`Selamat membaca⤵
Hari sudah gelap. Hampir seluruh karyawan sudah pulang. Hanya tinggal beberapa orang yang masih bekerja. Termasuk aku sendiri. Dalam hati kecil sebenarnya ada keinginan untuk segera pulang dan tidak lembur, tapi apalah daya. Jika tidak lembur, maka siap-siap besok mendapat "surat cinta" dari atasan.
Setelah meneguk teh hangat tanpa bersisa, aku pun kembali masuk ke dalam lokasi pabrik. Ada 4 bangunan besar berjejer. Ada 2 bangunan untuk tempat produksi, sisanya difungsikan sebagai gudang.
Saat melewati tempat produksi aku melihat 5 orang temanku sedang bekerja. Kalau dijumlah seluruh karyawan yang sedang bekerja lembur ada 8 orang. Karyawan bagian produksi 7 orang termasuk 5 orang yang kulihat tadi, mandor dan aku sendiri. Sisanya seorang security pabrik yang memang mendapat jadwal shift 2.
Jam menunjukkan pukul 9 malam, aku bergegas memasuki gudang untuk melanjutkan pekerjaanku. Pekerjaan tambahan yang bikin malas. Ya aku harus melakukan pengecekan terhadap material yang sudah di packing hari ini. Katanya ada beberapa yang tidak lolos QC tapi terlanjur dipacking dan masuk gudang.
Langkahku menuju bagian belakang gudang. Barang-barang yang selesai packing akan selalu ditempatkan di gudang paling belakang, karena yang di bagian depan untuk barang-barang produksi beberapa waktu kemarin.
Sesampai di lokasi, aku merasa agak aneh. Seingatku tadi, list data barang aku taruh di sini, di atas tumpukan kardus, sebelum aku tinggalkan untuk istirahat sebentar. Aku pun mencari, pandanganku celingukan ke sana-sini. Hingga naik tangga, siapa tau aku lupa menaruh di kardus-kardus bagian atas. Tapi nihil, tidak aku temukan.
Padahal seingatku aku taruh di dalam kardus yang terbuka, bersama beberapa peralatan. Hmm.. aneh, pikirku. Aku ingat-ingat kembali, siapa tahu aku lupa menaruhnya. Tetap saja tidak ada lagi ingatan selain data tersebut aku taruh di dalam kardus yang terbuka.
Oh ya, di meja depan dekat pintu masuk gudang sekilas tadi kulihat ada papan kertas, jangan-jangan itu.. aku pun segera menghampiri meja tersebut. Dan benar, memang data list yang aku cari, tapi kenapa di sini ? padahal tadi aku tidak menaruh apa-apa di meja ini. Akhirnya kuputuskan untuk berpikiran positif, mungkin aku memang lupa.
Selanjutnya aku pun sibuk dengan pekerjaanku. Melakukan pengecekan setiap packing dan mencocokkan nomor produksi.
Belum sejam aku mengerjakan ini, perutku terasa mules. Aku buru-buru ke toilet yang berada di bagian belakang gudang. Lokasinya di balik tembok gudang, di luar gudang bagian belakang.
Saat sedang di dalam toilet, pintu toilet ada yang mengetuk, tok.. tok.. dan reflek aku pun berteriak, “baru masuk woi, toilet lain aja”. Setelah itu hening, tidak ada balasan. Keheningan itu pun dipecah kembali dengan suara ketukan pintu toilet, tok.. tok… kembali aku teriak dari dalam toilet, “woi toilet lain masih banyak”. Kemudian hening lagi, tidak ada sahutan bahkan suara sepatu berpindah juga tidak. Aku berpikir, siapa yang lagi iseng ya ? teman-teman seingatku tidak ada yang suka iseng. Tok.. tok.. pintu diketuk ketiga kalinya. “iya, sebentar.. ini baru selesai” kataku. Aku pun bergegas menyelesaikan "urusanku".
Ketika selesai, aku buka pintu toilet, tidak ada siapapun di balik pintu. Kulihat toilet sebelah juga kosong tidak ada orang yang masuk ataupun habis dipakai. Sejenak aku berprasangka kalau ada teman yang jahil dan iseng ngerjain.
Aku pun memasuki gudang, kulihat sekeliling tidak ada orang sama sekali. Aku dengarkan lamat-lamat tetap tidak terdengar suara orang di dalam gudang ini. Yang terdengar hanya deru mesin pabrik di gedung sebelah.
“Mungkin sudah balik ke gedung produksi”, pikirku. Langkahku pun tertuju kembali ke tempatku bekerja, tapi sejenak aku mematung. Kertas data yang aku taruh di atas kardus hilang!
“Kurang ajar siapa nih yang ngerjain?”, kembali aku berprasangka jika teman-teman menjahiliku. Aku terdiam mendengarkan. Ada suara perlahan di balik tumpukan kardus sekitar 4 meter di hadapanku. Perlahan aku mengendap-endap.
“Kena kau!!!”, kataku sambil memberi kejutan di balik kardus.
Kosong.. tidak ada siapapun di balik tumpukan kardus. Aku mendengus, sepertinya mereka mengajak main kucing-kucingan. “oke”, pikirku “kuladeni kalian”.
Kudengar suara agak jauh, sebelah pojok ruangan. Suara bisik-bisik. Kembali aku mengendap. Mendekati asal suara, ketika hampir sampai, mendadak suara itu hilang. Dengan tidak sabar aku pun menyergapnya. Seketika itu juga aku melompat.
Sesampainya aku di situ, detik itu juga tubuhku kaku. Mataku tertuju sesuatu di dekat tembok pojok ruangan. Lampu gudang yang remang-remang tidak dapat memperlihatkannya dengan jelas. Namun mataku yang jeli jelas melihat sebuah sosok pakaian putih.
Pakaiannya yang putih seakan tertarik oleh tali temali putih yang diikatkan di kaki, pinggang, leher hingga atas kepala. Wajahnya tidak terlihat jelas tapi aku tahu kalau wajahnya putih pucat.
Aku pun berteriak keras, sekeras-kerasnya, “setaaaaaaaannn!!!” namun suara itu hanya sampai di pangkal tenggorokan. Tidak sampai keluar dari mulut. Seluruh tubuhku benar-benar kaku. Ingin aku membuang muka dari tatapan tajam sosok tersebut, tapi sia-sia.
Ia seolah menarik wajahku untuk melihat ke arahnya. Aku pun mencoba tenang. Semua surat dan ayat Al-quran yang ku ingat aku baca semua, termasuk doa mau makan juga kubaca hingga tuntas, berhubung pikiran sedang kacau. Namun tetap saja tidak ada hasil. Tubuhku kaku tidak bergerak sama sekali.
Beberapa detik kemudian ada hawa dingin menerpa wajahku, serasa ada sesuatu yang mendesir di dalam tubuhku. Saat itu juga aku merasa tubuhku dapat aku gerakkan. Tanpa membuang waktu, aku pun lari sekencang-kencangnya.
Aku berlari keluar dari gudang. Secepat kilat kakiku menuju pos satpam di dekat pintu gerbang pabrik. Sesampai di pos, tidak aku temukan satpam pabrik. Lalu aku berlari keluar menuju warteg, "Akhirnya nemu warteg mungkin doa mau makanku sudah dikabulkan". Ucapku dengan nafas terengah-engah.
Aku menyapu sekeliling ruangan warteg, ada satpam dan pemilik warteg sedang ngobrol.
“Kamu kenapa bro? berlarian kayak dikejar setan aja”, Tanya satpam pabrik.
“hah.. hah..”, aku tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut.
Aku menoleh ke belakang, tidak ku lihat sesuatu pun. Lalu aku mulai menjawab, “a.. a.. ada… pocong…” kataku tersengal-sengal akibat nafasku masih belum stabil. “apaan gak ada apa-apa”, kata satpam pabrik.
“I.. iya pak.. a.. ada.. pocong tadi..”,kataku masih dengan nafas tersengal.
Sejenak kulihat pemilik warteg mengambil gelas dan menuangkan air putih kemudian menyerahkannya padaku, ”nih.. minum dulu baru cerita”. Setelah aku habiskan air putih dalam gelas, nafasku pun perlahan mulai normal kembali. "Sepiring nasi rames ya buk!" Ucapku pada pemilik warteg, dan dibalas dengan gelengan.
Aku pun menceritakan kejadian di dalam gudang kepada satpam dan pemilik warteg yg diketahui namanya Bu Marni. Mereka hanya membalas dengan anggukan. Tidak kulihat raut muka cemas maupun takut dari mereka. Aku pun menanyakan hal tersebut pada mereka.
Bukan jawaban yang ku dapatkan, mereka malah balik tanya padaku, “kamu udah berapa hari lembur?”
“Baru hari ini”, jawabku.
“Udah berapa lama kerja di sini?”, tanya satpam lagi.
“Baru 2 minggu kerja di sini”, jawabku lagi.
Mereka berdua mengangguk, sejenak aku pun dapat penjelasan bahwa memang di gudang itu ada penunggunya dan suka menampakkan diri pada karyawan. Makanya tidak pernah ada yang lembur malam di gudang itu. Manager pabrik juga tahu itu dan memakluminya. Makanya tidak pernah menugaskan karyawan lembur malam di gudang tersebut.
“Lalu, kenapa aku mendapat tugas lembur di situ?”, tanyaku.
“Kamu dikerjain mandormu, hahhahaha…”, jawab satpam pabrik seraya tertawa terbahak-bahak bersama pemilik warteg yg menyodorkan piring berisi pesananku tadi. Dasar!
Selesai~