorang menyenggolku.
"Hai Cantik, matamu lihat ke mana. Kau sudah berani menyenggolku!" Padahal bukan aku yang salah, orang ini cari perkara padaku!
"Aku tidak mengerti. Pak, Anda kan yang senggol bukan aku kenapa malah menuduh?"
Orang itu tidak terima tangannya terangkat ingin menamparku. Namun, tangan itu berhenti di udara. Seseorang telah menahannya.
"Jangan memukul wanita!"
"Apa hakmu menahanku, lepaskan saya! Jangan ikut campur, ya bocah!" Orang itu memanggilnya bocah. Aku tertegun dan menatap sejenak orang yang menolongku ini, bukankah dia... dokter itu?
"Cepat lepaskan saya atau kau akan menyesal!" hardik preman jahat itu.
"Saya tidak takut dengan ancaman. Kau pikir kau siapa?" Kemudian dia membantingnya.
DHAK!!
"Astagaa," Aku menutup mulutku dengan tangan. Kenapa jadi seperti ini, mereka saling bakuhantam!
"Pergilah atau kau kuhajar lebih dari ini!"
Preman itu nyalinya menjadi ciut, dia langsung lari meninggalkan aku dan dokter ini.
"Siapa namamu?"
Masa dia lupa padaku, dia sudah tidak ingatkah kalau aku pasiennya?
"Hani."
"Saya Chu. Alex Chu. Sedang apa malam-malam di tempat ini?"
"Saya sedang menelepon kawan saya, dokter."
Dia tertegun sejenak lalu teringat sesuatu.
"Anda ini ... wanita yang keracunan, kan? Ah, saya baru ingat."
Aku tersenyum paksa. Daya pikirnya payah, gumamku.
"Iya itu saya."
Sejak hari itu kami semakin akrab sangat akrab sampai suatu hari, dokter Alex Chu datang ke rumahku, dia membawa seorang wanita. Aku sangat kaget.
"Kenalkan dia tunangan saya, namanya Cindy. Cindy, ini perempuan yang pernah saya ceritakan padamu, namanya Hani."
Tanganku gemetar. Jantungku berdebar kacau. Apakah kau sengaja membawa perempuan ini, dokter... tiba-tiba saja aku merasa pusing.
"Aah, maaf dokter, maaf kak Cindy. Aku harus beristirahat agak sedikit pusing," ucapku memberi alasan. Mereka sedikit kecewa. Hari itu dokter membatalkan acara makan malam di rumahnya. Kau tahu, dokter aku memutuskan Hendrik karena ingin mengejarmu. Namun, sekarang sudah jelas. Hendriklah yang terbaik.
Dokter Chu, aku harus melupakan dirimu! Aku ingin menata hidupku dengan baik.
Hari ini, aku akan ke kota J guna masuk universitas, karena aku adalah mahasiswi baru di kampus X. Ah, aku akan menjalani hari-hari yang sangat menyenangkan.
"Selamat pagi semua... hari ini kita kedatangan dosen muda baru. Silakan dokter..."
Aku dan semua teman menatap lekat dokter yang masih muda masuk mengajar di kelasku. Karena aku mengambil jurusan bedah jantung, jadi harus ada asisten dari dosen yang mengajar pertama selama satu semester. Aaah tidak! Dia adalah orang itu.
Dokter Alex Chu!
Dia menatapku erat sembari tersenyum.
"Selamat pagi anak-anak! Kenalkan saya dokter Alex Chu penanggung jawab dan sekaligus asdos di kelas jurusan bedah jantung. Salam kenal!"
Sialan! Aku harus bertemu lagi dengan dokter yang sudah membuat hatiku rapuh. Dia adalah asdos di kelas baruku, berarti aku bertemu terus dengan dia? Oh, tidak!
Satu jam duduk di kelas aku tidak fokus. Apalagi aku duduk di depan. Salahku sih mengambil tempat di bagian depan. Dokter Alex menatapku lekat, tersenyum tipis dengan muka dingin.
Pulpenku jatuh!
"Ah?"
Dia sudah lebih dulu mengambilnya. Ya ampun sejak kapan dokter ini berdiri di depan mejaku?
"Terima kasih, Dok," ucapku kikuk. Dia tersenyum mengangguk.
"Ini."
"Ah, eh. iya."
Masih gugup. Aku terus melihatnya, fokus dengan mukanya bukan pelajaran yang dia ajarkan.
Satu jam kemudian...
Bel istirahat lima belas menit telah berbunyi. Ah, akhirnya bisa terlepas dari siksaan ini. Cepat-cepat aku membereskan buku dan memasukan di tas, tetapi ...
Bruk! Bruk!
Malah bukunya jatuh semua di lantai. Haduh betapa cerobohnya aku.
"Ini, santai saja jangan terlalu buru-buru." Dokter Chu malah mengambil bukuku. Kami saling bertatapan lagi. Apakah dia masih mengenaliku?
"Kau tidak mau keluar istirahat?" Dia bertanya sebentar sebelum pergi. Aku yang masih bengong, terkejut. Buru-buru memasukan semua buku di tas dan berdiri. Baru saja mau lari darinya, kakiku terantuk kaki meja.
"Aaduh!"
"Kau ini sering jatuh, ya. Jangan jadi kebiasaan. Berdiri tegak, rileks sedikit," ujarnya sambil membantuku. Betapa memalukan aku ini...
"Makasih, pak dosen."
"Panggil saja Chu."
Semua temanku sudah tak ada di kelas, mereka begitu bel berbunyi semua langsung keluar. Jadi di kelas hanya aku dan Chu. Semoga dia tidak mengingat aku. Ya, semoga saja.
"Eeh, nanti ga sopan. Dokter Chu... itu lebih tepat," sahutku sangat kikuk. Aku menunduk dengan muka tersipu.
"Gimana kabarmu, Han?"
Wah, dia masih ingat namaku, ini amazing.
"Aah, aku baik."
"Oke, kalau gitu saya keluar, ya. Kamu harus kerjakan tugasnya besok dikumpulkan loh."
"Aa, iya dokter Chu tanpa Anda ingatkan saya sudah tahu," sahutku gugup lagi.
Sampai diluar aku mengatur napas dengan susah payah. Dokter tampan itu, apakah sudah menikah? Ah, apa peduliku toh dia juga bukan siapa-siapa bagiku.
Besoknya... di kampus X.
"Selamat pagi semua. Mari kita mulai pelajaran hari ini. Apakah ada tugas dari saya?"
Serempak menjawab ada, kecuali aku.
Aduuuh, gimana dong. Bukunya kelupaan. Tadi malam aku ingat buku itu sudah kumasukan di tas, tapi kok gak ada? Soalnya kan udah dikerjakan, ini gimana, nih...
Aku menggeledah tasku, tapi tidak ada buku tugas itu.
"Siapa yang belum mengerjakannya?" tanya pak dosen. Dia menatap kami satu per satu, kemudian tatapan matanya mentok di aku. Aish, ini gawat sekali.
"Bagaimana denganmu, Hani?"
"Aa, anu ..., buku saya ketinggalan di rumah, pak."
"Jadi hukuman saya adalah!" Dokter Chu berdiri dan menghampiriku. Oh my Gosh. Dia sangat dekat, aroma maskulin dari parfumnya saja sudah tercium di hidungku. Wajahnya mendekat dengan tatapan tajam.
"Kamu dihukum. Sebentar harus menulis seribu permintaan maaf dan serahkan kepada saya!"
Hukuman macam apa itu? Gak dipukul dengan penggariskah...
Setelah bel pulang... Hani datang di depan dan memberikan kertas dengan tulisan "saya minta maaf dan tidak akan mengulangi kesalahan, mohon dimaafkan" sebanyak 1000 kalimat.
"ini, pak Chu. mohon maafkan lain kali saya akan lebih teliti lagi." Aku menunduk takut. Pak Chu mengambil kertas itu dia membacanya lalu tersenyum.
"Kau boleh pulang."
Aku langsung berlari pulang. Sampai di tempat parkiran...
"AIH SIALAN!" makiku saat melihat ban motorku kempis.
"Kenapa?" Seseorang tahu-tahu sudah ada di belakangku. Ini orang mirip setan aja membuatku kaget sekali. Datang diam-diam...
"Pak Chu?"
"Saya tanya kenapa dengan motormu?" Pak Chu mengulangi pertanyaannya.
"Kempis bannya pak. Saya akan berjalan kaki saja, motornya nanti kusuruh pamanku yang akan mengambilnya."
Aku pasrah. Kasihan banget nasib motorku bannya
'kan baru ganti seminggu yang lalu tapi kenapa sudah bocor lagi.
"Ikut saya saja, nanti saya antar kamu pulang," ucap Chu menawarkan jasa.
"Eh ngga usah deh. Biar saya naik bajaj atau ojek saja."
Kami ribut saling tawar jasa dan menolak jasa.
"Sudahlah. Satu kali ini saja. Ayok!" Dia memaksaku naik menumpang di mobilnya. Terpaksa aku iyain sajalah.
Di dalam mobilnya, kami diam dengan pikiran masing-masing. Aku bertanya di manakah Cindy? Apakah dia ini sudah menikahi Cindy...
"Eh, pak Dokter, aku tidak melihat istrimu, di manakah kak Cindy?" tanya berhati-hati. Dia diam tak menyahut.
"Cindi mungkin di rumah, ya. ah aku ini kepo sekali," ucapku menyadari kesalahan dari pertanyaanku yang terlalu penasaran.
"Tidak. Cindy tidak menikah denganku. Waktu itu kami putus."
"Oh."
Hanya kata "oh" saja yang keluar dari mulutku, tanpa terasa kami sudah sampai di kosanku. Anak kosan teman-teman lainnya pada heboh sendiri melihatku turun dari mobil dokter Chu.
"Astagaa, itu pacarnya Hani, ganteng abis!"
"Kalau ada kembarannya, aku juga mau dong!"
Mereka mencoba menyapa dokter Chu. Dokter itu tersenyum tipis lalu mengangguk ke arah teman-temanku. Semuanya heboh tersanjung dan memuji dokter Chu.
"Waah sopan sekali dia."
"Aduh tampannya sikapnya juga ramah!"
Aku membuang napas. "Maaf Dokter, teman saya semua ogep. Anda tidak usah taruh di hati. Mereka begitu sifatnya," ujarku dengan cepat dan menyuruh dia pulang.
Setiap hari dokter Chu menjemputku di rumah kosku dengan mobilnya. Semua teman heboh dan selalu mencari perhatian dokter itu. Lama-lama hubungan kami semakin akrab. Tiba suatu malam di malam minggu...
"Hani, besok aku ingin mempertemukan kamu dengan ayah dan ibuku. Apakah kamu bersedia?"
'What, secepat itukah hubunganku dengan Chu, aduh...'
'Aku harus tau kejelasan hubungan ini!'
"Emm, Chu apakah hubungan kita ini bisa dibilang serius?'
"Ya. Aku menyukaimu dan kamu pasti menyukaiku, bukan? Berarti kita sudah resmi pacaran." Dia tersenyum simpul.
"Aku memang suka kamu, dokter, tapi kalau mau bertemu dengan orang tua dokter, apakah tidak terlalu cepat, ya?" tanyaku ragu-ragu.
Dia tertawa.
Ih apa sih yang lucu?
"Hani, hubungan kita lebih bagus ditahu oleh orang tuaku, bukan begitu? Nanti kalau ada kesempatan lain aku juga harus bertemu ibumu," tukasnya dengan lembut.
Aku mengangguk. Heran juga, mengenai hubungannya dengan kak Cindy, dia tidak pernah cerita padaku apa penyebabnya mereka putus...
"Dokter Chu..."
"Kau selalu formal terus padaku, Han. Panggilah aku Chu saja," ucap Chu sambil merangkul pundakku. Aku agak risih. Dia memang sering memelukku, tapi aku agak takut dan risih.
"Hani, kenapa? Kau tidak senang aku memelukmu?"
"Aku senang, kok. Hanya saja agak risih dan aneh aja. Kita sangat cepat, Chu."
"Mau kamu kita bertengkar dulu, nangis lalu baru jadian?" Chu memasang wajah cemberut. Lucu sekali dia dan menggemaskan!
"Ah nggak begitu juga kali. Hanya agak aneh saja. Oh iya. Dulu kenapa kamu datang ke rumahku dengan kakak Cindy. Apakah kau mau pamer pacarmu itu padaku?"
"Aku hanya ingin tau reaksimu. Ternyata kau sudah ada rasa cinta padaku saat itu, jadi aku mau pamer saja. Cindy dan aku tidak cocok kamipun putus."
Hah? Jadian langsung putus? Aneh sekali... atau jangan-jangan Chu hanya mencocokkan sikapku juga dengan dia, kalau tidak sesuai putus juga. Oh nasibku, aku ternyata hanya akan dipermainkan pria ini dan nasibku sama seperti kak Cindy. Dicampakan.
"Jangan berpikiran picik. Siapa yang mau permainkan kau, Han?"
'wah, Chu bisa membaca pikiranku??'
"Maaf, aku belum bilang padamu kalau aku punya indera ke enam yang bisa masuk ke telepati orang. Jadi aku bisa membaca pikiran orang dengan jarak satu meter." Chu menjelaskan.
Apakah ini nanti jadi masalah bagiku? Itu kan kekuatannya. Aku no problem.
"Nggak apa sih. hanya saja jangan pakai kekuatanmu untuk membaca pikiran semua orang di sekitar kita, ya. Mencuri pikiran orang tidak benar, loh." Aku berpesan padanya.
Dia baik, ganteng, kaya, seorang dokter jantung lagi. Lelaki sempurna. Semoga orang tuanya pun baik padaku.
Semua ini aku harus bersyukur memiliki kekasih seperti dia yang hanya ada dalam komik atau pun novel. Sekarang dia nyata, berada di sisiku dan di hati ini.
"Jadi, apakah kamu mau bertemu dengan ayah dan ibuku?" tanya Chu sekali lagi.
"Iya, semoga hubungan kita direstui, ya Chu."
Aku berharap hubungan kita direstui oleh ayah dan ibunya.
"Ya, pasti, tapi kau jangan terkejut saat bertemu dengan mereka. Kuatkanlah hatimu, sayang..."
Apa maksud Chu?
Satu minggu kemudian... Aku dan Chu pergi ke sebuah desa tempat kelahiran ayah dan ibu Chu.
Desa XB.
Desa ini kenapa sangat aneh, semua adalah hewan buas. Aku sangat ngeri, sampai-sampai harus memeluk pinggang Chu saat keluar dari pintu. Kami disambut seekor ular besar dan seekor kera raksasa. Aku memejamkan mata, kakiku gemetar.
Chu, apa ini... aku masih ingin hidup!
"Ayah, Ibu. Ini adalah pacarku. Kenalkan, namanya Hani andrianty, mahasiswiku juga di kampus X."
Chu memperkenalkan aku dengan orang tuanya.
Mereka menatapku. Tatapan tajam sekali. Astaga, aku ingin pingsan rasanya. Apakah ini yang Chu bilang, aku harus kuatkan hatiku saat bertemu dengan orangtuanya.
"Selamat datang. Apa kabarmu, Nak Hani?"
Seekor ular raksasa dengan mata manusia, memiliki rambut di bagian atas kepala menyambutku. Di sisinya seekor kera besar dengan mata sama. Mata manusia, mengulur tangannya yang penuh rambut, ia menyambut aku!
Oalaaa mak!!
i only love you Alex Chu, tamat.