Aku adalah siswa SMA paling populer disekolah. Semua penghuni sekolah pasti kenal dengan aku, Bagus Ario Wijaya. Selain terkenal karena tampan dan banyak fans, aku juga biang onar. Dan aku tidak terkalahkan.
"Gus, kapan kamu sadar? Sudah mau naik kelas tiga lho ini." Suara guru BK sangat lembut terdengar ditelingaku.
"Jangan dibuang ya suratnya, kasih papa atau mamamu. Ini surat terakhir, dan pihak sekolah tidak akan memberikan dispensasi lagi setelah ini jika kamu tidak merubah sikap."
Setelah selesai memberikan nasehatnya seperti biasa, surat panggilan untuk orang tua pun aku terima kembali.
Aku hanya menanggapi dengan diam dan wajah datar seperti biasanya.
Tentu guru BK sudah kehilangan staminanya untuk sekedar berteriak memarahi diriku.
Bisa dibilang aku langganan tetap diruangannya. Bahkan seminggu bisa empat atau lima kali, jika sehari aku tidak masuk ruanganya berarti aku sedang absen.
Hari ini surat itu kembali aku terima karena aku sudah menghajar securyti sekolah satu jam sebelum istirahat. Kalian mau tahu kenapa?
***
Aku baru mau berjalan ke arah kantin tadi sebelum bel istirahat berbunyi. Seperti biasa tidak ada satu teman pun yang protes bahkan Rio serta Nanda ikut. Sebelum sampai ke kantin aku pamit pada kedua temanku ke toilet dan mereka aku suruh terus saja kekantin.
Setelah selesai urusan ditoilet aku kembali berjalan ke kantin menyusul kedua temanku.
Secara tidak sengaja aku melihat pak Dandi selaku securyti sekolah sedang ada diparkiran dan mengutak-atik motor metic yang entah punya siapa.
Aku pastinya hafal motor pak Dandi. Dia pake motor manual biasa bukan metic jadi bisa dipastikan yang sedang diutak-atik itu bukan motornya.
"Sedang apa pak, dan motor siapa itu?" Aku menegur dengan datar.
"Ehhh bagus, em... ini motor guru baru" jawab pak Dandi. "Emang ada guru baru?" Tanyaku heran.
Aku tidak hafal semua wajah guru disekolah ini, paling banter Bu Rossi selaku guru BK yang aku hafal wajahnya.
"Ada Gus, baru tadi pagi masuk. Cantik!" Jawab pak Dandi antusias.
"Terus kenapa motornya yang diajak kenalan?" Tanyaku sedikit heran.
"Hehe kan kalo motornya mogok dia tidak bisa pulang cepat dan pasti minta bantuan bapak atau bapak bisa antar nanti." Pak Dandi memberikan alasan yang tentu saja klasik menurutku.
"Gak ada alasan lain lagi?" Aku bertanya masih dengan wajah yang datar.
"Hehehe tahu saja kamu Gus." Wajah pak Dandi terlihat semakin penyebalkan.
"Jangan bilang-bilang ya Gus, atau kamu aku laporkan karena ke kantin lebih dulu sebelum jam istirahat!" Pak Dandi mulai mengancam.
Bug!
Dengan cepat aku menghajar wajah tengilnya. Pak Dandi tentu saja kaget dan terhuyung jatuh sebab tidak pernah menyangka dengan serangan mendadakku.
Aku kembali mendaratkan pukulan diwajahnya saat dia tersenyum mengejek, dan tanpa aku sadari ternyata sudah ada bu Rossi dibelakang.
***
"Pasti jam pelajaran akhir sungguh membosankan seperti biasanya" gerutuku sebelum guru masuk.
"Cabut yuk! Mumpung Bu Meta belum datang" ajaku pada Rio.
Rio tentu saja ragu dengan ajakanku, apalagi dia tahu jika baru saja tadi aku mendapat surat panggilan untuk orang tua dari ruang BK.
Aku sudah bersiap dengan tas dibahu saat seorang guru yang tidak aku kenal masuk kelas.
"Siang semua!" Ucapnya memberi salam.
"Oh ya, perkenalkan saya bu Dewi yang mengantikan pelajaran bu Meta untuk sementara karena Bu meta sudah memulai cutinya hari ini." Guru baru itu menjelaskan dan memperkenalkan diri.
'Oh, ini yang guru baru' gumanku dalam hati.
'Pantes pak Dandi nekat, tapi aku yang kena sial!' gerutuku kembali, tapi tentu saja masih didalam hati.
***
Waktu pulang sekolah di area parkiran.
"Wah, kok kempes sih!" Bu Dewi kaget dengan keadaan motornya yang ternyata kempes mendadak.
Aku yang terus mengawasinya sedari tadi dari motor gedeku hanya tersenyum miring.
Aku melihat Bu Dewi sedikit bingung. Dia melihat kanan kiri, mungkin sedang berusaha mencari bantuan.
"Maaf boleh minta tolong?" Akhirnya dia bertanya juga dengganku. Aku yang pura-pura sibuk dengan hape terlihat sedikit kaget dengan sapaannya.
"Eh Bu Dewi, ada perlu apa ya Bu?" Tanyaku sok manis.
"Motor ibu kempes, apa ada bengkel didekat sini?" Bu Dewi kembali bertanya dengan nada yang serius.
Aku menatapnya lekat, memperhatikan semua yang ada pada wajahnya.
'Wajah cantik yang tidak membosankan untuk dipandang' gumanku lirih tanpa sadar.
Bu Dewi memicingkan mata, mungkin mendengar dengan samar gumananku tadi. Aku akhirnya kembali sibuk dengan pura-pura berpikir tentang pertanyaanya tadi.
"Sepertinya ibu harus berjalan lumayan jauh kalau mau kebengkel" akhirnya aku menemukan alasan.
"Seberapa jauh?" Tanyanya cepat.
"Emhhh... Mungkin sekitar satu kiloan." Jawabku sedikit ragu, padahal bohong.
Dibelakang sekolah ada bengkel mang jaya kok, tapi biarlah. Hehe...
"Aduh, padahal ibu sedang buru-buru"
"Kalau pangkalan ojek yang dekat ada?" Bu Dewi kembali bertanya.
"Ibu mau kemana? aku bisa antar kok." Aku menjawab menawarkan diri.
***
Setelah kejadian siang itu kami semakin dekat, aku juga jadi rajin kesekolah dan tidak pernah absen.
Tentu saja ini membuat orang tuaku senang dan para guru tidak lagi mengeluh.
Bu Rossi juga tampak puas dengan perubahanku yang tidak lagi membuatnya naik darah.
Mereka tidak tahu saja kenapa aku menjadi rajin. Aku hanya tidak ingin melewatkan hari tanpa melihat wajah cantik Bu Dewi.
Ahh, sepertinya aku mulai jatuh cinta!
***
"Bagus, boleh ibu minta tolong?" Bu Dewi bertanya padaku saat usai pelajaran sebelum jam pulang. Saat anak-anak yang lain sudah bubar tentunya dan aku seperti biasa paling akhir menunggunya.
"Ya Bu, minta apa? Hati atau jantung?" Tanyaku ngegombal.
"Hehe... Bisa saja kamu Gus!" Jawab bu dewi menangapi candaanku.
"Aku serius bu, aku juga tidak sedang bercanda!" Aku berkata kesal karena Bu Dewi tidak peka juga.
"Maksudmu apa Gus?"
"Aku suka sama ibu, aku cinta Bu Dewi!" Teriakku frustasi.
Bu Dewi terkejut dengan pengakuanku. Dia tentu tidak pernah menyangka jika aku memiliki perasaan ini padanya.
Aku terus mengintimidasi dengan tatapan tajamku, bahkan sekarang tubuhnya yang mungil sudah aku kurung kearah dinding dengan tubuhku yang jangkung.
Bu Dewi terlihat ketakutan dan menangis. Aku dengan gerakan lembut menyeka air matanya yang keluar. "Jangan menangis, jika cintaku menyakitimu aku akan pergi"
Bu Dewi mencekal tanggaku yang aku pergunakan untuk menghapus air matanya.
"Aku tidak mau kamu tersakiti gus, ibu sudah bertunangan."
Aku mundur selangkah mendengar pengakuannya, dan aku tidak menyangka jika Bu Dewi sudah memiliki seorang tunangan.
Selama ini tidak pernah ada seorang lelaki ataupun pemuda yang terlihat mengantar atau menjemputnya.
"Ayo ibu kenalkan, dia sudah menunggu di ruangan ibu" Bu Dewi mengambil tanganku yang terkulai untuk digandengnya. Dengan langkah lamban aku menurut kemana langkah kakinya membawaku.
Sampai diruangan guru yang sudah sepi aku melihat punggung seseorang, aku seperti mengenal sosok lelaki itu.
"Gus, ini bang Rudy. Tunangan ibu, sepupumu juga kan?" Bu Dewi memperkenalkan kami.
Tentu saja aku terkejut, benar dia adalah bang Rudy. Sepupuku yang sedang tugas di Aceh, dan sudah bertunangan dengan seorang gadis dari Kalimantan. Aku lupa jika Bu Dewi juga berasal dari sana, tanah Borneo!
TAMAT