"Jangan salahkan takdir. Pertemuan kita adalah hal yang indah. Mencintaimu adalah kebahagiaanku."
***
Hujan begitu deras malam itu, petir dan kilatpun saling menyambar. Seorang wanita duduk terdiam menatap luar jendela rumahnya.
"Kenapa belum tidur?" sapa seseorang dibelakang wanita itu.
Wanita itu terkejut dan berpaling, menatap kebelakang. Ia melihat seorang wanita paruh baya tidak jauh di belakangnya.
"Mama," sapanya.
Wanita yang disapa 'Mama' itupun berjalan mendekat. Ia memeluk putrinya penuh kasih sayang.
"Ayo tidur. Besok masih harus bekerja kan?"
Wanita muda mengangguk dalam pelukan Ibunya. Ia tersenyum cantik.
"Tidur denganku, Ma. Aku kangen," katanya lembut.
"Sudah besar minta tidur bareng Mama. Kamu ini," jawab Mama wanita itu.
Baru beberapa saat merek berpelukan. Tiba-tiba saja pintu didobrak oleh seseorang dari luar, hal itu mengejutkan keduanya.
"Brakkk...."
Seorang pria muda masuk, dengan pakaian setengah basah dan terhuyung. Pelukan Ibu dan anakpun terlepas begitu saja. Sang Ibu langsung menghampiri pria muda yang tidak lain adalah putranya.
"Daniel," panggilnya mendekat.
"Kau mabuk lagi?"
Pria muda yang dipanggil 'Daniel' itupun menatap Mamanya dengan tatapan mata yang tajam.
"Mama nggak bisa lihat?" katanya kasar.
"Abang!" sentak wanita muda yang berjalan mendekati Mamanya.
"Jangan kasar seperti itu sama Mama. Abang nggak bisa ngomong baik-baik?"
"Alah, kamu juga. Sok-sok an!" kesal Daniel.
"Sok-sok an? Ab...," kata-kata terpotong.
"Jessyca sudah."
"Tapi, Ma...," sambung Jessyca menatap Mamanya.
"Masuklah kekamarmu....," perintah Retha pada Daniel, putranya.
Daniel langsung masuk tanpa bicara lagi. Melihat hal itu membuat Jessyca kesal dan menyusul Daniel dengan segera. Retha memanggil Jessyca namun diabaikan.
***
Jessyca menghadang jalan Daniel, mata Jessyca tajam menatap mata Daniel.
"Apa liat-liat?" sentak Daniel.
"Aku tau, kamu ambil uang Mama kan? Mana uangnya?" kata Jessyca tanpa basa-basi.
"Uang apa? jangan asal nuduh dong," elak Daniel.
"Aku nggak nuduh tanpa alasan. Aku nemu kartu ATM mama di kamarmu, Bang. Udahlah ngaku aja," desak Jessyca.
"Abang nggak tau, Mama nyari-nyari kartu ATM itu?" imbuh Jessyca.
"Itu salah Mama. Aku minta uang nggak dikasih. Lagian ini bukan urusanmu, yang aku ambil uang Mama. Bukan uangmu," jawab Daniel santai.
Jessyca geram, "Mau punya uang ya kerja! jangan males, bisanya nuntut terus, minta terus!" sentak Jessyca.
"Plaaakkk...."
Tamparan keras mendarat dipipi mulus Jessyca. Daniel jengkel mendengar ucapan adiknya yang menurutnya kurang ajar.
"Nggak sopan banget bentak-bentak orang. Aku ini abangmu," ucap Daniel kesal.
"Ngatur-ngatur lagi. Mau kerja mau nggak itu urusanku. Urus, urusanmu sendiri," tambahnya yang langsung mendorong Jessyca agar menyingkir dari hadapannya.
Retha menghampiri Jessyca dan memeluk Jessyca. Jessyca menangis didalam pelukan Retha. Ia sungguh kecewa dengan prilaku Kakaknya.
Jessyca melepas pelukan, "Jessy ke kamar dulu, Ma. Mama istirahatlah lebih awal," kata Jessyca dengan suara gemetar.
"Mama akan bicara dengan Daniel," kata Retha.
"Nggak perlu, Ma. Jangan sampai Mama juga dipukul sama Abang. Sudah biarin aja," hadang Jessyca tidak mengizinkan.
"Tapi abangmu...," paksa Retha.
"Nggak apa-apa kok. Kalau nggak mukul, dia nggak akan puas. Lebih baik aku yang kena pukul daripada Mama. Sudah, Mama tidur aja."
Retha menatap Jessyca. Melihat putrinya ia menjadi sedih, sering kali setiap Daniel marah dan hendak memukul, Jessyca selalu jadi orang yang melindunginya.
***
Dirumah sederhana itu hanya tinggal tiga orang saja. Ada seorang Ibu dengan kedua anaknya. Retha, adalah nama Ibu dua anak itu.
Ia seorang wanita paruh baya berusia lebih dari 50 tahun. Retha menikah dengan seorang pria bernama Alexander. Pernikahannya tersembunyi, bisa dikatakan Retha dan Alex kawin lari. Karena keluarga Alex menentang pernikahan Alex dengan Retha.
Tahun pertama terlewati, Retha dan Alex dikarunia seorang putra, yaitu Daniel. Dan tiga tahun berikutnya, Jessyca lahir. Tahun demi tahun dilewati keluarga itu dengan penuh kebahagiaan. Sampai di suatu saat, saat usia Daniel menginjak 15 Tahun, dan Jessyca baru berusia 12 Tahun. Alex tiba-tiba saja pergi meninggalkan Retha karena orang tua Alex yang tiba-tiba meminta Alex kembali. Dengan mengancam Alex, Alex tidak punya pilihan selain pergi meninggalkan istri dan kedua anaknya. Semenjak hari itu, Alex tidak pernah kembali pulang, juga tidak ada kabar.
Rumah lama Alex dibiarkan kosong. Retha tidak bisa menemukan Alex lagi. Tanggung jawab sebagai kepala keluarga terpaksa ia ambil alih, ia bekerja sebagai seorang pelayan sebuah cafe dan akan bekerja membantu di pasar di pagi harinya sebelum cafe buka.
Sekian lama berjuang, ia berhasil membesarkan dua anaknya seorang diri. Mampu menyekolahkan dan memasukan dua anaknya ke Universitas, sampai keduanya lulus kuliah. Namun sayang, Daniel putranya tumbuh dalam pergaulan yang kurang baik. Semenjak kepergian Papanya, dan Mamanya sibuk bekerja Daniel merasa kurang diperhatikan. Pada akhirnya ia sering membuat masalah dan membuat Retha kerepotan. Berbeda dengan Daniel, Jessyca yang muda memahami keadaan Mamanya. Ia adalah anak yang rajin, ia membantu pekerjaan rumah dan saat lulus SMA ia membantu Mamanya mencari uang. Meski bekerja paruh waktu, namun ia mampu membantu perekonomian keluarga. Karena Jessyca rajin, ia sering juga mendapatkan bonus dari Bossnya.
Menginjak usia senja, Retha pun diminta Jessyca berhenti bekerja. Jessyca lah yang menjadi tulang punggung keluarga dan menghidupi Mama juga Kakanya untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Setelah lulus kuliah, Jessyca langsung mencari pekerjaan dan akhirnya mendapat pekerjaan dengan gaji yang lumayan.
Lain Jessyca, lain pula Daniel. Memiliki wajah yang tampan adalah keuntungan bagi banyak pria. Bahkan jika sampai bisa menghasilkan uang dari wajah mereka. Namun, Daniel yang mendapat tawaran menjadi model justru dengan enteng menolak mentah-mentah dan merasa hidup bebas lebih menyenangkan. Ia tidak ingin terikat pada siapapun juga dengan kerjasama apapun. Karena sikapnya ini, ia selalu menyusahkan Retha dan Jessyca. Meminta uang hanya untuk bersenang-senang saja.
Setiap hari pulang dalam keadaan mabuk. Tidak hanya itu, jika ditanya selalu marah-marah dan berujung mengangkat tangan sampai memukul. Jika tidak diberi uang, ia akan memaksa sampai nekat dan mencurinya dari Retha.
Tiada hari tanpa teriakan dan pertengkaran. Tiada hari tanpa air mata, Jessyca selalu menahan kesedihan dan air matanya didepan Daniel. Tidak ingin terlihat lemah dihadapan Kakaknya itu.
Lelah? tentu saja. Jessyca merasa sangat lelah. Demi Mamanya ia bertahan. Demi ingin membuat Mamanya bahagia. Soal Daniel? Jessyca selalu terang-terangan membuat Daniel kesal dengan ucapannya bukan karena alasan. Jessyca ingin agar Kakaknya berubah. Mau menjadi orang yang baik dan berguna untuk diri sendiri dan juga membahagiakan Mama mereka. Jessyca sayang dengan Mamanya dan Kakaknya. Hanya dua orang itu yang ia punyai sekarang.
***
Jessyca pulang bekerja. Saat dalam perjalanan pulang, ia mandapat panggilan dari Retha.
*percakapan Retha dan Jessyca.
"Ya, Ma?"
"Kamu dimana?"
"Aku sudah dalam perjalanan pulang, Ma. Mama sedang apa? ingin pesan sesuatu?"
"Tidak usah, kamu langsung pulang saja."
"Ok, Ma. Sampai jumpa."
"Hati-hati sayang."
"Ya, Ma."
Panggilan berakhir. Karena tidak fokus, saat hendak menyeberang jalan. Jessyca hampir tertabrak mobil. Hal itu membuat Jessyca terkejut sampai terjatuh.
"Aaaaaaah," teriak Jessyca kencang karena kaget.
Sebuah mobil hitam menepi dan berhenti. Seseorang keluar dari dalam mobil dan langsung berlari kecil menghampiri Jessyca.
"Anda baik-baik saja, Nona?" Katanya lembut, langsung menolong Jessyca.
"Iya, nggak apa-apa. Makasih...," jawab Jessyca menatap seseorang yang membantunya.
Jessyca terkejut, wajah yang tidak asing baginya. Pria muda yang menolong Jessyca juga kaget saat melihat Jessyca.
"Je-Jessyca...," lirihnya.
"Ken-Kenichi," sapa Jessyca, "Kamu, Kenichi, kan?" tanya Jessyca memastikan.
Kenchi mengangguk perlahan, "Ya, ini saya. Kamu baik-baik saja? sungguh tidak ada apa-apa?" kata Kenichi.
Jessyca tersenyum dan menggeleng, "Aku nggak apa-apa. Aku cuma kaget, Ken. Maaf ya," jawab Jessyca.
"Oh, syukurlah. Saya kira kamu akan terluka. Maafkan saya tadi tidak mengemudi dengan baik," kata Kenichi dengan gaya bahasa khasnya.
"Lupain aja. Aku beneran nggak apa-apa. Oh iya, kamu kapan datang? sudah lama sekali setelah kita lulus SMP," Jessyca mencoba mencairkan suasana.
"Sudah satu minggu ini. Saya baru dari luar daerah," jawab Kenichi.
Meski gaya bahasa Kenichi terkesan kaku, Jessyca memahaminya. Memang sejak dahulu, gaya bahasa Kenichi memang seperti itu. Benar saja, Kenichi adalah orang Jepang, lidahnya tentu saja berbeda dengan lidah orang-orang Indonesia. Kenichi dulunya adalah teman sekelas Jessyca saat masih duduk dibangku menengah pertama. Saat itu, Kenichi ikut bersama Mamanya yang memang orang asli Indonesia. Mamanya merawat Neneknya yang sakit selama beberapa tahun. Sampai akhirnya saat kembali, terpaksa Kenichi dan Jessyca berpisah. Jessyca merasa kehilangan, karena hanya Kenichi yang mau berteman dengannya dan mau membantunya saat dalam masa sulit disekolah.
***
Kenichi dan Jessyca berada dalam satu mobil. Kenichi menawarkan diri mengantar Jessyca pulang.
"Papa dan Mamamu ikut?" tanya Jessyca.
"Iya," jawab Kenichi, "Bagaimana kabar Nyonya Robert?" tanya balik Kenichi.
"Mamaku baik. Apa tidak bisa kamu panggil tante saja? jangan terlalu formal, Ken."
"Maaf, saya tidak terbiasa Jessy. Saya akan mencoba," jawab Kenichi.
Jessyca tersenyum, ia senang bisa bertemu kembali dengan Kenichi. Sahabat lamanya itu membuatnya terhibur, bagi Jessyca kata-kata yang diucapkan Kenichi terkesan unik. Gaya bahasa yang formal dengan pelafalan kata yang kaku.
Sesaat kemudian, perjalanan mereka sampai. Jessyca mengajak Kenichi masuk dalam rumah dan bertemu Retha. Retha menyambut Kenichi, senang melihat teman lama putrinya datang. Jessica pergi kedapur untuk membuat minuman, Retha dan Kenichi mengobrol santai bertanya kabar dan banyak hal lainnya.
Sampai menjelang malam, Kenichi akhirnya berpamitan. Kenichi mengatakan jika ia akan sering-sering datang mengunjungi Retha. Sebelum pulang, Kenichi dan Jessyca bertukar nomor telepon.
Pertemuan pertama setelah sekian lama, membuat Jessyca kembali bersemangat. Jessyca berharap bisa kembali menjalin komunikasi dan hubungan yang baik dengan Kenichi.
***
Ditempat lain, Daniel dan teman-temannya sedang berpesta alkohol.
"Dan, kenapa loe?"
"Nggak ada apa-apa. Diem lu," kata Daniel.
"Woi, santai aja bro. Firman kan tanya baik-baik," sapa seseorang disamping Daniel.
"Gua lagi kesel," kata Daniel.
"Kenapa? karena adek loe lagi?"
"Ya, siapa lagi. Gua minta uang ngomel mulu," jelas Daniel.
"Loe butuh uang? gabung kita aja, loe bisa punya uang loe sendiri."
"Masa? gede nggak yang gua dapet?" tanya Daniel tidak yakin.
"Dijamin gede, kalau mangsa kita oke."
"Mangsa? Maksud lu pada apa?" tanya Daniel.
Daniel memang tidak pernah tahu detail pekerjaan teman-temannya. Yang ia tahu, mereka hanya sekedar teman nongkrong dan mabuk.
"Gini-gini, gua dan Firman bakalan tunjukin caranya. Kali ini loe cukup jadi penonton aja. Tenang, loe tetep bakalan dapet bagian."
"Ok deh. Gua ngikut aja apa kata lu pada," jawab Daniel.
Daniel tersenyum tipis, "Kalau gua dapat uang gua sendiri, gua bakalan enak. Gak perlu lagi lah, gua ngemis ke Mama atau Jessy. Dan gua gak perlu denger ocehan Jessy," batin Daniel.
***
Dan, beberapa hari kemudian. Daniel dibuat tercengang oleh kedua temannya. Ternyata Firman dan Rudy adalah spesialis p*ncopet. Mereka membuat Daniel terkejut.
"Gila, kalian...," Daniel terdiam.
"Sstttt, udah. Jangan banyak protes. Yang penting dapet uang. Mending kita gini, daripada lu ikut genknya si Dito."
"Ya tapi nggak nyolong juga," sahut Daniel.
"Udahlah, jangan sok. Lu tuh ngaca, kelakuan lu kayak apa. Udah gak bener ya sekalian aja," jawab Rudy.
Daniel terdiam, mengamati dua temannya yang sedang membagi hasil. Rudy memberikan sejumlah uang pada Daniel.
"Ini bagian lu, dari gua."
"Nih, gua juga bagi loe. Loe cakep cocok jadi spesialis begini," kata Firman yang juga memberikan sejumlah uang.
Daniel menerima dengan ragu-ragu awalnya. Namun ia ingat jika ia tidak ingin lagi mengemis uang pada Mama juga adiknya. Pada akhirnya Daniel menerima uang pemberian Firman dan Rudy.
Semenjak hari itu, Daniel belajar menjadi seorang yang spesialis seperti dua temannya. Dengan bermodalkan tampangnya yang tampan, dengan mudah ia mengelabuhi korbannya. Uang pun berhasil didapat Daniel dengan mudah, tanpa harus bersusah payah. Daniel bangga akan pekerjaan barunya.
***
*beberapa bulan kemudian
Kembali bertemu dan kembali menjalin komunikasi. Jessyca dan Kenichi mulai dekat. Saat pulang bekerja, Kenichi akan menjemput Jessyca dan mengantar Jessyca pulang. Saat Jessyca libur, Kenichi akan mengajak Jessyca jalan-jalan.
Bersenang-senang bersama. Saling berbagi cerita, membuat benih-benih cinta diantara keduanya muncul. Tidak bisa dipungkiri, pesona satu sama lain yang saling memikat. Membuat keduanya merasakan getaran-getaran cinta. Jalinan kasih pun terjalin diantara meraka berdua.
Malam itu, saat makan malam bersama. Kenichi tidak hanya ingin menjadikan Jessyca kekasihnya saja. Melainkan juga ingin menjadikan Jessyca sebagai istrinya.
Kenichi melamar Jessyca, dengan suasana romantis. Ia mengungkapkan perasaanya pada Jessyca. Jessyca pun tanpa ragu-ragu lagi menerima lamaran Kenichi. Untuk apa menolak, Retha dan orang tua Kenichi tidak menentang adanya hubungan diantara pasanngan itu.
Usai makan malam romantis, Kenichi mengantar Jessyca pulang. Sesampainya di depan halaman rumah Jessyca, Jessyca dan Kenichi masih mengobrol didalam mobil.
"Aku seneng banget," ungkap Jessyca memeluk Kenichi.
"Lega rasanya. Akhirnya kita akan menjadi pasangan suami dan istri," ucap Kenichi.
Jessyca tersenyum, membuat Kenichi terpukau. Kenichi mendaratkan sebuah kecupan mesra dibibir Jessyca. Kecupan itu disambut oleh Jessyca, Kenichi dan Jessyca pun berciuman.
"Sudah malam, masuklah sayang. Jangan sampai kamu kedinginan terkena angin dan jatuh sakit. Saya akan sangat sedih," kata Kenichi.
"Kamu nggak mau masuk dulu?" tanya Jessyca sedikit kecewa, "Aku masih kangen," imbuhnya sedih.
"Sayang, jangan membuat saya sedih. Saya tidak akan rela berpisah darimu jika kamu manja seperti ini. Besok kita masih bisa bertemu kan? saya akan datang besok pagi untuk mengantar kamu kekantor," jelas Kenichi.
"Ok, padahal aku masih kangen banget. Tapi kalau kamu sudah bilang gitu, ya udah. Kamu juga langsung pulang ya? hati-hati di jalan sayangku," kata Jessyca mencium pipi Kenichi.
"Saya akan hubungi kamu saat saya sampai dirumah nanti," kata Kenichi.
Jessyca keluar dari dalam mobil, ia melambai sebagai tanda perpisahan malam itu. Mobil Kenichi langsung pergi setelah Kenichi memastikan Jessyca masuk dalam rumah. Baru saja Jessyca masuk dalam rumah, tidak lama kemudian, Daniel datang.
"Abang," sapa Jessyca.
"Hm," jawab Daniel bergumam.
"Abang kemana aja. Kenapa nggak pulang? Mama dan aku khawatir. Ditelpon juga nggak diangkat," keluh Jessyca.
"Ada kok. Nggak kemana-mana," jawab Daniel masuk dalam kamarnya.
Jessyca merasakan kahawatir, Daniel jarang pulang. Pulang sebentar dan akan pergi lagi. Beberapa menit kemudian, Daniel keluar dari kamarnya dan memberikan sesuatu pada Jessyca.
"Ini, kamu kasih ke Mama. Bilang ke Mama. Aku kerja luar kota, nggak usah nangis-nangis segala. Anaknya kerja, bukan kemana-mana."
Kata Daniel yang memberikan sebuat amolop pada Jessyca. Hal itu membuat Jessyca bingung.
"Ini apa, bang? Abang kerja apa?" tanya Jessyca penasaran.
"Aduh, kepo banget sih. Kerja apa aja yang penting hasilin uang, dek. Udah lah, kamu kasih ke Mama aja uangnya. Jangan banyak tanya," kata Daniel.
"Abang, jangan gitu dong. Aku itu khawatir, jawab Jessy, Bang. Abang kerja apa dan dimana?" tanya Jessyca lagi.
Daniel menghela napas panjang, "Supir, dek. Kerjaanya nyupir keluar kota, bolak balik. Puas?" tipu Daniel.
Jessyca terdiam sesaat, "Bilang jadi supir aja susah banget. Aku nggak akan larang Abang kerja. Aku malah seneng," kata Jessyca.
"Ya udah deh. Abang pergi dulu. Kasian Bos Abang nunggu. Kamu jangan lupa kasih ke Mama uangnya."
"Iya, Bang."
Daniel pergi meninggalkan rumah. Jessyca yang tidak tahu apa-apa hanya bisa percaya dengan ucapan Kakaknya. Ia segera masuk dan menemui Retha untuk menyampaikan pesan dari Daniel.
***
Sesuai tanggal yang ditentukan. Hari ini adalah hari dimana Kenichi dan Jessyca akan mencoba gaun pernikahan mereka.
Kenichi sibuk dikantor ia menghubungi Jessyca dan meminta Jessyca untuk menunggunya.
*percakapan Jessyca san Kenichi
"Hallo, sayang maaf. Saya pasti akan menjemputmu. Tetapi saya ada sedikit urusan dikantor," kata Kenichi.
"Aku akan pergi sendiri. Kita bertemu di butik ya?" jawab Jessyca.
"Jangan. Tunggu saya," kata Kenichi.
"Nggak apa-apa sayang. Kamu sibuk dulu. Aku bisa sambil jalan-jalan kok."
"Sungguh? kamu akan baik-baik saja tanpa saya?"
"Ya, aku bakalan baik-baik aja. Jangan khawatir ya, aku nggak akan celaka kok."
"Jaga ucapanmu, sayang. Jangan bicara seperti itu," kata Kenichi sedikit kesal.
"Hahaha, ok-ok. Aku hanya menggodamu sayangku, cintaku. Jangan ngamuk gitu dong. Aku pastiin aku bakalan baik-baik aja. Aku bakalan nungguin kamu. Kamu kerja aja, yang semangat kerjanya. Ok?" kata Jessyca.
"Baiklah jika seperti itu. Kamu membuat saya khawatir," jawab Kenichi, "Saya akan usahakan menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Hati-hati dijalan," kata Kenichi.
"Iya-iya. Aku ngerti, sayang. Dahh...," jawab Jessyca.
"Sayang tunggu," kata Jessyca.
"Ada apa?" jawab Kenichi.
"Beri aku ciumanmu," kata Jessyca menggoda.
"Sayang. Saya harus bekerja," tolak Kenichi.
"Ayolah, ini yang terakhir. Aku nggak akan rewel lagi."
"Baiklah. Muuuaaach..., saya mencintaimu Jessyca."
Jessyca dengan segera mengakhiri panggilan dari Kenichi. Kenichi merasa ada yang mengganjal dihatinya. Ada rasa tidak nyaman dan gelisah yang sulit dijelaskan.
Kenichi menepis semua pikiran negatifnya. Ia ingin segera fokus bekerja, menyelesaikan pekerjaanya dan pergi menyusul Jessyca. Meski jantungnya berdebar tidak menentu, Kenichi berusaha tenang.
***
Ditempat lain, Jessyca menghubungi Daniel. Meminta Daniel datang ke butik bersama Retha untuk mencoba pakaian. Jessy mengatakan jika dari tempat kerja akan langsung ke butik, tidak bisa menjemput Retha. Maka dari itu Jessyca meminta tolong pada Daniel. Dan dengan terpaksa, Daniel mengiyakan permintaan Jessyca.
"Kayaknya gua nggak bisa ikut kalian. Gua ada keperluan," kata Daniel.
"Perlu apa?" tanya Firman.
"Adalah, urusan keluarga. Kalian berdua aja tanpa gua, gua libur dulu hari ini."
"Ya elah, lu drama bangaet, Nil. Biasanya juga nggak peduli sama urusan keluarga," kata Rudy.
"Ini penting bro. Pokoknya gua nggak bisa hari ini. Gua pamita ya, sukses buat kalian."
"Ya deh, lu ati-ati dijalan."
Daniel dan dua temannya berpisah. Jika bukan karena panggilan Jessyca, Daniel pasti akan memilih bekerja dibandingkan pergi ke butik.
"Daniel pergi. Gimana nih?" tanya Firman.
"Gimana apa? kita tetep jalan lah. Gua butuh makan bro," jawab Rudy.
"Kemana kita?" tanya Firman lagi.
Rudy berpikir, "Ah, ke deket taman aja. Disono kan banyak ruko tuh. Banyak cafenya, ada dekat mall juga kan. Ini malam minggu, pasti rame. Makin rame makin asik bro," kata Rudy.
"Oklah. Yuk, buruan."
Kedua orang itu juga pergi. Mereka menuju lokasi yang ditentukan dan tentu saja ingin mencari sasaran empuk.
***
Jessyca turun dari taxi. Ia segera berjalan menuju butik. Namun sebelum kakinya sampai, ia tergoda untuk membeli sedikit kue dan cake untuk Mamanya.
"Ke toko roti dulu deh. Masih ada banyak waktu," gumam Jessyca.
Jessyca berjalan perlahan-lahan. Menuju toko kue dan cake dimana banyak orang mengantri disana.
Tidak jauh dari Jessyca dua orang mencurigakan sedang mengintai. Mereka memberi kode satu sama lain untuk melancarkan pergerakan. Seorang berpura-pura bermain ponsel, ia berjalan ke arah yang berlawanan dengan Jessyca. Saat sudah dengan Jessyca, seseorang itu sengaja menabrakan diri dan menjatuhkan ponsel serta tasnya. Membuat Jessyca kaget.
"Maaf," kata Jessyca yang langsung jongkok diikuti seseorang itu. Dengan cepat seseorang itu langsung merogoh tas milik Jessyca dan mengeluarkan ponsel juga dompet Jessyca tanpa disadari pergerakannya oleh Jessyka karena Jessyca fokus mengambil ponsel dan tas orang asing tersebut. Usai mendapatkan incaran, seseorang itu langsung mengoper jarahannya pada teman yang sudah menununggu tidak jauh darinya. Dengan cepat temannya mengambil dan segera pergi.
"Maaf juga dan terima kasih" kata seseorang itu basa-basi pada Jessyca. Setelah ponsel dan tasnya kembali.
Seseorang itu langsung pergi dengan cepat. Jessyca kembali melangkah menuju toko kue. Saat sedang mengantri, ia terpikir untuk menawari Kenichi cake. Jessyca merogoh tasnya dan kaget saat mendapati tasnya kosong dan hanya ada arsip dokumen saja dalam tasnya. Jessyca panik, ia langsung melihat kedalam tasnya. Seketika ia terpikirkan oleh orang asing yang menabraknya. Jessyca menerka jika ia sudah dirugikan.
Jessyca berlari ketempat asal, ia berlari mencari pelaku yang kemungkinan masih ada di sekitar. Karena selang waktu yang tidak begitu lama. Tidak jauh mengerjar, Jessyca melihat orang dengan pakaian yang sama hendak menyebrang jalan. Jessyca pun berteriak membuat beberapa orang terkejut. Jessyca hanya berteriak 'copet' tanpa menyebut ciri-ciri dari orang tersebut.
Mendengar teriakan, orang yang menjarah milik Jessyca itu panik dan berlari cepat. Jessyca mempercepat langkahnya. Ia melihat penjarah sudah menyeberang setengah jalan. Dengan segera ia menyebrang, hendak menyusul penjarah yang sudah sampai ditepi seberang jalan.
Tidak hati-hati dan tidak beruntung, ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan cepat. Mobil itu ternyata dikejar oleh mobil polisi dibelakangnya. Mobil itu langsung menyambar tubuh Jessyca. Tubuh Jessyca membentur kaca mobil depan dan langsung terpental beberapa meter. Kepala Jessyca terluka dan mengeluarkan banyak darah, Jessycapun bermandikan darah. Semua orang berkerumun menyaksikan kejadian tragis itu.
***
Diwaktu bersamaan Daniel dan Retha sampai di butik. Daniel mendengar beberapa orang yang lewat bicara soal kecelakaan.
"Kecelakaan?" batin Daniel.
"Apa Adikmu sudah sampai?" tanya Retha.
"Nggak tau, Ma. Aku cuma diminta jemput Mama dan nganter Mama kesini. Itu aja," jawab Daniel.
Retha mendengar suara sirine ambulance dan melihat sekeliling. Ada parasaan tidak nyaman sepanjang perjalanan kebutik.
"Kok rame? ada apa disana?" tanya Retha.
"Katanya ada kecelakaan, Ma."
Sepasang pejalan kaki saling berbincang. Membicarakan kecelakaan yang dialami Jessyca. Mereka mengatakan jika sebelum tertabrak korban sempat berteriak 'copet' mendengar kata itu, Daniel langsung kaget. Karena itu adalah profesinya saat ini. Daniel menjadi kepikiran, ia meminta Mamanya masuk lebih dulu, dan ia ingin berjalan-jalan dulu.
Retha mengiyakan dan masuk kedalam butik. Daniel berjalan dan menghubungi Rudy teman seprofesinya. Rudy menerima panggilan Daniel, Daniel bertanya apakah hari itu Rudy dan Firman menjarah? Rudy menjawab jujur ia, dan mengatakan jika korban tertabrak mobil. Daniel terkejut, ia lebih terkejut saat Mamanya tiba-tiba keluar dan memanggil Daniel. Daniel panik, segera mengakhiri panggilannya dengan Rudy.
Retha mengatakan jika Jessyca belum datang. Daniel kaget, menghubungi ponsel Jessyca tetapi tidak aktif. Daniel pun meminta Mamanya menunggu di dalam, Daniel pergi mencari Jessyca yang kemungkinan berada disekitar. Daniel terus mencari, ia semakin dekat dengan kerumunan orang, karena rasa penasaran juga ingin mencari Jessyca dikerumunan. Daniel pun ikut bergabung, dilihatnya beberapa orang dalam kerumunan. Ia masih sibuk mencari dimana Adiknya itu. Merasa tidak menemukan, Daniel pun mengalihkan pandangan menatap korban kecelakaan. Seketika matanya melebar, bola matanya serasa ingin keluar. Meski bermandikan darah, Daniel bisa mengenali jika itu adalah adiknya. Daniel mendekat dan berteriak histeris. Ia tidak menduga jika Adiknya adalah korban kecelakaan.
Polisi dan tim medis datang, ponsel Daniel bergetar panggilan dari Retha. Daniel menerima panggilan dan mengabari Retha jika Jessyca mengalami kecelakaan. Retha shock, ia segera datang untuk melihat keadaan Jessyca. Daniel mengatakan pada tim medis dan polisi jika ia adalah Kakak kandung korban.
***
Dirumah sakit, Kenichi datang tergopoh. Di depan ruang IGD ia melihat Retha yang menangis dan juga Daniel yang terlihat sedih.
"Dimana Jessyca? bagaimana keadaanya? apa yang sebenarnya terjadi?" cecar Kenichi pada Daniel.
"Aku nggak tau Ken. Aku nggak atau apa-apa," serak Daniel menjawab.
"Sial, Aaaargggghhh...," amuk Kenichi menghantamkan tangannya ke dinding.
Daniel tersedu, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia teringat akan ucapan Rudy. Lokasi kejadian sama tengan tempat kejadian perkara, Daniel segera mencari polisi dan ingin melapor. Ia ingin polisi menangkap Rudy dan Firman temannya. Daniel bersaksi, atas laporan dan perencanaan Daniel, Polisi melakukan tugasnya menangkap dua pelaku. Tentu saja dengan bantuan Daniel, Daniel menceritakan semuanya. Ia juga mengakui kejahatannya, ia juga mengatakan ia adalah salah satu dari tiga komplotan itu. Daniel mau bekerjasama dengan polisi, menunjukan markas dimana dua temannya berada. Atas informasi dari Daniel, tersangka berhasil diamankan. Rudy dan Firman akhirnya tertangkap, barang bukti berupa dompet dan ponsel milik Jessyca masih utuh.
Daniel kembali kerumah sakit, ia didampingi seorang polisi. Polisi itu menjelaskan pada Retha dan Kenichi apa yang sebenarnya terjadi. Kenichi emosi, langsung menghajar Daniel. Kenichi mengumpati Daniel, ia mengatakan jika Daniel adalah Kakak yang jahat. Kakak yang tidak berguna.
Retha juga kaget, tidak menyangka jika semua terjadi karena ulah komplotan putranya sendiri. Retha kecewa, ia juga sangat sedih. Putranya adalah penjahat, sedangkan putrinya masih dalam ruangan tidak tahu bagaimana keadaanya. Retha pun jatuh pingsan karena tidak kuat lagi menahan sesak didadanya.
Daniel meminta izin untuk menemani Mamanya, Retha. Sedangkan Kenichi masih berjaga diluar ruang IGD. Kenichi marah, kesal, juga kecewa pada dirinya sendiri. Andai saja ia tidak membiarkan Jessyca pergi seorang diri, semuanya tidak akan terjadi.
Beberapa saat kemudian, Dokter keluar dari ruang IGD. Kenichi menghampiri Dokter yang berjalan kearahnya dengan segera.
"Dokter, bagaimana keadaan tunangan saya?" cemas Kenichi.
"Maafkan saya, Tuan. Pasien tidak bisa kami selamatkan. Luka di kepala pasien mengakibatkan pasien mengalami pendarahan dan cidera serius. Kami sudah berusaha, namun Tuhan berkehendak lain. Saya meminta maaf sekali lagi, dan turut berdukacita. Saya permisi."
Dokter pun pergi meninggalkan Kenichi. Tanpa sadar air mata Kenichi jatuh menetes ia berjalan lemas memasuki ruangan. Mulutnya diam terkunci, ia melihat tubuh Jessyca yang sudah tenggelam oleh selimut. Kenichi membuka selimut yang menutup wajah Jessyca. Tangannya gemetar, disana ia bisa melihat wajah Jessyca yang sudah kacau. Ada jahitan dimana-mana. Kenichi sangat sedih, ia tidak tahu lagi harus apa dan bagaimana ia hidup tanpa wanita yang sangat ia cintai. Hanya sebuah kenanangan yang tersisa, dan sebuah penyesalan.
***
TAMAT
Pesan author untuk pembaca:
Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Selagi kamu masih bisa melakukannya. Jangan menunda, jangan sampai menyesal dikemudian hari. Selagi masih ada waktu, selagi masih diberi kesempatan. Pergunakan waktu tersebut untuk melakukan yang terbaik yang kamu bisa.
Tetap semangat genks, tetap optomis dan selalu bahagia~
Terima kasih sudah mampir baca~
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡