SEBELUM KALIAN BACA CERPEN INI TOLONG DUKUNGAN AUTHOR, LIKE , KOMEN. MAKASIH🙏
Pernahkah kau merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi harimu, tiba-tiba lenyap begini saja. Hari-harimu pasti berubah jadi pucat pasi tanpa gairah. Saat kau hendak mengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan sekuat daya, namun tak kunjung tergapai. Kau pasti jadi kecewa seraya menengadahkan tangan penuh harap lewat kalimat doa yang tak putus-putusnya
Bukankah kau jadi kehilangan kehangatan karena tak ada helai-helai sinar ultraviolet yang membuat senyumnya begitu ranum selama ini. Matahari bagimu tentu tak sekadar benda langit yang memburaikan kemilau cahaya, tetapi sudah menjadi sebuah peristiwa yang menyatu dengan ragamu. Bayangkanlah bila matahari tak terbit lagi. Tidak hanya kau tapi jutaan orang kebingungan dan menebar tanya sambil merangkak hati-hati mencari liang langit, tempat matahari menyembul secara perkasa dan penuh cahaya.
Kaulah matahari itu, bidadariku. Berhari hari kau merekat kasih hingga tak terkoyak oleh waktu, tiba-tiba kita harus berpencar di bawah langit la menuju sudut-sudut yang kosong. Kekosongan itu kita bawa melewati dijalan kesedihan. Kita harus terpisah jauh menjalani kodrat diri termaktub di singgasana luhl mahfudz. Semula kita begitu dekat. Lantas terpisah jauh oleh lempengan waktu
Kita mengisi halaman-halaman kosong kehidupan kita dengan denyut nadi. Sesudahnya, kita bertemu bagai angin mengecup pucuk-pucuk daun dan berlalu begitu mudah. Dan kita pun bertemu lagi dengan perasaan yang asing hingga kita begitu sulit memahami siapa diri kita seberanya.
Di ruang kosong yang semula dipenuhi pernik cahaya matahari bertatap muka penuh gairah. Di penjuru ruang kosong itu bergantungan bola-bola rindu penuh warna dan aroma. Bola-bola itu bergesekan satu dengan lain mengalirkan irama-irama lembut Beethoven atau Papavarorotti. Irama itu menyayat-nyayat hati kita hingga mengukir potongan baru. Bagaikan sepasang angsa putih yang menari-nari di bawah gemerlapan cahaya langit, sejarah itu terus ditulisi berkepanjangan. Lewat ratusan kitab, laksa aksara. Namun, setiap perjalanan pasti ada ujungnya. Setiap pelayaran ada pelabuhan singgahnya. Setiap cuaca benderang niscaya ditingkahi temaram bahkan kegelapan.
Andai sejarah boleh terus diperpanjang membawa mitos dan legendanya, maka dirimu boleh jadi termaktub pada pohon ranji sejarah itu. Boleh jadi kau akan tampil sebagai permaisuri ataupun Tuanku Putri yang molek. Mungkin, berada di bawah bayang-bayang Engku Putri Hamidah, Puan Bulang Cahaya atau pun siapa saja yang pernah mengusung regalia kerajaan yang membesarkan marwah perempuan.
Aku tiba-tiba jadi kehilangan sesuatu yang begitu akrab di antara kutub-kutub kosong itu. Kusebut saja, kutub rindu. Aku tak mungkin menuang tumpukan warna di kanvas yang penuh garis dan kita ibarat sebab lukisan agung ini tak kunjung selesai. Masih diperlukan banyak sentuhan kuas dan cairan cat warna-warni hingga lukisan ini mendekati sempurna. Kita telah menggoreskan kain kanvas kosong itu sejak mula hingga waktu jeda yang tanpa batas.
Masih ingatkah kau bagaimana langit-langit kamar itu penuh dan kabar. Tiap pintu dan tingkap dipenuhi ikrar kita. Dan bola lampu temaram memburaikan janji janji. Sebuah percintaan agung sedang dipentuskan di bawal arahan sutradara semesta. Kau membilang percik air yang berjatuhan di danau kecil di sudut pekarangan jiwa dalam kecup dan harum mawar
Bahkan, tubuh kita terguyuri embun yarig terbang menembus ki-kisi tingkap hingga lubuh kita jadi dingin. Malam-malam penuh mimpi dan kecerinan bagailkan sepasang angsa yang mengibas ngibaskan bulu bulu beningnya. Kau redupkan cahaya lampu ditiap penjuru hingga sejarah dapat dituliskan secara khidmat dan penuh makna. Kau menatap langit langit-langit kamar sambil membisikkan untaian puisi yang kau tulis dengan lesah napasmu. Kila merecup semua getar irama percintaan itu tiada batas.
Malam itu siapa pun tak butuh matahari. Sebab, ada bulan yang bersaksi. Kita banya butuh setitik cahaya guna pertentu arah belaka. Selebihnya sunyi menyebat kita dan tiupan angin yang melompat lewat kisi-kisi jendela yang agak terdedah. Dengan apakah kulukiskan pertemuan kita, Kekasih? Chairil sempat bertanya seketika.
Ah, tak cukup kata memberi makna katamu. Dan isyarat sepasang angsa yang saling menggosokkan paruh paruhnya. Bagaikan peladang kita pun sudali pula bertanam dan menebar benih. Kelak, katamu, akan ada buah yang bakal dipetik sebagai kebulatan hati yang begitu mudah terjadi tanpa paksa dan janji.
Dan kita pun terus saja bertanam agar daun daun yang bertumbus kelak dapat menangkap fotosintesa matahari. Di tiap helai daun itu bermunculan nama kita sebagai sebuah keabadian. Andai matahari tak terbit lagi saat pagi merona, kita masih menyimpan sedikit cahaya di helai helai daun yang berguncang dihembus angin sepanjang hari.
Sungguh matahari tak terbit pagi ini. Bagai aku kehilangan dirimu yang berhari hari menangkap cahaya hingga memekarkan kelopak bunga di jiwa. Percintaan ini penuh wangi dan warna, Penuh hijau daun dan kupu kupu yang menyemai spora di mahkota bunga.
Begitulah saat kau berada jauh kembali ke garis hidupmu, aku begitu ternganga sebab cahaya tak ada. Memang tak pernah matahari tak terbit memeluk bumi. Tapi, bagi kita, kala berada jauh, keadaan begitu gelap dan sunyi tiba tiba. Kita merasa begitu kehilangan, Kita merasa ada yang terenggut tanpa sengaja. Serasa ada yang tercerabut dari akar yang semula menghunjam jauh di tanah.
Kita bagaikan orang tak punya pilihan saat berada di persimpangan tak bertanda Syukurlah, kita tak pernah kehilangan arah tempat bertuju. di perjalanan berikutnya. Hidup ini penuh gurindam dan bidal Melayu yang memagari ruang dan langkah kita menuju titik terjauh yang harus dilompati, Kata-kata yang berdesakan di bait puisi dan lirik lagu menebar wangi hari hari.
takkan kutemui wanita seperti dirimu
takkan kudapatkan rasa cinta ini
kubayangkan bila engkau datang
kupeluk bahagia kan daku
kuserahkan seluruh hidupku
menjadi penjaga hatiku
Suara Ari Lasso lewat "Penjaga Hari itu mengalir pelan pelan dan tembok tembok kegelapan yang mengepungku. Benar kata emak dulu, kita akan tahu akan makan sesuatu ketika ia telah berlalu. Apalagi berada jauh yang tak tersentuh.
Matahari tak terbit pagi ini. Begitulah kita merasakan saat diri kita beradi di kutuh yang berjauhan. Diperlukan garis waktu untuk mempertemukan kedua tebing kutub itu. Atau, kita harus kuat merenangi laut salju yang kental atau menyelam di bawah banglahan es yang dingin menyang tubuh. Begitu diperlukan segala daya untuk menemukan sesuatu lenyap begitu cepat saat diri memerlukan setitik cahaya.
Apa perasaanmu kint Kau telan kesendirian itu di kejauhan sambil berharap matahari akan bercahaya segera menerangi kisi-kisi hati yang tersaput luka rindu kita. Andai kita bisa menolak gumpal awan dan menyeruakan matahari kembali begitulah takdir yang hendak kita bentangan di kitab sejarah sepanjang masa. Tapi, kita akan cepat lelah. Menyeruakkan awan untuk menyembulkan garang matahari bukanlah hal yang mudah. Kita butuh sejuta tangan dan cakar untuk menaklukkan segenap awan dan matahari itu.
Kau ingat kan, kisah Qays dan Laila atau Romeo dan Juliet memburaikan banyak kenangan bagi jutaan orang. Kau pun ada dalam bagian kisah yang tak pernah lekang di panas dan lapuk di hujan itu. Selalu ada manik-manik kasih mengalir di samudra kehidupan yang mahaluas ini. Meski kadangkala suaramu tersekat melempar tanya kala anugerah kasih ini terbit di ujung usia. Tak bolehkah kita mereguk kebahagiaan di sisa waktu yang masili tersedia meski semua jalan yang terbuka di depan bagai tak berujung jua. "Aku takut bila aku berubah. Tapi tak akan pernah pangeraniku," ucapmu pelan.
Garis panjang waktu itu mendedahkan kemungkinan kemungkinan yang sulit diraba. Banyak ancaman yang siap mengepung kita hingga merobek tabir setia. Ya, kesetiaan tak kasat-mata. Hanya ada di bilik hati Ingin aku menjenguk bilik, hatimu setiap saat, tapi tak bisa. Pintu hati itu tak setiap waktu bisa terbuka.